Seni Pertunjukan
Seni Pertunjukan
Tradisi Sekaten Surakarta Jawa Tengah Surakarta
Tradisi Sekaten di Surakarta
- 29 Oktober 2024 - direvisi ke 3 oleh Journalaksa pada 29 Oktober 2024

Masyarakat merupakan kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia saling terikat oleh suatu sistem adat istiadat (Koentjaraningrat, 1996: 100). Masyarakat Jawa merupakan salah satu masyarakat yang hidup dan berkembang mulai zaman dahulu hingga sekarang yang secara turun temurun menggunakan bahasa Jawa dalam berbagai ragam dialeknya dan mendiami sebagian besar Pulau Jawa (Herusatoto, 1987: 10). Salah satu produk dari masyarakat Jawa yang masih dilestarikan sekarang adalah tradisi Sekaten. Tradisi Sekaten merupakan tradisi tahunan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di Solo,Jawa Tengah selama tujuh hari.

Ketika kembali mengulik sejarah, tradisi sekaten sebenarnya berhubungan erat dengan sejarah penyebaran agama Islam yang ada di Pulau Jawa. Walisongo adalah tokoh utama dibalik lahirnya tradisi sekaten, yang di mana Sekaten digunakan oleh Walisongo untuk menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Saat itu, Walisongo memproyeksikan Sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai media penyiaran Agama Islam. Awal mulanya Sekaten dilakukan pada masa kerajaan Islam pertama di Jawa, yaitu Kerajaan Demak dan turun-menurun sampai pada era kerajaan Surakarta dan Jogjakarta. Saat itu, Raja Demak pertama yakni Raden Patah bermusyawarah dengan Walisongo untuk membahas mengenai cara menyiarkan Islam di Jawa. Pada saat itu Sunan Kalijaga mengusulkan untuk membiarkan agar tradisi masyarakat yang masih beragama Hindu tetap ada, akan tetapi disisipi dan diganti tujuannya sesuai ajaran Islam. Contohnya, acara semedi diganti dengan sholat dan acara sesaji diganti dengan perayaan hari raya Islam.

Pada perayaan Hari Raya Islam yakni dalam rangka memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW terdapat usulan untuk membunyikan gamelan di sekitar masjid, karena saat itu masyarakat Jawa menyukai gamelan. Ketika orang-orang sudah berkumpul, mereka akan diberi pelajaran tentang agama Islam. Usul tersebut disetujui oleh para wali dan langsung dilaksanakan. Dengan demikian setiap hari lahir Nabi Muhammad SAW yaitu tanggal 12 maulud 12 Rabiul Awal Penanggalan Islam di sekitar Masjid ditabuhlah gamelan. Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat akan diberi pelajaran tentang agama Islam dengan dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dari kata syahadatain itulah muncul istilah sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan. Secara simbolik, dua kalimat syahadat tersebut direpresentasikan dalam dua perangkat gamelan Sekaten, yakni Kanjeng Kyai Guntur Sari dan Kanjeng Kyai Guntur Madu yang di mana dua gamelan tersebut ditabuh secara bergantian.

Hal itu juga berlaku saat kerajaan islam berpindah ke Mataram serta saat kerajaan Islam Mataram terbagi dua menjadi Kasultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta, di mana Sekaten tetap dilaksanakan setiap setahun sekali dibulan maulud di pelataran atau alun-alun utara keraton kasunan surakarta. Pelaksanan sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat gamelan sekati (Kyai gunturmadu dan Kyai guntursari) dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari terhitung dari hari keenam sampai kesebelas bulan maulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan dengan komposisi musik Jawa Rambu dan Rangkur ditabuh untuk menandai bahwa perayaan sekaten dimulai.

