Di daerah Sumatra Barat tepatnya di Kota Padang, ada adat suku orang Minangkabau tentang hak kepemilikan tanah. Tanah di daerah minangkabau tidak ada hak kepemilikannya, tetapi hanya ada hak pakai saja. Sehingga tanah yang seseorang miliki ini tidak dapat di perjual-belikan kepada siapapun. Dan harta Tradisi ini sudah ada dari zaman dahulu dan sifatnya turun temurun. Adat tradisi ini dilakukan agar semua warga suku minangkabau tidak terlantar. Sehingga kapan pun warga suku Minangkabau pulang ke kampung halamannya, mereka tetap memiliki tanah disana. Hak pakai tanah di daerah Minangkabau ini diberikan kepada keturunan perempuan. #OSKMITB2018
Ritual atau upacara keagamaan merupakan suatu hal yang sudah melekat di dalam kebudayaan masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dibuktikkan dengan adanya kepercayaan animisme dan dinamisme pada masa praaksara. Jadi, nenek moyang kita terdahulu sudah melakukan ritual-ritual pemujaan kepada roh orang yang sudah meninggal pada zaman megalithikum, dimana terdapat peninggalan sejarah berupa menhir, dolmen, sarkofagus, dan lain sebagainya yang sering digunakan sebagai media untuk melakukan ritual pemujaan. Nahh, tidak berhenti sampai disitu saja, upacara keagamaan juga masih ada sampai saat ini khususnya pada ajaran agama Hindu. Salah satu upacara keagamaan atau ritual agama hindu adalah potong gigi atau sering disebut dengan Metatah/Mepanes. Metatah adalah salah satu upacara manusa yadnya dalam agama Hindu untuk anak yang sudah meningkat dewasa, baik laki-laki maupun perempuan, dan dilaksanakan pada saat masih hidup lebih tepatnya saat remaja atau sering dilaksanakan bersamaan dengan up...
Nenjrag Bumi merupakan salah satu ritual upacara adat khas Sunda yang dilakukan kepada anak bayi dengan tujuan agar kedepannya sang anak tidak gampang ketakutan dan gampang kaget. Nenjrag Bumi dilakukan dengan cara meletakkan sang bayi di pelupuh (lantai yang terbuat dari bambu yang di belah-belah) kemudian indung atau ibu menghentakkan kaki nya ke pelupuh tersebut. Cara lain yaitu memukulkan alu sebanyak tujuh kali ke bumi di dekat bayi, Dengan melakukan upacara tersebut diharapkan agar bayi kelak menjadi anak yang tidak gampang terkejut dan penakut. #OSKMITB2018
“Batagak gala” (Mewariskan gelar) Batagak gala merupakan tradisi minangkabau yang masih berjalan sampai saat ini namun jarang ditemui pada daerah perkotaan. Gala (gelar) ini diperuntukan untuk anak laki-laki di Minangkabau. Batagak gala merupakan pertanda bahwa anak laki-laki dimangkabau sudah memasuki tahap dewasa. Gala (gelar)yang diberikan merupakan suatu pusako yang didak berwujud seperti pusako lainya. Biasanya batagak gala diadakan sehari sebelum pernikahannya di waktu malam selpas maghrib dan dihadiri oleh tokoh tokoh masyarakat adat dan keluarga besar kedua mempelai pengantin. Gelar yang didapatkan (diwarisi) oleh calon marapulai (pengantin laki-laki) dari gelar mamak yang tertua dari kaumnya. Gala (gelar) yang diberikan berfungsi sebagai panggil...
Merantau sudah menjadi budaya turun temurun dari Suku Batak sendiri. Merantau memang adalah pilihan bagi orang Batak. Ketika orang Batak merantau, umumnya mereka akan menetap seterusnya di daerah rantau. Bahkan, banyak orang Batak sendiri yang merantau ke luar Sumatera Utara termasuk ke Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Banyak akhirnya dari mereka yang membentuk punguan (perkumpulan) dari sesama suku marga (Dongan Tubu Na). Penulis sendiri menjadi bagian dari Punguan Guru Mangaloksa atau biasa disingkat PGM. PGM merupakan perkumpulan dari marga Panggabean (Simorangkir Lumban Ratus, Simorangkir, serta Siagian), Hutabarat, Hutagalung, dan Tobing (Hutatorman dan Hutapea). Di Payakumbuh, mereka bersama- sama membentuk PGM. PGM bertujuan untuk mempererat hubungan persaudaraan orang-orang perantau di Kota Payakumbuh dan Kab. Lima Puluh Kota. Dalam kegiatannya, diadakan minimal pertemuan bulanan atau arisan di rumah anggota secara bergiliran. Pertemuan dapat juga diadakan bila ada hal-...
