Menurut Cerita dahulu di Bangkalan ada seorang Raja yang suka berkelana, Keluar masuk desa-desa. Suatu ketika Baginda Raja Pangeran Sosro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat III / Pangeran Cakraningrat III (1707-1718) pergi ke desa Pocong. Ia pergi keluar masuk Desa bertujuan untuk mengetahui keadaan desa. Ketika sampai di suatu tempat, Beliau bertemu dengan gadis desa yang menjadi bunga desa di desa tersebut. Masyarakat Desa Pocong menyebutnya Nyi Pocong. Setelah Sang Raja tau rumah Nyi Pocong maka Sang Raja melamar Nyi Pocong kepada orang tuanya untuk di jadikan Istri (Selir) nya. Tentu saja Orang tua Nyi Pocong tidak berpikir panjang, Mereka langsung menerima lamaran Sang Raja yang tampan. Setelah beberapa lama Baginda Raja menjalani kehidupan suami istri dengan Nyi Pocong. Pada suatu hari ketika Nyi Pocong dalam keadaan hamil, Baginda Raja pergi kembali ke kraton. Tapi sebelum pergi Baginda Raja berpesan apabila Nyi Pocong melahirkan anak laki-laki agar di beri nama Ke’Lesap. Dan saat Nyi Pocong melahirkan Seorang anak laki-laki yang tampan. Anak laki-laki yang baru lahir itu oleh Nyi pocong di Beri nama Ke’Lesap. Sesuai apa yang di amanatkan oleh Baginda Raja Pangeran Sosro Diningrat / Pangeran Cakraningrat III.
Karena Ke’ Lesap anak Baginda Raja Pangeran Sosro Diningrat / Pangeran Cakraningrat III. dengan isteri selir, Oleh karena itulah ia kurang mendapat kedudukan dibanding dengan putera-putranya dari isteri Padmi.
Pada suatu waktu ia di beritahu oleh ibunya Nyi Pocong, siapa Ayah Ke’Lesap yang sebenarnya. sebagai seorang pemuda ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil kedepan dengan berbagai macam keahliannya. Ia suka sekali bertapa di Gunung-gunung dan di kuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa di gunung Geger (di Bangkalan) sampai cukup lamanya sekembalinya dari bertapa di gunung Geger (di Bangkalan) ia mempunyai beberapa macam keahlian. Terutama ia bisa menyembuhkan berbagi macam penyakit.
Hal itu terdengar oleh Raja Bangkalan yang bernama Suro Diningrat / Pangeran Tjokro Diningrat IV / Pangeran Cakraningrat IV (1718-1736). lalu ia di panggil dan diperkenankan untuk tinggal di Bangkalan dan diberinya hadiah berupa rumah di Desa Pejagan, selain itu Raja juga mengijinkan ia menjalankan prakteknya sebagai dukun, Sebagai dukun ia tidak segan untuk memberikan bantuan berbagai macam obat-obatan kepada siapapun yang menderita sakit, meskipun sudah mendapat penghormatan semacam itu Ke’ Lesap masih merasa belum puas
karena ia merasa sering diawasi oleh Raja, yang tersembunyi dibalik itu ia mempunyai ambisi untuk memegang pemerintahan di Madura. karena itu Ke’ Lesap meninggalkan kota Bangkalan terus menuju ke Timur dan akhirnya ia sampai di goa Gunung Pajuddan di daerah Guluk-Guluk dan di Guwa itulah ia bertapa untuk beberapa tahun lamanya.
Diceritakan bahwa Ke’ Lesap bertapa di sebuah Goa Gunung Pajuddan di daerah guluk-guluk selama beberapa tahun. Akhirnya yang Maha Kuasa memberi Ke’Lesap sebauh senjata Calok yang di beri nama Kodi’Crangcang. Konon Ceritanya Kodi’Crangcang itu kalau di lemparkan bisa terbang sendiri dan dapat disuruh untuk mengamuk sendiri tanpa ada orang yang memegangnya, karena kesaktian-kesaktian yang ia miliki ia makin dikenal sampai keseluruh pelosok Madura.
Ahirnya Ke’ Lesap merasa yakin pada dirinya sendiri bahwa ia sudah cukup mampu untuk mengobarkan api pemberontakan, keahlian dan kemasyhurannya banyak membawa simpati pada rakyat, sehingga ketika ia turun dari pertapaannya di gunung Pajudan ia dapat menaklukan desa-desa yang ia datangi.
Dengan bantuan pengikutnya Ke’ Lesap yang dikomandoi oleh panglima perangnya yang bernama Raden Buka mulai menyerang kerajaan Sumenep pada tahun 1749 – 1750 M. Ia mulai menyerang kerajaan Sumenep, Pertempuran terjadi dimana-mana dan tak lama kemudian Sumenep dapat didudukinya. Kanjeng Pangeran Ario Cokronegoro IV atau Raden Alza atau Adipati Sumenep XXVIII ( 1744 – 1749). Sebagai Raja Sumenep merasa sangat ketakutan. ia melarikan diri bersama-sama keluarganya ke Surabaya dan melaporkan adanya pemberontakan itu kepada Kompeni Belanda – VOC (1749 M) yang berada di Surabaya. Setelah keraton Sumenep dapat diduduki, Ke’ Lesap menempatkan Raden Buka sebagai Adipati Sumenep (1749 – 1750).
