Gatheng atau permainan Gathengan merupakan permainan tradisional asal Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Cara bermain Gatheng mirip dengan cara bermain bola bekel atau bekelan, namun permainan Gatheng tidak menggunakan bola. Gatheng menggunakan batu sebagai alatnya. Batu tersebut dinamakan watu gatheng yang berarti batu gatheng. Ukuran watu gatheng tidak terlalu besar, kira-kira sekitar 1 cm, seukuran dengan batu kerikil. Gatheng sudah ada sejak lama, kira-kira pada zaman Mataram (abad XVII). Putra raja Mataram pada saat itu, Raden Rangga, memiliki alat bermain watu gatheng yang berukuran lebih besar dari watu gatheng biasa. Besarnya batu tersebut membuktikan betapa saktinya Raden Rangga. Watu gatheng yang diyakini milik Raden Rangga tersebut, sekarang masih tersimpan di Kotagede, Yogyakarta. Gatheng dapat dimainkan secara perorangan maupun dalam kelompok kecil (3 – 4 orang). Kebanyakan yang bermain Gatheng adalah anak-anak perempuan. Namun seiring pe...
Batik identik dengan dareah Jawa Tengah, khusus nya Solo dan Yogyakarta. Namun sebuah kota kecil bernama Sukabumi memiliki batiknya sendiri. Batik Sukabumi memiliki filosofi yang agak berbeda dengan batik yang lain. Batik ini baru di perkenalkan sekitar tahun 2015 oleh seorang wanita bernama Tenny Hasyanti. Beliau berkata batik Sukabumi dibuat atas dasar kecintaannya pada kekayaan alam yang dimiliki oleh kota kecil ini. Proses pembuatannya sama dengan batik lainnya. Namun, penciptaan motif khas daerah Sukabumi membuatnya lebih unik. Tak hanya itu pembuatan batik Sukabumi di bantu oleh para pengrajin tunarungu, hal ini dilakukan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat Kota dan Kabupaten Sukabumi. Sengaja tidak pernah memuat utuh motif pada dunia maya karena hal tersebut memicu penduplikatan motif oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan dibuat versi printing. Hal ini akan mengubah filosofi batik itu sendiri yang harus dibuat dalam waktu lama dengan proses yang panjang, dengan ke...
Kupat adalah makanan yang berasal dari beras dibungkus menggunakan anyaman daun kelapa muda (janur) kemudian dikukus sampai matang. Akan tetapi, ternyata kupat ini mpunyai makna filosofis yang sangat tinggi sesuai dengan yang penulis peroleh dari seorang kiai yang bernama K.H. Ibnu Hajar Sholeh Pernolo dari Yogyakarta. Kupat sudah ada sejak zaman dahulu dan dipopulerkan serta digunakan oleh Sunan Kalijogo sebagai sarana dakwah Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijogo mendakwahkan ajaran Islam dengan menggunakan “KUPAT” nama yang merupakan kependekan dari “ngaku lepat” atau “kula lepat”. Sunan Kalijogo mengajarkan masyarakat untuk membuat kupat pada bulan syawal setelah Bulan Ramadhan dengan ajaran bahwa kita harus minta maaf dan memaafkan kesalahan orang lain atau biasa disebut dengan “Halal bi Halal”. Sebenarnya, dahulu Sunan Kalijogo mengajarkan membuat kupat ketika hari ke delapan bulan syawal s...
UPACARA TARAPAN KERATON YOGYAKARTA INDONESIA Tarapan adalah upacara untuk memeringati haid pertama (menarche) seorang gadis. Di keraton Yogyakarta upacara ini dilakukan di Bangsal Sekar Kedaton. Gadis yang sedang menarche memakai baju khas keraton Yogya dengan rambutnya disanggul. Keluarga membuat tumpeng, sesaji yang terdiri dari rempah-rempah dan bumbu dapur serta bubur merah putih. Sesaji itu dimaksudkan untuk menolak bala. Pada upacara ini tidak ada pria yang boleh ikut, termasuk Sultan. Upacara Tarapan di Surakarta sedikit beda. Dalam perayaan ini si Gadis mengenakan batik dalam ritual siraman. Kemudian si Gadis berganti baju dengan kain bermotif grompol sebagai lambang permohonan kebahagiaan dan kesejahteraan. Grompol (menggerombol) artinya agar selalu dikelilingi oleh teman-temannya. Perayaan diakhiri dengan syukuran bersama. Sedangkan masyarakat Jawa pada umumnya cukup memeringati menarche dengan membuat bubur...
Kyai Muhammad Syafii berasal dari Kabupaten Roma (sekarang menjadi bagian dari Gombong-Karanganyar) yang Ibukotanya terletak di Sidayu. Beliau menuntut ilmu di Dongkelan Yogyakarta mengikuti Kyai Syahibudin (kakek dari ibunya). Suatu saat, Sultan Hamengkubuwono II mengadakan sayembara menulis Al-Qur'an dengan tulisan tangan dan Kyai Muhammad Syafii memenuhi sayembara tersebut. Atas jasanya, Beliau dinikahkankan dengan putri dari Sultan Hamengkubuwono III, yang bernama B.R.A Siti Maryam (saudari kandung dari Pangeran Diponegoro). Kyai Muhammad Syafii kemudian kembali ke Kabupaten Roma dan diberikan gelar Raden dan Mufti, namun Beliau memilih untuk menggunakan sebutan Kiai karena selain Beliau fokus pada ajaran Islam, sebutan Kiai juga digunakan untuk penyamaran dari penangkapan penjajah. Beliau juga diberikan tanah lungguh di Desa Brangkal oleh Sultah Hamengkubuwono II. Setelah kembali ke Kabupaten Roma, Beliau aktif dalam penyiaran agama Islam yang pada saat itu sedang...
Rempeyek Jingking adalah makanan khas Daerah Istimewa Yogyakarta yang hanya bisa didapatkan di daerah pantai. Makanan ini dapat dijumpai di pesisir Pantai Parangtritis, Bantul atau di Pantai Baron, Gunungkidul. Rempeyek ini pada dasarnya sama seperti rempeyek pada umumnya hanya saja peran kacang atau kedelai diganti dengan hewan jingking. Jingking sendiri adalah kepiting kecil yang dapat ditemukan di sekitar pantai di Gunungkidul dan Bantul. Jenis makanan ini nyaris tidak bisa didapatkan di kios atau warung-warung karena hampir 90 persen makanan jenis ini dijajakan dengan cara asongan di sepanjang garis pantai Laut Selatan Bantul atau Gunungkidul. Jadi, untuk mendapatkan makanan jenis ini orang harus mencari penjualnya di pantai sebab penjual makanan jenis ini untuk saat ini semakin sulit ditemukan. Langkanya penjual rempeyek jingking di pasaran tersebut berkait erat dengan semakin sulitnya orang mendapatkan bahan baku peyek jingking, yakni binatang Jingking itu...
Petilasan Sri Aji Jayabaya Petilasan Sri Aji Jayabaya adalah salah satu cagar budaya dan juga objek wisata sejarah yang terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Petilasan tersebut merupakan tempat Sri Aji Jayabaya melakukan tapa moksa dan akhirnya dapat mencapai moksa. Moksa dalam artian mudahnya adalah meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad alias menghilang tanpa jejak. Di dalam Petilasan Sri Aji Jayabaya terdapat area dimana tempat Sri Aji Jayabaya melakukan tapa dan mencapai moksa. Selain tempat moksa, di dalam Petilasan Sri Aji Jayabaya juga terdapat Sendang Tirta Kamandanu. Sendang tersebut merupakan sumur kuno suci yang dipercayai sebagai tempat pensucian diri Sri Aji Jayabaya sebelum melakukan tapa moksa. Sendang tersebut hanya berjarak sekitar 400m sebelah barat dari area moksa.Banyak par...
Tradisi Apeman Tradisi Apeman ini adalah gabungan dari unsur keagamaan dan adat kesenian budaya orang jawa. Acara ini diadakan setiap menjelang datangnya bulan suci ramadhan, tradisi ini memiliki makna sebagai permohonan ampun kepada Tuhan Yang Maha ESA, saling meminta maaf lahir batin antar umat muslim sebelum datangnya bulan suci ramadhan, sebagai bentuk dari rasa syukur atas rizki bagi umat muslim di yogyakarta dan unrtuk mendoakan para leluhur terdahulu. Pertama-tama tradisi ini dilakukan untuk ruwatan yaitu mendoakan para tokoh-tokoh agama islam terdahulu, seperti para kiyai-kiyai besar, para leluhur desa, dengan mengadakan pengajian bersama, lalu masyarakat membersihkan makam para kiyai dan anak cucu keturunannya serta para leluhur desa dengan pandu oleh juru kunci makam tersebut untuk memperingati hari meninggalnya. Setelah membersihkan makam, dilanjutkan denga...
Astha Brata merupakan salah satu ajaran wayang untuk ratu-ratu (raja) Jawa agar mencapai “memayu hayuning Bawana” yang artinya keharmonisan dengan alam semesta. Astha sendiri berarti delapan sedangkan Brata berarti ajaran. Secara keseluruhan Astha Brata berarti delapan ajaran/watak yang harus dimiliki seorang pemimpin. Astha Brata diceritakan oleh lakon (cerita) wayang Ramayana dan Mahabharata. Dalam Ramayana Astha Brata diajarkan oleh Sri Rama kepada Wibisana dan Barata sedangkan dalam Mahabharata Astha Brata diajarkan oleh Begawan Kesawasidi, yang merupakan Kresna, pada Raden Arjuna. Astha Brata sendiri disimbolkan dengan bumi, api, air, angin, matahari, bulan, gunung, dan samudra. Menurut Yasadipura I (1729 - 1803) watak-watak yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah : 1. Watak bumi (mahambeg mring kisma) yang berarti pemimpin tidak boleh congkak serta disenangi warga. 2. Watak air (mahambeg mring warih) yang berarti pemimpin harus...