Banua Ginjang (atau dunia atas) adalah tempat tinggal para dewa. Tempat in berada di langit dan dapat dibagi menjadi tujuh tingkat langit. Di tingkat langit yang ke tujuh, ada singgasana dewa tertinggi dan pencipta alam semesta, yaitu Debata Mulajadi na Bolon; beserta para dewa lainnya. Mulajadi na Bolon merupakan dewa paling tinggi di mitologi Batak, dan ialah dewa yang menciptakan tujuh tingkat langit tersebut beserta benda-benda langit seperti Matahari, Bulan, dan Bintang. Matahari ia sebut sebagai anaknya; dan saat terjadi gerhana, Matahari disebut sebagai "Angkalau". Ketiga putra Mulajadi na Bolon, yaitu Batara Guru (dewa yang merajai tiga dunia), Soripada (disebut juga Sori atau Sore, setara dengan dewa Wisnu di mitologi Hindu, dan turut serta dalam menciptakan Banua Ginjang), dan Mangalabulan (dewa yang digambarkan dengan sifat baik dan juga jahat, dan merupakan pencipta dunia bawah tanah dan penguasa bulan); juga tinggal di Banua Ginjang. Selain muncul dalam mitologi...
ASAL MULA MARGA BATAK (MARGA NABABAN) Orang batak dikenal dengan orang-orang yang terdiri dari marga-marga sebagai idendtitas. Marga diperoleh dari garis keturunan ayah, dan akan terus-menerus diturunkan kepada penerus selanjutnya. Menurut kepercayaan bangsa Batak, induk marga Batak dimulai dari Si Raja Batak yang diyakini sebagai asal mula orang Batak. Dari keturunan-keturunan marga batak, marga Nababan berasal dari keturunan Raja Batak si Raja Sumba. Keturunan SI RAJA SUMBA melahirkan marga dan marga cabang berikut : a. SIMAMORA, RAMBE, PURBA, MANALU, DEBATARAJA, GIRSANG, TAMBAK, SIBOR b. SIHOMBING, SILABAN, LUMBAN TORUAN, NABABAN, HUTASOIT, SITINDAON, BINJORI.  ...
Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang sakti bernama Ginting. Ginting ini kemudian pergi ke tanah Karo dan menikahi seorang gadis karo. Tidak lama kemudian lahirlah anak dari Ginting dan pasangannya. Akan tetapi, yang terlahir bukanlah bayi melainkan sesuatu berbentuk seperti “labu”. Hal ini terus terjadi pada kesepuluh anaknya. Pada suatu ketika datanglah seorang ahli nujum dan berbincang dengan Ginting mengenai anaknya. Sang ahli nujum berkata bahwa untuk mengeluarkan anak-anaknya Ginting harus mengupas “labu” tersebut menggunakan sembilu dari bambu khusus. Tetapi sebelum mengupas "labu" tersebut, Ginting dan keluarganya harus melaksanakan adat erpangir. Erpangir merupakan adat dimana sebuah jeruk purut dibelah dan dicelupkan didalam cawan putih berisi air bersih dan dedaunan segar, kemudian diberi mantra. Ginting dan keluarganya yakni, kalimbubu, senina/sembuyak, dan anak beru harus membilas wajah mereka menggunakan air tersebut. Anak-anak Ginting yang ma...
Rumah Balai Batak Toba adalah rumah adat dari daerah Sumatera Utara . Terbuat dari kayu, rumah ini mempunyai atap segitiga yang melengkung, serta terdapat ruang di bagian bawah yang biasanya menjadi kandang bintang. Bagi masyarakat Batak, rumah ini tampak seperti seekor kerbau yang sedang berdiri. Pembangunan rumah adat suku Batak ini dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat Batak. Rumah ini berbentuk seperti rumah panggung yang disangga oleh beberapa tiang penyangga. Rumah Balai dibagi berdasarkan ukuran dan berdasarkan gorga. Berdasarkan ukuran : Ruma Bolon , adalah rumah yang paling besar dan menjadi ajang pamer antar -Huta. Memerlukan tenaga dan dana yang besar. Jabu Parbale-balean , adalah rumah yang ukurannya kecil, lebih murah dan cepat dibangun.  ...
Bagi para pencinta camilan--terutama jajanan kaki lima--pasti sudah tak asing lagi dengan camilan khas Medan, Ci Cong Fan. Kue Medan yang satu ini berbahan dasar tepung beras dan tang mien (tepung yang terbuat dari pati gandum). Lembaran "kulit" Ci Cong Fan ini bertekstur lembut mirip dengan tekstur kwetiau. Ci Cong Fan biasanya diisi dengan daging sapi atau babi (bagi non-Muslim). Namun, kini banyak Ci Cong Fan yang diisi dengan sayuran segar. Dengan bahan dasar yang sehat dan isian yang sehat, Ci Cong Fan tentu menjadi pilihan camilan yang tepat untuk kamu yang hobi ngemil. Penyajian Ci Cong Fan biasanya dilengkapi dengan kuah kecap asin atau saus asam manis pedas. Selain siraman kuah pelengkap, ada juga Ci Cong Fan yang dilengkapi dengan gorengan uyen (talas serut bentuk bola), chai thau kwe (gorengan lobak bentuk kotak), siomay, atau lumpia. Ci Cong Fan biasanya mudah ditemukan di pusat jajanan kaki lima atau di dekat-dekat sekolah. Penjualnya biasa menggunakan sepeda ata...
"Parung Simardagul-dagul…Sahali Mamarung, gok apanggok bahul-bahul." Itu merupakan senandung warga adat Batak Parlilitan, sebelum penyadapan getah kemenyan di Tanah Batak, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara. Senandung dilakukan dua kali, berarti sekali menyadap atau sekali menusuk pohon kemenyan, hasil lebih dan banyak. Bakul bawan dari kampung penuh berisi sadapan getah kemenyan. Belum lama lama ini, masyarakat adat Parlilitan, menyadap getah kemenyan. Dian Haposan Sihotang, warga adat Parlilitan juga petani kemenyan, mengatakan, senandung ini sudah tradisi. Menyadap getah kemenyan, perlu ritual, yang bermakna menghormati dan menghargai alam. Getah kemenyan ada dan pohon tumbuh karena proses alam. Tak bisa dipupuk atau dengan cara lain. Pengerjaan juga harus dengan hati bersih, dan adab baik. Mereka percaya, menyadap getah tak boleh berkata kotor agar getah keluar banyak dengan kualitas baik. Menurut cerita nenek moyan...
Dahulu kala ada sebuah cerita yang berasal dari Pulau Samosir di desa si dugur-dugur tinggallah seorang laki-laki bernama guru Hatimbulan. Beliau adalah seorang si Baso atau pendeta namanya datu Arak ni pane. Istrinya bernama Nansindak panaluan. Mereka sudah lama menikah tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Sesudah perempuan itu hamil maka luar biasa lamanya barulah anak itu lahir, semua penduduk kampung itu menganggap keadaan itu hal yang gaib, saat itu juga terjadi kelaparan juga teriknya tak tertahankan, kerah tanah menutupi hubangan-hubangan dan rawa-rawa. Karena kepala persatuan pemujaan roh-roh menjadi risau ia pergi menjumpai guru Hatimbulan dan mengatakan kepadanya: mengapa keadaan yang seperti ini tidak berubah-ubah karena kejadian belum pernah terjadi mereka pergi untuk mencari sebabnya dan mengajak kepada Debata atau dewa yang adil sehingga guru Hatimbulan menjawab: ”semua bisa terjadi” lalu raja Bius mengatakan: ”semua orang heran mengapa istrimu...
Seorang raja yang bertakhta di daerah Teluk Dalam. Raja Simangolong namanya. Sang raja mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik wajahnya yang bernama Sri Pandan. Sri Pandan tidak hanya cantik jelita wajahnya, namun juga dikenal baik hati. Terampil pula ia bekerja. Ia pandai menenun, menganyam tikar, dan juga terbiasa menumbuk padi. Kecantikan Sri Pandan begitu ternama. Tidak hanya diketahui rakyat, melainkan para pemuda dari negeri-negeri lain. Raja Simangolong sangat berharap, putrinya itu akan menikah dengan pangeran dari negeri lain. Dengan demikian hubungan persahabatan dengan negeri lain akan dapat terjalin dengan baik. Raja Simangolong amat gembira ketika akhirnya datang lamaran dari Kerajaan Aceh. Raja Aceh meminang Sri Pandan untuk dinikahkan dengan Pangeran Aceh yang telah dinobatkan sebagai putra mahkota. Namun demikian Raja Simangolong tidak serta merta menerima lamaran itu sebelum meminta pendapat putrinya terlebih dah...
https://tirto.id/cerita-memburu-kepala-di-nias-cycj Dikisahkan, Awuwukha yang tinggal di sebuah desa bernama Boronadu (sekarang termasuk wilayah Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara) adalah pencetus tradisi mangai binu di Pulau Nias. mangai binu sering pula disebut dengan istilah lokal lainnya, seperti m öi ba dan ö , mofanö ba danö , mangai hög ö , atau mö i emali . Kata emali disematkan kepada orang yang berperan sebagai pemburu kepala manusia macam Awuwukha. Awuwukha menjelma menjadi penjagal kelas kakap lantaran ibu dan 7 saudaranya dibakar hidup-hidup di kediaman mereka oleh sekelompok orang dari desa lain. Para pengacau itu juga membakar lumbung padi milik Laimba, orang yang paling dihormati di desa. Awuwukha yang datang terlambat dan melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa rumahnya telah terbakar bersama dengan...