idak seperti layaknya goa alam lain yang berlokasi di tempat terpencil, Goa Akbar yang merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Tuban berada tepat di bawah pasar rakyat. Keunikan goa dan muatan sejarah yang terkandung di dalamnya, menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke tempat wisata ini. Di goa dengan lintasan sepanjang 1,2 kilometer itu, pengunjung akan mendapatkan suasana yang sangat berbeda. Mushola Goa Akbar Pada sisi lain dari dalam gua terdapat sebuah ruangan yang bisa digunakan oleh pengunjung yang beragam islam untuk melakukan ibadah sholat. Bagian ini memiliki lantai dasar gua yang telah dilapis keramik warna putih dan hitam sebagai penanda barisan sholat. Beberapa tempat di Gua Akbar dipercaya sebagai tempat Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang pernah bertapa. Seperti ceruk yang diberi nama Pasepen Koro Sinandhi, yaitu tempat pintu yang dirahasiakan. Diceritakan, konon Sunan Bonang mengetahui goa ini karena diajak Sunan...
Dalam perjalanan sejarah Kabupaten Tuban tidak bisa dipisahkan oleh sepak terjang Adipati Ronggolawe dan kuda tunggangannya yang diberi nama Gagak Rimang pada masa itu, yang sekarang menjadi simbol Kabupaten Tuban. Konon, nama Rangga Lawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya karena berkaitan dengan penyediaan 27 ekor kuda dari Sumbawa sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang -raja Kediri. Ada juga yang menjelaskan arti Rangga berarti ksatria / pegawai kerajaan dan Lawe merupakan sinonim dari wenang, yang berarti "benang", atau dapat juga bermakna "kekuasaan" atau kemenangan. Peradaban masyarakat Tuban tidak lepas dari konsep magis, sakral, relegius yang menjiwai kehidupan, menyisakan banyak cerita, dongeng, mitos dan legenda juga apapun namanya, di setiap sudut kawasan di Kabupaten Tuban. Konon yang tersebar secara turun-temurun dari bahasa verbal antar masyarakat, masih dipercayai sebagian masyarakat sampai sekar...
Sri Huning adalah seorang putri di Kadipaten Tuban. Memiliki dua orang kakak, Raden Wiratmoyo dan Raden Wiratmoko. Nah, Sri Huning dan R Wiratmoyo ini sebenarnya saling mencintai, namun berusaha mengabaikan perasaan tersebut karena mereka tahu kalau mereka itu adik dan kakak . Akan tetapi, pada suatu hari Ibunda Wiratmoyo menceritakan pada putranya, bahwa sebenarnya Sri Huning itu anak angkat, ayah Sri Huning adalah pejuang kadip aten yang gugur bersama Adipati Ranggalawe (yang notabene adalah kakek dari Wiratmoyo) pada saat terjadi pertikaian politik nan berdarah di kalangan interen Majapahit, sehingga Sri Huning cilik yang belum mengerti apa-apa lantas diasuh oleh keluarga kadipaten. Wiratmoyo pastinya amat sangat bahagia mendengar cerita tersebut, dan menceritakannya kembali pada Sri Huning. Mereka lantas bergegas menemui ayahanda mereka, sang Adipati Tuban. Namun, sayang sekali mereka terlambat. Adipati yang belum mengetahui perasaan mereka terlanjur meminang putri...
Watu Tulis yang terletak di Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebenarnya sebuah menhir. Dinamakan Watu Tulis karena terdapat guratan-guratan berpola pada batunya, yang dalam anggapan masyarakat mirip dengan tulisan Jawa, sekalipun pada kenyatannya tidak. Bahannya sendiri terbuat dari batu kapur-padas, atau biasa disebut batuan lokal daerah Tuban. Lokasi Watu Tulis boleh dibilang terpencil sehingga sulit dicari. Apalagi tidak ada penunjuk arah. Sebelum mencapai batu ini, pengunjung akan mendaki semacam bukit kecil tepat di belakang sendang. Batu ini tidak terletak di puncak bukit, melainkan tepat di bawah sumber mata air utama sendang tersebut. Tepat di bawah lokasi Watu Tulis terdapat sendang yang berair dingin dan juga sumber mata air panas yang mengandung belerang. Menyeberangi jalan, terdapat tumpukan batu yang mengeluarkan gas belerang. Tumpukan batu ini sangat disakralkan oleh masyarakat karena dianggap tempat Mpu Supo dalam me...
