Halo teman-teman semuanya!
Aku mau ngasih tau nih ke kalian semua kalau di Indonesia itu ada permainan yang namanya "Ucing Baledog".
Nama permainannya unik kan? Mungkin bagi teman-teman disini yang tinggal di sekitaran Jawa Barat atau yang kenal dengan budaya sunda pasti deh tau ini permainan apa.
Nah buat yang belum tau permainan ini, ayo simak artikelku dibawah ini!
Sebelumnya, kalian tau gak sih arti dari Ucing Baledog?
Seperti yang kalian tau, di sunda itu banyak banget permainan yang menggunakan kata Ucing. Contohnya ada ucing sumput, ucing sendal dan yang lainnya.
Ucing disini itu bisa disebut pelaku, atau orang yang menjadi fokus utama dalam permainan.
Selanjutnya, apa sih artinya Baledog?
Baledog itu artinya lempar ( dalam arti sempit ) atau melempar dengan menggunakan sesuatu dan mengenai suatu target.
Loh loh.. jadi sebenernya Ucing Baledog itu permainan apa sih?
Jadi teman-teman, permainan ini tuh biasanya sering dimainkan oleh anak-anak dengan usia sekitar 8-12 tahun atau ketika sedang bersekolah di SD.
Dari artinya sendiri, kalau kita satukan Ucing Baledog akan mempunyai arti kurang lebih seperti "Permainan dimana satu orang pemain melempar sesuatu mengenai pemain lainnya".
Barang yang biasa dijadikan alat melempar itu antara lain ; bola kertas yang berukuran satu kepalan tangan dan bola plastik berukuran kecil.
Permainan ini cukup simpel bukan?
Didalam permainan ini tidak ada patokan jumlah pemain, nanti didalam permainan akan ada satu orang yang menjadi Ucing yang mempunyai tugas untuk melempar bola mengenai pemain lain. Ucing juga tidak boleh berlari mengejar pemain lain, melainkan harus diam ditempat. Jika dirasa pemain lain terlalu jauh, maka Ucing akan diberikan kesempatan untuk melangkah sebanyak tiga kali sambil melemparkan bola ke udara dan menangkapnya kembali. Sedangkan pemain lainnya boleh bebas berlarian kemanapun selagi masih didalam area permainan yang telah disepakati sebelumnya.
Jika Ucing berhasil melempar bola mengenai pemain lain, maka dia akan bertukar peran dengan pemain yang kena bolanya tadi dan permainan akan terus berlangsung seperti itu.
Gimana teman-teman semuanya? adakah diantara kalian yang ingin mencoba permainannya?
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara