×

Akun anda bermasalah?
Klik tombol dibawah
Atau
×

DATA


Kategori

cerita rakyat

Elemen Budaya

Cerita Rakyat

Provinsi

Sumatera Selatan

Asal Daerah

Sumatera Selatan

Pak Belalang

Tanggal 24 Feb 2021 oleh Widra .

Udara dingin malam itu terasa menusuk tulang. Hujan deras disertai angin kencang turun tak henti-henti sejak sore tadi. Di dalam gubuk itu si Lemang duduk berlunjur sambil menyembunyikan kedua tangannya di balik ketiak untuk menahan dingin. Matanya tertuju ke arah jendela kayu yang bergoyang-goyang terkena hentakan angin. Di sampingnya terbaring seorang lelaki tua berpakaian hitam-hitam dengan sarung diikatkan di sekeliling tubuhnya yang tambun. Dari sore tadi ia tertidur dan tidak bangunbangun lagi. Pak Belalang namanya. Penduduk desa biasa memanggilnya Pak Belalang karena mereka mengenalnya sebagai lelaki tua yang pemalas dan suka tidur.

Sementara itu, si Lemang seorang anak yang rajin dan suka menolong. Sehari-harinya ia membantu para petani berkebun di ladang. Kadangkadang ia membantu menamam ubi, jagung, dan buah-buahan. Kadangkadang pula ia ikut memanen padi ketika musim panen tiba. Upahnya dia belikan untuk keperluan makan sehari-hari.

Malam itu langit tampak gelap. Suara gonggongan anjing dari kejauhan terdengar jelas di telinga. Sesekali suara itu diselingi suara burung hantu seperti sedang menyambut pergantian malam. Di luar, tampak pohon-pohon tumbang karena tersambar petir. Si Lemang mulai tak betah berlama-lama di dalam gubuk itu. Gonggongan anjing di luar semakin terdengar jelas di telinganya. Si Lemang penasaran.

Melalui celah-celak bilik bambu gubuk itu, dilihatnya suasana di luar. Ia khawatir anjing-anjing hutan itu benar-benar mendekat lalu masuk menerkamnya. Namun, dalam gelap malam tak satu pun anjing dilihatnya. Mungkin saja gerombolan anjing itu sudah pergi entah ke mana.

“Ya Tuhan, lindungilah kami. Jikalau memang kami terpaksa harus menginap di gubuk ini, jauhkanlah kami dari marabahaya,” kata si Lemang sambil mengusap bagian rambutnya yang basah terkena cipratan air hujan yang menetes dari atap gubuk yang bocor. “Pak, bangun, Pak,” bisiknya berusaha membangunkan Pak Belalang. Akan tetapi, Pak Belalang diam saja. Tidurnya nyenyak sekali.

Tak berapa lama, hujan pun akhirnya reda. Untuk kesekian kalinya, dibangunkannya kembali Pak Belalang yang tertidur dari sore tadi. Dengan rasa yang berat, laki-laki paruh baya itu akhirnya terbangun. Pak Belalang dan si Lemang meninggalkan gubuk itu. Mereka berjalan pulang menyusuri jalan kecil menuju kampung, jalan yang biasa mereka lewati jika hendak pulang dari hutan menuju kampung.

Semakin lama langkah kaki mereka semakin cepat. Mereka khawatir jika hujan aka turun lagi sebelum mereka sampai di desa. Tak diduga, dalam perjalanan pulang itu, ketika melintasi hutan kecil, mereka melihat sekelompok orang sedang menggiring sapi. Pakaiannya hitam-hitam dengan kain sarung menutupi seluruh bagian wajahnya.

“Tunggu! Jangan sampai mereka melihat kita,” bisik Pak Belalang mendadak yang menghentikan langkah si Lemang yang berjalan di belakangnya. Si Lemang menuruti apa kata Pak Belalang. “Siapa mereka, Pak?” tanyanya penasaran. “Jangan gegabah. Mereka itu pencuri sapi. Kalau sampai mereka tahu kita ada di sini, habislah kita,” ujar Pak Belalang memperingatkan.

Pak Belalang dan si Lemang berjalan mengendap-endap sambil mengikuti para pencuri itu dari belakang. Di tengah perjalanan, para pencuri itu kemudian mengikatkan sapi-sapi curian mereka di sebuah pohon mahoni yang cukup besar.

“Sudahlah, aku sudah capek! Kita tinggalkan saja dulu sapi-sapi ini di sini. Besok pagi kita kembali mengambilnya,” ujar salah satu pencuri. “Iya, aku setuju. Aku juga sangat capek menggiring sapi ini. Kita pulang lagi saja ke kampung agar tidak ada penduduk desa yang curiga dengan kita,” ujar pencuri yang lain.

Rupanya para pencuri itu kelelahan menggiring sapi-sapi yang ukurannya cukup besar. Mereka sepakat untuk meninggalkan sapi-sapi curian mereka itu di hutan. Para pencuri itu sama sekali tidak sadar, ada orang lain yang mengetahui kegiatan mereka di tengah hutan itu. Pak Belalang dan si Lemang dengan hati-hati memperhatikan gerakgerik para pencuri itu. Sayangya, tak ada satu orang pun yang dapat mereka kenali karena pencuri itu menutupi semua wajahnya dengan sarung.

“Nak, ingatlah tempat ini baik-baik. Siapa tahu nanti ada gunanya untuk kita,” pesan Pak Belalang kepada si Lemang. Si Lemang menganggukkan kepalanya. Ia memahami apa yang dikatakan Pak Belalang. “Iya, Pak, aku akan mengingat tempat ini baik-baik,” jawab si Lemang.

Setelah para perampok itu pergi, Pak Belalang dan si Lemang melanjutkan perjalanan pulang. Mereka pun mempercepat langkahnya karena ingin segera dapat sampai di rumah. Setibanya di desa, malam sudah benar-benar larut. Pak Belalang terheran melihat suasana di kampung malam itu sangat ramai tak seperti biasanya. Warga kampung berkerumun di luar rumah mereka seperti sudah terjadi sesuatu.

“Ada apa ini, Pak?” tanya Pak Belalang kepada salah seorang warga. “Gawat, Pak! Sapi-sapi kami tiba-tiba hilang! Kami yakin sudah ada yang mencuri sapi-sapi itu. Hari ini ada tujuh ekor sapi yang hilang. Padahal, siang harinya kami masukkan sapi-sapi itu ke kandang. Tak tahunya sore hari sudah raib, tak tahu ke mana,” kata salah seorang warga menjelaskan “Sapi-sapi kalian hilang?” tanya Pak Belalang terkejut. Hilang ke mana, Pak?” tambahnya sambil mengerutkan dahi seolah ia tidak pernah melihat kejadian di hutan tadi. “Berani sekali mereka mencuri sapi-sapi kita! Kalau nanti kita berhasil menangkapnya, kita gantung saja mereka di desa!” teriak salah satu penduduk lain. “Ya! Jangan diberi ampun! Kalau kita berhasil menangkapnya, kita araksaja mereka keliling kampung!” ujar warga lain yang sapinya ikut dicuri.

Suasana di kampung itu semakin malam semakin ramai. Bapak-bapak, ibu-ibu, hingga anak-anak keluar dari rumahnya masing-masing karena penasaran siapa sebenarnya yang telah mencuri sapi-sapi di kampung. Pak Belalang langsung berbaur dengan warga desa lain yang semakin bergerombol memperbincangkan peristiwa pencurian itu. Akhirnya, atas saran sesepuh kampung, malam itu juga kepala kampung mengumpulkan warga kampung. Warga pun berbondong-bondong pergi ke balai desa untuk mendengarkan pengumuman dari kepala kampung. Setelah semua orang terkumpul, akhirnya kepala kampung menyatakan pengumumannya.

“Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian, desa kita sudah mulai tidak aman. Hari ini ada beberapa warga yang kehilangan sapi. Sebagai Kepala Desa, saya mengajak kita semua bersama-sama mencari sapi-sapi yang hilang itu. Kalau nanti kita berhasil menemukan pencurinya, kita hukum dia sesuaidengan hukum adat. Akan tetapi, kalau memang nanti tidak ketemu juga, kita minta bantuan ahli nujum saja untuk mengetahui siapa yang mencurinya,” ujar kepala kampung. “Setuju! Kita cari sapi-sapi itu sampai ketemu! Kita segera tangkap para pencuri itu!” ujar warga beramai-ramai. Mereka sudah tidak sabar ingin segera menangkap pencurinya. Ada yang membawa obor, ada yang membawa pedang. Ada juga yang membawa panah untuk berjaga-jaga jika binatang buas nanti di hutan. Saat orang-orang sibuk mempersiapkan perburuan malam itu, tibatiba Pak Belalang yang juga ikut dalam pertemuan tersebut berpura-pura tertidur sambil mengigau.

“Hai kalian penduduk kampung, tak usah kalian susah-susah mencari sapi-sapi kalian itu. Aku sudah tahu di mana sapi-sapi itu sekarang,” ujarnya dengan mata terpejam.

Warga kampung yang sedang berkumpul tersebut terkejut mendengar ucapan yang dikatakan Pak Belalang.

“Pak Belalang! Jangan main-main engkau! Bagaimana kautahu di mana sapi-sapi kami sekarang, sementara engkau sendiri tertidur seperti itu!” kata kepala kampung menegurnya. “Iya, ada-ada saja engkau ini. Dasar Pak Belalang! Asal saja kaubicara melantur. Bukannya membantu kami mencarikan sapi-sapi itu, engkau malah enak-enak saja tidur seperti itu!” ujar salah satu warga.

Warga yang marah rupanya semakin kesal dengan perangai Pak Belalang saat itu. Beberapa orang mulai berkumpul dan mengerumuni Pak Belalang yang tertidur.

“Aku tidak sedang main-main dengan kalian!” jawab Pak Belalang. Suaranya semakin tegas. “Kalaulah kalian mau menuruti apa kata-kataku, kalian akan segera menemukan sapi-sapi tersebut malam ini juga. Akan tetapi, kalau tidak, kalian akan menyesal.”

Warga antara percaya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Belalang. “Pak Belalang, kalau engkau memang benar, coba katakan di mana sapi-sapi kami berada!” ujar kepala kampung penasaran. “Begini. Aku akan tunjukkan di mana sapi-sapi kalian berada. Namun, sebelum aku dapat mengatakannya, aku perlu disediakan secangkir kopi dan dua buah singkong yang direbus setengah matang,” pintanya. “Dasar Pak Belalang! Sudahlah. Jika memang benar engkau bisa menunjukkan tempat sapi-sapi itu, kami akan memberimu imbalan yang besar. Akan tetapi, jika sebaliknya, engkau akan kami usir dari desa ini!” ancam Kepala Desa. “Hmm... baiklah, kalau begitu. Aku pegang janjimu, kepala kampung. Sekarang, aku ingin kalian mendengarkan kata-kataku. Sementara aku tidur di sini, ikutilah anakku karena aku akan memberikan petunjuk kepadanya melalui ilmu kebatinanku. Namun ingat, jangan sampai ada yang berani mengganggu tidurku karena itu akan menggagalkan semuanya,” kata Pak Belalang.

Warga kampung yang sedang panik malam itu, percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Pak Belalang. Mereka mulai menuruti semua yang dikatakan oleh Pak Belalang dan mengikuti semua petunjuk yang diberikannya. Warga kampung berkerumun mendengarkan cerita Pak Belalang yang semakin meracau. Pak Belalang pun melanjutkan ceritanya.

“Kalian tidak usah khawatir. Sapi-sapi itu berada di semak-semak di sebelah barat, arah matahari terbenam. Aku telah mengikat mereka di bawah pohon mahoni dengan ilmuku agar mereka tidak lari. Kalian harus segera mengambilnya. Jika tidak, mungkin sapi-sapi itu akan mati,” ujar Pak Belalang dengan lagak yang meyakinkan.

Warga kampung semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Pak Belalang. Kelompok yang tadinya menentang, sekarang mulai ikut-ikutan mendengarkan seolah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Belalang. Pak Belalang semakin bertingkah. Ia menghitung jari-jarinya sambil memejam-mejamkan matanya seperti seorang dukun yang sedang membaca mantera. Karena tak sabar ingin segera membuktikan kebenaran ucapak Pak Belalang, saat itu juga warga kampung bergegas menuju hutan yang dimaksudkan oleh Pak Belalang turut serta Kepala Kampung dan perangkat desanya memimpin rombongan menuju hutan malam itu juga. Si Lemang menjadi petunjuk jalan bagi rombongan menuju sapi-sapi itu berada. Ia sudah paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Pak Belalang. Tak berapa lama, rombongan itu berhasil menemukan sapi-sapi mereka dengan utuh di bawah pohon yang diikatkan oleh para pencuri tadi,

“Wah…. Tak kusangka! Rupanya benar apa yang dia katakan. Ternyata orang seperti dia memiliki ilmu nujum yang sangat tinggi. Hebat juga ya Pak Belalang!” ujar salah satu warga dengan wajah sumringah. “Iya, ya. Aku juga berpikiran hal yang sama. Ternyata benar juga ya apa yang dikatakannya tadi,” balas warga lainnya.

Meskipun tidak dapat menemukan pencurinya, warga tampak senang karena telah mendapati sapi-sapi mereka kembali. Malam itu juga, mereka membawa sapi-sapi itu pulang ke kampung dipimpin oleh kepala kampung. Sesampainya di desa, mereka langsung menemui Pak Belalang yang masih tertidur pulas. Mereka pun membangunkannya lalu menceritakan bagaimana mereka menemukan sapi-sapi itu.

Sesuai dengan kesepakatan, kepala kampung kemudian menghadiahi Pak Belalang seekor kambing atas jasanya mengembalikan sapi-sapi penduduk yang telah dicuri. Sejak saat itu, Pak Belalang dikenal oleh para penduduk sebagai ahli nujum desa tersebut. Warga yang dulu sering mencemoohnya, kini berbalik bersikap hormat dan santun kepadanya. Lama-kelamaan ketenarannya sebagai ahli nujum sampai juga di kalangan kerajaan. Pada saat itu, Raja Indera Tanjung kebetulan tengah kebingungan. Ia mendapat tantangan uji kecerdikan dari raja negeri seberang. Sudah berhari-hari ini Raja tampak gundah gulana. Ia harus segera menemukan petunjuk dari teka-teki itu.

Sore itu, Patih menghadap Raja di dalam istana. Ia mencoba mencari tahu apa yang sesungguhnya membuat Raja beberapa hari ini tidak pernah lagi berkeliling kampung dengan kudanya. Raja Indera Tanjung adalah raja yang tegas dan berwibawa. Sifatnya yang santun dan suka menolong warga yang sedang mengalami kesusahan membuatnya sangat dihormati warganya. Tak segan-segan ia turun ke kampung berbaur dengan warganya untuk mengikuti upacara-upacara adat.

“Maaf, Tuanku. Bukannya hamba lancang, beberapa hari ini sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di benak Tuanku. Kalaulah hamba boleh tahu, apakah sebenarnya yang sedang terjadi?” tanya Patih seraya menundukkan kepala.

Raja Indera Tanjung tertegun mendengar pertanyaan yang disampaikan patihnya. Sebenarnya Raja tahu betul patihnya takkan membiarkannya menahan beban pikiran hingga berlarut-larut. Sambil mendekat, Raja Indera Tanjung pun kemudian menceritakan persoalan yang sedang menimpanya itu.

“Begini, Patih. Kamu tahu kan apa yang diinginkan raja seberang itu kepada kita? Aku sedang bingung harus bagaimana. Sampai sekarang aku belum bisa menemukan jawaban-jawaban dari teka-teki itu. Aku tidak ingin kerajaan ini jatuh ke tangan raja congkak itu,” jelas Raja.

Patih tampak sabar mendengarkan cerita rajanya. Ia pun teringat dengan kekejaman raja seberang itu memperlakukan kerajaan-kerajaan kecil yang ia taklukan. Patih tidak ingin nasib yang sama menimpa rakyatnya. Saat merenung tiba-tiba Patih teringat dengan cerita Pak Belalang di kampung. Seorang ahli najum yang dipercaya memiliki kesaktian yang tinggi.

“Ampun, Tuan Baginda. Kalaulah Tuan percaya dengan hamba, hamba sepertinya tahu siapa yang bisa membantu Baginda saat ini,” jawab Patih. “Maksud kamu?” tanya Raja penasaran. “Begini, Baginda. Baru-baru ini hamba mendengar kabar ada seorang ahli nujum yang sakti di kampung kita. Seandainya memang para ahli nujum di istana sudah tidak mampu lagi, mungkin kita bisa memanggilnya,” jelas Patih. Patih berbicara panjang lebar kepada rajanya mengenai kehebatan Pak Belalang, termasuk kejadian bagaimana ia bisa menemukan sapi-sapi yang hilang itu.

Raja rupanya percaya saja apa yang dikatakan patihnya. Tanpa berpikir panjang, ia kemudian memerintahkan patihnya untuk memanggil Pak Belalang ke istana. Patih segera melaksanakan perintah Raja Indera. Pak Belalang dipanggillah pada hari itu juga ke istana.

“Daulat, tuanku,” sembah Pak Belalang. “Apakah gerangan yang membuat Baginda Raja yang mulia memanggil hamba ke istana yang megah ini?” kata Pak Belalang menundukan kepalanya. “Begini, Pak Belalang. Saat ini aku ditantang oleh raja negeri seberang untuk adu kecerdikan. Para ahli nujumku tidak satu pun yang sanggup membantuku. Hanya engkaulah satu-satunya orang yang bisa aku harapkan saat ini. Hal ini sangat berat karena negeri ini yang menjadi taruhannya,” jelas Raja. “Adu kecerdikan?” tanyanya seraya mengerutkan dahi. “Bolehkah Tuanku menjelaskan kepada hamba seperti apa itu tantangannya?” sambung Pak Belalang penasaran. “Baik, Pak Belalang. Aku akan jelaskan semuanya. Aku minta engkau dapat mendengarkannya baik-baik karena aku tak ingin mengulanginya lagi. Begini ceritanya. Ada seorang raja seberang sedang menantangku untuk adu kecerdikan. Mereka memberikan tiga pertanyaan yang harus kita jawab. Apabila kita berhasil menjawab semua pertanyaannya dengan benar, mereka akan menyerahkan harta kekayaan yang mereka bawa. Akan tetapi, kalau kita gagal, kerajaan kita akan mereka ambil alih dan semua yang ada di kerajaan ini menjadi milik mereka,” jelas Raja kepada Pak Belalang.

