Dikisahkan: Ki Gede Sebayu yang pada saat itu membabat alas Tegal dan membangun bendungan untuk pengairan; mempunyai dua orang putra, yaitu Raden Ayu Rara Giyanti Subalaksana dan Raden Mas Honggowono. Setelah Ki Gede Sebayu mangkat, Raden Hongowono kemudian menggantikannya sebagai Juru Demung atau Tumenggung ing tlatah Tegal. Raden Honggowono mempunyai seorang anak bernama Nyai Ronggeh dan menikah dengan Pangeran Nalajaya, seorang ksatria dari Palembang.
Mengingat Raden Honggowono tidak mempunyai putra mahkota sebagai penggantinya, maka diangkatlah Martoloyo sebagai Bupati Tegal. Martoloyo mempunyai seorang adik bernama Martopuro. Berbeda dengan kakaknya yang nasionalis dan pro rakyat, Martopuro justru pro Belanda dan menjadi penghasut rakyat. Pada saat itu, Adipati Anom memerintahkan Martoloyo untuk bersiap-siap perang. Akan tetapi, keputusan politik Adipati Anom meminta bantuan Belanda untuk berperang menyerang Trunojoyo terasa sangat menusuk hatinya. Sehingga Bupati Martoloyo menolak keras dan meninggalkan Adipati Anom.
Oleh Adipati Anom, diutuslah Martopuro untuk memanggil kembali kakaknya. Akan tetapi Martoloyo tidak mau kembali, maka terjadilah pertarungan hebat antar dua orang bersaudara itu, sehingga gugurlah kedua-duanya. Gugurnya kedua bersaudara itu membuat Belanda sangat bergembira dan merasa mendapatkan kemenangan karena berhasil menghasut Martoloyo dan Martopuro. Mangkatnya Martoloyo membuat rakyat berlatih pertahanan dibantu oleh seseorang yang bernama Gendowor.
Ada yang bilang Gendowor adalah tukang pencari rumput, abdi Kadipaten Lama masa kepemimpinan Martoloyo. Akan tetapi sebenarnya Gendowor adalah putra seorang Patih dari Jawa Timur. Gendowor kemudian memimpin rakyat untuk berperang melawan Belanda. Terjadilah perang besar yang pada akhirnya dimenangkan oleh rakyat yang dipimpin Gendowor. Belanda pun mundur. Maka pada akhirnya: Gendowor dinobatkan sebagai Bupati. Rakyat meluapkan kegembiraan karena berhasil mengalahkan musuh yang berusaha menghasut perdamaian.
Sumber: http://khoerulanamsyahmadani.blogspot.com/2013/06/legenda-gendowor.html
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...