Di kalangan para pesilat di daerah Sumatera Selatan terdapat satu alat atau senjata yang sering digunakan karena sangat efektif untuk menyerang maupun mempertahan diri dari serangan lawan. Senjata itu diberi nama Besi Cabang yang bentuknya mirip dengan trisula yang dipakai oleh para pendekar bela diri di negeri Tiongkok. Konon, tidak sembarang pesilat dapat menggunakan alat ini karena apabila tidak mahir dapat menyulitkan dirinya sendiri. Orang yang mahir atau terlatih dapat menggunakan Besi Cabang untuk menyerang, menangkis dan atau merebut senjata lawan yang sedang dihadapinya. Lengkungan yang terletak dekat dengan gagang besi berfungsi untuk menahan dan memilin senjata lawan hingga terlepas dari genggamannya. Selain itu, lawan yang senjatanya berhasil dipilin secara otomatis tangannya juga akan terpilin dan akhirnya tidak dapat menyerang lagi. Bentuk, Ukuran dan Cara Pembuatan Seperti dikatakan di atas, besi cabang berbentuk mirip trisula berbahan kuningan...
Maggalenceng adalah salah satu permainan yang ada di kalangan orang Bugis. Permainan ini dahulu dianggap sakral karena hanya dimainkan pada saat ada kematian. Dengan perkataan lain, permainan ini tidak boleh dilakukan di sembarang waktu karena dapat mendatangkan kematian bagi anggota keluarga si pemain. Oleh karena itu, para orang tua melarang siapa saja yang memainkan permainan ini pada saat yang tidak tepat (bukan saat-saat ada kematian). Penyelenggara permainan ini adalah pihak keluarga yang berkabung. Lama dan singkatnya penyelenggaraan permainan ini bergantung pada status sosial orang keluarga yang meninggal. Dalam konteks ini jika orang yang meninggalkan adalah orang kebanyakan, maka penyelenggaraan permainan hanya dilakukan dalam waktu 7 hari (berturut-turut dan dilakukan pada malam sampai menjelang pagi hari). Namun, jika orang yang meninggal mempunyai status sosial yang tinggi di dalam masyarakatnya (kaum bangsawan), maka permainan biasanya akan diselenggarak...
Pada masyarakat Bugis-Makassar yang berada di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia, ada sebuah permainan yang disebut sebagai gallak-gallak. Dari mana dan kapan permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti, karena permainan tersebut telah dikenal oleh orang Bugis-Makassar secara turun-temurun. Gallak-gallak yang merupakan bahasa Makassar berasal dari kata gallak yang berarti “nama gelar tertentu” yang menunjukkan status sosial seseorang dalam masyarakatnya. Stratifikasi sosial masyarakat Bugis-Makassar pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yakni golongan bangsawan (karaeng), golongan orang biasa (tusamara) dan hamba atau budak (ata). Orang-orang yang secara genealogis masih keturunan raja-raja Bugis-Makassar menempati lapisan atas yang disebut sebagai bangsawan (karaeng). Kemudian, orang-orang yang secara genealogis bukan keturunan raja-raja disebut sebagai orang biasa (tusamara). Sedangkan, orang-orang yang menjadi tawanan karena kalah peran...
Asal Usul Massaung manuk adalah penamaan orang Bugis untuk sebuah permainan yang dalam bahasa Indonesia berarti “sabung ayam”. Massaung manuk dahulu hanya dilakukan para raja dan bangsawan Bugis pada pagi atau sore hari untuk memeriahkan pesta-pesta adat seperti: pelantikan raja, perkawinan, dan panen raya. Konon, permainan ini bermula dari kegemaran para raja yang sering mempertarungkan pemuda-pemuda di seluruh wilayah kerajaannya untuk mencari tubarani-tubarani (pahlawan) kerajaan yang akan dibawa ke medan pertempuran. Jadi, pada waktu itu yang disabung bukanlah ayam melainkan manusia. Namun, lama-kelamaan, mungkin karena semakin jarangnya terjadi peperangan antarkerajaan, pertarungan antarmanusia itu berubah menjadi pertarungan antarayam yang dinamakan massaung manuk. Pada waktu itu permainan tidak hanya dilakukan di dalam sebuah kerajaan, tetapi juga antarkerajaan yang tujuannya tidak hanya untuk bersenang-senang tetapi juga sebagai ajang adu pre...
Pada sore hari, ribuan Ikan Patin yang beratnya sekitar empat hingga lima ons berebut makan pelet. Ikan-ikan itu sudah empat bulan berada dalam sepuluh keramba yang diletakkan di tepian sungai Komering -- sungai yang membelah Kecamatan Sirah Pulaupadang, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Sirah Pulaupadang berjarak skeitar 70 km dengan Palembang. Ia, di samping Sekayu, Tulungselapan, dan Pemulutan, menjadi pemasok terbesar ikan patin dan ikan sungai lainnya untuk Palembang. Pelet yang dimakan ikan patin itu merupakan makanan instan untuk ikan, terbuat dari bubuk ikan dan gabah padi yang dipadatkan berbentuk butiran. Sementara, ikan patin ( pangasius hypopthalmus ) memiliki bentuk seperti baung, namun kepalanya sedikit lebih besar. Ikan-ikan patin yang dijual ke Palembang kemudian disiangi atau dibersihkan dengan cara membuang isi perut dan menyikat lendir di tubuhnya. Ikan patin kemudian dipotong menjadi 3 iris, termasuk kepalanya, dan dicuci. Kemudian ikan patin di...
