Bahan-bahan 200 gram tepung ketan 1 butir telur 50 gram gula (jika suka manis boleh tambah) 1/2 Sdt Baking Powder 1/4 Sdt Baking Soda 1 Sdt Garam 120 mil santan (santan kara 65+air) 150 gram wijen Langkah Campur telur dan gula lalu aduk aduk sampai Larut Kemudian masukan garam dan Santan aduk rata Tuang tepung ketan sedikit sedikit sambil di uleni sampai bisa di pulung Ambil adonan sedikit lalu bulatkan sebesar biji kelereng gulingkan di wijen,lakukan sampai habis Menggorengnya 2 kali,pertama goreng sampe permukaan kering Lalu goreng lagi sampai kecoklatan angkat dan Sajikan Sumber: https://cookpad.com/id/resep/3574931-keciput
Provinsi Jawa Timur mempunyai rumah adat bernama Tanean Lanjhang. Rumah adat ini berasal dari kebudayaan masyarakat suku Madura di Provinsi Jawa Timur. Secara bahasa Tanean Lanjhang ini artinya adalah "Halaman Panjang". Hal tersebut sesuai dengan pola struktur bangunannya yang memanjang dari arah Barat ke arah Timur. Rumah Tanean Lanjhang sendiri selain berfungsi sebagai tempat tinggal, juga dianggap sebagai gambaran kehidupan sosial dari masyarakat suku Madura di Provinsi Jawa Timur yang sangat mengutamakan tentang hubungan kekerabatan. Oleh sebab itu, pola dari rumah adat ini mempunyai beberapa keunikan yang timbul akibat dari nilai-nilai filosofis kehidupan sosial dari suku Madura tersebut. Nah, apa sajakan keunikan dari rumah adat Provinsi Jawa Timur ini? berikut ini penjelasannya. 1. Pola Rumah Tanean Lanjhang Tanean Lanjhang sebenarnya bukanlah sebutan untuk satu rumah saja, melainkan mencakup dari beberapa rumah dan kelengka...
Kentrung Sunan Drajat Solokuro, Kab. Lamongan Kentrung Sunan Drajat adalah kesenian khas Kabupaten Lamongan. Kentrung ini berkembang di Kecamatan Solokuro tepatnya di Desa Solokuro. Dalang kentrung ini bernana H. Ach.Khusaeri, S.Pd.I, selain sebagai dalang ia juga merupakan pemikik grup kentrung ini. Kentrung ini berdiri tahun 1991. Kentrung Sunan Drajat disebut juga sebagai kentrung dalang ontang-anting Istilah ini disampaikan oleh Kurdianto dalam penelitian tahun 2016 berjudul Dinamika Kesenian Kentrung Ontang-Anting (Studi Kasus terhadap Pelaku Kentrung Sunan Drajat Solokuro, Kab. Lamongan). Pemakain istilah tersebut dimaksudkan untuk memberi ciri terhadap kentrung ini yang dalangnya selain berfungsi sebagai pencerita juga berfungsi sebagai penabuh musik. Istilah kentrung sendiri diambil dari suara musiknya yang berbunyi "tung, tung, tung'. Selain itu,menurut Ki dalang H. Ahmad Khuasai, S.Pd.i kata kentrung berarti greken perkoro isane jlu...
NASI BORANAN LAMONGAN Selain Soto, Tahu Campur, Wingko Babat, Tahu Tek, dan Pecel Lele, Lamongan juga memiliki makanan khas yang lain. Makan khas itu adalah nasi boranan. Nasi Boran atau Sego Boran, adalah makanan tradisional dan khas Lamongan, Jawa Timur. Kata Boran ini berasal dari tempat Nasi yang terbuat dari Anyaman Bambu yang digendong dengan selendang pada punggung. Di era tahun 1980-an nasi Boranan adalah makanan tradisional masyarakat kelas bawah. Biasanya sang penjual menjajakan pada pagi hari di lorong-lorong jalan kecil di Kota Lamongan. Sebagian mangkal di beberapa tempat strategis seperti pasar dan rumah sakit. Harganya pun sangat murah. Saat ini nasi boranan menjadi makanan Faforit sebagian masyarakat di segala strata, mulai dari kelas bawah sampai kelas atas. Bahkan dibayak acara resmi pemerintah Kabupaten Lamongan sering dihidangkan makanan khas ini. Nasi Boran, terdiri dari nasi, bumbu, lauk, rempeyek sejenis krupuk bahan bakunya d...
ADAT LAMARAN DI LAMONGAN Lamongan selain memiliki keunikan dalam bahasanya, masakan, juga memiliki adat yang unik. Salah satu adat yang unik tersebut adalah kebiasaan dalam prosesi lamaran. Disebagian besar kota di Jawa Timur, lelaki biasanya melamar perempuan. Tetapi di Kabupaten lamongan justru perempuan yang melamar lelaki. Hal tersebut termasuk dialami oleh penulis. Dalam prosesi lamaran hal yang dibicarakan oleh pelamar adalah kesdiaan calon mempelai putra menerima calon mempelai putri, kesepakatan hari pernikahan dan kesepakatan lain. Pelamar umumnya adalah orang tua calon mempelai putri atau keluarga yang dianggap tua si keluarga putri. Sedangkan yang menerima tamu biasanya adalah orang tua calon mempelai putra. Kadang-kadang calon pengantin putra ikut menemui tamu. Pada zaman dahulu pelamar biasanya membawa makanan sebagai berikut : gemblong, wingko, pisang, Nasi besrta lauknya, lemet, dan rengginang. Di masa sekarang bawaan tersebut lebih berva...
