Asal-usul Desa Mertani dimulai dari keberadaan Joko Tingkir atau Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya yang menetap di Desa Pringgoboyo, Maduran, Lamongan.
JOKO TINGKIR, MAS KAREBET, SULTAN HADIWIJAYA
Joko Tingkir adalah salah satu legenda yang paling dikenal oleh masyarakat. Joko Tingkir memiliki nama asli Mas Karebet yang diambil ketika sang ayah Ki Kebo Kenongo sedang menggelar pertunjukan wayang beber dan dalangnya adalah Ki Ageng Tingkir. Namun suara wayang yang tertiup angin membuat suara "kemebret” membuat Joko Tingkir diberi nama "Mas Karebet”.
Dilahirkan tahun 1549 dari pasangan Ki Kebo Kenongo dan Nyi Ageng Pengging. Joko Tingkir adalah pendiri sekaligus raja atau sultan pertama dari kesultanan atau Kerajaan Pajang dengan gelar Sultan Adiwijaya atau Sultan Hadiwijaya.
Joko Tingkir adalah cucu Adipati Andayaningrat yang dikenal dengan nama Syarief Muhammad Kebungsuan. Joko Tingkir putra dari Ki Kebo Kenongo yang merupakan putra dari Ki Ageng Pengging Sepuh (Andayaningrat/Joko Sengoro/Muhammad Kabungsuan) putra dari Syeikh Jumadil Kubro (Jamaluddin Akbar al-Husaini). Kebo Kenongo menikah dengan Raden Ajeng Tajug Inten dari Madura. Sedangkan kakeknya, Andayaningrat menikah dengan Ratu Pembayun putri dari Prabu Brawijaya V Raja Majapahit.
Jika melihat garis nasab tersebut diketahui bahwa Joko Tingkir adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW. Joko Tingkir merupakan sosok raja yang memiliki kharisma dalam memimpin.
Berdasarkan buku Babad Tanah Jawa seperti dilansir dari Wikipedia. Setelah beranjak dewasa, Joko Tingkir merantau menuju ibu kota Demak bersama rekannya, Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil. Sesampai di Demak, Joko Tingkir tinggal di rumah pamannya, Kyai Gandamustaka, yang merupakan seorang perawat Masjid Demak berpangkat Lurah Ganjur. Lalu atas jasa pengabdiannya Joko Tingkir diangkat oleh Sultan Trenggono menjadi Lurah Wiratamtama setelah itu juga dinikahkan dengan putri Sultan Trenggono yang bernama Ratu Mas Cempaka.
Kerajaan Pajang yang didirikan oleh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya adalah kerajaan Islam ke-2 di Tanah Jawa setelah Kesultanan Demak runtuh. Sejarah Kerajaan Pajang diawali saat Kesultanan Demak dilanda konflik perebutan kekuasaan.
KERAJAAN PAJANG
Kerajaan Pajang atau Kesultanan Pajang adalah salah satu kerajaan bercorak Islam di Nusantara. Kesultanan yang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir yang berkuasa dari 1568-1586 Masehi. Ibukota kerajaan Pajang terletak di daerah perbatasan Desa Pajang, Kota Surakarta dan Desa Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Nama Pajang telah disebutkan dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis pada 1365 sebagai bagian dari tanah kekuasaan Majapahit. Penguasa Pajang adalah adik Hayam Wuruk (Raja Majapahit saat itu), Dyah Nertaja, yang bergelar Bharata I Pajang atau disingkat Bhre Pajang. Dyah Nertaja atau Putri Iswari adalah ibu dari Wikramawardhana (Raja Majapahit selanjutnya). Babad Banten menyebutkan bahwa Pengging di Boyolali sebagai kerajaan kuno yang dipimpin oleh Anglingdriya merupakan cikal bakal Kerajaan Pajang.
Ketika Brawijaya V menjadi Raja Majapahit, putrinya yang bernama Retno Ayu Pambayun diculik oleh Menak Daliputih, Raja Blambangan. Joko Sengoro berhasil merebut kembali sang putri, sehingga Brawijaya mengangkatnya sebagai Bupati Pengging dengan gelar Andayaningrat. Andayaningrat wafat ketika terjadi perang antara Majapahit dan Demak.
Meski Majapahit hancur karena peperangan namun Pengging masih berdaulat hingga dibawah pemerintahan putra mahkota Andayaningrat, Kebo Kenongo, yang bergelar Ki Ageng Pengging. Kesultanan Demak kemudian berniat menaklukkan Pengging dengan bantuan Ki Wanapala dan Sunan Kudus, karena Ki Ageng Pengging dianggap melakukan pemberontakan.
Ki Ageng Pengging akhirnya terbunuh, sedangkan adiknya yang bernama Kebo Kanigoro berhasil melarikan diri. Ki Ageng Pengging menikah dengan Raden Ajeng Tajug Inten putri dari Raden Harya Gugur dari Madura (sekarang menjadi Desa Glugur Kec. Batuan Kab. Sumenep) meninggalkan seorang putra bernama Mas Karebet, yang diangkat anak oleh Nyi Ageng Tingkir setelah kedua orang tuanya meninggal. Mas Karebet atau lebih dikenal sebagai Joko Tingkir justru memutuskan untuk mengabdi kepada Kesultanan Demak.
Kesultanan Demak dan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa mengalami kemunduran. Pada 1549, Arya Penangsang, Bupati Jipang, berusaha merebut takhta dan menyebabkan terbunuhnya Sunan Prawoto, pewaris Kesultanan Demak. Arya Penangsang juga berniat membunuh Sultan Hadiwijaya, tetapi gagal.
Dengan dukungan Bupati Jepara, Ratu Kalinyamat, Sultan Hadiwijaya berhasil mengalahkan pasukan Arya Penangsang. Hadiwijaya kemudian menjadi pewaris takhta Kesultanan Demak dan memindahkan ibukotanya ke Pajang. Dengan begitu, Kerajaan Pajang resmi berdiri pada tahun 1568. Pada tahun yang sama, adipati kerajaan-kerajaan Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Jipang, Wirasaba, Kadiri, Pasuruan, Madiun, Sedayu, Lasem, Tuban, Pati, Madura dan Surabaya mengakui kedaulatan Kerajaan Pajang. Hal ini ditandai dengan pernikahan politik putri-putri Sultan Hadiwijaya antara lain :
Kematian Sultan Hadiwijaya
Pada 1582 M Perang Pajang dan Mataram pecah. Pecahnya perang ini usai Panembahan Senopati yang menguasai Mataram merebut adik Tumenggung Mayang, saat hendak dibuang ke Semarang karena hukuman dari Kesultanan Pajang. Pajang dinyatakan kalah. Setelah menerima kekalahan Sultan Hadiwijaya kembali pulang namun kondisinya melemah membuatnya tidak kuat melakukan perjalanan pulang. Lalu ia singgah ke makam Sunan Tembayat. Setelah merasa lebih kuat Sultan Hadiwijaya melanjutkan perjalanan pulang namun ditengah perjalanan ia jatuh dari tunggangan gajah dan dikabarkan meninggal dunia. Akan tetapi informasi itu sengaja dikaburkan/ disamarkan karena kenyataannya beliau bersama pasukannya menuju ke Madura.
Sultan Hadiwijaya ke Madura hingga menetap di Pringgoboyo
Orangtua Sultan Hadiwijaya dari pihak Ibu yaitu Raden Ajeng Tajug Inten atau Nyai Ratu Mandoko putri dari Raden Haryo Gugur dari Madura tepatnya dari Sumenep. Ketika Sultan Hadiwijaya kalah perang dengan Sutawijaya, beliau berniat pulang ke tanah asal orang tuanya di Madura. Salahsatu sarana transportasi pada masa itu melalui Sungai Bengawan Solo. Muara Bengawan Solo pada masa itu berada di Selat Madura. Baru pada zaman Belanda tahun 1890 muara Bengawan Solo dipindah ke Ujungpangkah Gresik untuk menghindari pendangkalan Selat Madura.