Sumatera Selatan memiliki kuliner dengan nama yang sangat unik, yaitu Bolu 8 Jam. Dinamakan demikian karena proses pengukusannya memang memakan waktu 8 jam. Jika kurang dari 8 jam, hasilnya akan kenyal serta mudah hancur dan belum membentuk adonan yang kuat. Kue yang sering disebut juga dengan bolu lapan jam ini memiliki rasa yang manis serta nikmat sekali. Hanya saja kekurangannya adalah tidak tahan lama sehingga kurang efektif bila dibawa ke luar kota maupun disantap dalam jangka waktu yang panjang. Kue ini hanya bertahan kurang lebih 2 hari saja. Oleh karena itu di bawah akan dibagikan resep cara membuatnya bagi masyarakat di luar Sumatera Selatan. Bahan-bahan: 22 butir telur bebek 2 butir telur ayam 2 sendok makan tepung terigu 1 kaleng susu kental manis 4,2 ons gula pasir ý ons margarin, dicairkan ý sendok teh vanili Cara Membuat: 1. Siapkan semua bahan dan pelengkap yang diperlukan. 2. Setelah itu, kocok telur bersama...
Bubur sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia dan setiap daerah mempunyai caranya tersendiri dalam penyajiannya. Misalnya seperti di daerah Palembang yang penyajiannya memakai tempe serta tahu yang dicampur dengan tauco serta santan. Bahan-bahan: 1 ons beras 600 ml air ý sendok teh garam Bahan Tumisan: 1 ý ons tahu, dipotong kotak 1 ý ons tempe, dipotong kotak-kotak 1 sendok makan tauco 100 ml santan dari 1 ons kelapa 1 lembar daun salam 1 batang serai, dimemarkan 2 sendok makan minyak goreng Bumbu Halus: ý sendok teh garam 3 siung bawang putih 3 buah cabai merah 4 butir bawang merah Bahan Pelengkap: Kerupuk merah secukupnya 1 sendok makan bawang merah goreng Cara Membuat: 1. Cuci beras sampai bersih kemudian meniriskannya. Masak beras tersebut bersama air dan garam sampai menjadi bubur. 2. Angkat lalu sisihkan untuk menumis bahan tumisan yang...
Gulo dalam bahasa Palembang berarti Gula sedangkan Puan berarti susu. Gulo Puan disebut juga 'gula susu' seperti bahan pembuatannya, gula dan susu yang dibuat seperti karamel kering. Teksturnya lembut sedikit berpasir berwarna coklat. Rasanya mirip keju manis dan sangat nikmat dimakan sebagai olesan roti, pisang goreng ataupun untuk minum kopi hingga bahan pembuatan kue delapan jam. Konon berdasarkan cerita leluhur, di zaman dahulu kala Gula Puan hanya dikonsumsi oleh para Sultan dan bangsawan di Kesultanan Palembang Darussalam. Gulo Puan merupakan makanan istimewa, sehingga tidak mengherankan jika harga Gulo Puan pada saat itu sangatlah mahal. Saat ini, Gulo Puan sudah sangat langka dan jarang ditemui bahkan harganya pun mahal mencapai 100 ribu rupiah per kg. Namun masyarakat bisa membeli per -ons. Makanan berkelas dan mewah di zaman Kesultanan Palembang Darussalam ini tidak dijual bebas. Untuk mendapatkan Gulo Puan ini kita harus membelinya hanya di hari...
Tempoyak adalah masakan yang berasal dari buah durian yang difermentasi. Tempoyak merupakan makanan yang biasanya dikonsumsi sebagai lauk saat menyantap nasi. Tempoyak juga dapat dimakan langsung, namun hal ini jarang sekali dilakukan karena banyak yang tidak tahan dengan keasaman dan aroma dari tempoyak itu sendiri. Selain itu, tempoyak dijadikan bumbu masakan. Citarasa dari Tempoyak adalah asam, karena terjadinya proses fermentasi pada daging buah durian yang menjadi bahan bakunya. Tempoyak diriwayatkan dalam Hikayat Abdullah sebagai makanan sehari-hari penduduk Terengganu. Ketika Abdullah bin Abdulkadir Munsyi berkunjung ke Terengganu sekitar tahun 1836, ia mengatakan bahwa salah satu makanan kegemaran penduduk setempat adalah tempoyak. Berdasarkan sejarah yang ada dalam Hikayat Abdullah, tempoyak merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu suku bangsa Melayu di Malaysia dan Indonesia yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Bahan Bumbu Halus : 4 siung bawan...