Bahan I: 500 gram singkong parut 150 gram gula merah, disisir 25 gram gula pasir 1/2 sendok teh garam 200 ml santan dari 1/4 butir kelapa Bahan II: 250 ml santan dari 1/2 butir kelapa 25 gram tepung terigu protein sedang 1/4 sendok teh garam Cara membuat masakan Pangantala Kasubi (sulawesi Tengah), resep : Bahan I: rebus gula merah, gula pasir, garam, dan santan sampai mendidih dan gula larut. Angkat. Tuang ke singkong parut. Aduk rata. Masukkan campuran singkong ke dalam loyang 20x20x4 yang dialas plastik dan dioles tipis minyak. Kukus 20 menit sampai setengah matang dengan api sedang. Bahan II: aduk rata santan, tepung terigu, dan garam. Tuang ke atas bahan I. Kukus 25 sampai matang. Angkat. Biarkan dingin. Potong-potong. http://kueresep.com/masakan/pangantala-kasubi-sulawesi-tengah_109783.html
Bahan: 2 1/2 gelas tepung terigu 2 btr telur 1/5 gelas santan 1/2 botol minyak goreng Cara Membuat: Telur dan gula dikocok sampai putih Terigu dan santan dicampur dengan kocokan telur tadi hingga rata Adonan dibentuk sebesar batang pensil lalu dipotong sebesar kacang Digoreng dalam minyak panas sampai mengembang dan berwarna keemasan Bisa dibeli di: God Bless Shop Manado, https://www.tokopedia.com/godblessshop Sumber: Mustikarasa, Resep Masakan Indonesia, Warisan Soekarno
Bahan-bahan 3 porsi 1 ekor kakap sedang 2 siung bawang putih 2 siung bawang merah 8 cabe rawit 1 btg serai 1 btg daun bawang Air jeruk Garam Minyak untuk menggoreng Asam jawa sckpnya Kunyit bubuk sckpnya Langkah 20 menit Lumuri ikan dengan air jeruk dan garam secukupnya supaya bau amisnya ilang, diamkan beberapa menit. Panaskan air dan air asam jawa tambahkan serai. tunggu hingga mendidih lalu masukkan ik...
Dengo-dengo merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter, terbuat dari batang bambu sebagai tiang penyangga, menggunakan lantai papan ukuran 3 x 3 meter persegi, dan beratap daun sagu. Bangunan ini didirikan dengan cara gotong royong oleh warga menjelang 1 Ramadan. Hampir setiap rukun tetangga (RT) memiliki sebuah dengo-dengo ini. Pada saat menjelang waktu Sahur, para penjaga dengo-dengo itu menabuh gong dan gendang serta rebana sehingga warga akan terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan Sahur. Pada petang hari, dengo-dengo berfungsi sebagai tempat beristirahat menanti waktu berbuka puasa. Itu sebabnya, dengo-dengo ini selalu ramai dengan kunjungan warga. Namun, bangunan ini akan dibongkar seusai ramadhan. Dengo-dengo sudah hadir di Bungku sejak awal masuknya Islam sekitar abad ke-17 untuk menyerukan kepada warga agar bangun saat sahur dini hari. Pembangunan dengo-dengo yang dalam bahasa Indonesia berarti tempat beristirahat ini diperkirakan menelan biaya...
Di sebuah kerajaan, ada seorang Raja yang sudah tua dan sakit-sakitan. Sang Raja sering bersedih dan melamun. “Siapa yang akan menjadi pewaris mahkota kerajaan ini?” gumamnya. Raja mempunyai tiga orang anak dari Ibu Selir. Siapa di antara mereka yang akan menggantikannya? Melihat perangai ketiga anaknya, Raja bersedih, karena ketiga anaknya tidak akan rela bila salah seorang di antara mereka dipilih. Bila salah seorang dipilih, yang dua orang lagi pasti akan protes, bahkan memberontak. Maka, Raja berbicara kepada ketiga orang anaknya, “Anak-anakku, Ayahanda sudah tua, sudah waktunya melepaskan mahkota raja. Untuk memilih pengganti Ayah, kalian harus becermin di cermin ajaib. Ini adalah cermin warisan nenek moyang kita. Cermin ini mampu memantulkan isi hati seseorang. Siapa yang di cermin itu terlihat indah dan tampan, dialah yang berhak menggantikan Ayah. Bersiaplah kalian untuk becermin di depan cermin ajaib.” Ketiga anak raja...
