Merantau sudah menjadi budaya turun temurun dari Suku Batak sendiri. Merantau memang adalah pilihan bagi orang Batak. Ketika orang Batak merantau, umumnya mereka akan menetap seterusnya di daerah rantau. Bahkan, banyak orang Batak sendiri yang merantau ke luar Sumatera Utara termasuk ke Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Banyak akhirnya dari mereka yang membentuk punguan (perkumpulan) dari sesama suku marga (Dongan Tubu Na). Penulis sendiri menjadi bagian dari Punguan Guru Mangaloksa atau biasa disingkat PGM. PGM merupakan perkumpulan dari marga Panggabean (Simorangkir Lumban Ratus, Simorangkir, serta Siagian), Hutabarat, Hutagalung, dan Tobing (Hutatorman dan Hutapea). Di Payakumbuh, mereka bersama- sama membentuk PGM. PGM bertujuan untuk mempererat hubungan persaudaraan orang-orang perantau di Kota Payakumbuh dan Kab. Lima Puluh Kota. Dalam kegiatannya, diadakan minimal pertemuan bulanan atau arisan di rumah anggota secara bergiliran. Pertemuan dapat juga diadakan bila ada hal-...
HAUL GURU SEKUMPUL Tradisi Martapura, Kalimantan Selatan Keyword : Haul, Guru Sekumpul, Martapura Haul dan asal-usulnya Haul berasal dari bahasa arab haala-yahuulu-haulan yang bermakna upaya, perpindahan, daya, mengembalikan, tahun. Kemudian kata haul tersebut berkembang dan terserap menjadi istilah Bahasa Indonesia, yang lazim dan masyhur di pakai komunitas masyarakat muslim di Indonesia, dan dari istilah Indonesia inilah, kata haul memiliki dua pengertian besar, yaitu: Haul berati upacara peringatan ulang tahun wafatnya seseorang dengan berbagai acara, yang puncaknya menziarahi kubur almarhum atau almarhumah. Selayaknya merayakan ulang tahun di hari kelahiran, haul dilaksanakan setiap tahun Haul yang di artikan putaran waktu dua belas bulan (satu tahun) kalender Hijriyyah terhadap harta yang wajib dizakati di tangan pemilik ( Muzzaki ) dan arti ini berkaitan erat dengan masalah zakat. &...
SAMPURASUN!! PUNTEN sadayana. Apa kabarnya? Pada kesempatan kali ini saya akan memberi info tentang sebuah tarian yang berasal dari daerah asal saya yaitu Kota Bekasi. Yaitu “Tari Ronggeng Menor” yang dimana sang penggagas tarian ini adalah guru saya sendiri sewaktu sekolah menengah atas di SMA Negeri 4 Kota Bekasi Ibu Dini Irma Damayanthi,S,sn Ronggeng sendiri ialah jenis kesenian tari yang berkembang di Tatar Pasundan. Ronggeng itu adalah penari wanita yang dilengkapi selendang yang dikalungkan di leher sebagai kelengkapan menari. Sedangkan kata menor berarti mencolok cara berdandannya atau berhiasnya dengan berpakaian warna terang dan berwarna-warni. (Tim Redaksi KBBI, 2013: ) Tari ini adalah sebuah kreasi baru yang mengangkat tarian rakyat Jawa Barat yang berada di wilayah Kota Bekasi sebagai pintu gerbang budaya Sunda dan Betawi. Tarian ini menggambarkan sosok penari ronggeng wanita yang lebih ekspresif, lincah dan energik denga...
Kesal, marah, jengkel. Tiga perasaan itu pasti muncul saat mengetahui karya kita diakui sebagai karya orang lain. Permasalahan seperti ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Apakah kita rela seandainya suatu karya seni yang sudah sulit-sulit dibuat secara tiba-tiba diambil orang lain? Ternyata, budaya Jawa memiliki satu "senjata" yang menjamin karya kita tidak akan diakui sebagai milik orang lain. Dengan kata lain, ada suatu kode dalam karya sastra yang mengandung unsur nama pembuat. Istilah tersebut dinamakan sandiasma. Sesuai dengan namanya, sandiasma terdiri dari dua kata, sandi dan asma . Sandi berarti kode, asma berarti nama dalam bahasa Jawa Krama (halus). Secara linguistik, sandiasma berarti nama yang tersamar dalam bentuk kode-kode tertentu dalam sebuah karya sastra. Biasanya, sandiasma muncul dalam tembang macapat (lagu-laguan Jawa), puisi, dan karya sastra lain yang mengandung unsur seni tinggi. Pujangga terkenal yang sering me...
Keroncong merupakan sebuah ansambel tradisional yang terdiri dari berbagai macam alat musik. Sebuah ansambel dapat disebut Keroncong apabila memiliki dua alat musik tradisional yang mendasar yakni ukulele Cuk dan ukulele Cak . Alat musik tambahan yang biasa digunakan dalam ansambel Keroncong adalah Cello dan Double Bass (Bass Betot). Instrumen lainnya dapat ditambahkan sesuai kebutuhan aransemen. Kedua instrumen tradisional ini, ukulele Cak dan Cuk , memiliki spesifikasi yang berbeda dengan spesifikasi ukulele pada umumnya. Kedua alat musik ini Ukulele Cuk merupakan ukulele dengan tiga senar. Senar pertama dan ketiga menggunakan senar nilon gitar klasik, sedangkan senar kedua menggunakan senar raket tenis. Mengejutkan bukan? Senar raket tenis dapat dipakai sebagai senar untuk alat musik tradisional. Tuning untuk ketiga senar ini dimulai dari senar ketiga (atas) adalah sebagai berikut...