Setelah perpindahan pusat pemerintahan Kadipaten Blambangan pada tanggal 24 Oktober 1774 ke Banyuwangi, pengikut mendiang Mas Rempeg/Jogopati banyak yang hidup di hutan-hutan sekitar pusat pemerintahan yang baru itu. Mereka melanjutkan cita-cita Mas Rempeg mengenyahkan kekuasaan VOC di bumi Blambangan dengan segala cara. Salah satunya adalah Kik Soeb Dandang Wiring Puthuk Perliman yang mampu ngerogo sukmo dan kemudian melakukan penyamaran sebagai kelompok seni Barong bersama Kik Godo’ dan Kik Asnan sebagai penggendang Barong pertama. Sekitar tahun 1775 Kota Banyuwangi terus berkembang. Bersamaan dengan itu, VOC makin banyak mendatangkan tenaga kerja dari luar Banyuwangi sekaligus ada yang didaulat sebagai mata-mata. Agar penyamaran perjuangannya tidak diketahui VOC, Kik Soeb membawa seperangkat barong tersebut ke pelosok desa yang masih banyak tumbuh pohon kemiri. Di tempat yang kemudian disebut Desa Kemiren itu terdapat makam salah...
Sebagai seorang pemuda, kita diharuskan untuk melestarikan tradisi yang ada di daerah kita. Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi mengenai tradisi yang ada di daerah asal saya yaitu Madura. Meskipun saya bertempat tinggal di Sidoarjo, saya sering sekali berkunjung dan mengikuti tradisi daerah asal kedua orang tuaku tersebut. Salah satu tradisi tersebut adalah Bhubu'an. Bhubu'an merupakan tradisi yang ada pada saat pernikahan, yang mana para tamu undangan memberikan hadiah kepada orang yang menikah. BiasanyaÃÂ berupa amplop yang berisikan uang atau juga bisa lainnya. Hadiah itu harus diberi nama yang memberi hadiah dan jumlah uangnya. Mengapa? agar kita tahu siapa saja pengirim hadiah tersebut sehingga kita bisa mengembalikan hadiah tersebut dengan jumlah yg sama atau lebih saat orang itu mengadakan acara pernikahan. Tujuan dari * |Bhubu'an * |ini adalah saling membantu meringankan beban pengeluaran saat mengadakan acara pernikahan....
Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan dulunya memiliki sebuah tradisi untuk menyelesaikan masalah apabila tidak mencapai kata mufakat dalam sebuah musyawarah. Untuk mencapai kata sepakat, maka harus menempuh assigajangeng atau baku tikam yang kemudian dikenal dengan nama Sigajang Laleng Lipa. Dalam ritual ini, dua orang yang bertikai akan menyelesaikan permasalahannya dengan bertanding menggunakan badik (senjata khas daerah bugis) dalam sebuah sarung sebagai batas arena pertandingannya. Kedua pria yang menjadi perwakilan dua pihak ini akan saling menikam. Ritual ini menjadi cara terakhir apabila kedua pihak tidak mencapai kata sepakat. Misalnya apabila mereka menganggap dirinya sama-sama benar. Menurut kepercayaan masyarakat suku Bugis, Sigajang Laleng Lipa kerap terjadi pada masa kerajaan Bugis, saat kedua belah pihak yang berseteru sama-sama merasa benar dan merasa harga dirinya terinjak. Sarung dalam Sigajang Laleng Lipa memiliki arti sebagai simbol persatuan dan kebersamaan s...
Ritual ini dilakukan setiap tahun oleh tiap-tiap keluarga untuk mengenang leluhur. Penduduk sekitar kampung saya percaya dengan menaruh rokok yang sudah dibakar, para leluhur akan menerimanya dan menggunakan rokok tersebut. Dengan ini keluarga merasa lebih tenang karena leluhurnya bisa menggunakan rokok yang diberikan. Namun ritual ini hanya dilakukan bila leluhur yang dikunjungi dulunya merokok di masa hidupnya. Biasanya ritual ini dilaksanakan bersamaan dengan penggantian bunga makam leluhur. Penduduk sekitar percaya bila makam leluhur dibuat indah, maka para leluhur akan bahagia di alamnya. Setelah ritual di atas dilakukan, penduduk akan berdoa untuk memohon kepada leluhur supaya diberikan berkat bagi kehidupannya. Penduduk sekitar masih percaya kalau leluhur bisa mengabulkan permintaan mereka. Tapi disamping itu, mereka juga tetap percaya kepada Tuhan.