Setelah merasa cukup kuat dari proses penyembuhannya di Madura, Sultan Hadiwijaya berangkat kembali untuk merebut kekuasaannya yang direbut oleh Sutawijaya. Seperti biasa, ia berangkat melalui Bengawan Solo. Sampai di daerah yang namanya Pringgoboyo, Maduran, Lamongan. Pada saat tertidur beliau bermimpi bertemu gurunya yang melarang kembali merebut kekuasaan lagi. Berawal dari mimpi tersebut Sultan Hadiwijaya akhirnya mengurungkan niat kembali ke Pajang. Ia memutuskan tinggal di Pringgoboyo, mendirikan pesantren, menjadi guru dengan sebutan Mbah Anggungboyo sampai beliau meninggal.
Joko Tingkir adalah seorang ulama besar yang sangat dihormati masyarakat Jawa yang juga dipercaya sebagai leluhur dari Gus Dur (Abdurrahman Wahid, Presiden ke 4). Gus Dur beberapa kali mengunjungi makam di Desa Pringgoboyo ini. Beliau ditemani oleh pendekar muda NU juga pendakwah yang kita kenal sebagai Gus Muwafiq. Gus Muwafiq atau Ahmad Muwafiq, lahir di Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan pada 2 Maret 1974. Beliau kemudian menetap dan mengasuh sebuah pondok pesantren di Sleman, Yogyakarta.
Kembali terkait Gus Dur setidaknya beliau dua kali menyebut makam di Desa Pringgoboyo sebagai makam Joko Tingkir. Satu kali lewat sebuah tulisan dan satu kali lewat sebuah ceramah di Gresik. Keduanya diucapkan setelah beliau sudah tidak lagi menjadi presiden.
Pasukan Sultan Hadiwijaya dan Desa MERTAMU
Sebagian pasukan yang mengiringi Sultan Hadiwijaya diperbolehkan menyebar ke wilayah sekitar namun dipesan agar tidak menggunakan nama aslinya demi menghindari terbongkar penyamaran Sultan Hadiwijaya yang sudah dikabarkan meninggal dunia.
Beberapa Pasukan Sultan Hadiwijaya menuju ke timur dan ada yang sampai di Desa yang berada di tepi Bengawan Solo. Berjarak kurang lebih 10 km dari Desa Pringgoboyo bila melalui jalur sungai Bengawan Solo dan menetap disana.
Karena Desa ini belum memiliki nama maka dari beberapa pasukan Sultan Hadiwijaya yang sedang menyamar/ berganti nama desa ini dinamakan dengan Desa MERTAMU (yang kurang lebih artinya bertamu) namun dalam perkembangannya lidah masyarakat sekitar mengalami perubahan pelafalan dari nama MERTAMU menjadi Desa MATAMU.
Desa MERTAMU atau MATAMU menjadi Desa MERTANI
Berdasarkan cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut dan berlangsung secara turun temurun bahwa pernah terjadi pertengkaran 2 (dua) orang terkait nama Desa MATAMU.
Alkisah ada seorang pengelana yang melewati desa ini kemudian bertanya kepada warga setempat.
"Ki sanak mohon maaf nama desa ini apa ya? tanya Sang Pengelana. Dijawab oleh warga setempat "Desa Matamu". "Saya bertanya baik-baik kenapa dijawab dengan penghinaan" kata Sang Pengelana. "Iya nama desa ini Desa Matamu" kata warga setempat mengulanginya lagi.