Apakah teman-teman pernah mendengar kata pupuh? Pupuh sudah sering dijumpai saat kita belajar muatan lokal Bahasa Sunda, baik saat duduk di bangku sekolah dasar, sekolah menengah pertama, maupun saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Untuk itu, pupuh sudah familiar dikalangan pelajar Jawa Barat. Lalu bagaimana jika tidak pernah mempelajari Bahasa Sunda ? Tenang, mari kita cek informasi lebih lanjut mengenai pupuh sunda dibawah ini! Pupuh merupakan karya sastra sunda yang menjadi salah satu aset kekayaan Budaya Indonesia. Karya sastra pupuh terikat oleh jumlah padalisan, guru wilangan, dan guru lagu. Bingung dengan istilah diatas? Berikut ini adalah nama lain dari beberapa istilah dalam pupuh 1) Padalisan berarti jumlah larik. 2) Guru wilangan berarti banyaknya suku kata. 3) Guru lagu berarti rima. Menurut sifatnya, pupuh terbagi menjadi tujuh belas bagian yang disesuaikan oleh tema cerita yang terkandung didalamnya. Ketujuh...
Makam Muhammad Ra’is Sekarbela di kenal sebagai daerah yang telah banyak melahirkan banyak tuan guru atau lebih dikenal sebagai ulama.Ada banyak orang alim yang pernah terlahir di tanah Sekarbela hingga kini, diantaranya TGH. Muhammad Ra’is. TGH. Muhammad Ra`is adalah ulama besar Sekarbela yang menjadi intan permata bagi masyarakat Sekarbela yang terus bersinar hingga sekarang. TGH. Ra`is menikah sebanyak dua kali. Istri pertamanya bernama Kibtiyyah (Pesinggahan) dan Miwasih (Sekarbela). Perjalanan TGH. Ra`is menuntut ilmu agama telah menempuh jalan yang tidak mudah. Ia telah menuntut ilmu agama hingga di negeri para nabi, Makkah Al-Mukarromah. Awal perjalanan mulianya di fokuskan untuk memperdalam ilmu kebahasaan (nahwu). Hampir ke seluruh desa pelosok di tanah suci ia telusuri demi memperoleh perbendaharan bahasa yang bagus. Pengembaraan intelektualnya di negeri para rasul itu berlangsung selama jangka waktu 7 tahun. Demi menuntut ilmu, ia pun ha...
Sekar Agung atau Kekawin merupakan syair jawa kuna yang digubah berdasarkan aturan metrum india. Sekar Agung merupakan salah satu dari empat jenis Sekar yang ada dalam Dharma Githa. Dharma Gita merupakan salah satu dari sekian ribu budaya yang ada di Bali. Dharma Gita juga merupakan salah satu media kesenian yang sangat menunjang pemahaman ajaran agama khususnya agama Hindu serta sebagai usaha meningkatkan kesucian rohani dan sebagai media kesenian. Dalam kakawin dikenal wirama. Susunan empat kalimat disebut Wirama .Tiap-tiap wirama dibentuk berdasarkan Wrtta Matra. Wrtta artinya banyak suku kata dalam setiap kalimat, Matra artinya pembangun Guru Laghu dalam satu baris kalimat. Guru adalah suku kata yang diucapkan atau dilagukan panjang atau berat sedangkan yang disebut dengan Lagu adalah suku kata pendek atau ringan. Guru disebut juga dengan suara Dirgha, lagu disebut juga hiswa. Kedudukan Guru dan Lagu di dalam sekar agung dapat dianalogikan dengan kedudukanguru dengan mur...
Sejarah Perjuangan Dan Peranan Ki Gede Sebayu Di Tegal 1586-1601 Ki Gede Sebayu atau bernama asli Maulana Muttaqinsebenarnya bukan orang asli Tegal melainkan keturunan asli dari Prabu Brawijaya ke-5 raja terakhir Mataram. Beliau adalah putera Pangeran Onje seorang Adipati Purbalingga yang merupakan bupati pertama dan sebagai pendiri Kota Purbalingga. Semenjak kecil Ki Gede Sebayu diasuh oleh eyangnya yaitu Ki Ageng Wungut. Setelah Ki Gede Sebayu dewasa tahun 1549 Masehi oleh ayahnya disuwitakan dalam Kesultanan Pajang sebagai prajurit tamtama dalam Kesultanan Hadiwijaya. Di sanalah Ki Gede Sebayu memperoleh pendidikan keprajuritan dan ilmu kanuragan. Ketika sedang terjadi perebutan tahta, Ki Gede Sebayu meninggalkan Pajang. Beliau lebih memilih meninggalkan keraton dan berniat mencari guru baru untuk mendalami ajaran agama islam. Walaupun beliau sudah banyak mendalami pelajaran agama islam, tetapi beliau tidak sombong dan ingin terus mendalami ajaran agama islam. Pada tahun 1586 Ki Ge...