Upacara Ho’in Hoka’ Wekin Wolo atau upacara penyembuhan orang sakit dilakukan oleh tetua kampung atau pemangku adat yang biasa disebut ata kelake.
Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah tetua adat/ ata kelake sebagai pemimpin upacara, keluarga besar sebagai simbol persatuan lahir batin, dan tuan tanah sebagai kunci utama dalam upacara adat.
Jika si penderita sakit yakin penyakitnya disebabkan perseteruan, maka orang yang terlibat perseteruan itu turut hadir pada saat upacara dilangsungkan. Upacara Ho’in Hoka’ Wekin Wolo dilangsungkan di rumah orang yang menderita sakit.
Upacara ini dilaksanakan dalam dua tahap.
Pertama, acara Depa Dua (rentangan tangan- tombak) yang bertujuan untuk melihat penyebab orang tersebut menderita sakit.
Penduduk wilayah Lewotala yakin bahwa bencana atau musibah yang dialami seperti penyakit yang tak kunjung sembuh, gangguan hama tanaman dan kekeringan yang panjang merupakan hukuman atau kemarahan dari roh-roh penguasa alam.
Diyakini sakit penyakit dan bencana ini disebabkan oleh pelanggaran atau kesalahan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya, terhadap roh halus, dan terhadap nenek moyang.
Pelanggaran tersebut dapat diketahui melalui sebuah upacara devinasi yang biasa disebut upacara depa dua (rentangan tangan-kayu pembentuk tombak).
Proses acara berlangsung ditentukan oleh pertanyaan-pertanyaan akan kesalahan yang menyebabkan sakit. Tua adat mengulangi setiap pertanyaan dengan singkat, lalu berhenti dengan gerakannya sendiri.
Acara “Depa Dua” dilakukan oleh seorang tetua adat yang diyakini betul mempunyai karisma. Karisma ini biasanya didapat dari warisan leluhur.
Tahap kedua adalah upacara inti penyembuhan orang sakit, Ho’in Hoka’ Wekin Wolo. Acara inti dalam upacara ini terjadi dalam lima bagian.
Bagian pertama adalah memanggil roh para leluhur, guna dewa ‘roh pelindung kampung’, dan ‘Rera Wulan Tana Ekan’.
Bagian kedua, upacara persatuan roh leluhur, guna dewa, Tuhan dan kerabat atau orang yang terlibat dalam upacara.
Bagian ketiga ialah memberikan sesajian di tempat-tempat yang dipercayai dihuni oleh makhluk gaib.
Bagian keempat yaitu pemecahan 6 butir telur sebagai simbol memberi silih untuk menghapus kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang sakit. Kemudian dilanjutkan pemotongan hewan kurban (babi) sebagai simbol pemurnian jiwa dan penambah darah si penderita agar panjang umurnya.
Proses pelaksanaan pada tahap kedua ini dimulai dengan pemanggilan roh para leluhur, guna dewa ‘roh pelindung kampung’, dan Rera Wulan Tanah Eka ‘Wujud Tertinggi’ yang dilakukan oleh salah satu dari tetua adat yang telah dipercayakan.
Dalam proses ini, tetua adat yang dipercayakan dinamakan kaka bapa yang berarti ‘orang tua /tetua’. Tetua adat yang dipercayakan ini masih kerabat dekat dari orang sakit dan berstatus ayah.
Bahan yang disiapkan adalah satu buah sirih pinang dan satu kain sarung adat yang diletakkan dalam nyiru.
Proses pemanggilan ini dilakukan dengan cara berjalan keluar rumah menuju arah matahari terbit seraya menengadahkan nyiru yang berisi sirih pinang dan sarung adat ke arah matahari sambil mengucapkan doa permohonan dalam bahasa adat.
Proses selanjutnya adalah tahap pemberian sesajian kepada roh-roh halus di tempat-tempat yang diyakini oleh warga setempat dihuni oleh roh-roh halus.
Setelah pemberian sesajian, dilanjutkan dengan tahap pemecahan 6 butir telur dan pemotongan hewan kurban yakni babi.
Keenam telur dan hewan kurban mempunyai fungsinya masing-masing.
Telur pertama disebut Leba Wangu Gawuk Lean berfungsi menghapus kesalahan.
Telur yang kedua disebut Bawa Let Tuber Manger berfungsi memanggil roh orang sakit masuk ke dalam rumah bersatu dengan tubuh orang sakit.
Telur yang ketiga disebut Suku Sobah berfungsi memohon ampun atas kesalahan yang telah dibuat oleh orang yang sakit baik kepada roh halus, leluhur, Tuhan maupun terhadap sesamanya, baik secara sengaja maupun tanpa sengaja.
Telur keempat, Buka Tali Honge Gorah berfungsi membuka tali pada roh orang sakit yang diikat oleh roh halus.
Telur yang kelima disebut Hodik Padak simbol persatuan lahir batin orang sakit dengan sesama.
Telur yang keenam disebut Ho’in Laga berfungsi membersihkan jiwa orang sakit.
Darah binatang kurban berfungsi menambah darah orang sakit sebagai simbol panjang umur yang dalam bahasa adat disebut Pota Mei, Hore Worak.
Sesi terakhir upacara ini dilakukan pembersihan jiwa dan raga orang sakit yang dinamakan Gelowa Wekin Wolo atau dalam bahasa setempat (Lamaholot) adalah Nilu dengan menggunakan cairan dari buah kemiri yang dikunyah oleh kepala pemangku adat yang adalah tuan tanah setempat. Kemiri disebut sebagai kemi’e.
Penggunaan kuma tonu (kunyit) untuk menyebut kemiri karena keduanya (kunyit dan kemiri) memiliki fungsi yang sama dalam budaya masyarakat Lewotala, yaitu sebagai sarana penyembuhan.
Makna Figuratif dalam Upacara Ho’in Hoka’ Wekin Wolo
Pilihan kata Hoin Hoka’ Wekin Wolo ‘membersihkan mencabut jiwa raga’ menunjukkan konsepsi masyarakat mengenai kesehatan.
Kata hoin dan hoka (membersihkan-mencabut) adalah sebuah istilah yang diambil dari khazanah masyarakat petani, yakni mencabut rumput liar yang mengganggu atau menghambat pertumbuhan tanaman.
Penyakit atau gangguan kesehatan dikiaskan sebagai rumput liar yang harus dibersihkan dan dicabut agar seseorang yang menderita sakit kembali sehat.
Kata wekin dan wolo ‘jiwa dan raga’ menunjukkan bahwa dalam konsepsi masyarakat Lewotala, kesehatan itu mencakup kesehatan jasmani dan kesehatan rohani.
Keduanya tidak dapat dipisahkan. Sama halnya penyakit pun mencakup penyakit/gangguan terhadap tubuh jasmani dan rohani.
Pandangan masyarakat Lewotala tentang Wujud Tertinggi, tampak dalam sapaan terhadap Wujud Tertinggi: Kaka Go Ratu Tua Rera Wula–Ama Go Nini Mete Tana Eka.
Bagi masyarakat Lewotala, alam raya terbagi dalam oposisi kembar, yakni pihak alam atas dan pihak alam bawah.
Sebagaimana tampak dalam sapaan terhadap Wujud Tertinggi: Kaka Go Ratu Tua Rera Wula, Ama Go Nini Mete Tana Eka.
Pilihan kata Rera-Wula (matahari-bulan) dan Tana-Eka (tanah-bumi) menunjukkan bahwa alam raya dilihat dalam dualisme, yakni: pihak alam atas diwakili oleh kata Rera-Wula dan pihak alam bawah diwakili oleh Tana-Eka.
Masyarakat Lewotala mempercayai adanya karma, hal ini dapat dilihat dalam tuturan: Dei Kala Tape Unga, Sadik Kala Taro Kelawi secara harafiah berarti berdiri bersama (seperti) gelang, mengobati luka lama.
Pilihan kata Dei Kala Tape Unga dalam kalimat ini, menunjukkan bahwa masyarakat Lewotala dituntut untuk selalu hidup berdampingan dan bersatu padu seperti gelang.
Pilihan kata Sadik Kala Taro Kelawi, menunjukkan masyarakat Lewotala mempunyai pandangan bahwa sakit merupakan akibat dari suatu kesalahan yang dilakukan di masa lalu karena siklus hidup manusia dipandang berputar membentuk sebuah lingkaran. Apa yang terjadi pada saat ini merupakan rangkaian sebab-akibat dari perbuatan yang terjadi pada masa lampau.
sumber :https://voxntt.com/2018/11/18/ritual-hoin-hoka-wekin-wolo-cara-orang-lewotala-sembuhkan-penyakit/36901/
Tenun NTT: Simbol Status, Identitas, dan Kisah Leluhur Identitas dan Asal-Usul Tradisi tenun yang paling populer di Indonesia merujuk pada Tenun Ikat , khususnya varian yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Popularitas ini tidak terlepas dari keunikan teknik, motif, dan makna filosofisnya yang kuat dalam budaya masyarakat setempat [S1]. Tenun ikat di NTT merupakan warisan budaya yang bertahan hingga kini, diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian integral dari identitas komunitas [S2]. Secara geografis, sentra tenun ikat NTT tersebar di berbagai pulau, dengan Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu pusat tradisi ini yang paling kuat. Di Sumba, pembuatan kain tenun ikat tradisional masih lestari, dengan kampung-kampung seperti Kanatang dan desa-desa di wilayah Sumba Timur menjadi lokasi perajin aktif [S3]. Proses pembuatannya sangat mengikat dengan sejarah dan kehidupan masyarakat, di mana kain tenun bukan sekadar produk ekonomi tetapi juga warisan leluhur yang...