Setelah keraton Sumenep dapat diduduki, Ke’lesap menuju ke Pamekasan melalui jalan sebelah selatan ialah Bluto, Prenduan, Kaduaradan dan seterusnya. Dimanapun tempat yang ia lalui Ke’Lesap disambut oleh rakyat dengan penuh simpati dan terus rakyat menggabungkan diri sebagai pasukan Ke’Lesap, Kerajaan Pamekasan dengan mudah pula dapat dikalahkan oleh Pasukan Ke’Lesap, karena pada waktu itu Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail) tidak ada ditempat ia sedang bepergian ke Semarang.
Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail) adalah menantu Cakraningrat V yang bertahta di Bangkalan, sewaktu Adikoro kembali ke Semarang dan singgah di Bangkalan ia lalu mendengar dari mertuanya bahwa Ke’ Lesap melakukan pemberontakan, setelah mendengar berita itu Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro meminta diri kepada ayahnya untuk berangkat berperang melawan Ke’ Lesap. Ia sangat marah karena memikirkan nasib rakyat pamekasan yang tentunya kocar kacir karena ditinggal pemimpinnya.
Dengan diiringi pengikutnya yang masih setia Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro terus menuju ke Sampang dikota ini ia berhenti untuk beristirahat sebentar, pada saat makan siang datanglah seorang utusan Ke’ Lesap dengan membawa sepucuk surat yang isinya menantang untuk berperang. Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro sangat marah nasinya tidak dimakannya bahkan ia terus berdiri dan menanyakan kepada orang-orang banyak siapa yang sanggup mengikuti dirinya untuk berperang dengan Ke’Lesap, Penghulu Bagandan tidak menetujui untuk berangkat segera karena hari itu adalah hari naas dan menasehati untuk berangkat keesokan harinya saja.
Tetapi Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro tidak sabar untuk menunggu semalam saja, ia menanyakan lagi siapa yang sanggup mati bersama-bersama dengan dirinya. Penghulu Bagandan menyahut bahwa ia yang pertama-tama bersedia untuk mati bersama pemimpinnya karena itu tanpa ditunda-tunda lagi Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro berangkat dengan diikuti penghulu Bagandan dan pengiring-pengiring menuju ke Pamekasan, Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro dan pasukannya mengamuk sedemikian rupa sehingga musuhnya dapat dipukul mundur sampai ke Pangantenan daerah Pamekasan, akan tetapi karena jumlah pasukan Adikoro sangat sedikit dan ia sendiri sudah amat lelah maka tidak lama kemudian perutnya terkena senjata sampai ususnya keluar. Tetapi semangatnya tidak padam ia melilitkan ususnya kepada tangkai kerisnya dan ia terus mengamuk dengan senjatanya, rupanya ia kehabisan tenaga juga dan terus jatuh meninggal dunia. Demikian pula penghulu Bagandan gugur di Medan pertempuran bersama Rajanya.
Setelah Raja Pamekasan Tumenggung Ario Adikoro dapat dikalahkan maka Ke’Lesap beserta pasukannya terus menuju ke Bangkalan. Saat itu Bangkalan dipimpin oleh Raden Adipati Sejo Adi Ningrat I / Panembahan Tjokro Diningrat V / Pangeran Cakraningrat V (1736-1769). di Bangkalan pertempuran hebat pun dimulai, sebab pasukan Cakraningrat V mengadakan perlawanan-perlawanan yang cukup hebat tetapi lama kelamaan pasukan Bangkalan dapat dipukul mundur dan bantuan dari Kopeni didatangkan dari Surabaya, pertempuran terus berkobar kembali.
Bantuan dari Kompeni tidak dapat bertahan dan terpaksa mundur pula, karena Cakraningrat V merasa hampir kalah ia mengungsi ke daerah Malajah, sedangkan Benteng dipertahankan oleh Pasukan Kompeni. Waktu itu Ke’Lesap membuat Pesanggrahan di desa Tonjung.
Pada suatu malam Cakraningrat V bermimpi supaya Ke’Lesap di kirimi seorang perempuan dengan disuruh memegang bendera putih yang maksudnya Bangkalan akan menyerah, tipu muslihat itu keesokan harinya dijalankan seorang perempuan diberinya pakaian Keraton serta disuruh memegang bendera putih dan terus di kirimkan kepada Ke’Lesap. Ke’Lesap menerima pemberian itu dan wanita itu dibawa ke Pesanggrahannya dengan keyakinan bahwa Bangkalan sudah menyerah.
Pada waktu Cakraningrat V menunggu reaksi Ke’Lesap dengan dikirimkannya seorang wanita yang memegang bendera putih, tiba-tiba terlihatlah tombak pusaka Bangkalan yang bernama Ki Nenggolo gemetar dan bersinar-sinar seolah mengeluarkan api, Cakraningrat bangkit dari tempat duduknya dan langsung mengambil tombak itu, ia lalu mengajak pasukannya untuk berangkat berperang guna menumpas pemberontakan Ke’ Lesap.
Sesampainya di Desa Tonjung Ke’ Lesap sangat terkejut karena Cakraningrat V datang menyerang dengan tiba-tiba dengan tidak menunggu lama Cakraningrat V mendatangi pempinan pemberontak itu dan menancapkan tombaknya, pada seketika itu Ke’Lesap meninggal rakyat Bangkalan yang mengikuti Rajanya berseru “Bangka-la’ an” yang artinya sudah matilah. Karena itu sebagian orang Madura mengatakan bahwa nama Bangkalan itu berasal dari kalimat itu.
Sumber: https://tretantragah.wordpress.com/2015/03/06/cerita-rakyat-bangkalan-kelesap/
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...