Pada zaman dahulu, tersebutlah sebuah negeri terpencil yang diberi nama Soban. Negeri ini adalah salah satu negeri yang berada di antara Sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Penduduknya bekerja sebagai petani, berladang, dan menjadi penyadap karet. Karena berada di antara dua sungai, negeri ini memiliki tanah yang subur. Tanaman penduduk negeri Soban itu pun banyak menghasilkan. Sungai juga memberkahi penduduk negeri itu dengan air bersih yang sangat berlimpah, air yang tiada berkurang walaupun musim kemarau berlangsung cukup panjang. Oleh karena itu pulalah, sawah mereka jarang gagal panen. Masyarakat negeri Soban hidup dengan penuh berlimpahan berkah. Anugerah penduduk negeri Soban makin lengkap karena mereka memiliki pemimpin yang luar biasa. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja bernama Datuk Bandara. Ia adalah seorang raja yang arif, bijaksana, dan sangat menyayangi rakyatnya. Waktunya selalu habis untuk memikirkan kesejahteraan rakyatnya. Rakyat pun membalas cinta rajanya denga...
Pada zaman dahulu, di Kerajaan Bima terdapat sebuah kesultanan. Di sana memerintah seorang raja bernama Sultan Salehudin. Sultan Salehudin memerintah dengan arif bijaksana. Oleh karena itu, seluruh rakyat sangat mencintai rajanya. Beliau masih muda dan berparas tampan, serta gagah. Namun, raja tersebut belum berpikir untuk memiliki permaisuri. Padahal, jika beliau mau, tentu tidak akan sulit karena banyak sekali putri bangsawan maupun putri sultan yang senang dengannya. Di kerajaan, Ibu Suri juga sering mengingatkan agar Sultan Salehudin segera memiliki permaisuri. Namun, oleh Sultan selalu dijawab dengan halus dan Sultan selalu menjawab kalau dia belum menemukan calon permaisuri yang diidam-idamkannya. Sultan Salehudin senang sekali berburu bila ada waktu senggang. Sultan berburu dengan diikuti para pembesar istana, beliau berburu dalam waktu yang lama sehingga menginap beberapa malam di hutan Pada suatu hari, Sultan Salehudin dan rombongannya pergi berburu ke kaki Gunung Londa....
Udara dingin malam itu terasa menusuk tulang. Hujan deras disertai angin kencang turun tak henti-henti sejak sore tadi. Di dalam gubuk itu si Lemang duduk berlunjur sambil menyembunyikan kedua tangannya di balik ketiak untuk menahan dingin. Matanya tertuju ke arah jendela kayu yang bergoyang-goyang terkena hentakan angin. Di sampingnya terbaring seorang lelaki tua berpakaian hitam-hitam dengan sarung diikatkan di sekeliling tubuhnya yang tambun. Dari sore tadi ia tertidur dan tidak bangunbangun lagi. Pak Belalang namanya. Penduduk desa biasa memanggilnya Pak Belalang karena mereka mengenalnya sebagai lelaki tua yang pemalas dan suka tidur. Sementara itu, si Lemang seorang anak yang rajin dan suka menolong. Sehari-harinya ia membantu para petani berkebun di ladang. Kadangkadang ia membantu menamam ubi, jagung, dan buah-buahan. Kadangkadang pula ia ikut memanen padi ketika musim panen tiba. Upahnya dia belikan untuk keperluan makan sehari-hari. Malam itu langit tampak gelap. Suara g...
Hari sangat cerah. Matahari bersinar cukup terik. Laut berkilau biru bening. Butir-butir pasir putih disapa ombak. Suara ombak bersahutan dengan camar laut di udara. Namun, sekelompok orang tidak dapat menikmati keindahan itu. Mereka sibuk menebang pohon nipah, bakau, dan kelapa. Mereka tidak menebang seenaknya. Hanya pohon yang sudah cukup tua dan kuat yang mereka pilih. Pohon-pohon yang telah ditebang dibersihkan pelepah atau rantingnya. Setelah bersih, kayu tersebut diseret beramai-ramai ke pantai. Gelondongan-gelondongan kayu itu mereka ikat jadi satu. Mereka menggunakan tali yang terbuat dari kulit kayu. Sepertinya mereka bermaksud membuat rakit. Rakit yang telah jadi ditumpuk menjadi dua lapis dan disatukan dengan rakit lainnya. Hasilnya adalah sebuah rakit yang sangat besar. Seorang pria berteriak-teriak memberi arahan kepada para pekerja. Tubuhnya tinggi tegap. Kulitnya yang sawo matang memerah terpanggang matahari. Dia adalah ketua rombongan itu. Meskipun seorang pimpina...
Ribuan tahun yang lalu Pulau Bangka begitu indah dan memesona. Tanahnya subur. Berbagai jenis pohon tumbuh menghijau sejauh mata memandang. Pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Air lautnya berwarna biru, jernih, tenang, dan menyejukkan mata. Suara ombaknya terdengar merdu memecah kesunyian alam. Keindahannnya sungguh menggugah jiwa dan seakan-akan mengundang kita agar selalu memandang dan menikmatinya. Pada waktu itu hanya ada beberapa kampung di pulau itu. Penduduknya pun tidak banyak. Mereka hidup dengan damai dan sejahtera. Tidak pernah terjadi permusuhan antara kampung yang satu dengan kampung yang lain. Semua kebutuhan mereka dipenuhi oleh alam sekitarnya. Ada padi, jagung, ubi, sayur-sayuran, dan buah-buahan yang tumbuh dengan subur. Apa yang mereka tanam selalu tumbuh dengan baik walau tanpa pupuk. Sungainya jernih sehingga terlihat banyak ikan bergerombol kian kemari. Penduduk dapat menangkapnya dengan memancing atau dengan memakai lukah (alat tangkap khusus yang terb...
