Tarian
Tarian
Tarian Tradisional Jawa Barat Cirebon
Gagalan panji
- 17 Februari 2015

Gagal (Bhs. Cirebon), artinya mulai. Gagalan Panji artinya tanda dimulainya tari topeng Panji. Dalam pertunjukan topeng Cirebon, gagalan Panji adalah semacam pintu pembuka, sebagai ciri bagi dalang topeng untuk mulai menari dan bagi pertunjukannya itu sendiri. Lagunya bernama kratagan yang artinya mengejutkan. Dalam tari Topeng Panji, Gagalan Panji adalah suatu keharusan, durasinya (lama-sebentar) bukanlah pokok. Tanpa pembuka gagalan, tari tersebut tidaklah sempurna, ia adalah bagian yang cukup penting bahkan sebagai salah satu cirinya. Lagu dalam gagalan (kratagan) sebenarnya merupakan kependekan dari tetalu yang juga lagunya kratagan. Jika kratagan dalam tetaluan durasinya bisa sangat panjang, gagalan sebaliknya.

Sebagai cirinya, lagu itu dimulai dengan sebuah tabuh serempak pada nada sepulu atau galimer (nada gamelan bilah keempat atau kelima dari kanan). Ditalu keras secara bersamaan. Mula-mula pengeprak itu menengok ke arah belakang, ke kiri dan kanan seraya memperhatikan kesiapan para nayaga untuk gagalan. Ia kemudian mengajak mereka: ―yu”, dan biasanya para nayaga menjawabnya ―ya”. Pengeprak segera mengangkat alat tabuh yang digenggam tangannya, kemudian dengan cepat ia menariknya ke bawah dan menghentakkannya ke kecrek yang tergantung di samping kotak. Seketika itu pula terdengar bunyi: jréng! Membuat orang terkejut.

Musik gagalan yang bergelora, adalah semacam operture yang seringkali membuat orang terhenyak. Ketika gelora itu reda, dan gamelan ditabuh dengan intensitas bunyi yang

tidak terlalu keras, musik mulai menghadirkan suasana yang tenang. Tiba-tiba, pengeprak (penabuh kecrek) memainkan alat tabuhnya. Sekilas, gerakan-gerakannya mirip dengan igel-igelan (gerakan main-main) yang mampu membuat operture itu terasa sangat aneh. Gagalan adalah suatu awalan tari yang amat jarang ditemukan dalam genre tari di Jawa Barat.

Kedua alat tabuh itu ditarikannya secara bergantian, kiri dan kanan, kadang-kadang kedua-duanya secara bersamaan. Gerakannya menirukan berbagai gerakan tari seperti incek atau adu bapa. Pengendang dengan setia mengikuti gerakan-gerakan alat tabuh itu, persis seperti mengikuti seorang penari atau gerakan wayang. Tarian alat tabuh itu terus berlanjut sampai gagalan mencapai irama puncaknya. Lagu itu berakhir dan berhenti secara serempak mengikuti aba-aba dari pengeprak tadi.

Para dalang topeng tidak bisa mulai manji jika gagalan belum ditabuh. Hal ini sangat terkait dengan apa yang dikatakan mereka, bahwa tari topeng Panji dianggap sebagai ikon bayi lahir. Oleh karena itu amatlah logis jika gagalan dianggap sebagai proses dari awal kelahiran. Topeng Panji adalah simbol sangkan paraning dumadi, asal lan terusing dumadi. Asal dan berlanjutnya kehidupan. Sukarta, dalang wayang dari Bongas, Majalengka, menggambarkan tentang Panji sebagai berikut:

Sadurunge Risang Panji tumandang, iku diwiwiti swaraning tabuhan ingkang gumerah sasanteré. Wanda ambreg oranana kang kari sepisan. Jreng! Sagetakan kang mawa swara angbata rubuh, yaiku sasmitané kekarepan, antara „yu‟ lan „ya‟. Ing kono, Risang Panji ana ing telenging rasa, aran Risang Sukma Manglayang. Mangka irama ing tabuhan ana alon ana kenceng, iku sasmitaning papadon ing sakloran, wong loro. Ing kono Risang Panji aran Risang Sukma Maya, mangka swaraning tabuhan mandeg taya alon lan pungkasané lirén rep babar pisan, kang ana mung swarané swasana panggung. Ing kono Risang Panji aran Risang Manikem. Artiné tepunging mani sakloran. Banyu kang aran Tirta Marta Mahadi, utawa Tirta Maya Kamandanu (banyu urip, kang éndah ora kena kinayangapa). Ning kono Risang Sukma Maya manggon ing kraton agung sangang wulan lawase.