Kain tenun bukan hanya sekadar produk tekstil biasa di Indonesia Identitas dan Asal-Usul Kain tenun di Indonesia merupakan warisan budaya yang melampaui fungsi sebagai produk tekstil konvensional [S1]. Objek ini merepresentasikan hasil karya tangan yang memuat narasi sejarah panjang serta nilai-nilai budaya yang luhur [S4]. Keberadaannya telah menjadi bagian integral dalam aspek sosial, ekonomi, hingga spiritual masyarakat Nusantara selama ribuan tahun [S1], [S4]. Secara geografis, tradisi menenun tersebar luas di hampir seluruh wilayah Indonesia, di mana setiap daerah mengembangkan karakteristik, motif, dan filosofi yang unik [S1], [S3]. Keberagaman ini didukung oleh teknik pembuatan yang spesifik serta keterampilan perajin yang diwariskan secara turun-temurun [S1], [S4]. Beberapa wilayah yang memiliki tradisi tenun dengan kekhasan motif dan makna yang menonjol antara lain Toraja, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Bali [S2]. Setiap motif yang dihasilkan bukan sekadar ele...
Indonesian parents often use traditional games to educate their children about character building Identitas dan Asal-Usul Permainan Bentengan diklasifikasikan sebagai permainan tradisional anak yang telah berintegrasi dalam budaya lokal Indonesia [S2]. Teks bebas mencatat bahwa aktivitas ini telah dimainkan sejak era kolonial Belanda [S1]. Ensiklopedia daring mengonfirmasi bahwa permainan tradisional Nusantara umumnya memiliki akar akulturasi yang kuat [S2]. Meskipun tidak teridentifikasi secara spesifik mengenai wilayah kelahirannya, permainan ini tersebar luas sebagai warisan bermain anak pra-modern [S2]. Perbandingan antara kedua sumber menunjukkan bahwa [S1] berfokus pada konteks historis kolonial dan mekanisme permainan, sedangkan [S2] lebih menekankan pada akar akulturasi budaya dan fungsi sosialnya secara umum. Kedua sumber memiliki batasan masing-masing: [S1] tidak menguraikan variasi regional, sementara [S2] bersifat umum tanpa mendetailkan mekanisme spesifik Bentengan....
Songket Palembang: Jejak Sriwijaya dalam Selembar Kain Martabat Identitas dan Asal-Usul Songket Palembang merupakan kain tenun tradisional yang diakui sebagai warisan budaya tak benda Indonesia sejak tahun 2013 [S1]. Kain ini dikenal luas karena kekayaan historisnya dan menjadi penanda martabat dalam budaya masyarakat Palembang [S3, C5, C6]. Popularitasnya sering terlihat dalam berbagai pameran dan dikenakan oleh tokoh publik [C2]. Asal-usul Songket Palembang kerap dikaitkan dengan masa Kemaharajaan Sriwijaya, yang berpusat di Palembang, Sumatera Selatan [S3, C4]. Sejak masa kerajaan, songket tidak hanya berfungsi sebagai busana, tetapi juga sebagai simbol kedudukan, kehormatan, dan peran sosial seseorang [C7]. Keunikan ini menjadikan Songket Palembang lebih dari sekadar kain indah, melainkan sarat akan nilai sosial dan filosofis yang melekat pada setiap helainya [C8, C9]. Meskipun demikian, belum ada sumber yang secara spesifik merinci sentra produksi Songket Palembang selain...
Keris: Lebih dari Senjata, Pusaka Jawa yang Mendunia Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan senjata tikam tradisional yang berasal dari Indonesia, dengan karakteristik bentuk bilah yang asimetris atau berkelok-kelok [S1], [S5]. Secara struktural, keris terdiri atas tiga komponen utama, yakni bilah ( wilah ), gagang ( hulu ), dan sarung ( warangka ) [S1]. Sebagai bagian dari kategori tosan aji —istilah untuk senjata berbahan besi bernilai tinggi yang dimuliakan—keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata perang, tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang dan simbol identitas masyarakat Jawa [S2], [S5]. Museum Nasional Indonesia menyimpan koleksi keris yang merepresentasikan sejarah perkerisan Nusantara, termasuk spesimen dari Cirebon, Jawa Barat, yang berasal dari abad ke-16 [S4], [S5]. Salah satu contoh koleksi yang terdokumentasi adalah keris dengan dhapur Kebo Lajer dan pamor tambal, yang secara historis populer di kalangan masyarakat petani pedesaan sebagai sim...