Karena sudah sama-sama tidak bisa mengendalikan diri maka terjadilah perkelahian hingga dilerai oleh seseorang yang dipercaya bernama Ki Juru Mertani. Ki Juru Mertani juga merupakan menantu dari Sultan Hadiwijaya. Diyakini kala itu Sultan Hadiwijaya masih berada di Desa Pringgoboyo dan ditemani beberapa orang kepercayaan salah satunya adalah menantu beliau, Ki Juru Mertani yang menikah dengan putri ke empat Sultan Hadiwijaya, Ratu Mas Sumular Sekar/ Ratu Mas Banten. Akhirnya disepakati untuk mengganti nama Desa MERTAMU atau MATAMU menjadi Desa MERTANI menyesuaikan dengan nama orang yang melerai.
Nama Desa MERTANI dipakai hingga sekarang. Beberapa peninggalan sejarah yang bisa dijadikan rujukan versi ini adalah :
1). Ada makam kuno yang menjadi Cikal Bakal (Ki Kal Bakal) di Desa Mertani. Makam tersebut tertulis nama HARYO P SENTANU sedangkan menurut kepercayaan warga setempat nama itu bukanlah nama asli warga Mertani tetapi dipercaya nama Pendatang dari kerajaan atau orang berpengaruh kerajaan yang menetap di Mertani. Dipercaya beliau salahsatu Pengawal Sultan Hadiwijaya yang menetap di desa ini.
2). Ada makam kuno yang tetap terjaga disebut sebagai MBAH BUYUT SANTRI. Beliau dianggap sebagai "Orang Linuwih" karena jasad beliau masih memegang Kitab Suci Al Qur'an sewaktu ditemukan terbawa luapan Bengawan Solo. Berdasarkan cerita rakyat sewaktu diarahkan ke tengah aliran sungai masih tetap kembali ke wilayah Desa Mertani.
3). Penataan Ruang Permukiman di Desa sungguh luar biasa tertata rapi hingga hampir tidak ada yang menemui jalan buntu.
4). Luas Wilayah Pertanian Desa Mertani sangat luas hingga mencapai kurang lebih 6X lipat luas desanya dan sangat kontras luasnya dibanding desa-desa disekitarnya. Itu menunjukkan kecerdasan penduduk Mertani kala itu dalam memperluas wilayah permukiman dan pertanian sewaktu aktifitas babat alas.
5). Membagi Wilayah Pertanian menjadi Sawah Rowo, Sawah Pinian, Sawah Kramanan yang berada di selatan desa dan Tegalan yang ada di utara desa dekat dengan Bengawan Solo. Nama itu terkait ukuran dan peruntukannya.
6). Ditemukannya Tempat Pemakaman Kuno dibedakan atas : Makam Umum, Makam Bayi dan Makam Sapi. Ini diyakini nama-nama itu disesuaikan peruntukannya.
7). Pembuatan Pasar Desa yang berada di dekat Sungai Bengawan Solo sebagai salahsatu urat nadi perdagangan zaman itu. Sehingga mampu menopang perekenomian penduduknya. Bila pagi berdagang di pasar siangnya melanjutkan aktifitas pertanian/ perikanan.
Referensi : https://lamonganpos.com/2023/11/12/makam-joko-tingkir-di-lamongan-dan-kontroversinya/https://historia.id/kuno/articles/siapa-jaka-tingkir-v29ww https://id.wikipedia.org/wiki/Andayaningrat [https://id.wikipedia.org/wiki/Ki\_Ageng\_Pengging][1] https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Tingkir https://ancestors.familysearch.org/en/KJHZ-VZD/hadiwijaya-mas-karebet-jaka-tingkir-1503-1582 https://www.facebook.com/permalink.php/?story_fbid=835640828563421&id=100063525348390 https://jatim.nu.or.id/tokoh/warga-madura-harus-bangga-gus-dur-adalah-keturunan-sumenep https://nasional.okezone.com/read/2022/09/20/337/2671570/mengenal-silsilah-jaka-tingkir-masa-pemerintahan-dan-sejarahnya
Edy Prianto Bin Darman Abdurrahman Bin Truno Medjo Edy Prianto Musriati Nur Hasanah Binti Atmo Achmad
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...