Gamelan sekaten adalah benda pusaka keraton yang disebut kanjeng Kyai Sekati dibuat oleh Sunan Giri yang ahli dalam kesenian parawitan (Setyaningrum, 2022). Alat pemukulnya terbuat dari tanduk kerbau dan untuk mendapatkan bunyi pukulan yang nyaring dan bening, alat pemukul harus diangkat setinggi dahi sebelum dipukul pada masing-masing gamelan. Sementara Gending Sekaten adalah rangkaian lagu gending yang terdiri dari Rambu pathet lima, Rangkung pathet lima, Lunggadhung pelog pathet lima, Atur-atur pathet nem, Salatun pathet nem, Ngajatun pathet nem, Batem Tur pathet nem, Supiyatun pathet barang, dan Srundeng gosong pelog pathet barang. Untuk persiapan spiritual, biasanya sebelum Sekaten dilaksanakan para abdi ndalem keraton menyiapkan mental dan batin untuk mengemban tugas sakral tersebut. Selain itu, abdi ndalem yang bertugas memukul gamelan sekaten, juga harus mensucikan diri dengan berpuasa dan siram jamas. Gamelan sekaten dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Pagelaran sekaten di Surakarta sendiri selalu diikuti dengan kegiatan pasar malam selama sebulan penuh. Pagelaran tersebut dimulai dengan ditandai oleh bunyi gamelan yang akan diarak ke masjid. Acara ini akan berlangsung pada tanggal keenam hingga keduabelas Rabiul Awal, yang di mana pada tanggal ini juga gamelan akan ditabuh secara terus menerus. Setelah itu acara akan dilanjutkan dengan Tumplak Wajik dan Grebeg Maulud. Tumplak Wajik akan dilaksanakan selama dua hari sebelum Grebeg Maulud diadakan. Upacara Tumplak Wajik ini berupa kotekan atau permainan lagu dengan kentongan. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa pembuatan gunungan telah dimulai. Lagu-lagu yang dimainkan dalam Tumplak Wajik seperti Lompong Keli, Owal Awil, Tudhung Setan dan lain sebagainya. Pagelaran Sekaten dapat dilihat pada gambar di bawah ini

Beberapa nilai yang terkadung dalam tradisi Sekaten, di antaranya sebagai berikut :
a. Nilai Agama Pada saat itu masyarakat sangat menyukai gamelan sehingga Walisongo menjadikan gamelan sebagai media penyiaran agama Islam. Saat masyarakat sudah berkumpul Walisongo menuntun mereka untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Dari kata syahadatain itulah muncul istilah sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan. Acara sekaten tersendiri juga dilaksanakan sebagai bentuk perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW dan di dalamnya diadakan penabuhan gamelan. Dengan demikian sekaten dan agama islam saling berkaitan erat karena bertujuan sebagai sarana pernyebaran agama Islam. b. Nilai Pendidikan Tradisi sekaten bisa menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda untuk mengetahui adat istiadat serta budaya yang ada di Iindonesia terutama di Jawa. c. Nilai Ekonomi Seiring dengan perkembangan zaman, sekaten mulai dimanfaatkan dalam sektor ekonomi, yakni sebaga ladang masyarakat untuk berdagang d. Nilai Sosial Sekaten memiliki beragam fungsi sosial bagi masyarakat, salah satunya sebagai sarana berinteraksi sosial masyarakat satu dengan yang lain. Sekaten dapat dirasakan oleh semua kalangan tanpa memandang status sosial.

Referensi Daniswari, D. (2022). Mengenal Gamelan Sekaten Surakarta, Gamelan yang Dibunyikan Selama 7 HariKompas.https://regional.kompas.com/read/2022/03/10/054500878/mengenal-gamelan-sekaten-surakarta-gamelan-yang-dibunyikan-selama-7-hari?page=al Herusatoto, Budiono. (1987). Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita. Koentjaraningrat. (1996). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Marzuki. “Tradisi Dan Budaya Masyarakat Jawa Dalam Perspektif Islam.” Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta no. (2017): 2. Setyaningrum, P. (2022). Mengenal Gamelan Sekaten Keraton Yogyakarta, Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wilogo. Kompas. https://yogyakarta.kompas.com/read/2022/10/05/182803078/mengenal-gamelan-sekaten-keraton-yogyakarta-kyai-guntur-madu-dan-kyai?page=all Sunati, and Zeniar Nur Aulia. “Sekaten Cultural Tradition At The Kasunanan Surakarta Palace.” The Ushuluddin International Students Conference 1, no. 1 (2023): 516–22. http://proceedings.radenfatah.ac.id/index.php/UInScof2022.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara menghubungi call center ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
DKI Jakarta

Cara membatalkan pinjaman ayopinjam Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
Cara membatalkan pinjaman ayopinjam
Seni Pertunjukan Seni Pertunjukan
DKI Jakarta

Cara membatalkan pinjaman ayopinjam: Hubungi Call Center AyoPinjam Resmi Di Nomor ☎ 0831•6926•5049, Kontak WhatsApp Cs AyoPinjam 📞0857•5833•7054 Layanan Bantuan Kendala. Live Chat AyoPinjam Menyediakan Layanan Kontak Percakapan Atau Live Chat Yang Terdapat Pada Aplikasi AyoPinjam. Layanan Ini Tersedia Setiap Hari Online 24 jam.

avatar
Pinjamflexi1999
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah
Gambar Entri
KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring.   📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...

avatar
Gulamerah