Ritual
Ritual
Tradisi Kalimantan Selatan Martapura
HAUL GURU SEKUMPUL

HAUL GURU SEKUMPUL

Tradisi Martapura, Kalimantan Selatan

Keyword : Haul, Guru Sekumpul, Martapura

Haul dan asal-usulnya

Haul berasal dari bahasa arab haala-yahuulu-haulan yang bermakna upaya, perpindahan, daya, mengembalikan, tahun. Kemudian kata haul tersebut berkembang dan terserap menjadi istilah Bahasa Indonesia, yang lazim dan masyhur di pakai komunitas masyarakat muslim di Indonesia, dan dari istilah Indonesia inilah, kata haul memiliki dua pengertian besar, yaitu:

  • Haul berati upacara peringatan ulang tahun wafatnya seseorang dengan berbagai acara, yang puncaknya menziarahi kubur almarhum atau almarhumah. Selayaknya merayakan ulang tahun di hari kelahiran, haul dilaksanakan setiap tahun
  • Haul yang di artikan putaran waktu dua belas bulan (satu tahun) kalender Hijriyyah terhadap harta yang wajib dizakati di tangan pemilik (Muzzaki) dan arti ini berkaitan erat dengan masalah zakat. 

 

Haul sendiri kemudian menjadi media untuk mengajak umat muslim (khususnya) untuk mengingat adanya kematian, selain menjadi media untuk mengajak orang untuk berdzikir, membaca quran, dan shalawat. Dalam prakteknya, Haul, serta peringatan hari kematian lain (7 harian, 40 harian, 100 harian, 1000 harian dst). pelaksanaan dan teknisnya pun bervariasi dan bermacam-macam, di antaranya ada yang melaksanakan haul dengan pembacaan 30 juz al-qur’an oleh para huffadz, ada pula yang menggelar tahlil akbar, tabligh akbar, shadaqah dsb. Yang pahala dan fadhilah dari rangkaian kegiatan tersebut di tujukan kepada orang yang di peringati hari wafatnya.

Haul serta penerjemahan dan pengembangan dari istilah “Mendoakan yang di Haul-i” akan terasa terasa dan tampak besar-besaran dahsyat ketika yang di peringati adalah tokoh yang kharismatik, ulama besar,  pendiri pesantren, dsb. Dapat dikatakan jamaah yang datan dan  menghadiri acara haul sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya ketokohan yang di-haul-i. Dan dari banyaknya umat yang hadir, Shohibul hajat (Tuan rumah atau penyelenggara acara) lazimnya mengadakan pengajian sebagai “santapan rohani”.

Salah satu agenda “Haul akbar” yang ada di Indonesia adalah peringatan wafatnya KH. Zaini bin Abdul Ghani atau lebih masyhur dengan Guru Sekumpul di daerah Martapura, Kalimantan selatan. KH Zaini Abdul ghani, di kenal sebagai seorang tokoh ulama yang kharismatik. Di tiap tahunnya kota Martapura akan penuh dengan puluhan ribu jamaah yang datang dari pelbagai daerah di Indonesia,  Perayaan ini pun tak main-main, karna jumlah pengunjung tiap tahunnya semakin meningkat. Bahkan pada peringatan haul tahun 2018, Presiden Joko Widodo sendiri menyempatkan datang untuk turut serta duduk dalam “majelis” tersebut. Dari tahun ke tahun Haul ini seperti di persiapkan oleh “shabibul hajat” mengingat antusiasme jamaah yang semakin bertambah.

Sekelumit Tentang Guru Sekumpul

Bagi masyarakat "Kota Intan" Martapura atau "Bumi Barakat" Banjar dan Kalimantan umumnya, Nama Guru Sekumpul bukanlah nama asing. Jika berkunjung ke Martapura (40 Km dari Banjarmasin atau sekitar 13 kilometer dari Bandara Syamsudin Noor) dapat di pastikan di dinding setiap rumah, warung, toko dan tempat-tempat bernaung akan terpajang foto dengan wajah Guru Sekumpul. Sebagai bentuk penghormatan dan ta’dzim kepada sosok kharismatik pemilik nama lengkap KH Muhammad Zaini Abdul Ghani tersebut, bukan hanya kharismatik, Guru Sekumpul juka terkenal sebagai sosok yang tidak hanya unggul dalam bidang agama, tetapi juga peduli terhadap sosial. Bukan hanya foto, akan terdengar suara khas Guru Sekumpul melalui gadget mereka, baik lantun sholawat maupun rekaman ceramah-ceramah sosok yang juga kerap di sebut dengan Guru Ijai ini.

Muhammad Zaini Abdul Ghani, Tunggul Irang, Martapura 11 Februari 1942 (27 Muharram 1361 H), adalah putra pertama dari pasangan Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Ibu Hj Masliah binti H Mulya bin Muhyiddin, dari sisi garis nasab keturunan Guru Sekumpul adalah nasab yang sangat terhormat dan terjaga. keturunan ke-8 tokoh besar Banjar, Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari atau lebih masyhur dengan Laqab  Datuk Kalampayan. Seorang yang juga sangat alim, mengarang sebuah kitab klasik yang hingga kini masih menjadi rujukan ulama-ulama di Asia-Tenggara, Sabilal Muhtadin.

Qusyairi, Adalah nama kecilnya. Di didik langsung oleh kedua orang tua dan neneknya, Salbiyah.  Mulai dari dasar dan landasan pendidikan tauhid, akhlak, dan kedisiplinan mereka berikan kepadanya serta ilmu agama lainnya, seperti membaca Alquran.       

Qusyairi atau Zaini kecil mendapat “anugerah” yang sangat luar biasa yakni berupa kecerdasan otak yang tak terkira. Di usia 7 tahun Qusyairi sudah  mampu menghafal Alquran 30 Juz, bersamaan ketika ia mulai masuk ke pendidikan madrasah di Madrasah Ibtidaiyah Darussalam. Bahkan karena kecerdasaannya ini pada usia 9 tahun Qusyairi telah berhasil menghafal sebuah kitab tafsir masyhur karya Jalaluddin Al-Muhalli dan Jalaluddin As-Suyutu yaitu Tafsir Jalalain. Pada 1955 (13 tahun), Qusyairi melanjutkan ke jenjang menengah pertama di lembaga yang sama.

Diantara guru-guru yang memimbing Guru Sekumpul muda ketika mondok di Darussalam ialah, KH. Mahalli Abdul Qadir, KH. M. Zein, KH. Rofi'i Ahmad, KH. Husein Dahlan, KH. Syahran, KH. Semman Mulia (paman beliau), KH. Salman Jalil (ayah dari Guru Wildan Tanjung Rema), KH. Salim Ma'ruf, KH. Husein Qadri, KH. M. Sya'rani Arif, dan KH. Salman Yusuf

Kondisi keuangan yang tidak mendukung ketika Guru Sekumpul muda tidak mengurangi semangat beliau  untuk menuntut ilmu. Hal ini pernah diceritakan Guru Sekumpul pada suatu kesempatan.

"Aku dahulu sekolah di (Pondok Pesantren) Darussalam miskin, sakit banar, baju salambar di awak, batapih tapi kada basalawar, basandal, sandal kalum".(Arti) Aku dulu ketika sekolah di (Pondok Pesantren) Darussalam miskin, sangat memprihatinkan, baju hanya satu di badan, memakai sarung tapi tidak memakai celana, memakai sendal kalum.

Selama tidak kurang dari 12 tahun Guru Sekumpul muda merasakan kondisi sedemikian rupa ketika mondok di Darussalam. Biar kondisi begitu semangat Guru Sekumpul muda tidaklah pudar. Ini terbukti ketika ketika setiap pembagian nilai ulangan, beliau mendapatkan nilai tertinggi. Bahkan pada ijazah terakhir beliau mendapatkan nilai dengan predikat Jayyid Mumtaz yang tertera nilai dengan rata-rata 10.

Guru Sekumpul  melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Datu Kalampian Bangil, Jawa Timur, kepada Kyai Sarwani Abdan (Guru Bangil) yang juga berasal dari Martapura. Di sini beliau selain mendapat pendidikan syariat juga mendalami ilmu spiritual. Selanjutnya beliau berguru kepada Syekh Falah di Bogor. Selain kepada kedua ulama ini, beliau juga mendalami syariat dan tarekat kepada Syekh Muhammad Yasin Padang di Mekah, Syekh Hasan Masysyath, Syekh Isma’il Yamani, Syekh Abdul Qadir al-Baar, Syekh Sayyid Muhammad Amin Kutby, Allamah Ali Junaidi (Berau) ibn Jamaluddin ibn Muhammad Arsyad. Atas petunjuk Syekh Ali Junaidi, beliau kemudian belajar kepada Syekh Fadhil Muhammad (Guru Gadung). Kepada Guru Gadung ini Guru Ijai belajar tentang ajaran Nur Muhammad. Beliau juga mendapat ijazah Maulid Simthud Durar dari sahabat karibnya, Habib Anis ibn Alwi ibn Ali al-Habsyi dari Solo, Jawa Tengah.

Beliau sempat menjadi pengajar di Pesantren Darussalam Martapura selama lima tahun, kemudian membuka pengajian di rumahnya sendiri pada 1970-an, di dampingi oleh seorang kyai terkenal yakni Guru Salman Bujang (Guru Salman Mulya). Pengajian dimulai setiap hari Kamis petang hingga malam Jum’at. Pada 1988 beliau pindah ke Kampung Sekumpul, membuka kompleks perumahan ar-Raudhah atau Dalam Regol. Sejak itu kewibawaan dan kharismanya memancar luas – murid-muridnya dan tamu-tamunya berdatangan dari berbagai daerah, bahkan dari negeri jiran seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. 

Guru Sekumpul adalah ulama par-excellent. Beliau menempuh pendidikan dalam lingkungan keagamaan tradisional yang ketat, hampir tanpa persentuhan sedikit pun dengan pendidikan modern. Lalu pada masanya kemudian beliau dipercaya oleh guru-guru beliau untuk memberikan pengajian sendiri. Mula-mula di kampung Keraton. Namun karena pengajiannya makin membesar, dan kampung Keraton tak bisa menampung lagi, beliau pindah ke sebuah kawasan yang relatif masih sepi: Sekumpul. 

Pengajian-pengajian Guru Sekumpul berisi pengajaran-pengajaran tasawuf, baik tasawuf akhlaqi maupun falsafi. Selain itu, beliau juga menggelar pembacaan shalawat Simtut Durar, yang dua dekade kemudian populer di sekujur Jawa melalui pengasuhan Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf yang bersuara empuk.

Guru Sekumpul memberikan pengajaran dengan menggunakan kitab dan para jamaahnya –juga dengan memegang kitab yang dibacakan-- duduk menyimak pembacaan dan penjelasan kitab tersebut. Cara mengajarnya sangat komunikatif sekali dan mudah dipahami. Sesekali beliau menyelipkan humor yang segar. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Banjar dengan diselingi Bahasa Indonesia.   

Guru Sekumpul tak pernah mengenal yang istilah diskusi, seminar, workshop dan sejenisnya. Beliau tak pernah ikut pelatihan organisasi apapun. Beliau juga bukan orang politik, meski demikian, pengaruh politiknya sangat besar sekali, khususnya di kawasan Kalimantan. Karena itu taklah aneh jika hampir seluruh pimpinan politik di kawasan tersebut menyempatkan untuk mengunjungi beliau dan setiap calon pimpinan daerah berusaha mengejar restu beliau.

Semasa hidupnya Guru Sekumpul juga menulis banyak karya tulis. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain Risalah MubarakahManaqib Asy-Syekh As-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-MadaniAr-Risalatun Nuraniyah fi Syarhit Tawassulatis Sammaniyah, dan Nubdzatun fi Manaqibil Imamil Masyhur bil Ustadzil azham Muhammad bin Ali Baalawy.

Guru Sekumpul meninggal pada hari rabu tanggal 10 Agustus 2005 pada usia 63 tahun di kediamannya sekaligus komplek pengajiannya di daerah Sekumpul Martapura. Sebelum meninggal, beliau sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Eizabeth, Singapura selama 10 hari akibat gagal ginjal yang di derita.

Haul Yang Selalu Ramai

Bila bulan rajab datang, Pasar Martapura akan terlihat semakin sibuk. Sepanjang jalan menuju Musholla Ar-Raudhah tak kalah sibuknya, Kesibukan untuk menyambut tamu-tamu Alm. Guru Sekumpul di acara Haul nya. Pemandangan ini menjadi lazim sejak kepergian Guru Sekumpul pada 2005. Bukan hal yang mengagetkan bagi masyarakat sekumpul, mengingat semasa  Guru Sekumpul masih hidup, hampir setiap minggu Kel. Sekumpul di datangi ribuan jamaah yang mengikuti pengajian.

Rumah-rumah di sekitaran Musholla Ar-Raudhah, Kelurahan Sekumpul, Martapura membuka lebar pintu mereka. Meja-meja di siapkan di depan rumah, di atasnya berbagai makanan di haturkan, berbagai minuman di hidangkan, semuanya gratis bagi siapapun yang ingin menyantapnya. Seluruh masyarakat sekumpul merasa menjadi tuan rumah di acara ini. Mereka merelakan apapun yang mereka miliki, tempat, makanan, tenaga bahkan tak jarang finansial untuk sekedar “menyumbang” di Haul  Guru besar mereka yang telah berpulang.

Pemerintah daerah pun tak tinggal diam menyambut gelaran tahunan ini. Baik Pemprov Kal-Sel maupun Pemerintah Daerah benar-benar turun tangan. Mulai dari persiapan lalu-lintas, tempat parkir, listrik dan penerangan kesemuanya benar-benar di persiapkan setiap menjelang acara Haul datang.

Kesemuanya di lakukan warga “Kota Intan” Martapura sebagai bentuk penghormatan kepada “Sang Guru”. Meskipun Guru Sekumpul telah berpulang, bukan menjadi alasan bagi mereka untuk ber-ta’dzim melalui tenaga, harta, tempat, pikiran dan segala yang di miliki. Hal ini semacam menjadi ucapan terima kasih atas segala ilmu yang telah di berikan Guru Sekumpul, meskipun mereka sadar, kesemuanya tidak bisa di sejajarkan volume nya dengan ilmu yang sudah Guru Sekumpul berikan.

“Pintu surga diharamkan bagi orang bakhil”. Begitu salah satu pesan Guru Sekumpul kepada santri dan jamaahnya, pesan yang secara esensi mengacu kepada Hadist dan Ajaran Nabi Muhammad. Pesan ini bukan hanya terpatri di hati jamaahnya ketika Guru Sekumpul masih hidup, setelah kepergiannya pun, pesan ini tetap di ingat dan di aplikasikan, salah satunya ketika hadir hari Haul Guru Sekumpul.

Haul Guru Sekumpul seakan menjadi media dan wadah bersedekah bagi jamaah dan santri-santrinya.

Puncak acara yang sebenarnya tidak berdurasi lama, ba’da magrib sampai Isya. Di isi dengan pembacaan maulid simthu dhurar, tahlil, qira’atul Qur’an, namun mampu menjadi wadah bersedekah, media silaturahim puluhan ribu manusia yang datang dari berbagai daerah, persiapan yang begitu megah dan melibatkan berbagai macam element masyarakat, sungguh budaya dan tradisi yang patut di apresiasi. Haul Guru Sekumpul seperti menjadi “event religious tahunan” Persiapan telah dilakukan sejak jauh hari tidak hanya oleh panitia haul, melainkan oleh semua elemen masyarakat, tak terkecuali pemerintah daerah kabupaten banjar sebagai tuan rumah. Bahkan pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Dinas Perhubungan dan instansi terkait lainnya mempersiapkan pengaturan arus lalu lintas untuk mengantisipasi terjadinya kemacetan akibat volume kendaraan yang datang. Peta jalur keluar-masuk Sekumpul dan Martapura disosialisasikan kepada masyarakat luas. Himbauan untuk memperlancar pelaksanaan event ini pun disampaikan melalui semua media agar diketahui khalayak. PLN sibuk menyiapkan ketersediaan listrik agar tidak terjadi gangguan pada saat acara haul berlangsung. Selain pengaturan lalu lintas dan keamanan, bahkan Polresta Banjarmasin berpartisipasi dengan menyulap kendaraan Water Canon-nya menjadi tempat wudhu. Dan masih banyak lagi partisipasi aktif masyarakat dalam acara haul ini. Semua membuktikan kecintaannya terhadap Abah Guru, sebutan akrab jamaah kepada Guru Sekumpul.

