Pendataan data budaya tradisional di www.budaya-indonesia.org ini bersifat inisiatif dan partisipatif dari semua kontributor (sobat budaya). Semakin banyak seorang kontributor memberikan partisipasinya, maka semakin kuat posisinya dalam susunan organisasi dari Sobat Budaya Indonesia. Makin tinggi posisi seorang Sobat Budaya, makin banyak pula berbagai fasilitas keorganisasian dari Sobat Budaya, termasuk penentuan berbagai hal terkait manajemen web www.budaya-indonesia.org, ekspedisi budaya, dan sebagainya.
Posisi-posisi tertentu dari Sobat Budaya (dilihat dari kontribusinya) diharapkan akan bahu-membahu dengan Pengurus IACI dalam mengelola Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Berikut dijelaskan tentang aturan penilaian (keping) dari kontribusi di situs www.Budaya-Indonesia.org. Setiap kontribusi data yang telah disubmit ke situs ini, penyumbang akan diberikan skor (disebut keping).
Terdapat 2 jenis satuan data yang memiliki nilai keping tertentu.
Setiap kontributor yang membuat posting baru akan diberikan skor +15 keping.
Setiap kontributor yang mengunggah berkas baru di dalam satu postingan akan diberikan skor +10 keping. Berkas dinyatakan sebagai entitas digital yang disertakan (melalui proses unggah) dalam posting. Satu posting bisa memiliki beberapa berkas. Satu posting bisa terdiri dari banyak tipe berkas.Tipe berkas yang dapat diunggah ke dalam web ini adalah: gambar (jpg,gif,png) , video (avi,mp4), audio (mp3). Melakukan perbaikan dan posting komentar atau diskusi untuk tiap entri budaya juga mendapatkan keping poin. Jumlah keping total yang dimiliki oleh seorang kontributor Sobat Budaya akan menentukan level (disebut
gelar) dari Sobat Budaya. Berikut posisi dari posisi tertinggi hingga terendah:
Semar Budaya
Maharaja Budaya
Bathara SaptaPrabu Budaya
Mahapatih Budaya
Patih Dalem Budaya
DharmmaDyaksa Kasiwaan Budaya
Pabbicara Budaya
Pasungguhan Budaya
Galarang Budaya
Datuk Luhak Budaya
Mahamentri Budaya
Puun Budaya
Juru Pengalasan Budaya
Rakriyan Tumenggung Budaya
Hukum Sangaji Budaya
Matowa Budaya
Dalu Budaya
Wedana Budaya
Pangulubalang Budaya
Akuwu Budaya
Kawula Budaya
Tiap level akan ditentukan berdasarkan jumlah keping tertentu. Jumlahnya tidak tetap, tapi ditetapkan berkala sesuai dinamisasi kontributor budaya yang ditentukan oleh Dewan Suralaya, yang terdiri dari beberapa perwakilan dari kepengurusan IACI yang membidangi Kajian Budaya Tradisi, cendekia yang ditunjuk oleh penyelia www.budaya-indonesia.org, dan sobat-sobat budaya yang telah mendapatkan gelar "Mahapatih Budaya", "Batara Sapta Prabu", "Maharaja Budaya", dan "Semar Budaya".
Jadi, makin besar kontribusi, makin besar hak dan tanggung jawab Sobat Budaya sebagai punggawa digital Perpustakaan Terbuka Budaya Indonesia.
Catatan:
Jumlah keping yang dimiliki oleh seorang kontributor Sobat Budaya akan selalu bertambah sesuai dua aturan di atas. Namun bisa berkurang oleh karena:
Vandalisme dari kontributor oleh karena berkontribusi hal-hal yang melanggar etika, dan peraturan/perundangan di Republik Indonesia. Kesalahan ini bisa mendapatkan pengurangan keping mulai dari (-15 hingga pencabutan/blok keanggotaan akun kontributor Sobat Budaya).
Kekeliruan yang berpotensi mengancam integritas pencatatan data budaya secara partisipatif,. Kesalahan ini dapat dikenai sanksi hingga -5 keping yang dimiliki seorang kontributor Sobat Budaya.
Setiap pengurangan total nilai keping yang dimiliki merupakan otoritas penuh oleh piket/administrator yang ditunjuk oleh Dewan Suralaya. Keputusan pengurangan dapat dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dulu pada kontributor Sobat Budaya yang bersangkutan dan tidak bisa diganggu-gugat oleh semua kontributor Sobat Budaya, kecuali yang telah berada pada level "Mahapatih Budaya" hingga yang bergelar "Maharaja Budaya".
Saat ini Kepengurusan IACI sedang mengupayakan keterlibatan sebanyak mungkin intelektual dan cendekiawan budaya lintas disiplin untuk turut serta menjaga integritas proses pengumpulan data di www,budaya-indonesia.org.
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...