Garista adalah Rumah Adat Karo di Kota medan yang dikenal sebagai Siwaluh Jabu. Rumah adat ini dipindahkan dari lokasi asalnya di Tanah Karo. Rumah Adat Karo Garista menarik perhatian karena menjadi Rumah Adat Karo satu-satunya di Kota Medan.
Asal-usul Rumah Adat Garista Berdasarkan keterangan dari Marde, pengurus Rumah Adat Karo Garista, Rumah Adat Karo Garista adalah Rumah Siwaluh Jabu pertama di Kota Medan. Siwaluh Jabu berasal dari bahasa Karo yang artinya rumah yang dihuni oleh delapan keluarga. Bangunan ini dipindahkan dari dari tanah Karo, lokasi asalnya. Awalnya rumah ini dibangun pada tahun 1893 di Tanah Karo, kemudian direkonstruksi di Medan pada tahun 2018-2019. Rumah Siwaluh Jabu di Garista dulunya milik seorang mantan tentara dan sudah lama tidak berpenghuni. Akibat lamanya tidak berpenghuni, rumah tersebut menjadi tidak terurus di tempat asalnya dan akhirnya dipindahkan ke Medan untuk dijadikan tempat wisata.
Daya tarik Rumah Adat Karo Garista Keunikan Rumah Adat Karo atau Siwaluh Jabu Garista adalah pembangunannya tanpa menggunakan paku. Semua sambungan untuk pembangunan rumah hanya menggunakan pasak kayu, bambu dan ikatan ijuk. Material bangunan pun masih menggunakan bahan dari bangunan lama. Meskipun begitu, rumah ini dianggap memiliki kemampuan untuk menahan guncangan gempa. "Rumahnya itu dibangun enggak pakai paku, jadi hanya pakai bambu, kayu, dan ijuk untuk atap rumahnya. Itupun diambil dari bangunan lama. Tapi rumahnya ini kokoh. kalau gempa cuman goyang saja, tidak sampai roboh," ungkap Marde kepada detikSumut, Kamis (6/6/2024)
Rumah ini juga menjadi satu-satunya rumah adat Karo di Kota Medan, sehingga siapa pun yang ingin berkunjung ke Rumah Adat Karo di Medan, hanya bisa mengunjungi Rumah Adat Karo Garista.
Struktur Rumah Adat Karo Garista Pembangunan Siwaluh Jabu hanya menggunakan kayu, bambu, dan ijuk. Bahan kayu digunakan pada tiang, kerangka, lantai, dan dinding. Sementara itu, kerangka atap dan teras dibuat dari bambu. Pada bagian atas atapnya, digunakan ijuk sebagai penutup.
Siwaluh Jabu memiliki desain rumah panggung dengan atap melengkung menyerupai pelana kuda. Di bagian ujung atap, terdapat kepala sapi yang fungsinya sebagai penangkal bala atau melindungi rumah dari bencana.
Di dalam rumah, terdapat empat dapur yang pada masa lampau digunakan secara bersama oleh delapan keluarga. Akses ke rumah hanya tersedia melalui pintu kecil di teras, yang terletak di bagian depan dan belakang rumah.
Pada bagian kolong Siwaluh Jabu, dulunya dipergunakan untuk memelihara berbagai hewan ternak.
Rumah Adat Karo Garista di Medan adalah simbol kebudayaan yang kaya dan unik dari suku Karo. Dengan arsitektur tradisional yang khas dan sejarah yang panjang, rumah adat ini menjadi daya tarik wisata budaya yang tak boleh dilewatkan. Dalam video ini, kami akan membawa Anda untuk mengeksplorasi setiap sudut Rumah Adat Karo Garista, mempelajari keunikan arsitektur dan nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Karo. Saksikan perjalanan kami untuk menyelami lebih dalam tentang kekayaan tradisi Nusantara di Medan!
Rumah Adat Karo Garista ini dibangun dengan 4 dapur agar lebih mirip dengan Siwaluh Jabu. Seluruh dapur tersebut dapat digunakan secara bersama oleh 8 keluarga. Salah satu hal menarik yang bisa ditemukan yaitu produk ukiran tangan yang ada di kayu masih terpelihara dengan baik dan kemudian ditambahkan warna agar bisa memberikan daya tarik lebih unik.
Siwalah Jabu memang memiliki keunikan tersendiri. Bahkan tidak ada yang menyangkal bahwa rumah adat Sumatera Utara ini sangat indah dan menawan. Hal tersebut dapat tercipta karena masyarakat Karo memang sangat terkenal dengan kesenian di bidang konstruksinya. Para arsitek bangunan Siwaluh Jabu di kompleks Rumah Adat Karo Garista mengikuti bentuk aslinya.
Model bangunan yang dibuat memang telah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang suku Karo mulai dari pemilihan atap ijuk, desain rumah panggung hingga struktur kayu. Bisa dikatakan bahwa bangunan Siwaluh Jabu ini bukan bangunan biasa karena setiap jengkal tanahnya membawa filosofi indah yang mengandung adat istiadat baku masyarakat Karo.
Rumah Adat Karo Garista Medan dilengkapi dengan 2 bangunan tradisional yang indah dipandang. Bahkan suasana dan juga keindahan budaya yang ditampilkan mampu membuat Anda serasa sedang berwisata ke Karo. Bagi para pecinta fotografi dan kaum millenials, wajib banget datang ke sini untuk menyaksikan keindahan bangunan khas ini.
Lokasi, Jam Buka, dan Harga Tiket Rumah Adat Karo atau Siwaluh Jabu Garista terletak di Jl. Bunga Herba 5 Ujung No.89, Simpang Selayang, Kec. Medan Selayang, Kota Medan, Sumatera Utara. Harga tiket masuknya sekitar Rp 10.000 baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Waktu operasionalnya dari pukul 09.00 WIB sampai 18.00 WIB setiap hari, mulai dari hari Senin-Mingg
Reference:
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara