Naskah Kuno dan Prasasti
Naskah Kuno dan Prasasti
Karya Sastra Jawa Barat Sumedang
Kitab Waruga Jagat

Kitab Waruga Jagat merupakan sebagian kecil dari isi naskah yang tersimpan di Museum Yayasan Pangerang Sumedang (YPS) di Sumedang. Bagian yang lainnya dari naskah tersebut merupakan semacam perimbon, yang isinya terdiri dari bermacam-macam hal, sebagai catatan yang berhubungan dengan ilmu kebatinan.

 

Naskah tersebut tidak berasal dari kertas biasa, melainkan dari bahan yang dikenal dengan nama “kulit sach”, sejenis daluang yang terbuat dari kulit kayu. Hingga kini pembuatan daluang dari kulit sach itu masih diproduksi orang di daerah Wanaraja, kabupaten Garut, dipergunakan sebagai alat pembungkus.Naskah itu berukuran kwarto, yang tidak mengenai KWJ tertulis dalam huruf ‘pegon’ (Arab Jawa) dengan bahasa Jawa-Sunda, tebalnya hanya terdiri dari atas 12 lembar.

 

Kecuali sebuah naskah yang tersebut diatas, pada YPS, tersimpan pula dua buah naskah yang lain, sebuah di antaranya ialah Silsilah Keturunan Bupati-bupati Sumedang, mempergunakan bahasa Jawa-Sunda, berhuruf pegon, dengan bahan kertas biasa, berukuran folio, ditulis atas nama Raden Adipati Suryalaga II, yang pernah menjadi bupati di Bogor, Karawang dan Sukapura, masa hidupnya sezaman dengan Pangeran Kornel, pada abad ke 18 – 19 M.Yang sebuah lagi ialah naskah dengan bahan kulit sach dalam keadaan sangat rusak, paling tebal di antaranya yang ketiga, sukar ditebak apa isinya, mempergunakan bahasa dan huruf Jawa-Sunda yang sulit dibaca, dalam bentuk puisi/kidung.

 

Setelah dibaca dengan susah payah, karena hanya bagian tengahnya yang dapat dibaca agak lengkap, berhubung sebagian terbesar telah hancur dimakan tikus, dan barulah diketahui insinya, antara lain mengenai uraian masa percintaan antara Mundingsari dengan puteri Ambetkasih di Negara Sindangkasih. Setelah bagian itu diketahui, barulah dapat ditentukan, bahwa naskah yang sangat rusak itu adalah “babad Siliwangi”, naskah aslinya, sedangkan di Museum Pusat Jakarta, hanya tersimpan copy/turunannya, dengan judul yang sama, turunan naskah itu dikerjakan oleh Raden Panji Surya Wijaya, Betawi tahun 1866.

 

Di dalam naskah itu selain dapat kita telaah deretan silsilah penguasa-penguasa yang menurut kepercayaan masyarakat pernah berkuasa di tanah air kita, juga dihubungkan dengan penguasa-penguasa yang pernah memegang peranan dalam penyebaran agama Islam di dunia, yang menurut anggapan penulis, secara tradisionil kesemuanya itu bertalian kerluarga satu sama lainnya. Dan demikianlah makna sesungguhnya istilah Waruga Jagat.

Jika kita perhatikan arti kata ‘Waruga’ itu sendiri, maka perlu diperingatkan akan makna yang diberikan oleh S.M. Pleyte (C.M. Pleyte, 1913, “De Patapan Adjar Soekasari, anders Gezegd de kluizenarij op de Goeneong Padang”, TBG, Dool LV, hal. 380, catatan 2) ketika ia mencoba mengupas pengertian ‘waruga’, dalam kesempatan membicarakan naskah Carita Waruga Guru (disingkat CWG), C.M. Pleyte member makna bagi kita ‘waruga’ dengan ‘belichaning’, ‘lichaan’, dan ‘lifj’. Dari ketiga makna yang diberikan C.M. Pleyte itu, yang lebih mendekati dalam istilah bahasa Indonesia adalah ‘penjelmaan’, kiasan untuk tokoh yang memegang peranan penting di dunia ditinjau dari sudut pandang penulis, penulis tradisionil.

Kata ‘waruga’ adalah betul-betul sebuah kata dari bahasa Sunda bukan pinjaman dari salah satu bahasa asing. Dalam bahasa Sunda, kata waruga berarti: awak, badan, seperti kita dapati dalam bahasa: “kuru aking ngajangjawing, waruga ngan kari tulang”, yang ditujukan kepada seseorang yang badannya yang sangat kurus kering. Kata-kata yang lainnya, yang merupakan sinonim dengan ‘waruga’ ialah ‘raga’ dan ‘kurungan’. Sup bayu ka kurungan, adalah sebagian dari rangkaian mantera yang biasa diucapkan terhadap anak kecil yang dalam keadaan setengah sadar, supaya lekas siuman dalam bahasa Melayu dapat kita bandingkan dengan ucapan ‘kur’, semangat.

Dalam beberapa bahasa yang bersaudara dengan bahasa Sunda, terdapat juga kata ‘waruga’, dalam bentuk dan atau pengertian yang bergeser, hal tersebut dapat kita temukan dalam uraian Van Tuuk (H.N. van der Tuuk, 1901, Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenbook, Dool III, s.v. waruga),antara lain dinyatakan, bahwa arti waruga dalam bahasa Bali, bale; Sasak, barugaq = bala, Bima, parusa berarti rumah-rumahan di atas kuburan; Sangir: bahugha, Rojang, Bugis. Makasar: baruga; Lampung: parugan, berugu (baruga) seperti kubah atau anjung di muka atau di samping rumah, tempat wanita bertenun; Bengkulu: brogo, berarti kamar duduk.
 
Naskah KWJ, baru kami ketemukan sebuah saja, sedangkan yang sebuah tersimpan di Leiden, maka dengan demikian belum sempat kami perbandingkan isinya, seangkan dalam koleksi naskah-naskah di Museum Pusat Jakarta, naskah jenis demikian sepanjang pengetahuan kami tidak ada. Adapun KWJ milik YPS itu karena dalam keadaan rusak maka tidak dapat dibaca dengan sempurna, kami coba untuk menyempurnakannya berdasarkan nama-nama yang terdapat dalam CWG. Dan meskipun terdapat banyak persamaan, tetapi sering tertulis agak berbeda, dalam hal-hal yang sedemikian, kami biarkan sebagaimana adanya.
 
Sumber : http://dzat-alif-satunggal.blogspot.com/2015/11/naskah-kitab-waruga-jagat.html
 
#OSKMITB2018
#OSKM2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum
Gambar Entri
Ayam Ungkep
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...

avatar
Apitsupriatna
Gambar Entri
Resep Ayam Ungkep Bumbu Kuning Cepat, Praktis untuk Masakan Harian
Makanan Minuman Makanan Minuman
Jawa Barat

Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...

avatar
Apitsupriatna