Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Tengah Tegal
Sejarah-Gili Tugel Kota Tegal
- 14 Juli 2018

Di sini ada dua versi sejarah Gili Tugel

1. Berkaitan dengan perang tanding sampyuh Tumenggung Martoloyo dengan Adipati Marto Puro (1670-an), pada masa Sunan Amangkurat Ing Alaga/ Sunan Amangkurat II (Putra dari Sunan Amangkurat/Sunan Tegalwangi/Sunan Tegalarum). Kejadian pada sumber versi yang lain terjadi setelah Sunan Amangkurat I telah mangkat.

2. Berkaitan dengan masa penentangan Bupati Kaloran/ R. Panji Cakranegara terhadap kebijakan kerja paksa pembuatan jalan Daendels

 

 

tempat tersebut adalah pertigaan jalan antara Jalan Diponegoro – AR. Hakim

dan Sudirman di Kota Tegal.

Pertigaan jalan tersebut merupakan jalur Tegal – Slawi dan Tegal – Jakarta.

Sepintas kilas pertigaan itu seperti tidak ada yang istimewa.

Tiap hari perlintasan tersebut disibukan berbagai jenis kendaraan yang lewat di situ.

Juga pada malamhari, tak sedikit di trotoar sebelah Timur dan Barat menjadi tempat warung

lesehan temporer terutama di sebelah Barat.

Tapi cobalah menorobos ke dalam terowongan waktu kilas balik pada peristiwa yang pernah terjadi,

betapa memedihkan lahirnya asal-usul Gili Tugel!

 

1. Tragedi memedihkan itu ditandai ketika dua adipati gugur dalam adu tanding.

Antara Adipati Martoloyo dari Kadipaten Tegal dan Adipati Martopuro dari Kadipaten Jepara,

saling tikam dengan sebilah keris hingga keduanya berakhir tragis, mati sampyuh.

Akhir tahun 1670 – dan berakhir beberapa saat sebelum Amangkurat I meninggal tahun 1677,

situasi Mataram kacau balau dengan merebaknya perang saudara yang luar biasa.

Atas kekacauan itu, Amangkurat I kewalahan sampai dia pun menyingkir ke arah Barat

karena Mataram dikuasai Trunojoyo, namun kekacauan terus berlanjut membabi-buta.

Dalam kebingungan, Amangkurat I bersekutu dengan VOC untuk meredam kekacauan yang menggila.

Dengan campur tangan VOC, perang berakhir, namun setelah perang saudara usai,

justru disinilah awal dari segala persoalan panjang bernama penjajahan.

Karena atas jasanya meredakan kekacauan di tlatah Mataram, VOC meminta bayaran

yang teramat mahal dan tak mungkin terbayarkan oleh pihak kerajaan.

Inilah yang menjadi beban Amangkurat I hingga akhir hayatnya.

Pemerasan VOC terhadap kerajaan Mataram, berlanjut sampai kerajaan dipegang oleh Amangkurat II.

Dia menjadi bingung karena harus melunasi ‘hutang’ yang tertunda kepada VOC.

Padahal pasca kerusuhan, kas Kerajaan kosong dan nyaris bangkrut.

Dalam kebingungan yang memuncak, Amangkurat II terpaksa merelakan wilayah

pesisir utara Jawa dikuasai oleh VOC.

Kendatipun mereka tetap membayar uang sewa tiap tahunnya,

tetapi  VOC tidak pernah mengembalikan wilayah pesisir utara kepada kerajaan.

Hal ini membuat Mataram kehilangan pendapatan penting, dan Jawa Tengah terisolasi

dari Negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Komunikasi dengan pusat-pusat studi di Asia Selatan menjadi sulit,

dan kian meningkatnya ketergantungan terhadap Belanda.

Adipati Martoloyo yang saat itu memimpin Kadipaten Tegal termasuk salah satu adipati

yang tak patuh pada rajanya.

Ia selalu membangkang untuk tidak memberikan upeti pada Mataram.

Padahal daerah kekuasaan Martoloyo telah diperluas dari pantai Jepara ke Barat

hingga wilayah Tegal, Brebes dan Losari.

Dalam pandangan Martoloyo, Amangkurat II itu benar-benar berhamba betul pada Belanda.

Karena itu dia tak mau membayar pajak, dan ini yang menyebabkan hubungan antara

bawahan dan rajanya semakin besitegang. Tapi pihak Belanda tak kurang akal..

Hatta, dibawah Gubernur Jendral Mr Maetsuyke, dia mengutus Laksamana Cornelis Speelman

dari VOC untuk menemui Amangkurat II, tujuannya bagaimana melenyapkan Martoloyo.

Adipati Tegal yang paling kocolan dan pembangkang selalu bersitegang dengan rajanya.

Politik devide et impera yang kemudian digunakan Belanda ntuk melenyapkan Adipati Martoloyo, dijalankan,

caranya, Amangkurat II diperintahkan untuk menggelar pertemuan agung para adipati

se-Jawa bertempat di Kadipaten Jepara.

