Ucing baledog merupakan salah satu bentuk permainan kucing-kucingan dari daerah sunda yang permainannya hamper sama dengan ucing udag dan harus dimainkan oleh banyak orang. Bedanya dengan ucing udag adalah permainan ini dilakukan dengan menggunakan bola elastis atau kertas yang dibentuk menjadi bola.
Permainan ini biasa dilakukan anak-anak ketika mereka berkumpul di lapangan, biasanya dimainkan pada siang atau sore hari, juga pada hari libur sekolah. Cara memainkannya cukup mudah, pertama tentukan dulu siapa yang menjadi kucingnya, bisa dengan hompimpah, suit, atau cingciripit. Kedua, setelah ditentukan siapa kucingnya, anak-anak selain kucingnya berlari di sekitar lapangan tersebut, sementara si kucing memegang bola dan harus melemparkannya tepat ke arah selain si kucing tersebut. Jika lemparan kucing tersebut tepat sasaran mengnai anak selain si kucing tersebut, maka kucingnya ganti jadi yang terkena lemparan bola tersebut. Perlu diperhatikan disini, bahwa selain si kucing tersebut tidak boleh memegang bola, melainkan dengan menendangnya kea rah yang sama-sama bukan kucing untuk mengelabui si kucing tersebut.
Sebenarnya, permainan ini juga ada dua jenis cara bermain. Pertama, seperti yang telah dijelaskan diatas. Kedua, bermain dengan cara benang hiji benang kabeh (jibeh). Cara bermain yang kedua ini pada dasarnya sama dengan yang pertama, hanya saja jika si kucing pertama melemparkan bola dan tepat sasaran, maka yang jadi kucingnya adalah orang yang dari awal menjadi kucing dan orang yang terkena lemparan bola, begitu seterusnya, sampai tersisa satu pemain yang belum menjadi kucing dan ialah pemenangnya. Namun, jika permainan dilanjutkan, maka yang menjadi kucing pertama kali di permainan selanjutnya adalah orang yang terkena lemparan bola pertama kali.
Ada juga aturan tambahan dalam permainan ini, yaitu bila ada satu orang yang baru dating dan memutuskan untuk ikut bermain, maka otomatis dia langsung menjadi kucingnya.
Permainan ini sangatlah bermanfaat. Kita bisa melakukan permainan ini sekaligus berolahraga, Karena dilakukan dengan kejar-mengejar dan lari-larian. Selain itu juga, yang pastinya permainan ini bisa menambah rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang tingi diantara orang-orang yang bermain. Mari budayakan permainan tradisonal ini.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara