Keroncong merupakan sebuah ansambel tradisional yang terdiri dari berbagai macam alat musik. Sebuah ansambel dapat disebut Keroncong apabila memiliki dua alat musik tradisional yang mendasar yakni ukulele Cuk dan ukulele Cak. Alat musik tambahan yang biasa digunakan dalam ansambel Keroncong adalah Cello dan Double Bass (Bass Betot). Instrumen lainnya dapat ditambahkan sesuai kebutuhan aransemen.
Kedua instrumen tradisional ini, ukulele Cak dan Cuk, memiliki spesifikasi yang berbeda dengan spesifikasi ukulele pada umumnya. Kedua alat musik ini
Ukulele Cuk merupakan ukulele dengan tiga senar. Senar pertama dan ketiga menggunakan senar nilon gitar klasik, sedangkan senar kedua menggunakan senar raket tenis. Mengejutkan bukan? Senar raket tenis dapat dipakai sebagai senar untuk alat musik tradisional. Tuning untuk ketiga senar ini dimulai dari senar ketiga (atas) adalah sebagai berikut : G, B, E. Cara memainkannya seperti bermain gitar ataupun ukulele. Tangan kiri digunakan untuk menekan posisi chord dan tangan kanan digunakan untuk melakukan strumming. Diagram chord dapat dilihat di internet atau mencarinya sendiri. Untuk cara mencari chord secara manual, lakukan dengan mencari nada untuk chord, lalu sesuaikan dengan tangan kiri di ukulele Cuk.
Contoh:
Ingin mencari chord C mayor. Maka pola chord mayor adalah 1 3 5.
Jika dimasukkan Do = C, maka nada yang akan terbentuk adalah C,E, dan G.
Langkah berikutnya adalah sesuaikan not yang terbentuk dengan senar ukulele Cuk.
Untuk nada E dan G, sudah tidak perlu mencari lagi karena kedua nada tersebut sudah sama dengan nada senar ukulele Cuk. Maka biarkan senar pertama dan ketiga terbuka atau open string.
Lalu senar kedua memiliki nada dasar B. Untuk menyesuaikan menjadi nada C, pakai salah satu jari tangan kiri untuk menekan di kolom pertama senar kedua, sehingga nada B bergeser menjadi nada C.
Jadi penjarian chord C mayor adalah sebagai berikut:
-Senar 3: open string
-Senar 2: tekan di kolom 1
-Senar 1: open string
Jadi Anda dapat mencari chord dari ukulele Cuk secara mandiri. Namun, untuk memastikan atau ingin belajar lebih cepat, Anda dapat mencari diagram chord ukulele Cuk dari situs di internet.
Pola strumming ukulele Cuk sangat sederhana yakni strum ke bawah setiap satu ketukan (ketukan down, setiap awal ketuk). Pola strumming dapat divariasikan sesuai dengan kebutuhan aransemen lagu.
Ukulele Cak merupakan ukulele dengan empat senar string (kawat). Keempat senar memiliki jenis senar yang sama yakni senar string no 2 gitar listrik. Tuning untuk keempat senar adalah sebagai berikut: A, D, Fis, B. Diagram chord ukulele Cak dapat dicari melalui internet atau dicari secara manual. Pola strumming untuk ukulele Cak adalah ke atas dan ke bawah secara cepat dalam ketukan up.
Jadi saat ukulele Cuk strum di ketukan down, kemudian ukulele Cak 'membalas' strum dari ukulele Cuk dengan strum di ketukan up. Perlu diingat bahwa strumming ukulele Cak adalah sebagai berikut: atas - bawah - atas , dan dilakukan secara cepat.
Setelah kita memainkan kedua alat musik tersebut, barulah kita akan mengerti arti dari nama kedua alat musik tersebut. Bunyi 'crong' akan dihasilkan saat kita bermain ukulele Cuk dan bunyi 'cak cak' akan dihasilkan saat kita bermain ukulele Cak.
Demikian artikel pembahasan untuk instrumen ansambel Keroncong. Semoga bermanfaat.
Narasumber: Richardus Indrajono S.Sn. (Guru musik SMAS Dian Harapan Daan Mogot)
#OSKMITB2018
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...