Topik utama diagendakan, adalah penandatanganan ‘Naskah Kerjasama’ dengan imbalan

 tanah-tanah milik Kerajaan Mataram..

Maka pada tanggal 17 Januari tahun1678 berlangsung acara itu, dihadiri semua adipati termasuk

Adipati Martoloyo dan Martopuro. Nyatanya, Martoloyo yang memiliki kuat prinsip,

menentang keras kesepakatan itu dan menolak

untuk berkerjasama.

Dia pun mutung dan akhirnya menyingkir meninggalkan pertemuan agung.

Kesempatan itu dipakai oleh Belanda untuk menekan Amangkurat II agar menangkap Martoloyo.

Amangkurat II tahu, kalau kesaktian Martoloyo itu tak tertandingi.

Satu-satunya adipati yang mampu bertarung melawan Martoloyo,

cuma Martopuro yang memiliki kesaktian dari satu guru dan satu ilmu.

“Adipati Martopuro, susul Martoloyo sekarang juga, hadapakan kepadaku hidup atau mati”

printah Amangkurat II. “Inggih Sinuhun Amangkurat, perintah Sinuhun siap hamba laksanakan”

Seperti kerbau dicocok hidungya, Adipati Martopuro bergegas menjemput Martoloyo.

Sesampai dihadapan Martoloyo, ternyata Martopuro tak mampu menyatakan maksud tujuannya,

tapi Martoloyo tahu apa yang ingin diutarakannya.

Oleh karenanya Martoloyo memberi nasehat, namun bukan kebulatan yang dicapai,

melainkan meruncingnya perselisihan diantara keduanya memicu perang tanding.

Keduanya saling tikam dengan menggunakan pusaka keris sakti, Martoloyo mati karena tikaman

keris Ki Kasur, sedang Martopuro mati karena tikaman keris Ki Sepuh. Geger kematian kedua adipati,

tercium oleh Gendowor, Plekatik Martoloyo yang setia itu

bergegas meninggalkan tempat dimana dia bekerja sebagai pencari rumput untuk kuda majikannya.

Dengan sabit ditangan, perasaan gerah dan dongkol, dipacu kencang kuda tunggangannya

menuju pendopo.

Di sana dilihatnya rakyat Tegal berjubel-jubel, gending lara tangis bertalu-talu,begitu menyayat ulu hati.

Turun dari kuda, bergegas Gendowor berjalan menuju pendopo, langkah Gendowor tergopoh-gopoh

dan betapa terkejutnya ketika mendapatkan majikannya telah tewas di samping Adipati Martopuro

dengan bercikan darah di mana-mana.

Sebagian mengering, sebagiannya lagi bau anyir darah segar menyengat hidung.

Di sisi mayat majikannya, Gendowor bersimpuh, ia berjanji akan menumpas semua Kompeni Belanda.

Maka dipacu kuda tunggangannya memburu orang-orang Kompeni, orang-orang Kompeni

yang berpapasan dengannya ditebas batang lehernya.

Puluhan kepala bergelimpangan dan darah berceceran, tempat pemenggalan kepala itu

terjadi di pertigaan Gilitugel. Peristiwa lain yang tak kalah tragisnya, juga terjadi di pertigaan jalan itu.

Pada abad 18, sewaktu Mr Herman William Daendels membuat jalan raya sepanjang 1000 Km

dari Anyer sampai Penarukan, banyak rakyat pribumi menjadi korban akibat kerja rodi,

termasuk rakyat Tegal yang tanahnya dilalui proyek pembuatan jalan.

Saat itu, Bupati Tegal yang dipimpin RM Tumenggung Panji Haji Cokronegoro setiap hari dibikin

repot karena harus menyediakan 1000 orang untuk kerja paksa.

Oleh karenanya, ia sangat prihatin dan sedih, tidak sedikit rakyat yang kurang patuh harus

mendapat hukum pancung.

Hampir setiap hari, Bupati Tegal menyaksikan peristiwa yang memedihkan itu.

Tempat pelaksanaan hukuman pancung bagi yang menentang kerja rodi, terjadi di pertigaan jalan itu.

Sejak itu, rakyat Tegal menamai jalan tersebut sebagai ‘Gilitugel’, asal-muasal dari kata ‘Gulu Tugel’.

Dalam bahasa Jawa, ‘Gili’ artinya ‘jalan’. Sedang kata ‘Tugel’ artinya ‘Putus’.

Begitulah lahirnya pertigaan jalan yang disebutkan di atas.

 

Sumber: https://www.facebook.com/notes/sisi-lain-kabtegal/sejarah-gili-tugel-kota-tegal/471924239485605/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Panduan Memahami Asal Usul Gresik:
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Jawa Timur

Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rambu Solo':
Ritual Ritual
Sulawesi Selatan

Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...

avatar
Kianasarayu