Asal Usul Desa Pringgoboyo Setelah mangkir dari jabatan Sultan Pajang, Joko Tingkir melarikan diri, menyamar menjadi tukang sapu di Masjid Baiturrahman Solo. Dulu sebelum Joko Tinggkir menjadi Sultan Pajang, Joko Tingkir pernah menjadi abdi Kiyai Abdurrahman pendiri Masjid Baiturrahman. Pada saat itu Joko Tingkir sudah tua, tidak ada orang yang dapat mengenalinya. Di suatu hari dalam suatu malam, Joko Tingkir bertapa di makam kakaknya. Dia bertapa di pinggir Bengawan Solo. Di sana Joko Tingkir berpikir, “Di mana tempat, agar hidup dapat tenang”. Hanya cita-citanya. Tiba-tiba di petapaan itu mucul buaya di hadapannya. Joko Tingkir berbicara dalam hati, “ Ya buaya, jika memang Gusti Allah menakdirkan sebab kematianku adalah kamu, maka makanlah aku, tetapi jika Gusti Allah membri hidayah melalui kamu, entah kemana hidup bisa tenang, mohon antarkan aku ke mana kau mau”. Tidak lama Joko Tingkir berfikir demikian, buaya itu menghilang. Agak lama...
Suatu hari, Raden Syarifuddin dipanggil ayahnya – Sunan Ampel. Sunan Ampel bermaksud memerintah anaknya untuk berdakwa ke wilayah Pulau Jawa, dikarenakan Raden Syarifuddin dianggap sudah menguasai ilmu agama Islam. “Anakku Raden Syarifuddin, Raden telah dewasa dan telah cukup ilmu keagamaanmu. Sudah saatnya, Raden berjuang di jalan Allah. Sebarkan agama Islam di wilayah Pulau Jawa ini,” titah Sunan Ampel pada suatu pagi. Mendengar hal tersebut, Raden Syarifuddin diam saja sambil berfikir, “ Bukankah beberapa santri ayahanda yang dikirim ke wilayah sebelah barat kota Gresik, semuanya meninggal terbunuh musuh,” pikiran Raden Syarifuddin mengenang 10 santri yang meninggal karena berdakwa. Mereka memang pandai mengaji dan ilmu agama, tetapi karena tidak memiliki ilmu kanoragan, kalah dengan para penduduk pemeluk agama Hindu dan Budha yang tidak senang akan datangnya agama Islam. “Hal tersebut mungkin s...
TENUN IKAT PARENGAN LAMONGAN Kabupaten Lamongan banyak memiliki budaya yang menarik. Dalam bidang makanan Lamongan dikenal dengan Soto, Wingko Babat, Tahu Campur, Tahu Tek, Nasi Boranan. Sedangkan dalam bidang tekstil di Lamongan terdapat Batik Sendang dan Tenun Ikat Parengan. Tenun ikat perkembang di Desa Parengan, Kecamatan Maduran, Kab. Lamongan. Sejarah tenun ikat dimulai dari zaman penjajahan Belanda. Pada zaman penjajahan Belanda orang Lamongan sudah mulai membuat tenun ikat sebagai kerajinan yang ada di kota Lamongan. Sampai saat ini kerajinan tenun ikat masih tumbuh lestari di Desa Parengan. Di desa ini terdapat industri rumah tangga tenun ikat yang dikelola oleh masyarakat Desa Parengan. Produsen tenun ikat yang terkenal di Desa Parengan, yaitu “Bintang Mas”, “Paradilla”, dan “Al-Maidah”. Selain ketiga produsen tersebut masih banyak produsen lain yang skalanya lebih kecil. Bagi masyarakat Parengan yang tidak bisa m...
Jika Anda menyukai Ikan asin maka makanan ini wajib kalian rasakan, karna masakan ini berbahan ikan asin. Blambangan sendiri merupakan kerajaan blambangan yang berpusat paling timur pulau jawa. kerajaan blambangan saat ini dikenal dengan banyuwangi. Bahan-Bahan : 100 gr gereh blambangan atau ikan kakap asin (ganti dengan ikan asin berdaging tebal lainnya jika tak ada) 150 gr kangkung, siangi 2 cm lengkuas, dimemarkan 2 lembar daun salam 1 sdm/10 gr asam jawa dilarutkan dalam 5 sdm air hangat 800 ml air gula putih secukupnya (jika suka) Bahan Halus : 2 bh/20 gr cabe merah 3 bh/30 gr bawang merah 2 siung/6 gr bawang putih 1 sdt terasi goreng 1,5 sdt garam atau sesuai selera Cara Memasak : 1. Rendam 1 sdm/10 gr asam dalam 5 sdm air hangat. Sisihkan. 2. ...