Asal Usul Desa Pringgoboyo
Setelah mangkir dari jabatan Sultan Pajang, Joko Tingkir melarikan diri, menyamar menjadi tukang sapu di Masjid Baiturrahman Solo. Dulu sebelum Joko Tinggkir menjadi Sultan Pajang, Joko Tingkir pernah menjadi abdi Kiyai Abdurrahman pendiri Masjid Baiturrahman. Pada saat itu Joko Tingkir sudah tua, tidak ada orang yang dapat mengenalinya.
Di suatu hari dalam suatu malam, Joko Tingkir bertapa di makam kakaknya. Dia bertapa di pinggir Bengawan Solo. Di sana Joko Tingkir berpikir, “Di mana tempat, agar hidup dapat tenang”. Hanya cita-citanya. Tiba-tiba di petapaan itu mucul buaya di hadapannya. Joko Tingkir berbicara dalam hati, “ Ya buaya, jika memang Gusti Allah menakdirkan sebab kematianku adalah kamu, maka makanlah aku, tetapi jika Gusti Allah membri hidayah melalui kamu, entah kemana hidup bisa tenang, mohon antarkan aku ke mana kau mau”. Tidak lama Joko Tingkir berfikir demikian, buaya itu menghilang. Agak lama, buaya itu muncul kembali di suatu malam. Di malam itu Joko Tingkir “silo” menghadap ke utara. Buaya itu muncul dan langsung mengarahkan badannya menghadap ke selatan di depan Joko Tingkir. Joko Tingkir orang yang saangat cerdas, bisa membacaa bahasa isarat buaya. Joko Tingkir langsung naik punggung buaya tadi. Buaya itu kemudian berenang ke rakit yang terbuat daari bambu. Joko Tingkir kemudian naik ke rakitnya.
Di bawah rakit Joko Tinggkir terdapat banyak buaya. Buaya-buaya itu mendorong rakit mengikuti aliran air sungai. Karena sangat gembiranya, Joko Tingkir bernyanyi. Bunyi syair lagunya demikian.
Sigro milir
Sang getek sinonggo bajul
Sekawan doso kang nganggeni
Ngarso tuwin ing bungkul.
Sigro berarti cepat-cepat, milir berarti berjalan., jadi cepat-cepat berjalan. Sang getek sinonggo bajul maksudnya rakit Mbah Joko Tingkir yang disangga buaya. Sekawan doso kang nganggeni maksudnya áda 40 buaya, di depan 20 buaya dan di belakang 20 buaya.
Selanjutnya, mereka terus berjalan dalam beberapa hari. Akhirnya mereka menjuampai sebuah desa. Tidak diketahui apakah di desa itu ada penduduknya atau tidak. Mungkin saja ada penduduknya, tetapi belum ada namanya. Buaya yang mendorong Joko Tingkir berhenti. Mereka tidak dapat berjalan ke utara maupun ke selatan. Joko Tingkir dapat membaca isarat tersebut. Ia berkata dalam hati, “ Tidak usah dipikir yang macam-macam, tidak usah dipikir dengan akal atau logika, ya ini memang tempat yang aku cari”.
Di desa itu Joko Tingkir membangun rumah yang dalam bahasa Jawa disebut “ndalem”. Ia juga berfikir, “ Aku ini ke sini dengan tujuan melarikan diri dari Pajang, ingin mencari tempat hidup yang tenang, jika aku ditanya orang siapa namamu, apa jawabku”. Akhirnya ia menamakan dirinya dengan “Anggungboyo”. Kemudian masyarakat menyebut nama Joko Tingkir dengan sebutan “Ki Anggungboyo”.
Oleh karena itu, desa tersebut dinamai “Pringgoboyo”. Maksudnya “Pring” atau bambu yang dibawa “boyo” atau “buaya”.
Akhirnya beliau menikah dengan Putri Cempo. Sebelum sempat dikarunia putra, beliua meninggal dunia dan dimakamkan di desa itu. Di makam Joko Tingkir banyak ditumbuhi bambu.
Sampai sekarang tanah bekas rumah Joko Tingkir yang terletak di sebelah selatan Masjid Pringgoboyo masih disebut dengan nama “Tanah Sedalem”. Sedangkan bambu di sekitar makam Joko Tingkir di Desa Pringgoboyo dinamai “pring sedapur”. Masyarakat sekitar desa itu memiliki kepercayaan bahwa “pring sedapur” memiliki kekuatan magis.
Diceritakan kembali oleh Kusmaji, Lamongan, 65 tahun,Laki-laki,Peternak, Desa Pinggoboyo, Lamongan, 12 April 2012.
Ditulis oleh Rasmian, Sekaran, Lamongan
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara