NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi
Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya.
Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur.
“Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya.
“Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku.
Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan.
Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi bagi kami, hutan ini seperti halaman belakang rumah sendiri.
Setelah berjalan kaki hampir delapan jam, kaki kami mulai gemetar. Kami pun berhenti di Pucok Krueng, hulu sungai di kaki Gunung Leuser. Airnya jernih, dingin menusuk tulang.
Orang-orang tua di desa kami percaya, di sungai inilah dulu tujuh bidadari turun dari kayangan untuk mandi. Salah satunya bernama Putro Aloh, yang selendangnya diambil oleh seorang pemuda bernama Malem Diwa (Teungku Malem). Dari kisah itulah kampung kami dinamai Alue Sungai Pinang.
Para tengku juga sering berpesan, tempat ini dingin bukan karena air, tapi karena masih dihuni para wali Allah. Maka segala sesuatu harus dilakukan dengan sopan. Saat senja turun, kami memutuskan bermalam.
“Mahlil, kau cari kayu. Aku tangkap ikan,” kata Jupri sambil memamerkan ikan kecil yang berhasil ditangkapnya.
“Baik, tapi ingat, bagian besar punyaku,” kataku sambil tertawa.
Malam itu kami makan sederhana, bercanda soal burung, soal pulang membawa hasil, dan tertidur lelap.
Keesokan paginya, saat kabut masih menggantung, kami melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, kami melihat seorang kakek tua berdiri sendirian, memandang hutan seolah menunggu sesuatu.
“Assalamualaikum, Kek,” kataku pelan, entah kenapa dada terasa sedikit sesak. “Waalaikumsalam,” jawabnya singkat, suaranya berat namun tenang.
“Kakek orang sini. Kalian kok bisa sampai ke sini?” katanya sambil menggenggam tongkat kayu. Aku dan Jupri saling pandang.
“Kakek bercanda ya?” kata Jupri gugup.
“Kek, ini hutan. Bagaimana bisa hidup di sini?” tanyaku.
Kakek itu tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah puncak. “Di balik gunung itu kampung kami. Kalau tak percaya, mampir saja.”
Entah kenapa, senyum itu membuat tengkukku dingin.
Kami pamit dan melanjutkan perjalanan. Namun beberapa jam kemudian, suasana berubah aneh, Langit menguning tanpa matahari. Hutan seperti ladang. Dari atas gunung, terlihat sebuah perkampungan indah tak masuk akal.
“Lil…” suara Jupri gemetar. “Sejak kapan ada kampung di sini? Bukankah kita sudah pernah kesini”
Aku menelan ludah. “Aku juga tak tahu…” Tak ada jalan lain kita masuk.
Kami masuk ke kampung tersebut dikarenakan hari mulai gerimis. Di tengah kebingungan kami, muncullah seorang nenek yang sangat tua, Rambutnya putih seluruhnya, wajahnya keriput, namun sorot matanya teduh dan menenangkan, seperti wajah seorang ibu yang lama menunggu anaknya pulang.
“Assalamualaikum, Nek,” kata kami bersamaan, sedikit membungkuk hormat.
Nenek itu tersenyum tipis, senyum yang hangat dan penuh kasih. “Waalaikumsalam, Nak…” jawabnya lembut. “Masuklah, jangan berdiri di luar. Kalian pasti lelah.”
Nada suaranya membuat rasa takut di dada kami perlahan mereda.
Setelah kami duduk, aku mulai menceritakan perjalanan kami tentang gunung, tentang tersesat, dan tentang kakek tua yang kami temui di jalan. Saat ciri ciri kakek itu kami sebutkan, senyum nenek perlahan memudar. Tangannya yang tadi sibuk merapikan kain sarungnya tiba tiba berhenti. Ia terdiam cukup lama, menatap lantai rumah bambu itu.
Jangan-jangan itu si Alang…
Ada urusan apa dia membawa anak-anak ini ke sini… batinnya gelisah, meski wajahnya berusaha tetap tenang.
Nek…?” panggilku pelan, khawatir.
Nenek mengangkat wajahnya, lalu menarik napas panjang seolah menenangkan dirinya sendiri.
“Kalau cirinya begitu…” katanya lirih, sedikit ragu, “…itu tetua kampung sini.” Ia berhenti sejenak, matanya beralih ke arah luar rumah, ke arah hutan yang mulai gelap.
“Namanya Atok Alang.” Nada suaranya tetap lembut, namun ada getar halus di ujung kata-katanya, seakan menyimpan sesuatu yang tak ingin ia ucapkan.
Namun ia segera tersenyum kembali, meski senyum itu kini terasa lebih hati-hati.
“Sudahlah, Nak. Kalian pasti lapar. Mari ikut nenek ke rumah. Kita makan dulu, istirahatkan badan.”
Malam itu, nenek menjamu kami dengan ikan kerling yang dimasaknya sederhana, tapi rasanya luar biasa lezat. Hangatnya makanan dan perhatian nenek membuat kami merasa seperti berada di rumah sendiri.
Saat suasana mulai tenang, Jupri memberanikan diri bertanya,
“Nek… kalau boleh tahu, siapa nama nenek?”
Nenek tersenyum, sorot matanya lembut, hampir berkaca-kaca.
“Nama nenek Putro Aloh, Nak Dan kampung ini… bernama Negeri Antara. Dulu suami nenek (malem diwa) juga berasal dari negeri kalian”
Kalimat membuat saya tak percaya "ah apakah ini benar Putro aloh.? Bukankah itu cerita sudah ratusan tahun yang lalu" batinku berkata penasaran.
“jika malam tiba" lanjutnya menatap kami dengan tatapan tajam “kalian jangan bangun atau membuka mata, jika malam sudah tiba apapun alasannya sebelum ayam berkokok menjelang pagi“
“Kenapa, Nek…?” tanyaku lirih.
Jantungku berdegup lebih cepat. “pokoknya jangan itu pantang nak“ sambil tersenyum“ jangan pikirkan patuhi saja
Keesokan paginya kami dibawa menemui Atok Alang. Rumahnya paling ujung kampung, lebih besar dari yang lain. Tiangnya dari kayu tua kehitaman, seolah pernah tersambar petir berkali-kali.
Begitu melangkah masuk, bulu kudukku berdiri. Bau anyir bercampur tanah basah menusuk hidung.
“assalamualaikum lang“ sapa Putro aloh pelan Atok Alang menoleh. Matanya tajam, kuning keruh, seperti menembus dada kami.
"Waalaikumsalam, Aku sudah menunggu mereka," katanya datar. "Kalian masuk ke wilayahku tanpa izin."
"Kami hanya tersesat kek,dan bukannya kakek pernah menyuruh kami mampir" kataku lirih.
Atok Alang tersenyum tipis-senyum yang sama sekali tidak hangat.
"Tak ada yang tersesat ke Negeri Antara tanpa dipanggil," ujarnya. "Kalian akan tinggal di sini. Belajar. Menjadi kuat."
Tangannya menepuk lantai tiga kali. Dari balik rumah, terdengar geraman rendah, berat, seperti dada binatang besar yang ditekan amarah.
“kalian akan tinggal disini selamanya, ilmuku akan kuberikan kepada kalian“ berkata tanpa melihat Putro Aloh sedikit kawatir dengan perkataan Atok dalang tersebut dan segera meminta permisi ingin membawa kami pulang dengan sedikit berbohong
“yasudah jika begitu saya akan mengambil bingkisan mereka dulu bersama anak anak karena saya sudah tua tak sanggup membawanya sendiri“ dalihnya
Setelah sampai, nenek menarik kami ke sudut rumahnya.
"Atok Alang itu manusia harimau," bisiknya tergesa. "Jika kalian tinggal, kalian akan dijadikan murid. Perlahan kalian juga akan menjadi harimau. Dan Kalian akan lupa jalan pulang."
"Lalu bagaimana kami bisa keluar, Nek?" tanyaku ketakutan.
"Selasa malam Rabu," jawabnya tegas. "Ikuti sungai yang berada di lembah belakang rumah Atok dalang. Jangan menoleh kebelakang tetap mencari suara sungai, Bershalawat terus. Jika sudah sampai hulu sungai tersebut maka kalian ikuti arusnya insya Allah kalian akan selamat"
“lalu bagaimana dengan nenek, takutnya jika kami kabur nenek yang disalahkan“ kata Jupri sedih khawatir.
“jangan takut, nenek akan baik baik saja, Atok Alang itu orangnya baik, cuma sedikit keras kepala dia juga orang luar yang tersesat dikampung ini lalu diangkat oleh orang tua nenek sebagai muridnya“
Nenek lalu berdiri perlahan dan masuk ke dapur, lari balik tirai anyaman bambu terdengar suara daun pisang dibuka dan ditutup, tak lama kemudian ia kembali dengan membawa beberapa bungkusan yang masih hangat, tangannya gemetar saat menyerahkannya kepada kami.
“Ini bekal dari nenek,” ucapnya lirih. Aku menerima bungkusan itu. Terasa berat dan hangat, seolah masih ada doa di dalamnya.
“Ada tujuh bungkus nasi dan tujuh butir telur rebus,” lanjut nenek pelan. “Jangan kalian makan sedikit pun sebelum sampai di hulu sungai. Ingat baik-baik, jangan dilanggar.”
“Kenapa harus di hulu sungai, Nek?” tanyaku pelan.
Nenek menatap kami lama. Tatapannya dalam, seolah menembus dada. “Karena di situlah batas negeri ini,” jawabnya singkat sambil menetes air mata tanda khawatir dengan kami.
Menjelang sore hari kami berkemas dan langsung pergi menuju kediaman Atok dalang, dimana dalam rumah gelap, tiang tiang kayu hitamnya dingin saat disentuh. Bau tanah basah bercampur anyir menusuk hidung.
"Kalian istirahat dan tidur di sini," kata Atok Alang datar.
Kami dipersilakan di sudut rumah. Tak ada tikar, hanya papan kayu keras. Malam turun.
Kami tak bisa tidur, suara langkah kaki ramai terdengar berisik dari luar rumah, Berat Serempak. Dari celah dinding kami tak sengaja melihat cahaya obor di halaman belakang rumah Atok Alang. Tanah lapang itu berubah menjadi gelanggang. Para pemuda dan orang tua berdiri melingkar. Gerakan mereka cepat, rendah, dan kasar-bukan silat yang pernah kulihat. Para pemuda dan orang tua berdiri melingkar. Gerakan mereka cepat, rendah, dan kasar-bukan silat yang pernah kulihat. Setiap hentakan kaki membuat rumah bergetar pelan. Napas mereka berat, disertai geraman. Jupri mencengkeram lenganku. Tubuhnya dingin. Perlahan... satu per satu tubuh mereka membungkuk. Tulang berderak. Bahu melebar. Bayangan mereka di tanah memanjang dan berubah bentuk menjadi harimau. Di tengah gelanggang, Atok Alang berdiri. Matanya kuning keruh. Di tanah, bayangannya jelas-seekor harimau besar. Kami menutup mata, Auman terdengar, rendah dan berat.
GRRAAAUUUMMM
Rumah bergetar. Napas Jupri tersengal, tapi ia menahan suara. Aku meremas jari-jariku sendiri, berzikir dalam hati.
“ingat pesan nenek, jangan lihat“, kataku ketakutan Tak ada air mata. Tak ada jeritan.
Hanya takut yang dipendam sampai dada terasa sempit, lalu kami pingsan.
Saat menjelang suara ayam terdengar- Aku membuka mata. Gelap. Sunyi.
"Jupri bangun ayok waktunya sudah tiba, kita kabur," bisikku.
Kami bergerak perlahan, keluar dari rumah Atok Alang, Tak ada yang mengejar. Tapi bau anyir itu masih terasa di udara. Kami menuruni lembah, tanah licin, akar-akar pohon mencengkeram kaki. Dari atas, terdengar suara berat bergerak-entah langkah, entah bayangan.
Setelah sekitar lima jam perjalanan, kaki kami mulai gemetar. Perut terasa perih, seolah terpelintir dari dalam.
"Lil... aku lapar sekali," bisik Jupri sambil memegangi perutnya.
Aku pun merasakan hal yang sama. Tubuh terasa lemas, pandangan mulai berkunang.
"Bekal nenek..." ucapku ragu.
Kami berhenti di sebuah batu besar di tepi sungai. Aku membuka telur dan satu bungkusan daun pisang dengan tangan gemetar.
Aroma nasi hangat langsung menyergap hidung kami.
"Bismillah..." kataku pelan. Kami makan tanpa suara, hanya ditemani gemericik air.
Anehnya, setiap suapan terasa menguatkan tubuh, seolah tenaga kami kembali sedikit demi sedikit.
Lama kami berjalan disungai, hingga akhirnya suara air yang kami dengar mulai terasa familiar. Pepohonan di sekitar sungai pun tidak lagi asing di mata kami.
Batu-batu besar di tepi aliran air tampak seperti yang pernah kami lihat sebelumnya. Aku menghentikan langkahku.
"Jupri..." kataku dengan suara bergetar, "ini... ini Pucok Krueng."
Jupri menoleh cepat. Matanya membesar, lalu ia berlari kecil ke tepi sungai dan menyentuh airnya.
"Iya, Lil... ini sungai tempat kita bermalam dulu," ucapnya lirih, nyaris tak percaya.
Rasa syukur itu begitu kuat sampai kakiku lemas dan aku terduduk di atas batu. Dadaku sesak, bukan karena takut lagi, melainkan karena lega. Kami selamat.
Kami saling menatap, lalu tanpa sadar menengadahkan tangan. "Alhamdulillah ya Allah..." ucapku terbata.
Beberapa saat kami hanya diam, membiarkan tubuh dan pikiran menenangkan diri. Angin pagi berhembus pelan. Suasana sungai terasa hangat dan nyata, sangat berbeda dengan negeri yang baru saja kami tinggalkan. Perut kami kembali terasa lapar.
"Istirahat dulu, Lil... sambil makan," kata Jupri sambil terengah-engah. "Aku capek sekali." "Iya," jawabku pelan.
Aku membuka tas dan mengeluarkan bungkusan daun pisang yang tadi masih terasa berat. Saat ku letakkan di atas batu, ada perasaan aneh menyelinap di dadaku.
Perlahan kubuka bungkusan itu. Tanganku mendadak kaku. Nasi dan telur yang tadi kami makan telah berubah. Tak ada lagi aroma makanan. Yang tersisa hanyalah gumpalan batu kecil berwarna keabu-abuan, dingin, dan keras. Jupri ikut menunduk, wajahnya pucat.
"Lil... itu..." suaranya tercekat. Aku menelan ludah.
"Bekal nenek..."
Kami terdiam lama. Batu-batu itu bukan batu biasa. Bentuknya masih menyerupai bungkusan nasi, seolah waktu membekukannya begitu saja. Dalam hati aku teringat senyum nenek, suaranya yang lembut, dan tatapannya yang penuh pesan.
Putro Aloh...
Kini aku yakin, wanita tua itu bukan orang biasa. la adalah bagian dari kisah lama yang selama ini hanya hidup dalam cerita nenekku. Kami tidak berani membuang batu-batu itu. Aku kembali membungkusnya dan menyimpannya di dalam tas.
"Itu kenangan," kataku pelan.
"Dan bukti kalau apa yang kita alami bukan mimpi."
Jupri mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. Sejak hari itu, setiap kali aku melewati gunung Alue Laseh atau mendengar cerita orang tersesat di hutan, dadaku selalu terasa berat.
Dan aku tahu satu hal pasti: Tidak semua jalan di dunia ini terlihat oleh mata. Ada jalan yang hanya terbuka bagi mereka yang lengah, dan tertutup rapat bagi mereka yang tak tahu adab.
Kami duduk lebih lama di tepi sungai itu. Airnya mengalir tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Padahal baru saja kami keluar dari kejadian yang tak mungkin dijelaskan dengan akal sehat. Aku memandangi batu-batu bekal itu sekali lagi. Tidak ada bau busuk, tidak ada tanda sihir yang mencolok. Semuanya biasa, justru itulah yang membuatnya terasa ganjil. Seolah dunia gaib itu sengaja menyamarkan dirinya agar tak mudah dipercaya.
"Kalau kita melanggar pesan nenek dan makan bekal itu... mungkin kita takkan pernah kembali," ucap Jupri pelan.
Kami lalu melanjutkan perjalanan pulang menyusuri aliran sungai. Matahari perlahan naik, menghapus sisa kabut pagi. Setiap langkah terasa lebih ringan, tapi ingatan tentang hutan itu masih melekat kuat.
Sesampainya di kampung, dunia berjalan seperti biasa. Orang-orang bercakap, anak-anak bermain, ayam berkokok. Tidak ada yang tahu bahwa kami baru saja melewati batas antara yang nyata dan yang tak kasatmata. Namun sejak hari itu, aku percaya satu hal: hutan bukan hanya milik manusia. Ada aturan, ada adab, dan ada makhluk yang hidup lebih lama dari ingatan manusia sendiri.
Dan kisah ini ku tulis bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat. Bahwa tidak semua yang terlihat sepi benar-benar kosong. Dan tidak semua yang menolong adalah manusia.
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...
Ayam goreng adalah salah satu menu favorit keluarga yang tidak pernah membosankan. Namun, jika kamu ingin mencoba variasi yang lebih gurih dan harum, ayam goreng bawang putih renyah adalah pilihan yang tepat. Ciri khasnya terletak pada aroma bawang putih yang kuat serta kriukannya yang renyah saat digigit. Resep ini juga sangat mudah dibuat, cocok untuk menu harian maupun Bahan-Bahan Bahan Ayam Ungkep ½ kg ayam (boleh potong kecil agar lebih cepat matang) 5 siung bawang putih 4 siung bawang merah 1 sdt ketumbar bubuk 1 ruas kunyit (opsional untuk warna) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400 ml Bahan Kriuk Bawang 5–6 siung bawang putih, cincang halus 3 sdm tepung maizena ¼ sdt garam ¼ sdt lada Minyak banyak untuk menggoreng Cara Membuat Ungkep ayam terlebih dahulu Haluskan bawang putih, bawang merah, kunyit, dan ketumbar. Tumis sebentar hingga harum. Masukkan ayam, aduk rata, lalu tuang air. Tambahkan garam dan kaldu bubuk. Un...
Ayam ungkep bumbu kuning adalah salah satu menu rumahan yang paling praktis dibuat. Rasanya gurih, aromanya harum, dan bisa diolah lagi menjadi berbagai hidangan seperti ayam goreng, ayam bakar, hingga pelengkap nasi kuning. Keunggulan lainnya, resep ini termasuk cepat dan cocok untuk kamu yang ingin memasak tanpa ribet namun tetap enak. Berikut resep ayam ungkep bumbu kuning cepat yang bisa kamu coba di rumah. Bahan-Bahan ½ kg ayam, potong sesuai selera 4 siung bawang putih 5 siung bawang merah 1 ruas kunyit 1 ruas jahe 1 ruas lengkuas (geprek) 2 lembar daun salam 2 lembar daun jeruk 1 batang serai (geprek) 1 sdt ketumbar bubuk (opsional) Garam secukupnya Kaldu bubuk secukupnya Air ± 400–500 ml Minyak sedikit untuk menumis Cara Membuat Haluskan bumbu Blender atau ulek bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan ketumbar bubuk (jika dipakai). Semakin halus bumbunya, semakin meresap ke ayam. Tumis bumbu hingga harum Panaskan sedikit m...