Pak Belalang mengangguk-angguk saja. Ia mendengarkan dengan baik apa yang dijelaskan Raja Indera Tanjung.

" Pertanyaan pertama yaitu harus menebak binatang yang ada didalam sebuah tabung. Tabung itu terbuat dari kaca, tetapi ditutupi kain sehingga tak seorang pun bisa melihatnya." kata sang Raja. “Binatang dalam tabung?” tanya Pak Belalang heran. “Apakah mereka memberikan petunjuknya kepada kita, Baginda?” “Ada. Binatang ini katanya bisa terbang, tetapi bukan burung, bisa meloncat, tetapi bukan katak,” jelas Raja. “Bagaimana, Pak Belalang? Engkau tahu apa binatang itu?” tanya Raja.

Pak Belalang mengangguk-angguk saja. Tentu saja ia sadar bahwa tidak bisa begitu saja menjawab teka-teki. Ia juga tidak bisa menerka-nerka jawabannya karena sesungguhnya ia bukanlah orang pintar atau ahli nujum seperti yang Raja kira.

“Hmm... sepertinya teka-teki ini pernah saya dengar, Baginda. Mungkin nanti hamba coba pikirkan jawabannya,” jawab Pak Belalang sambil mengusap-usap dahinya seperti sedang berpikir. “Baiklah kalau begitu,” ujar Raja. Raja pun kemudian melanjutkan ceritanya. “Kemudian, pertanyaan yang kedua, aku diminta menebak jumlah biji timun. Nanti mereka akan menunjukan dua buah timun. Mereka sudah mempersiapkan timun-timun itu sejak awal. Yang satu ukurannya kecil dan yang satunya lagi ukurannya besar. Kita harus mampu menyebutkan jumlah biji dari masing-masing timun itu dengan tepat. Tidak ada kesempatan untuk mengulang jawaban. Sekali salah tetap salah.” “Lalu yang ini juga ada petunjuknya, Baginda?” tanya Pak Belalang. “Ah, yang ini mereka tidak memberi petunjuk apa pun. Bahkan, ukurantimunnya pun mereka tidak katakan. Mereka hanya mengatakan ukuran timun itu ada dua. Yang satu ukurannya kecil dan yang satu lagi ukurannya besar. Tugas kita pokoknya harus bisa menebak berapa jumlah biji tiap-tiap timun itu,” jelas Raja. “Oh... Begitu ya Baginda?,” jawab Pak Belalang. Ia tampak semakin bingung. Mustahil rasanya ia bisa menghitung jumlah biji timun jika tidak dibelah buahnya. Meskipun tidak tahu, Pak Belalang tetap berusaha tenang. Ia tidak ingin Raja menjadi curiga dengan kemampuannya sebagai ahli nujum. Pak Belalang mengangguk-angguk saja mendengarkan cerita rajanya. “Lalu, bagaimana dengan tantangan yang ketiga, Baginda?” tanya Pak Belalang. “Pertanyaan yang terakhir, aku disuruh menebak pangkal dan ujung kayu. Mereka akan memberikan kita sebatang kayu yang sudah dipotong sama besarnya. Tanpa petunjuk apa pun, kita harus bisa menentukan mana ujung dan mana pangkalnya. Aku tidak tahu kayu seperti apa yang akan mereka bawa. Mungkin saja kayu jati atau mungkin kayu yang lain. Ah, pokoknya begitulah teka-tekinya,” jelas Raja. “Ampuni hamba, Baginda. Sekarang ini hamba belum memiliki jawabannya. Kalaulah sudah ada, hamba pasti akan menyampaikannya kepada Baginda,” jawab Pak Belalang. “Pak Belalang!” bentak Raja berdiri sambil menghentakkan kakinya. “Jangan main-main denganku! Engkau kuberi waktu tiga hari untuk memberikan semua jawabanmu! Kalau kautidak bisa juga, engkau akan kuhukum penjara!” bentak Raja.

Pak Belalang tertunduk saja. Ia tak berani menatap wajah rajanya yang tampak semakin memerah. Dalam hatinya ia bergumam, “Benarbenar celaka aku kali ini. Kalau aku tak bisa menjawab semua teka-teki itu, tamatlah sudah riwayatku.” “Ampun, Baginda. Kalaulah hamba boleh tahu, di manakah sebenarnya tempatnya kerajaan negeri seberang yang Baginda maksudkan tadi? Sebagai ahli nujum, hamba perlu mengetahui asal-usul mereka sebelum hamba benar-benar dapat mengeluarkan segala kesaktian hamba,” tanya Pak Belalang. “Baiklah kalau engkau memang perlu mengetahuinya. Mereka sesungguhnya merupakan kerajaan besar dan kuat di Selat Malaka. Beberapa bulan ini mereka sedang berlayar dan menyinggahi beberapa negeri. Sekarang ini mereka sedang tinggal di atas kapal dekat sungai tak jauh dari negeri kita,” jawab sang Raja.

Pak Belalang mengangguk-angguk saja mendengarkan penjelasan Raja.

"Hmm.. baiklah, Baginda. Seperti yang sudah hamba duga. Mereka bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang sakti berilmu tinggi. Kita harus berhati-hati dengan mereka, Baginda,” kata Pak Belalang dengan memejamkan matanya sambil mengusap-usapkan kedua telapak tangannya berpura-pura seperti seorang dukun sakti yang sedang menerawang sesuatu. Raja memperhatikan tingkah laku aneh Pak Belalang itu. Sang Raja mengira Pak Belalang sedang mengeluarkan ilmu kesaktiannya.

“Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kaumulai memikirkan teka-teki itu. Aku tak ingin engkau membuatku kecewa,” ujar Raja. Nada ucapannya mulai mereda.

