Bahan-bahan Ayam ater-ater mateng 2 liter air Kol rebus Bihun rebus Toge panjang Tahu pong Tomat Seledri Bawang goreng Bumbu : 5 siung bawang putih 5 buah kemiri goreng Rempah kering: 2 cengkeh 1 kapulaga Secuil pala Secuil kayu manis Se...
Dogdog kaliwon Dogdog Kaliwon adalah jenis kesenian pagelaran yang tumbuh subur di Kecamatan Salem, Brebes. Kesenian ini lahir dengan nama dogdog yang dalam istilah Jawa berarti menabuh. Karena kerap dipentaskan pada malam Kliwon, kesenian ini kemudian diberi nama dogdog kaliwon. Dogdog kaliwon biasanya dimainkan 4-10 orang yang memainkan alat musik seperti gendang. Bedanya, gendang yang kemudian dikenal dengan dogdog itu menggunakan bahan baku dari pohon enau, baik yang besar maupun kecil. Menurut warga sekitar di Kecamatan Salem Dogdog Kaliwon merupakan salah satu jenis kesenian yang berkembang di kecamatan Salem. Dalam pertunjukannya, kesenian Dogdog Kaliwon berupa tontonan dan alunan lagu-lagu daerah Jawa dan Sunda yang dimainkan oleh para pemain musik yang terdiri dari empat pemain dogdog, seorang pemain biola, suling sunda, terompet sunda, penyanyi/juru kawih, dan sesekali waktu dilengkapi dengan penari, yang disajikan sebagai hiburan pada acara hajatan maupun selametan pad...
Tradisi Mendak Pada Kematian Istilah yang di gunakan dalam memperingati kematian setelah satu tahun pasca kematian biasanya di sebut dengan Mendak Kematian,masih banyak peringatan kematian yang ada di Jawa di antaranya : -nelung dino (tiga hari), -mitong dino (tujuh hari), -matang puloh (empat puluh hari), -nyatos (seratus hari), -mendak pisan (satu tahun perta), -mendak pindo (dua tahun ), -dan yang terahir adalah nyewu (seribu hari) pasca kematian,Iatilahnya ialah Haul dalam bahasa Arab yaitu satu tahun,sebutan lainnya adalah nyewu atau seribu hari kematian. Sebenarnya pada hari kematian adalah mutlak warisan yang berasal dari budaya Jawa Kuno yang selanjutnya adalah wali songo dalam menyampaikan dan menyebarkan agama dengan memasukkan budaya islam ke dalam suatu tradisi yang sering di lakukan masyarakat Jawa Kuno pada dahulunya. Tujuan Wali Songo tersebut ad...
Boyong penganten merupakan ritual pernikahan yang dilaksanakan pada hari kelima setelah pengantin tinggal di kediaman orangtua pengantin wanita. Acara boyong penganten disebut sepasaran (sepeken) pengantin. Sepeken artinya lima hari. Pada hari kelima pengantin diboyong (dihadirkan/pindah) dari kediaman orangtua pengantin wanita ke kediaman pengantin pria. Istilah boyong penganten adalah ngunduh mantu (Suwarno, 2006: 257). Menurut Suwarno (2006: 135) beberapa tradisi yang dilakukan pada acara boyong penganten antara lain sebagai berikut: 1. pihak pria menerima kehadiran pengantin pria dan wanita beserta besan (orangtua pengantin wanita) dengan cara bersahaja, mengundang para tetua dan beberapa tamu tetangga. 2. ada pula yang menyelenggarakan resepsi ngunduh mantu. Upacara boyong penganten atau ngunduh mantu jatuh pada hari kelima (sepeken) setelah upacara pernikahan. Upacara boyong penganten mengandung makna, yakni orangtua kan "berpisah" anaknya (putrinya) karena harus membangun...
Berjodoh dengan pasangan dan menikah dihari baik dan menjalankan hari –hari berikutnya dengan baik merupakan keinginan semua orang tanpa dipungkiri semua orang pasti menginginkannya. Menurut kepercayaan jawa untuk menentukan hari baik dan buruk dalam memulai satu hajat besar dapat dilihat menggunakan hitungan weton. Untuk yang belom tahu menahu tentang weton, weton adalah hitungan neptu hari dan pasaran ketika seseorang dilahirkan. Weton ini sering digunakan untuk menunjukkan ramalan yang berasal dari kebudayaan jawa yang telah turun temurun. Biasanya perhitungan weton untuk pernikahan digunakan untuk meminimalisir hal – hal buruk yang bisa terjadi. Selain itu, hitungan weton juga sering digunakan untuk menentukan kecocokan calon pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan. Biasanya jika hasil perhitungan weton kedua pasangan tidak diketemukan prospek yang baik, maka untuk meminimalisir kemungkinan buruk yang mungkin bisa terjadi, akan dilakukan ru...
Istilah lintang ngalih yang dipakai untuk menamakan jenis permainan anak ini, terdiri dari 2 (dua) buah kata, yaitu: lintang berarti bintang; ngalih, berasal dari kata "alih" berarti pindah. Jadi istilah lintang ngalih, berarti bintang berpindah atau bintang beralih. Di lain daerah, ada pula yang menamakan jenis permainan ini dengan istilah: "Lintang Alihan", yang berarti bintang pindahan. Dari kedua istilah yang diartikan menurut etimologinya itu dalam kaitannya dengan peristiwa jalannya permainan ini, di kandung maksud bahwa permainan lintang ngalih atau lintang Alihan merupakan kegiatan anak-anak yang diwujudkan dalam bentuk gerakan-gerakan mengandung unsur olahraga dengan menggambarkan rangkaian peristiwa berpindah-pindahnya bintang dari suatu tempat ke tempat lain secara berturut-turut. Permainan ini dapat dilakukan oleh anak-anak baik laki-laki, perempuan maupun campuran yang berusia 7 sampai 13 tahun dengan jumlah peserta biasanya berkisar antara 10 sampai 14 orang bahkan d...
Benteng Pendem Ambarawa Benteng Fort Willem I atau lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa adalah bangunan bersejarah yang berada di Ambarawa, Semarang , Jawa Tengah . Benteng yang dibangun pada tahun 1834 dan selesai 1845 , ini berada dekat dengan Museum Kereta Api , atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ambarawa, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang di sutradarai oleh Hanung Bramantyo Menggunakan istilah pendem atau pendhem (bahasa Jawa ) karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai siasat perang. Untuk menjangkau situs sejarah ini ada dua jalan masuk, pertama dapat melewati jalan alternatif dekat dengan RSUD Ambarawa. Dan yang ke-dua melewati pintu masuk ke Lapas Ambarawa...
Permainan Tradisional : Egrang Nama permainan ini berbeda-beda setiap daerahnya seperti di Bengkulu disebut Ingkau yang berarti sepatu bambu. Sumatera Barat dinamakan Tengkak-tengkak. Lampung disebut Egrang yang berarti terompah pancung, terbuat dari pohon bambu bulat panjang dan di Jawa Tengah dikatakan Jangkungan/Egrang yang diambil dari nama burung berkaki panjang, Batungkau di Kalimantan Selatan, Tilako di Sulawesi Tengah, dan Marjalengkat di Batak Toba. Di Pulau Jawa, permainan Egrang banyak dijumpai dan dimainkan layaknya permainan biasa, yaitu dengan berjalan kaki. Namun di daerah Sulawesi Tengah, Egrang biasanya digunakan untuk perlombaan balapan Egrang. Tidak hanya sekedar balapan, tapi juga sambil saling menjatuhkan dengan cara memukul kaki Egrang lawan. Di daerah Batak Toba, Egrang atau Marjalengkat ini pada waktu tempo dulu sering dilakukan sebagai ajang adu ketangkasan yang berdaya guna untuk meningkatkan kemampuan berlari dengan me...
Omah Lowo dikenal dengan sebutan Gedung Lowo karena sudah lama tidak digunakan. Karena banyaknya populasi kelalawar yang menghuni rumah ini, maka rumah ini dijuluki sebagai Omah Lowo. Luas bangunan rumah ini diperkirakan sekitar 1.500 meter persegi yang berdiri di atas lahan seuas 3000 meter persegi, memiliki 4 kmar tidur yang luas, dimana 2 kamar berada di sebelah sisi kanan dan 2 kamar lainnya berada di sebelah sisi kiri rumah, serta dipisahkan dengan 2 buah ruangan yang cukup besar. Pada tahun 1990-an rumah ini sempat digunakan sebagai kantor haji dan kamar dagang. Pada awalnya digunakan sebagai rumah tinggal bangsawan atau penjabat Belanda. Pada tahun 1945 rumah ini dibeli dan dihuni oleh sepasang keluarga Sie Djian Ho. Terletak di jalan Slamet Riyadi yang bertuliskan "Villa Liberty" dengan bentuk khas arsitektur kolonial. Pada masa kemerdekaan Omah Lowo pernah ditinggali sebagai salah satu tempat persembunyian para gerilyawan, dan setelah merdeka bangunan di serahkan ke pemerinta...