Nama ‘Tuban’ berasal dari singkatan kata m etu banyu (bahasa Jawa), yaitu nama yang diberikan oleh Raden Arya Dandang Wacana (seorang Adipati) pada saat pembukaan hutan Papringan yang tidak sengaja pada saat itu keluar sebuah mata air. Sumber air ini sangat sejuk meski terletak di pantai utara pulau Jawa. Mata air tadi tidak bergaram, tidak seperti kota pantai lainnya. Dulunya, Tuban bernama Kambang Putih. Sudah semenjak abad ke-11 sampai abad ke-15 dalam berita-berita para penulis cina, Tuban disebut sebagai salah satu kota pelabuhan utama di utara Jawa yang kaya dan banyak penduduk Tionghoanya. Orang Cina menyebut Tuban dengan nama Duban atau nama lainnya adalah Chumin. Pasukan Cina-Mongolia (Tentara Tartar), yang pada tahun 1292 datang dan menyerang Jawa bagian Timur (kejadian yang menyebabkan berdirinya Kerajaan Majapahit) mendarat di pantai Tuban. Dari sana pula lah sisa-sisa tentara meninggalkan pulau Jawa untuk kembali ke negaranya (Graaf, 198...
Sunan Bonang atau Maulana Makhdum adalah salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Dia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri Adipati Tuban bernama Arya Teja, dan juga merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW. Banyak cerita mengenai karomah dan kesaktian yang dimiliki Sunan Bonang salah satunya dapat merubah pohon aren menjadi pohon emas saat sang sunan bertemu dengan muridnya yaitu Raden Said atau yang dikenal sebagai Berandal Lokajaya. Kelak Berandal Lokajaya dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Selain itu dikisahkan, Sunan Bonang pernah menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat. Suatu ketika Sunan Bonang sedang berjalan melintasi hutan, Dalam perjalanan itu tiba-tiba dicegat oleh sekawanan perampok pimpinan Kebondanu. Pada waktu dicegat oleh K...
Kwan Sing Bio di Jalan RE Martadinata, Kabupaten Tuban, mulai bersolek. Klenteng tertua ini siap menyambut datangnya tahun baru Imlek 2566. Bangunan berlantai empat yang ada di bagian belakang merupakan bangunan terbesar yang ada di klenteng ini, dari lantai atas kita dapat melihat sebagian besar area klenteng. Selain dapat melihat keindahan dan kemegahan klenteng, kita juga dapat melihat laut lepas yang ada di sebelah utara. Kelenteng Kwan Sing Bio menganut ajaran Tri Dharma yaitu Budha, Tao dan Konghucu dengan pemujaan pada dewa utamanya yaitu Dewa Kwan Kong. Selaras dengan arti nama Kwan Sing Bio yang berarti kelenteng untuk memuja dan menghormati Dewa Kwan Kong. Kelenteng Kwan Sing Bio ini adalah satu-satunya kelenteng di Indonesia yang menghadap ke laut. Jika di kelenteng-kelenteng lain yang menjadi simbol di pintu masuknya adalah naga, maka simbol di pintu masuk Kelenteng Kwan Sing Bio ini tidak menggunakan simbol...
Dalam Babad, Legenda, Cerita Rakyat maupun sejarah tidak pernah ada yang menyinggung asal usul nama Trenggalek. Cerita Rakyat yang berkembang selama ini hanya mengisahkan Kepahlawan dari Bupati Trenggalek Menaksopal dan Ketampanan Putra Bupati Trenggalek sehingga Suminten anak dari Warok Surogentho sampai tergila-gila. Ada salah satu pendapat yang menjabarkan arti Trenggalek sebagai Terang Ing Galih (Terang di Hati), namun menurut penulis pendapat ini tidak mempunyai sisi Historis apapun dilihat dari sudut pandang Tata Bahasa, Sosiologi maupun Geografi dari wilayah Trenggalek itu sendiri. Selama ini hanya ada satu pedoman untuk menyingkap asal usul nama Trenggalek yaitu makam mantan Bupati/Tokoh yang bernama Setono Galek. Namun tidak ada Catatan atau Cerita darimana Tokoh ini berasal dan mengapa bernama Setono Galek pun orang Trenggalek sendiri sepertinya tidak ada yang tahu arti nama i...
Kabupaten Trenggalek termasuk kabupaten kecil di Jawa Timur yang ha-nya mempunyai sedikit sejarah. Dalam sebuah sumber Sejarah dari sedikit yang ada di Kabupaten Trenggalek disebutkan bahwa sebenarnya sejak jaman Raja Air-langga, sudah ada penduduk atau pedagang – pedagang Islam di Jawa. Namun pe-nyebaran Agama Islam lebih intensif sejak jaman para wali, yang didukung oleh Kerajaan / Kesultanan Demak. Agama Islam yang disebar secara halus dan hati – hati ini nampak jelas pada penyebaran Agama Islam di Trenggalek. Sayangnya, sampai saat ini tidak ada dokumen tertulis yang menyebutkan tentang penyebaran Agama Islam di Trenggalek. Yang sudah ditemukan hanya cerita rakyat yang sa- ngat terkenal di Daerah Trenggalek, yang diceritakan secara lisan dan turun temu-run. Yaitu tentang cerita dari seorang tokoh terkenal di Kabupaten Trenggalek yang bernama Menak Sopal.(-,-:111) Sedangkan untuk menyusu...