Bahkan bercermin pada peringatan haul tahun-tahun sebelumnya, jumlah jamaah yang menghadiri acara ini mencapai ribuan orang. Beberapa pihak meyakini bahwa jumlah jamaah yang hadir lebih dari satu juta orang. Kabarnya tahun 2018 kemarin bahkan panitia menyiapkan 44 dapur umum untuk menyediakan 600 ribu bungkus nasi untuk jamaah yang hadir. Panitia memperkirakan jumlah jamaah yang akan menghadiri acara haul ke-13 ini mencapai 1,5 juta orang, terdiri dari berbagai daerah di Kalsel dan bahkan dari mancanegara. Ini membuktikan begitu besarnya pengaruh Guru ijai hingga sekarang. Masyarakat Banjar sangat menghormati dan mencintai beliau.

Dari perspektif pariwisata, tentu acara ini sangatlah istimewa. Tak banyak event bersifat keagamaan di Indonesia yang bisa menyedot pengunjung dalam jumlah besar seperti acara ini. Kabupaten Banjar sebagai pengampu wilayah mendapatkan berkah yang luar biasa dengan adanya ratusan ribu bahkan jutaan jamaah (peziarah) yang datang. Tidak bisa dipungkiri, dampak acaranya ini tentu sangat besar, baik itu secara sosial maupun ekonomi. Hotel, rumah makan, pedagang souvenir yang tersebar di sekitar Sekumpul dan Martapura akan kebanjiran pengunjung.

Bukan tak mungkin kedepan, sektor wisata religi mampu menjadi komoditi daerah Martapura dan Kalimantan selatan, Selain sektor pertambangan, bukan prospek yang bersifat duniawi tentu arahnya, lebih di arahkan sebagai “ngalap berkah” Tuan Guru Sekumpul.

#OSKMITB18

OSKM ITB 2018

Referensi :

Abdul Rahman Hj. Abdullah, Biografi Agung Syeikh Arsyad Al-Banjari, Banjarmasin :  Karya Bestari, TT

Ahmad Rosyadi, Bertamu Ke Sekumpul, Sebuah Kenangan Buat Abah Guru (Edisi ke-4), Banjarmasin : Lembaga pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Kabupaten Banjar, 2011

Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam, Jakarta : PT Ichtiyar Bbaru Van Hoeve, 1994

Hairus Salim HS, Gus Dur dan Guru Sekumpul: Sebuah Pertemuan, di akses melalui http://www.nu.or.id/

Miftahur Rahman, Keajaiban 1000 Dinar, Jakarta : Elex Media Komputindo, 2013

Munawir. A.W, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (edisi kedua), Surabaya: Pustaka Progresif, 1997

Team Redaksi, Da’i Indonesia, Jakarta: General Books, 2001

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Bekam Bali
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Bekam Bali
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
Bali

Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...

avatar
Marco20
Gambar Entri
Negeri antara: Jejak Putro aloh dan Manusia Harimau
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...

avatar
Mahlilazmi_02
Gambar Entri
Genggong
Alat Musik Alat Musik
Bali

Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.

avatar
Yogaxd
Gambar Entri
Dari Rendang Hingga Gudeg: 10 Mahakarya Kuliner Indonesia yang Mengguncang Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
DKI Jakarta

1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...

avatar
Umikulsum