Pak Belalang tertegun. Berbagai pertanyaan muncul dalam diri Pak Belalang. Hatinya gelisah. Matanya menatap arah kursi kayu raja dengan pandangan yang kosong. Sesekali laki-laki paruh baya itu menarik napas panjang. Tak lama kemudian, Raja memerintahkan pembantu istana untuk mengantarkan Pak Belalang dengan Si Lemang ke kamar istana. Sesampainya di kamar istana, Pak Belalang dan Si Lemang tampak gelisah. Malam itu mereka tidak bisa tidur tenang karena terus teringat dengan kata-kata ancaman yang diucapkan Raja siang itu. Mereka berdua berbincang semalaman. Siang malam mereka terus berpikir mencari jalan keluarnya. Megahnyakamar tidur mereka sama sekali tidak membuat mereka dapat tidur tenang. Makanan yang enak-enak dihidangkan pun tidak dapat mereka nikmati. Hingga suatu malam, Pak Belalang berkata pada Si Lemang, “Anakku, kaudengarkan apa yang dikatakan Raja kemarin pada kita? Bapak punya suatu rencana. Kalau ktia berhasil, kita akan selamat." “Rencana? Rencana apa itu, Pak?” tanya Si Lemang penasaran. “Kita harus pergi menyelidiki tempat raja negeri seberang itu. Kauintai apa saja kegiatan mereka. Coba kaucari tahu rahasia dari teka-teki yang mereka berikan. Siapa tahu ada petunjuknya di sana.” “Tenanglah, Bapak sudah atur bagaimana kaubisa keluar dari istana ini. Bapak akan bilang kepada para pengawal itu kalau kamu harus pulang mengambil obat-obatan untuk persyaratan ilmu-ilmu Bapak. Kalau Bapak yang pergi, mereka pasti akan curiga.” “Baiklah kalau begitu, Pak. Aku ikut saja apa kata Bapak,” kata Si Lemang.

Seperti biasa, si Lemang menuruti saja apa yang dikatakan Pak Belalang. Malam itu juga si Lemang pergi meninggalkan istana menuju tempat raja seberang tersebut. Dengan menggunakan perahu kecilnya, ia telusuri sungai dekat hutan menuju muara tempat kapal negeri seberang itu berada. Dengan mengendap-endap si Lemang pun berhasil memasuki kapal tersebut. Ketika ia mencoba menyelinap ke kamar raja seberang tersebut, tak sengaja terdengarlah olehnya percakapan antara raja dengan anaknya. Kebetulan pada saat itu mereka sedang memperbincangkan teka-teki tersebut.

Si Lemang mendengarkan dengan baik-baik pembicaraan mereka lewat lubang jendela kamar itu. Ditempelkan telinganya dekat-dekat dengan dinding kamar agar dapat mendengar percakapannya dengan jelas. “Ayahanda, sebenarnya teka-teki apa yang Ayahanda berikan kepada raja itu?” tanya anak raja seberang tersebut. “Tunggulah sampai besok, Nak. Pada saat kita bertanding besok, kamu akan tahu juga semua jawabannya,” jawab raja itu. “Ah, tetapi aku sangat penasaran, Ayahanda. Ayolah, Ayahanda. Aku ingin tahu sekarang juga,” bujuk anak itu.

Karena tidak tega melihat anaknya yang terus merengek, akhirnya raja seberang tersebut menceritakan jawaban dari semua teka-teki itu satu per satu. Sementara itu si Lemang mendengarkan percakapan mereka dengan saksama. Ia mengingat-ingat apa yang dikatakan raja itu agar nanti ia tidak ada satu pun yang terlupa.

Setelah mendengarkan semua percakapan mereka, si Lemang kemudian bergegas pergi dari tempat itu karena takut ada orang yang melihat. Ia menyelinap keluar dari kapal itu. Saat para penjaga itu lengah, ia berhasil lolos dari pengawasan mereka dan berhasil keluar dari kapal itu tanpa ada seorang penjaga pun yang mengetahuinya. Dengan penuh semangat, si Lemang bergegas pulang ke istana. Ia sudah tidak sabar memberitahukan pengalaman yang ia alami di dalam kapal itu kepada ayahnya. Sesampainya di istana, ia pun langsung menemui Pak Belalang. Di kamar itu, terlihat olehnya Pak Belalang sedang enak tidur terlentang di atas kasur istana yang empuk.

“Pak, aku sudah dari sana, Pak. Bapak, bangun, Pak,” si Lemang membangunkan Pak Belalang. Goyangan yang semakin keras itu akhirnya membangunkan Pak Belalang dari tidurnya. “Aah, kamu ternyata sudah pulang, Nak,” jawab Pak Belalang sambil menggosok-gosokkan kedua matanya dengan tangannya. “Bagaimana? Apa yang engkau dapat dari sana?” “Begini, Bapak pasti takkan menyangka apa yang baru saja aku dapatkan dari raja negeri seberang itu!” ujar Si Lemang dengan semangat. “Apa memangnya yang telah kamu dapatkan dari sana?” tanya Pak Belalang penasaran. “Begini, Pak ...”

Si Lemang pun kemudian menceritakan semua pengalaman yang ia dapatkan saat menyelinap ke kapal negeri seberang tadi. Termasuk, pembicaraan raja seberang dengan anaknya mengenai teka-teki itu. Mendengar cerita anaknya, Pak Belalang mulai mengatur siasat. “Bagus, Nak. Hmm.. Bapak bilang juga apa. Kalau kaumenuruti katakata Bapak, pasti semuanya akan selesai,” kata Pak Belalang.

Keesokan harinya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Suasana di dalam istana tampak ramai. Para prajurit dan pembantu istana tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan raja negeri seberang. Hidangan untuk para undangan disajikan lengkap dengan buah-buahan yang segar memenuhi meja tamu yang sudah disiapkan. Siang itu raja negeri seberang dan rombongannya akhirnya sampai juga di istana. Di balik gerbang kerajaan, pengawal istana sudah mengetahui kedatangan raja seberang dan rombongan. Raja Indera tampak cemas ketika melihat tamunya datang dengan pasukan berkuda yang lengkap seperti akan perang.

Dengan penuh percaya diri raja seberang beserta seluruh pengawalnya masuk ke dalam istana. Di dalam istana, ia langsung disambut oleh Raja yang dari tadi menunggunya dengan cemas. Raja negeri seberang itu langsung menyapanya dengan senyum sinis dan berkata, “Bagaimana, Raja, apakah kausudah siap memulai pertandingan ini?”

Sang Raja terdiam sejenak. Sapaan raja seberang terdengar seperti sebuah cemoohan yang ingin menjatuhkan harga dirinya. Ia sadar bahwa hari itu adalah hari yang sangat penting baginya. Hari itu ia harus memenangkan pertandingan teka-teki itu kalau tidak ingin raja seberang mengambil alih tahtanya. Dengan tegas kemudian Raja berkata, “Sudah. Kalian tidak usah khawatir. Kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi pertandingan ini.” “Hmm... Syukurlah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Engkau masih ingat ‘kan tantangan-tantangan itu?” “Tentu saja, Raja. Aku masih mengingatnya. Ayolah, tak usah menunggununggu lama lagi. Kita mulai saja sekarang,” tantang Raja Indera.