Sebelum Risang Panji tampil (menari), diawali suara tabuhan yang sangat bergemuruh amat keras. Semua ditabuh tidak ada yang tertinggal satu pun. Jreng! Serempak seperti suara tembok runtuh, itu adalah perlambang keinginan antara yu (suami) dan ya (istri). Di sana, Risang Panji ada di tengah-tengah rasa namanya Risang Sukma Manglayang. Itulah sebabnya mengapa irama gamelan kadang-kadang pelan kadang-kadang cepat. Itu perlambang perpaduan antara dua insan. Di sana Risang Panji bernama Risang Sukma Maya. Itulah sebabnya suara gamelan berhenti tanpa irama lambat dan akhirnya berhenti sama sekali, yang ada hanya suasana di panggung. Di sana Risang Panji bernama Risang Manikem, artinya bertemunya air mani suami-istri. Air yang bernama Tirta Marta Mahadi, atau Tirta Maya Kamandanu (air hidup yang indahnya tak terlukiskan). Di sana Risang Sukma Maya diam di keraton agung (rahim) sembilan bulan lamanya).

Gagalan adalah paradoks â€--tiada‘ dan â€--ada‘, yakni alam kosong menjadi alam isi. Irama musik yang cepat (deder) dan tabuh yang bersamaan adalah simbol penyatuan dualistik (opisisi berlawanan). Dimensi dualistik adalah simbol bersatunya â€-laki-lakiâ€- dan â€-perempuanâ€- (saresmi); terjalinnya rasa cinta suami-istri. Oleh sebab itu, pada bagian ini tidak pernah ada senggak (semacam teriakan kecil yang bersahutan sesuai dengan irama musik). Ini layaknya dua insan yang tengah memadu kasih, jauh dari suasana â€-keterbukaanâ€- dengan dunia sekelilingnya, yang terlihat hanyalah sibuknya tangan nayaga dan terdengarnya gelora suara musik itu. Senggak dan nglagon baru bisa dilakukan setelah gagalan selesai. Ini adalah gambaran hidup manusia Jawa atau Indonesia, bahwa sesuatu hal yang berhubungan dengan seksualitas itu bersifat tertutup, bahkan sakral.

Tanda kelahiran â€--bayi‘ itu adalah bunyi gong di akhir gagalan itu yang segera disambung dengan ngertawara (semacam prolog pendek).

Gégéré wong keraton

Diwalik sumpingé

Surak nayaga kang ramé

Heup . . .

Semua nayaga menimpali:

Horsééééé . . .

Siapa yang menggegerkan itu? Dialah bayi yang tadinya berada dalam keraton atau gua-garba (keraton = kandungan). Ia telah lahir ke dunia (diwalik sumpingé), dan sanak saudara si bayi tadi riang gembira, sukacita. Ngertawara (nyandra) itu simbol dari semua itu. Simbol kegembiraan dan kesukacitaan, karena seorang ibu yang menempuh proses melahirkan sebenarnya berada pada dua situasi yang kritis. Kedua-duanya (ibu dan bayi), atau salah satu dari itu, berada di ambang antara hidup atau mati. Itulah sebabnya mengapa ketika ibu dan bayinya selamat, orang di sekitarnya geger. 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Cara Aktivasi BNIdirect bisnis
Alat Musik Alat Musik
Bali

Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.Layanan Halo BNI tersedia selama 24 jam penuh setiap hari dan dapat diakses melalui WhatsApp ( 081252934601 ) info lebih lanjut.

avatar
Bungacentika baru
Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker