Perkembangan teknologi yang semakin pesat tidak hanya ditemui pada bidang informasi, komunikasi, transportasi, konstruksi, pendidikan, atau kesehatan saja, tetapi juga pada bidang pertanian. Pada bidang pertanian, contoh pekembangan teknologi di Indonesia yang ada saat ini seperti adanya Transplanter (pemberi jarak pada tanaman padi), Indo Combine Harvester (alat yang membantu dalam proses pemotongan, transportasi, perontokan, pembersihan, persotiran serta pengantongan pada tanaman padi), mesin pemilah bibit unggul, alat pengering, dan intalasi pengolah limbah pada tanaman pertanian. Perkembangan teknologi memang memudahkan dan mempercepat pekerjaan manusia, namun menurut penulis adanya perkembangan teknologi juga meninggalkan dampak negatif pada kemerosotan sumber daya manusia. Kemerosotan sumber daya manusia seakaan memunculkan dilema baru dalam memperlebar eksistensi kaum petani agraris marginal. Masyarakat marginal dapat diartikan sebagai kelompok masyarakat yang tersisihkan dari pembangunan, sehingga tidak berkesempatan untuk menikmati pembangunan yang layak atau juga berarti kelompok masyarakat pinggiran atau prasejahtera kecil yang miskin, baik dari segi pangan, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.
Dinamika dan polemik kaum petani marginal mulai bermunculan semenjak terjadinya alih fungsi peran mereka oleh teknologi. Perjuangan petani marginal tersebut kemudian divisualisasikan para seniman dalam ekspresi muda kota melalui program Geneng Street Art Project (GSAP). Di sini dapat diketahui bahwa peran seniman tidak hanya sebagai media ekspresi dan aktualisasi diri, tetapi juga sebagai Agen Perubahan. Hadirnya petani dalam karya seniman telah menunjukkan keberpihakan seniman dalam menyajikan ruang potret petani marginal. Potret petani marginal diperoleh dari proses refleksi ( Pendekatan Reflektif ), yakni karya yang diciptakan yang mencerminkan realita kehidupan masyarakat di dalamnya. Beberapa contoh hasil Geneng Street Art Project (GSAP) di antaranya adalah “ Karpet Merah untuk Petani ” (Gerrilas), “ Sebelum Semua Menjadi Seperti Ibu Kota : Jaga Tanah Kita” (Media Legal), dan “ Peringatan Rakyat: Jogja Ora Didol ” ( Taring Padi) .
Menurut penulis, program GSAP merupakan program yang sangat baik dan berhubungan dengan kondisi yang sedang dialami petani agraris marginal. Menurut penulis, hasil dari proyek tersebut sangat bagus dijadikan media untuk menvisualisasikan atau menyajikan potret realita petani agraris saat ini. Di sini terjadi kolaborasi dan kesinergisan antara dengan seniman petani agraris dalam mencapai satu tujuan yang sama yaitu perubahan yang lebih baik. Pesan dari karya yang dihasilkan akan dikontruksi melalui simbol dan tuturan visual yang mudah dipahami dan dapat membentuk kesadaran masyarakat ( Constructionist Approach ) sehingga harapannya pemerintah lebih memperhatikan dan mendengarkan suara masyarakat dalam rangka memperjuangkan hak-hak petani agraris marginal yang semakin tergerus arus perkembangan teknologi.
Referensi
Parsudi Suparlan, Orang Gelandangan di Jakarta: Politik Pada Golongan Termiskin dalam Kemiskinan di Perkotaan (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), h.179
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...