Raja Indera tampaknya mulai kesal dengan perangai raja seberang tersebut. Maklum saja, raja seberang itu terkenal dengan sikapnya yang congkak dan senang mencemooh raja-raja lain yang dianggapnya kecil. “Hahaha... Senang sekali aku mendengarnya. Aku pun sudah tak sabar memulai pertandingan ini. Bagaimana, Raja? Apakah engkau sudah memiliki jawaban-jawabannya?” tanya raja seberang “Sudah. Aku mewakilkan semua jawabanku pada ahli nujumku ini,” jawab sang Raja sambil menunjuk Pak Belalang yang berdiri tepat di sampingnya. “Hahaha.. ,” raja seberang itu tertawa melihat Pak Belalang yang perawakannya tidak meyakinkan baginya. “Begini, Raja. Aku hanya ingin mengingatkanmu peraturannya. Kalau dia salah, seluruh negeri ini beserta isinya harus kauserahkan kepadaku. Akan tetapi, kalau memang kaumerasa tidak sanggup dengan tantanganku, aku sarankan engkau mundur saja. Aku akan berikan engkau kemudahan. Engkau hanya perlu menyerahkan tahtamu dan akan kujadikan engkau sebagai penasihatku. Bagaimana Raja? Engkau masih mau melanjutkan pertandingan ini? Sepertinya engkau tidak dapat mengalahkanku, hahaha...” tambahnya sambil tertawa lepas. “Tak usah! Tak perlu kauberkata begitu! Aku takkan mundur sedikit pun! Janji adalah janji! Kita lihat saja nanti. Siapa yang menang dan siapa yang kalah!” jawab Raja Indera kesal. Kedua matanya memerah dengan raut muka tegang. Tampak sekali ia tidak bisa menyembunyikan amarahnya. Perkataan raja seberang itu seperti sebuah tamparan baginya. Lebih dari sekadar ejekan dari seorang raja besar kepala, penakluk kerajaan-kerajaan kecil. “Hahaha... Baiklah kalau begitu. Aku semakin senang jika melihat lawanku memiliki keberanian seperti ini. Tak kusangka ternyata engkau keras kepala juga. Sepertinya kita sudah tidak tahan menunggu pertandingan ini. Mari kita mulai saja!” ujar raja seberang.

Suara gong kerajaan dibunyikan tiga kali, pertanda pertandingan sudah dimulai. Para penonton mulai berkerumun membentuk lingkaran di lapangan depan istana. Di tengah-tengahnya terdapat satu buah meja besar yang sengaja dipersiapkan untuk pertandingan. Kedua raja tersebut duduk di kursi menghadapi meja itu dengan didampingi pengawal masing-masing. Pak Belalang berdiri tepat di sebelah Raja. Tak berapa lama, seorang juru runding kemudian membacakan peraturan pertandingan beserta perjanjiannya. Setelah selesai dibacakan, raja negeri seberang pun mulai mengutarakan teka-teki itu. Suasana ramai orang-orang mendadak hening. Mereka penasaran pertanyaan apa yang akan dilontarkan dan apakah jawabannya.

Dengan lantang raja seberang berkata, “Pertanyaan yang pertama. Sebelumnya aku ingin engkau mendengarkannya baik-baik karena aku tak akan mengulang untuk kedua kali. Begini teka-tekinya, binatang apakah yang ada di dalam tabung ini? Binatang ini bisa terbang, tetapi bukan burung, bisa melompat, tetapi bukan katak,” ujarnya lantang

Pak Belalang mengusap-usap dahinya seperti orang yang sedang berpikir. Sementara itu, semua yang menonton di sana tampak tegang. Mereka menunggu-nunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh Pak Belalang.

“Hahaha... Apa lagi yang sedang engkau pikirkan, Pak Tua? Rupanya engkau tidak mampu menjawabnya,” ejek raja seberang sambil memegang tabung yang ditutupi kain hitam itu. Pak Belalang menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Dengan mata terpejam kemudian ia berkata, “Semua makhluk adalah ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan pasti ada namanya. Ada nama, ada makna. Kalaulah tidak salah berarti tebakanku benar. Kalau tidak benar berarti aku belum berhasil. Kesalahan ada pada manusia. Kebenaran hanya Tuhanlah yang Maha Memiliki.” “Hahaha... Apa sebenarnya yang hendak kaukatakan, Pak Tua? Sudahlah katakan saja kalau engkau memang bisa menjawabnya!” kata raja seberang mulai kesal dengan perangai aneh yang ditunjukkan Pak Belalang. “Baiklah, Tuan. Aku akan menjawabnya. Binatang yang ada dalam tabung itu tidak lain dan tidak bukan adalah belalang! Coba Tuan perlihatkanlah isi tabung itu kepada kami!” jawab Pak Belalang menaikkan tekanan suaranya. Betapa terkejutnya raja seberang melihat Pak Belalang mampu menjawab pertanyaan itu. “Hebat juga orang ini. Tak kusangka ia dapat dengan mudah menjawab pertanyaanku,” ujar raja seberang dalam hati.

Setelah kotak terbuka, semua orang melihat binatang di dalam kotak itu ternyata memang belalang. Terlihatlah seekor belalang sedang meloncatloncat. Semua penonton yang menyaksikan bernapas lega. Mereka bertepuk tangan mengetahui Pak Belalang yang baru saja berhasil menjawab tekateki itu. Seketika itu juga suasana di istana mendadak ramai. “Baiklah, Pak Tua. Kali ini kauberuntung. Jawabanmu memang benar. Binatang yang ada dalam tabung ini adalah belalang,” kata raja seberang. Mendengar ucapan raja seberang itu, Pak Belalang tenang saja. Ia tersenyum kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Jangan senang dulu kalian! Ingat, aku masih memiliki dua pertanyaan lain untuk kaujawab!” ujar raja seberang dengan kesal. Raja seberang itu kemudian mengambil sebuah kotak. Di dalam kotak itu terdapat dua buah timun yang sudah ia siapkan sebelumnya.

Setelah mengeluarkan timun-timun itu dari kotaknya, raja seberang kemudian berkata, “Perhatikan apa yang ada di tanganku. Sekarang aku sedang memegang dua buah timun. Aku minta engkau menyebutkan berapa jumlah biji dari tiap-tiap timun yang ada di tanganku ini,” ujar raja seberang itu sambil mengayun-ayunkan timun-timun itu. “Maaf, Tuan. Boleh saya memegang timun itu?” tanya Pak Belalang. “Hahaha.. mau engkau apakan timun-timun ini?” tanya Raja. “Silakan kalau engkau mau memegang saja,” tambahnya.

Pak Belalang kemudian mengambil kedua buah timun itu. Ia berpurapura mengamati kedua buah timun tersebut sambil mencium-ciumi timun itu, seperti seekor musang yang sedang mengendus-endus makanannya.

“Hahaha... apa yang kaulakukan, Pak Tua? Engkau aneh-aneh saja. Bagaimana bisa kaumengetahui biji timun ini dengan hanya menciumciuminya? Hahaha...,” kata raja seberang tertawa lepas melihat tingkah Pak Belalang yang semakin aneh.

Pak Belalang tak menghiraukan ejekan raja seberang itu. Ia kemudian memberikan kembali kedua buah timun itu sambil berkata, “Hmm… sepertinya aku sudah tahu, Tuan. Aku akan coba menjawabnya.” “Hahaha... Kau mulai banyak tingkah. Sudahlah, cepat kaukatakan jumlah biji dari tiap-tiap timun ini,” ujar raja seberang. “Baik, Tuan. Semoga tebakanku tidak meleset. Timun yang besar bijinya berjumlah tiga biji, sedangkan yang kecil berjumlah tujuh biji. Meskipun ukuran timun ini besar-besar, tetapi bijinya tidak mungkin banyak. Untuk membuktikannya, silakan Tuan belah kedua timun itu,” jawab Pak Belalang.

Jantung raja seberang terhentak mendengar jawaban yang diberikan Pak Belalang. Ia sama sekali tak menyangka kalau Pak Belalang berhasil menebak jumlah biji dari kedua timunnya itu dengan benar. Dengan muka pucat, raja seberang lalu membelah kedua timun tersebut. Setelah dibelah, jumlah biji setiap timun itu sama persis dengan apa yang tadi dikatakan oleh Pak Belalang.

“Bagaimana, Tuan? Sekarang terbukti ‘kan jawabanku?” kata Pak Belalang dengan senyum mengembang. Mendengar kata-kata Pak Belalang, raja seberang terdiam. Ia tak dapat menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Dahinya mengerut dan bola matanya memerah. Ia tidak dapat menyembunyikan kekesalannya. ”Jangan senang dulu engkau, Pak Tua! Sekarang aku akan berikan pertanyaan yang terakhir. Pertanyaan ini adalah yang paling sulit. Kalau engkau tidak bisa menjawabnya, berarti aku yang menjadi pemenangnya.”

Raja seberang kemudian mengangkat sebuah kotak besi. Diletakkannya kotak itu di atas meja pertandingan, lalu berkata, “Pak Tua, aku telah siapkan sebuah kotak. Di dalam kotak ini, ada sebatang kayu. Aku minta kau tebak yang manakah ujung dan yang mana pangkal dari kayu ini,” kata raja seberang sambil mengeluarkan batang kayu itu dari kotaknya. Pak Belalang kemudian mengambil batang kayu itu. Sambil mengusapusap kayu itu ia berkata, “Hmm.. bagaimana aku bisa menebaknya kalau ukurannya sama seperti ini?” tanyanya polos. “Hahaha...” raja tertawa lepas. Ia sepertinya sangat percaya diri akan memenangkan pertandingan itu. “Sudah kukatakan. Menyerah sajalah. Engkau pasti tak akan mampu menjawab teka-teki yang satu ini,” tambahnya. “Hmm... tak usah kauberkata begitu, Tuan. Kami tak akan mundur sedikit pun. Biarlah aku coba menebaknya. Sekarang aku minta disediakan wajan. Aku minta wajan itu diisi air penuh,” kata Pak Belalang. “Pelayan! Cepat sediakan apa yang baru saja diminta Pak Belalang!” kata Raja yang tampak tegang. Teka-teki ini adalah pertaruhan yang terakhir. Jika gagal menebak pertanyaan yang ketiga, Pak Belalang akan kalah meskipun sudah berhasil menebak dua pertanyaan sebelumnya.

Saat itu juga salah seorang pelayan mengambilkan wajan besar yang diisi air seperti apa yang diinginkan Pak Belalang tadi. Setelah siap, Pak Belalang kemudian dengan perlahan memasukkan potongan kayu itu ke dalam wajan tersebut. Tak lama kemudian, Pak Belalang berkata, “Nah! Sekarang aku bisa memberikan jawabannya. Coba lihat, bagian yang tenggelam adalah pangkalnya, sedangkan yang timbul adalah ujungnya.” “Bagaimana, Tuan Raja?” ujar Pak Belalang mengarahkan pandangannya tegas ke raja seberang itu. Raja seberang terhenyak bukan main mendengar jawaban Pak Belalang. Ia tidak mengira sama sekali Pak Belalang bisa menebak semua teka-teki yang ia berikan. “Tidak! Tidak mungkin! Bagaimana engkau bisa menebak semua pertanyaanku! Ini sama sekali tidak masuk di akal!” kata raja negeri seberang itu berapi-api. Ia sama sekali tidak menyangka Pak Belalang mampu mengalahkannya. Padahal, selama ini tak ada satu orang pun yang mampu melebihi kecerdikannya dalam pertandingan teka-teki.

Teriakan raja seberang itu memecah ketegangan. Para penonton yang menyaksikan pertandingan seketika itu bersorak sorai diiringi sahutan meriah. Mereka berbaur merayakan keberhasilan Pak Belalang yang baru saja memenangkan pertandingan teka-teki itu.

Para penonton tak henti-hentinya mengelu-elukan Pak Belalang bagaikan menyambut prajurit yang baru pulang dari medan perang. Suasana di istana mendadak ramai. Wajah-wajah kebahagiaan terpancar dari para pengisi istana, tak terkecuali Raja Indera Tanjung yang sepanjang pertandingan itu tidak beranjak dari kursi duduknya.