Surampa disebut juga tombak kanjae, senjata panjang yang sering digunakan masyarakat berupa tombak bermata tiga seperti senjata trisula. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/04/senjata-tradisional-sulawesi-tengah/
Di Sulawesi Tengah, Banua Mbaso atau disebut juga Souraja merupakan rumah tradisional tempat tinggal turun temurun bagi keluarga bangsawan. Souraja pertama kali dibangun oleh Raja Palu, Jodjokodi, pada tahun 1892. Souraja yang pertama kali dibuat terebut, masih bisa dilihat pada saat ini. Kata Souraja (Sou Raja) dapat diartikan rumah besar, merupakan pusat pemerintahan kerajaan masa lampau, bisa dikatakan sebagai rumah tugas dari manggan atau raja. Selama bertugas, raja beserta keluarganya tinggal di sini. Bangunan Banua Oge atau Sou Raja adalah bangunan panggung yang memakai konstruksi dari kayu dan dengan paduan arsitektur bugis dan kaili. Luas keseluruhan Banua Oge atau Sou Raja adalah 32×11,5 meter. Tiang pada bangunan induk berjumlah 28 buah dan bagian dapur 8 buah. Bangunan Induk sendiri berukuran 11,5 x 24,30 meter, yeng terbagi atas 4 bagian yaitu : a. Gandaria (Serambi) Berfungsi sebagai tempat ruang tunggu untuk tamu. Dibagian depan terletak an...
Bangunan di atas tiang yang memanjang aslinya digunakan sebagai balai pertemuan dan pengadilan adat. Beberapa lukisan yang dipajang di depannya merupakan penggambaran sangsi atas pelanggaran dan lambing kesuburan. Seluruh ruangan lobo di ruangan dimanfaatkan sebagai tempat untuk memamerkan hasil kekayaan alam dan kerajinannya. Dapat disaksikan contoh kayu hitam, hasil tambang, hasil kerajinan tangan dan contoh pakaian-pakaian adat dari berbagai suku di propinsi tersebut. Bahan dan peralatan yang digunakan untuk membuat kain tenun juga dapat diasksikan di sana seperti pembuatan kain tenun donggala yang dibuat menggunakan kulit kayu. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2014/11/rumah-adat-sulawesi-tengah/
Di Sulawesi Tengah, tempat tinggal penduduk disebut Tambi. Rumah ini merupakan tempat tinggal untuk semua golongan masyarakat. Bentuk rumah ini segi persegi panjang dengan ukuran rata-rata 7×5 m2, menghadap ke arah utara-selatan, karena tidak boleh menghadap atau membelakangi arah matahari. Sekilas konstuksi rumah ini seperti jamur berbentuk prisma yang terbuat dari daun rumbia atau ijuk. Keunikan rumah panggung ini adalah atapnya yang juga berfungsi sebagai dinding. Alas rumah tersebut terdiri dari susunan balok kayu, sedangkan pondasinya terbuat dari batu alam. Akses masuk ke rumah ini melalui tangga, jumlahnya berbeda sesuai tinggi rumahnya. Tambi yang digunakan masyarakat biasa memiliki anak tangga berjumlah ganjil dan untuk ketua adat berjumlah genap. Tiang-tiang penopang rumah ini terbuat dari kayu bonati. Di dalamnya hanya terdapat satu lobona (ruangan utama) yang dibagi tanpa sekat dan memiliki kamar-kamar, hanya pada bagian tengah lobona terdapat rapu (dapur) yang...