Kesal, marah, jengkel. Tiga perasaan itu pasti muncul saat mengetahui karya kita diakui sebagai karya orang lain. Permasalahan seperti ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Apakah kita rela seandainya suatu karya seni yang sudah sulit-sulit dibuat secara tiba-tiba diambil orang lain? Ternyata, budaya Jawa memiliki satu "senjata" yang menjamin karya kita tidak akan diakui sebagai milik orang lain. Dengan kata lain, ada suatu kode dalam karya sastra yang mengandung unsur nama pembuat. Istilah tersebut dinamakan sandiasma.
Sesuai dengan namanya, sandiasma terdiri dari dua kata, sandi dan asma. Sandi berarti kode, asma berarti nama dalam bahasa Jawa Krama (halus). Secara linguistik, sandiasma berarti nama yang tersamar dalam bentuk kode-kode tertentu dalam sebuah karya sastra. Biasanya, sandiasma muncul dalam tembang macapat (lagu-laguan Jawa), puisi, dan karya sastra lain yang mengandung unsur seni tinggi. Pujangga terkenal yang sering memakai sandiasma adalah Raden Ngabehi Ranggawarsita dari Keraton Kasunanan Surakarta.
Teknik penyampaian sandiasma bermacam-macam. Sandiasma dapat ditulis di awal pada (bait), permulaan baris, awal dan akhir baris, awal penggalan suku kata, akhir penggalan suku kata, dan dalam satu baris penuh. Pemilihan gaya penulisan tersebut sepenuhnya merupakan hak pengarang yang tentu saja disesuaikan dengan diksi dan aturan tembang yang ada. Tidak jarang untuk menjamin terciptanya sandiasma, pengarang menggunakan bahasa Jawa Kawi (Jawa kuno). Selain memiliki fungsi antiplagiarisme, sandiasma juga menjadikan karya satra memiliki nilai seni yang lebih tinggi dan menunjukkan kompetensi pengarang dalam pembuatan karya sastra tersebut.
Lalu, seperti apa sih contoh sandiasma? Bagaimana cara membuatnya? Berikut adalah sandiasma yang penulis buat sendiri dalam tembang macapat Kinanthi.
Kinanthi
IGuh sing kudu digugu
NAta satmaka alantip
TIkane mukti samata
USna patrap weh rejeki
DOnya iki wus curnita
SIgreng anindha pun lalis
MAwat asih iku kudu
HATma mring Gusti kang Suci
MANtebing urip semita
TObatan ingkang sejati
BUngahing nala minangka
DIbya santosa ing dhiri
Sebelum membuat sandiasma, pertama-tama yang harus diperhatikan adalah pesan yang ingin disampaikan. Pesan ini kemudian dicocokkan dengan paugeran (aturan) suatu tembang (lagu). Perlu diketahui, sebelas lagu macapat Jawa memiliki aturan jumlah baris (guru gatra), suku kata (guru wilangan), rima (guru lagu), dan tema yang sangat mengikat. Dalam hal ini, kata kinanthi sendiri berarti tuntunan. Lagu Kinanthi haruslah berisi suatu nasihat untuk menjalani hidup. Setelah memperhatikan unsur pokok tersebut, barulah kita membuat rancangan kasar (draft) kata demi kata. Dukungan kamus bahasa Jawa sangat diperlukan untuk menambah kosakata kita selama menulis. Selain itu, fasilitas "bantuan" juga sangat mendukung terciptanya suatu lagu. "Bantuan" yang dimaksud adalah penambahan suku kata di awal (uluran), pemotongan suku kata (wancahan dan plutan), serta penyesuaian urutan kata (baliswara). Setelah selesai, barulah diperiksa ulang apakah tembang yang kita buat sudah sesuai aturan baku. Berdasarkan pengalaman penulis, membuat sandiasma tergolong sulit apalagi dengan nama asing. Perlu penyesuaian suku kata agar lebih "membumi" dan mudah saat ditulis dalam aksara Jawa.
Pesan yang disampaikan melalui tembang tersebut sangat dalam. Kewajiban kita sebagai manusia adalah senantiasa membuat segala aspek kehidupan menjadi lebih baik. Nasihat ini harus kita taati. Tentu saja, setelah menjalankan hidup dengan baik, kita akan tampak baik di tengah masyarakat. Selain itu, rezeki tentunya akan mengikuti seberapa baik performa kita. Akan tetapi, situasi dunia sekarang sudah rusak yang ditandai oleh kelunturan nilai moral. Sebagai makhluk yang memiliki akal budi, hendaknya kita senantiasa bersyukur pada Sang Pencipta. Tentu saja kita akan merasa lebih tenteram dalam perlindungan-Nya.
Sandiasma sangat menarik untuk dikaji mengingat semakin maraknya pembajakan karya dan demi peningkatan kualitas karya sastra Jawa. Sebagai pelengkap, penulis juga sampaikan bahasa Jawa Kawi yang digunakan beserta artinya. Jayalah sastra dan budaya Indonesia!
Kata Bahasa Kawi
No
Kata
Arti
1
Iguh
Gagasan
2
Satmaka
Nyawa
3
Lantip
Pintar
4
Tetika
Tingkah
5
Mukti
Wibawa
6
Samata
Nyata
7
Usna
Baik
8
Patrap
Tingkah
9
Aweh
Memberikan
10
Curnita
Luntur, hilang
11
Sigreng
Sesuatu yang besar
12
Anindha
Kebaikan
13
Lalis
Luntur, hilang
14
Mawat
Melakukan
15
Semita
Tanda
16
Nala
Isi hati, perasaan
17
Dibya
Berkelimpahan
18
Santosa
Berkelimpahan
19
Atma
Jiwa
Referensi
1. Purwadi, Dr, M.Hum, Eko Priyo Purnomo, SIP. 2005. Kamus Sansekerta Indonesia. Yogyakarta: Budaya Jawa
2. Dirjasupraba, Raden. 1931. Kawi-Jarwa. Yogyakarta: S.M Diwarna (naskah digital : Sastra Lestari, 2003)
3. Poerwadarminta, W.J.S. 1943. Kawi-Jarwa. Jakarta: Balai Pustaka (naskah digital : Sastra Lestari, 2005)
#OSKMITB2018
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...