Raja seberang pun akhirnya mengakui kekalahannya. Beserta pasukannya ia kemudian pulang ke negerinya. Semua harta benda yang dibawanya harus ia relakan untuk diserahkan sebagai bayaran atas kekalahannya. Keesokan harinya Raja Indera Tanjung mengadakan pesta besarbesaran. Ia ingin seluruh rakyatnya ikut merayakan kemenangan itu. Harta persembahan raja seberang ia dimanfaatkan untuk bisa pesta perayaan. Raja ingin semua rakyatnya ikut menikmati kemenangannya.

Para penduduk diundang dari seluruh penjuru negeri. Utusan dari kerajaan lain juga ikut-ikutan memenuhi undangan. Semua orang berdatangan memenuhi halaman istana merayakan pesta dengan penuh suka cita Karena dianggap berjasa, Raja Indera Tanjung kemudian menghadiahi Pak Belalang beberapa logam emas dan sebidang tanah. Pak Belalang senang sekali menerima pemberian rajanya itu. Raja Indera Tanjung pun sebenarnya menawarkan Pak Belalang untuk menjadi salah satu pembantunya di istana. Namun, Pak Belalang menolaknya. Ia lebih memilih tinggal di kampung dengan warga desa lain.

Dengan tanah pemberian itu, Pak Belalang memanfaatkannya untuk berkebun. Ditanaminya umbi-umbian dan kacang-kacangan. Hasilnya ia jual ke pasar dan ditukarkan dengan beras. Sementara itu, sebagian logam emas pemberian raja, ia tukarkan dengan beberapa ekor kambing untuk diternakkan. Sebagian lagi dipakainya untuk biaya sekolah si Lemang.

Sejak kejadian itu, Pak Belalang menjadi rajin ke ladang dan mengurus ternak kambingnya. Hasil ladang dan ternaknya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sementara itu, si Lemang mulai bersekolah. Pagi hari ia bersekolah. Siangnya ia pergi mencari rumput untuk makan kambing-kambingnya.

Agar tidak dikatakan ahli nujum lagi, Pak Belalang mengaku bahwa semua ilmunya telah musnah karena ditebus dengan jawaban-jawaban yang ditanyakan oleh raja seberang itu. Sejak saat itu, orang-orang tidak lagi meminta bantuannya untuk hal ramal-meramal. Akan tetapi, warga kampung tetap mengenalnya sebagai ahli nujum sakti yang suka tidur.

Pak Belalang dan Lemang mendapatkan pelajaran dan manfaat dari berbagai kejadian yang mereka alami. Pak Belalang tak lagi membohongi orang lain tentang dirinya sebagai seorang ahli nujum. Ia justru berusaha untuk menghilangkan pandangan tersebut. Beruntunglah, dengan mengatakan bahwa ilmunya telah hilang karena menjawab pertanyaan raja seberang, orang-orang tak lagi mendatanginya untuk menanyakan sesuatu hal yang sebenarnya tak dapat ia jawab dengan tepat.

Pak Belalang kini makin tekun bekerja di ladangnya untuk menghidupi dirinya dan Lemang yang telah bersekolah. Ladangnya tampak subur dan ternak kambingnya bertambah banyak. Ladangnya menghasilkan tanaman dengan kualitas baik. Begitu pula dengan kambingnya. Kambing-kambing Pak Belalang gemuk dan ketika dijual laku dengan harga yang tinggi.

Lemang pun menjadi anak yang pintar di sekolahnya. Ia juga anak yang rajin belajar dan sederhana. Ia disukai teman-temanya karena kepintaran dan budi pekertinya yang baik. Lemang tidak pernah malu untuk membantu bapaknya menggembala kambing sepulang sekolah. Pak Belalang dan Lemang hidup dengan sejahtera.

Ditulis oleh: Denda Rinjaya

DISKUSI


TERBARU


Aksara Nusantar...

Oleh Widra | 09 Apr 2021.
Naskah Kuno

Lokasi pengambilan gambar: Museum Lombok

TOKOH PANDAWA A...

Oleh Roqibus | 03 Apr 2021.
budaya

ABIMANYU dikenal pula dengan nama : Angkawijaya, Jaya Murcita, Jaka Pangalasan, Partasuta, 'Kirityatmaja, Sumbadraatmaja, Wanudara dan Wirabatana. Ia...

Tari Pendet Tar...

Oleh Kecewa | 02 Apr 2021.
Tari

Pengertian dan Sejarah tari Pendet Sebelum kita melangkah lebih jauh mengenai Tari Pendet ini alangkah baiknya kita sedikit membahas apa sih tari p...

Makaroni Basah...

Oleh Anindya | 01 Apr 2021.
Kuliner

Makaroni Basah Gurih Alat: Wajan Saringan Sendok Bahan: 1 mangkuk Makaroni 2 sdm Minyak Goreng Secukupnya Air Secukupnya Kaldu ayam bubuk Secukup...

pencak silat be...

Oleh Azzrialananta | 01 Apr 2021.
Seni Bela Diri

Pencak silat merupakan bela diri dari Indonesia khususnya yang terkenal dari Jakarta atau budaya Betawi yang sudah terkenal sampai ke luar negeri, ba...

FITUR


Gambus

Oleh agus deden | 21 Jun 2012.
Alat Musik

Gambus Melayu Riau adalah salah satu jenis instrumental musik tradisional yang terdapat hampir di seluruh kawasan Melayu.Pergeseran nilai spiritual...

Hukum Adat Suku...

Oleh Riduwan Philly | 23 Jan 2015.
Aturan Adat

Dalam upaya penyelamatan sumber daya alam di kabupaten Aceh Tenggara, Suku Alas memeliki beberapa aturan adat . Aturan-aturan tersebut terbagi dala...

Fuu

Oleh Sobat Budaya | 25 Jun 2014.
Alat Musik

Alat musik ini terbuat dari bambu. Fuu adalah alat musik tiup dari bahan kayu dan bambu yang digunakan sebagai alat bunyi untuk memanggil pend...

Ukiran Gorga Si...

Oleh hokky saavedra | 09 Apr 2012.
Ornamen Arsitektural

Ukiran gorga "singa" sebagai ornamentasi tradisi kuno Batak merupakan penggambaran kepala singa yang terkait dengan mitologi batak sebagai...