Di sini ada dua versi sejarah Gili Tugel 1. Berkaitan dengan perang tanding sampyuh Tumenggung Martoloyo dengan Adipati Marto Puro (1670-an), pada masa Sunan Amangkurat Ing Alaga/ Sunan Amangkurat II (Putra dari Sunan Amangkurat/Sunan Tegalwangi/Sunan Tegalarum). Kejadian pada sumber versi yang lain terjadi setelah Sunan Amangkurat I telah mangkat. 2. Berkaitan dengan masa penentangan Bupati Kaloran/ R. Panji Cakranegara terhadap kebijakan kerja paksa pembuatan jalan Daendels tempat tersebut adalah pertigaan jalan antara Jalan Diponegoro – AR. Hakim dan Sudirman di Kota Tegal. Pertigaan jalan tersebut merupakan jalur Tegal – Slawi dan Tegal – Jakarta. Sepintas kilas pertigaan itu seperti tidak ada yang istimewa. Tiap hari perlintasan tersebut disibukan berbagai jenis kendaraan yang lewat di situ. Juga pada malamhari, tak sedikit di trotoar sebelah Timur dan Barat menjadi tempat warung lesehan temporer teruta...
Seperti Kota Tegal, ternyata Slawi pun sudah berumur ratusan tahun. Awal riwayatnya sezaman dengan kehidupan tokoh Ki Gede Sebayu yang berhasil mendirikan Tetegal pada awal tahun 1600-an. Dikisahkan bahwa salah seorang anak putri Ki Gede Sebayu yang bernama Nini Dwijayanti memang terkenal cantik, cerdas, dan cekatan. Kegemarannya menunggang kuda membikin banyak orang semakin kagum. Konon, kalau Nini Jayanti sedang di atas pelana kuda kesayangannya akan tampak seperti bidadari yang turun dari langit biru. Jadi, wajarlah bila namanya populer di kalangan masyarakat. Wajar juga banyak pemuda atau perjaka yang ingin menyuntingnya. Ki Gede Sebayu sering didatangi utusan yang menanyakan keadaan NIni Jayanti. Ada yang berterus terang ingin melamar, ada juga yang hanya sekadar mencari-cari keterangan. Pendek kata, Ki Gede Sebayu harus melayani banyak orang yang sama-sama berharap dapat menyunting Nini Jayanti. Ternyata hal itu menimbulkan kerepotan sebab keputusan bukan di tangannya...
Cerita ini bermula pada waktu penjajahan jepang di Indonesia, tersebutlah seorang wanita yang berasal dari keluarga petani miskin namun bernorma. Awalnya dia adalah gadis baik2 dann menikah dengan petani baik2 pula, tak ada hal istimewa dari kehidupan mereka selain diselimuti kelaparan dan ketakutan akibat penjajahan seperti halnya penduduk yang lain, hingga wanita itu mengandung anak pertamanya dan tanpa sepengetahuan siapapun dia sembunyikan oleh suaminya ke dalam hutan belantara demi keselamatan istri dan calon anaknya. Di dalam hutan sang istri dibuatkanlah rumah kecil berdinding gedhek(anyaman bambu), dan disana sang istri hanya dibekali sebuah tikar, 4 potong ubi mentah dan sepotong bambu berisi air minum, maka tinggallah dia sendirian sedangkan suaminya kembali ke desa agar tak dicurigai oleh pihak penjajah. Ketika ditanya para penjajah petani itu hanya mengaku istrinya minggat(kabur) kekota, sehingga penduduk menganggapnya sebagai wanita nakal/sundel (bahasa k...
Dikisahkan: Ki Gede Sebayu yang pada saat itu membabat alas Tegal dan membangun bendungan untuk pengairan; mempunyai dua orang putra, yaitu Raden Ayu Rara Giyanti Subalaksana dan Raden Mas Honggowono. Setelah Ki Gede Sebayu mangkat, Raden Hongowono kemudian menggantikannya sebagai Juru Demung atau Tumenggung ing tlatah Tegal. Raden Honggowono mempunyai seorang anak bernama Nyai Ronggeh dan menikah dengan Pangeran Nalajaya, seorang ksatria dari Palembang. Mengingat Raden Honggowono tidak mempunyai putra mahkota sebagai penggantinya, maka diangkatlah Martoloyo sebagai Bupati Tegal. Martoloyo mempunyai seorang adik bernama Martopuro. Berbeda dengan kakaknya yang nasionalis dan pro rakyat, Martopuro justru pro Belanda dan menjadi penghasut rakyat. Pada saat itu, Adipati Anom memerintahkan Martoloyo untuk bersiap-siap perang. Akan tetapi, keputusan politik Adipati Anom meminta bantuan Belanda untuk berperang menyerang Trunojoyo terasa sangat menusuk hatinya. Sehingga Bupati Martoloyo...
Berdasarkan sejarah yang bersumber dari sesepuh Desa Semedo, sejak zaman kewalian wilayah Desa Semedo termasuk dalam wilayah Kabupaten Tegal dan merupakan daerah pedesaan yang dikelilingi hutan yang subur serta tumbuhan yang hijau di atas tanah yang berbukit dan lebat, tak heran Desa Semedo menjadi desa untuk berjuang pada zaman pelahiran antara zaman kewalian ke zaman kemerdekaan. Pada tahun 1569 M datanglah seseorang dari Kerajaan Panjang (Pajang?) yang bernama Kanjeng Pangeran Surohadikusumo (Mbah Semedo) dan beliaulah yang pertamakali menempati dan berdiam di bukit, sampai wafat pada tahun 1679 M. Semenjak wafatnya beliau, tempat tesebut digunakan untuk bersemedi. Karena tempat tersebut untuk bersemedi, oleh masyarakat sekitar, daerah terebut diberi nama Semedi. Oleh karena perkembangan zaman dirubah menjadi Semedo. Setelah wafatnya K.P Sukohadikusumo (Mbah Semedo) kemudian pada tahun 1819 Desa Semedo kedatangan jenazah yaitu seorang Bupati Kaloran yang bernama Raden Mas Pan...
Alkisah, pada jaman dahulu ada seorang pemuda yang bernama Mansyur. Ia menjadi santri yang mondok di pesantren untuk belajar ilmu agama. Pada suatu malam, setelah Mansyur lulus belajar di pesantren, ia berkemas membungkus barang-barangnya dengan kain. Ia berniat kembali pulang ke kampungnya. Di tengah perjalanan pulang di malam hari itu, tiba-tiba ia dihadang seorang garong/rampok bersenjata golok besar (bedog). Garong itu menghunus senjatanya. Ia mengancam dan memaksa Mansyur untuk menyerahkan bungkusan barang bawaannya. Di luar dugaan, garong itu tak menyangka Mansyur berontak dan melawan. Khawatir tindakannya diketahui penduduk sekitar, garong itu nekat menebas kepala Mansyur hingga terpisah dari badannya. Akhirnya garong itu berhasil membawa bungkusan barang hasil rampokannya. Sesampainya di rumah, garong itu membuka bungkusan kain hasil rampokannya. Alangkah terkejutnya ia. Ternyata bungkusan kain itu hanya berisi kitab suci, pakaian dan kain sarung. Tak ada...
bah Panggung dikenal sebagai sosok ulama karismatik yang menyebarkan Islam di wilayah Kota Tegal, jauh sebelum Kota Tegal ada. Cerita perjalanan hidupnya pun memiliki sejumlah versi. Berdasarkan salah satu versi yang dituturkan dari mulut ke mulut melalui juru kunci, Mbah Panggung hidup pada kurun waktu abad ke-4 hingga 6. Nama aslinya adalah Syekh Abdurrahman. Seperti kebanyakan ulama yang datang ke Pulau Jawa untuk berdakwah, Mbah Panggung berasal dari Jazirah Arab. Ia pertama kali menginjakkan kaki di sebuah pulau tak berpenghuni yang saat ini menjadi Kelurahan Panggung, Kecamatan Tegal Timur. Di pulau itu, Mbah Panggung tinggal untuk berdakwah, hingga wafat. Makamnya kemudian didatangi ribuan peziarah tiap Bulan Syakban saat digelar haul dan pengajian untuk memperingati wafatnya. Juru kunci makam Mbah Panggung, Hasan Mutamimi, mengatakan, nama Mbah Panggung merujuk pada tempat tinggal semasa hidup yang berupa pulau karang yang menju...
Selain Telaga Warna di Dieng, terdapat Telaga Menjer yang merupakan Merupakan telaga alami terluas di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Berada pada ketinggian 1.300 mdpl dengan luas 70 hektar dan kedalaman air mencapai 45 meter. Telaga Menjer terletak di desa Maron kec. Garung 12 Km sebelah utara kota Wonosobo. Sisi utara telaga ini berupa pegunungan yang ditumbuhi tanaman hijau termasuk kebun teh yang sangat indah. Dibalik keindahan Telaga Menjer, terdapat sebuah legenda yang masih diceritakan secara turun-temurun oleh penduduk setempat inilah Legenda Telaga Menjer. Legenda Telaga Menjer, Wonosobo Diceritakan dahulu kala ada dua orang gadis sedang mengumpulkan sayuran di lading. Tiba-tiba datanglah seekor kepiting raksasa mendekatinya. Mereka sangat takjub melihat betapa besar dan tingginya binatang itu. Lupa akan pesan orang tuanya yang mengatakan bahwa apabila sedang berada di lading kemudian melihat atau menemui sesuatu yang asing atau...
Di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, banyak anak asli Dieng yang memiliki rambut gembel atau gimbal. Oleh karena itu, anak-anak tersebut biasa dipanggil sebagai anak gembel. Rambut gimbal itu terjadi ketika mereka berumur 40 hari sampai sekitar enam tahun yang diawali dengan gejala demam yang sangat tinggi dan suka mengigau saat tidur. Uniknya, rambut gimbal itu baru boleh dipotong setelah adanya permintaan dari anak itu sendiri. Ada beberapa versi mengenai asal mula anak gembel ini, salah satu di antaranya adalah versi cerita rakyat yang dikenal dengan Legenda Kawah Sikidang. Berikut kisahnya. Ratusan tahun yang silam, di Dataran Tinggi Dieng ada seorang putri cantik jelita nan rupawan bernama Shinta Dewi. Ia tinggal di sebuah istana megah yang dikelilingi taman bunga yang indah. Kecantikan Shinta Dewi mengundang decak kagum bagi setiap pangeran yang melihatnya. Banyak pangeran yang sudah melamarnya, namun tidak ada satu orang pun...