BUDAYA BANIAN Acara Kumpul Keluarga Besar di Tasikmalaya Banian balerasal dari bahasa Arab yaitu Bani/ Banu (بÙÙ/ بÙÙ) yang artinya adalah keluarga, klan, atau keturunan. Maka arti Banian adalah berkumpulnya sebuah keluarga besar. Acara ini biasanya diadakan untuk saling mengenal antara keluarga yang memiliki keturunan yang sama. Pada mulanya acara ini diadakan oleh para bangsawan Sukapura - Tasikmalaya, Ciamis, Garut, Pangandaran, dan Banjar - untuk mempertemukan cabang keluarga mereka. Seiring dengan berkembangnya waktu, acara banian tidak hanya diadakan oleh keluarga bangsawan namun juga oleh keluarga dari kalangan biasa namun masih dengan tujuan yang sama, yaitu untuk saling mengenal antar keluarga dengan keturunan yang sama. Acara banian ini menjadi salah satu rangkaian acara saat Idul Fitri di Tasikmalaya dan sekitarnya. Acara ini selain untuk mempererat hubungan keluarga, biasanya acara ini pula menj...
Subang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Subang terbentang dari utara yang berbatasan dengan Laut Jawa hingga selatan yang berbatasan dengan Bandung. Sehingga Subang memiliki sumber daya alam yang melimpah, mulai dari hasil tangkap ikan di daerah Blanakan hingga hasil tanam teh di daerah Ciater. Subang merupakan daerah penghasil nanas terbaik di Indonesia. Jika nanas yang sering kita jumpai rasanya masam, nanas asli Subang berbeda dengan jenis nanas-nanas di daerah lain. Nanas ini rasanya manis, pulen dan menyegarkan. Nanas asli Subang ini bernama “Nanas Simadu”. Ketika pertama kali mendengar kata dodol, kita akan membayangkan makanan yang rasanya manis dan bertekstur sedikit lengket. Kata dodol juga mungkin orang akan menghubungkannya dengan daerah Garut, karena memang Dodol Garut sudah terkenal. Padahal hampir di setiap daerah memiliki dodol khasnya. Salah satunya di Subang ada Dodol Nanas. Dodol nanas khas Subang memiliki rasa yan...
Kerupuk masih menjadi pilihan yang menggoda dilidah masyarakat Indonesia. Tak hanya rasa dan teksturnya yang crunch kerupuk juga menawarkan berbagai manfaat salah satunya 'menambah nafsu makan'. Kini kerupuk tak hanya dihidangkan menjadi lauk makanan saja, berbagai varian kerupuk disajikan mulai dari original, barbeque, gurih, pedas, manis dll. Saya mengajak anda mengenal kerupuk Elod produksi masyarakat kecamatan Limbangan kabupaten Garut yang terbuat dari tepung endapan singkong yang di permentasi selama 3 hari. Warna kerupuk ini hitam dan dibumbui rasa pedas gurih emhh sangat lezat dilidah. Produksi kerupuk ini masih terbilang sulit didapatkan karena daya saing yang mengedepankan style penyajian dibandingkan rasa yang unik dari kerupuk ini. Anda harus coba kerupuk yang atu ini ð . Wiwin Wanda Hamidah
Dulu sebelum kebudayaan luar masuk ke tatar sunda khususnya, dikampung-kampung atau daerah-daerah banyak sekali kebudayaan yang suka dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Salah satunya budaya Tutunggulan. Tutunggulan adalah suatu seni budaya lokal yang sering dilaksanakan bila seseorang akan mengadakan suatu hajatan atau resepsi seperti acara syukuran khitanan, pernikahan dan sebagainya. Biasanya dilaksanakan lima hari sebelum acara-acara tersebut dilaksanakan, serta biasanya juga berbarengan dengan menumbuk beras merah untuk dibuah kue dodol untuk dibagikan kepada tetangga sekitar sebagai tanda undangan agar mereka tahu dan bisa hadir untuk memberi do’a restu bila saatnya tiba. Tutunggulan adalah tabuhan yang menggunakan alat penumbuk padi dan lesung sebagai tabuhannya, dilakukan oleh orang-orang dewasa yang terlatih agar menghasilkan suara yang enak didengar. Dapat dilakukan oleh lebih dari tiga orang. Sayangnya seiring dengan perkembangan zaman...