Dikisahkan seorang keturunan brahmana bernama Nirarta. Ia merupakan adik dari Dhanghyang Angsoka, putra dari Dhanghyang Asmaranatha. Sebagaimana layaknya keluarga pendeta, tumbuh kembang Nirarta dari usia anak-anak, remaja, hingga dewasa melalui proses menimba ilmu pengetahuan pada beberapa orang guru. Sikap dan perilaku Nirarta sebagai seorang murid bertumpu pada beberapa hal: selalu ingat dan memuja kebesaran Tuhan, tekun mengikuti setiap pelajaran yang diberikan oleh guru-gurunya, patuh dan rajin mengerjakan tugas-tugas, dan tidak pernah malu bertanya jika ada penjelasan dari guru-gurunya yang belum dipahami. Prestasi memuaskan yang diraih dari tiap-tiap guru berbuah pujian dan dorongan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. “Jadikanlah diri seperti bunga sandat. Akar pohon yang kuat disertai pemupukan yang cukup maka bunganya pun bermekaran. Ketika ranum kuning gading, aroma wanginnya menebar, semakin layu semakin harum semerbak”. Pesan orang tua itu selalu terngiang di tel...
Kue Dadar Jiwo adalah salah satu makanan Khas yang berasal dari Sumatera Selatan , Kue ini sudah sangat jarang ditemukan sekarang . Kue Dadar Jiwo berbentuk gulungan berwarna kuning yang adonannya berisi irisan tumis pepaya muda kadang kala juga ada yang berisi abon , udang dll menyesuaikan selera saja dan di atasnya biasa dioleh Gelondo ( Minyak Santan Kelapa ) dan ditaburi abon , bawang goreng , daun sop , dan irisan cabe merah Kue Dadar Jiwo ini biasanya berwarna kuning , warna tersebut biasanya berasal dari pewarna Kunyit atau bahkan pewarna makanan tergantung cara pengelolaannya dan keinginan tersendiri . Rasa dari Kue Dadar Jiwo ini biasanya gurih . Berikut cara pembuatan Kue Dadar Jiwo Khas Palembang ini : Bahan untuk Kulit Kue Dadar Jiwo : 500 gram Tepung Terigu 3 Gelas air matang 2 Butir Telur Pewarna Kuning ( Kunyit / Pewarna Makanan) Bahan untuk Isian Kue Dadar Jiwo Pepaya Muda 3 Siung Bawang Putih 250 gram udang yang sudah dicincang 8 b...
Siapa sih yang asing sama jajanan khas satu ini? Cemilan atau jajanan yang sering kita temui di daerah Jawa Barat itu patut kita coba loh! Cireng atau nama aslinya aci goreng adalah makanan dengan bahan utama pembuatannya berupa tepung kanji dengan digoreng sebagai metode pemasakannya. Dalam proses pembuatan adonan cireng sendiri, tepung kanji biasanya dicampur dengan terigu, garam, merica bubuk, bawang putih, daun bawang, kedelai, air, dan dimasak dengan minyak goreng. Oh iya, kamu juga bisa membuat bermacam-macam bentuk dengan adonan cireng atau mengisinya dengan topping yang kamu sukai. Soal rasa, tidak perlu diragukan lagi bahwa cirenglah juaranya! Cireng dengan rasa original terasa gurih. Namun, akibat berbagai kreasi dan inovasi yang terjadi, banyak isian atau topping yang membuat kita merasa penasaran dengan perkembangan cireng sendiri. Contohnya seperti daging, keju, sosis, kornet, pedas, dan lain-lain. Kamu juga tak akan jarang menemui berbagai inovasi bentuk cireng sepe...
Makanan-makanan tradisional di tatar sunda sebenarnya banyak dan beberapa masuk ke dalam kategori "Cawokah" atau porno dalam segi kebahasaannya. Salah satunya ialah ewe deet. Menurut arti secara harfiahnya sendiri, ewe berarti hubungan seksual, dan deet berarti dangkal. Tetapi pada kenyataannya ewe deet sendiri merupakan nama makanan yang merujuk pada daging buah kelapa yang diberi gula merah. Makanan ini sudah sangat jarang dijajakan di tatar Sunda. Menurut dosen saya, ewe deet ini merupakan makanan yang awalnya berasal dan tumbuh di Jawa Barat bagian selatan, yaitu di sekitar Kabupaten Garut, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Sukabumi, dan sekitarnya. Untuk melihat bentuk asli dari makanan ini sendiri sudah sangat sulit, karena hampir jarang sekali yang menjualnya, dan rata-rata orang tidak mengetahui adanya keberadaan makanan cawokah ini. Maka dari itu saya mencari-cari dan akhirnya terdapat salah satu gambar milik salah seorang individu di laman Facebook...