CIU (Aci Jeung Cau) Ciu merupakan makanan yang di jual oleh tukang bajigur gerobak. Hampir setiap hari di depan rumah saya selalu lewat tukang bajigur itu, di dalam gerobak tak hanya ada ciu saja tetapi juga terdapat makanan ringan lainnya seperti combro, ketimus, ubi rebus, kacang tanah rebus, pisang rebus, dan terdapat pula minuman yang dijualnya, yaitu bandrek dan bajigur. Ciu adalah singkatan dari “aci jeung cau”, aci adalah tepung tapioca atau bisa disebut tepung kanji, dan cau adalah bahasa sunda dari pisang, jadi ciu itu adalah gabungan tepung tapioca dan pisang. Bentuk dari ciu ini seperti lontong yang ditutupi daun pisang tetapi bentuknya agak pipih, warnanya kecokelatan dan rasanya manis. Bahan dasar ciu ini tentu saja tepung kanji dan pisang, selain itu juga terdapat bahan lain seperti terigu, gula, dan juga garam
Pupuh adalah salah satu karya sastra dengan bentuk puisi dari tanah Sunda. Seperti pada puisi kebanyakan, pupuh juga memiliki patokan. Patokan tersebut berupa guru wilangan , guru lagu , dan watek . Guru wilangan adalah jumlah suku kata yang ada di dalam suatu baris ( padalisan) . Guru lagu adalah bunyi vokal akhir atau rima dalam tiap baris. Sedangkan, watek adalah sifat atau tema keseluruhan isi pupuh. Pupuh ini merupakan karya sastra yang biasanya dibawakan dengan cara ditembangkan atau dinyanyikan. Pupuh sendiri terbagi atas dua kelompok yaitu Sekar Ageung dan Sekar Alit. Sekar Ageung merupakan pupuh yang dapat dinyanyikan dengan lebih dari satu jenis lagu. Sedangkan Sekar Alit hanya dapat dinyanyikan dengan satu jenis lagu. Sekar Ageung terdiri dari: Pupuh Kinanti, bertemakan tentang penantian seseorang Pupuh Sinom, bertemakan kebahagiaan Pupuh Asmarandana, bertemakan cinta dan kasih sayang Pupuh Dangdanggula, bertemakan keagun...
Sejarah Kuda Kosong telah mengalami penafsiran dari masa ke masa. Beberapa di antaranya merupakan tafsiran ulang dari kisah-kisah yang bersumber pada tuturan lisan, di samping ada pula yang bersumber pada naskah babad. Keterangan dari Tatang Setiadi, Pimpinan Perceka Art Center, Cianjur berikut ini merupakan narasi yang disampaikan secara lisan dan tak lepas dari unsur interpretasi ulang. Konteks Sejarah dan Geopolitik (Abad ke-17 – 1707) Tradisi Kuda Kosong berakar pada dinamika politik masa pemerintahan Raden Aria Wiratanu II (Raden Wiramanggala) yang menjabat pada tahun 1691–1707. Sebelumnya, wilayah Cianjur berada di bawah pengaruh kekuasaan Banten, yang kemudian beralih ke Cirebon. Saat Cirebon jatuh ke tangan Mataram, Cianjur turut dianggap sebagai wilayah bawahan Mataram. Situasi menjadi lebih kompleks pada tahun 1691 ketika kolonial Belanda melalui Kapten Winkler mulai berupaya mengintegrasikan Cianjur ke dalam kekuasaan mereka. Akibatnya, rakyat Cianjur menghadapi beba...
Rarawuan adalah salah satu gorengan khas Sunda yang keberadaannya memang tergolong langka. Meskipun sering kita temui pedagang gorengan, tetapi nyatanya memang sangat jarang sekali kita dapat temui gorengan ini. Hal inilah yang membuat gorengan yang satu ini unik, dan mungkin banyak orang di luaran sana yang tidak mengetahuinya. Sama dengan gorengan lainnya, bahan dasar rarawuan ini adalah tepung terigu. Yang membuat gorengan yang satu ini khas adalah campuran kelapa yang dicacah atau diparut kasar. Kelapa ini yang membuat sensasi unik ketika kita memakan gorengan ini. Selain itu bahan lain yang dipakai adalah kacang gajih/merah. Memang agaknya terasa mirip dengan rempeyek, tetapi keduanya ini memang beda. Rempeyek digoreng kering dan tipis, sedangkan rarawuan digoreng agak tebal, layaknya bala-bala (sebutan bakwan dari orang Sunda). Sebagai makanan yang tergolong langka, maka tidak ada salahnya jika kita mencoba sendiri untuk membuatnya di rumah. Berikut akan dipaparkan resep untu...
Puser Bumi Jika membahas tentang Cirebon pasti tidak akan terlepas dengan Gunung Jati, nama suatu daerah yang menjadi situs sejarah di Cirebon. Jika mendengar namanya mungkin yang terlintas dipikiran kita adalah pegunungan yang dipenuhi dengan pohon jati, nyaris betul hanya saja Gunung Jati bukanlah gunung melainkan bukit yang merupakan pemakaman tokoh masyarakat salah satunya yaitu Syekh Datul Kahfi dan warga sekitar. Di puncak Gunung Jati ini terdapat lubang yang dikenal dengan Puser Bumi atau warga sekitar biasa menyebutnya Wudel Bumi. Apakah Puser Bumi itu? Untuk mengetahui Puser Bumi itu sendiri apa, baiknya kita tahu cerita asal-usul Puser Bumi ini. Cerita yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Puser Bumi ini sendiri ada dua versi, yakni sebagai berikut. Versi Pertama Dahulu kala di sebuah daerah di pulau Jawa hiduplah para warga yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, para nelayan kerap kali kesulitan untuk pulang ke daerahnya d...