Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Cerita Rakyat Jawa Timur Tuban
Gagak Rimang Kuda Ronggolawe
- 12 Juli 2018

Dalam perjalanan sejarah Kabupaten Tuban tidak bisa dipisahkan oleh sepak terjang Adipati Ronggolawe dan kuda tunggangannya yang diberi nama Gagak Rimang pada masa itu, yang sekarang menjadi simbol Kabupaten Tuban.

Konon, nama Rangga Lawe sendiri merupakan pemberian Raden Wijaya karena berkaitan dengan penyediaan 27 ekor kuda dari Sumbawa sebagai kendaraan perang Raden Wijaya dan para pengikutnya dalam perang melawan Jayakatwang -raja Kediri. Ada juga yang menjelaskan arti Rangga berarti ksatria / pegawai kerajaan dan Lawe merupakan sinonim dari wenang, yang berarti "benang", atau dapat juga bermakna "kekuasaan" atau kemenangan.

Peradaban masyarakat Tuban tidak lepas dari konsep magis, sakral, relegius yang menjiwai kehidupan, menyisakan banyak cerita, dongeng, mitos dan legenda juga apapun namanya, di setiap sudut kawasan di Kabupaten Tuban. Konon yang tersebar secara turun-temurun dari bahasa verbal antar masyarakat, masih dipercayai sebagian masyarakat sampai sekarang, bahkan jika terus kebiasaan tersebut berjalan dengan baik akan tetap terjaga selamanya.

Legenda yang berkembang menceritakan bahwa saat awal mula membuka tlatah atau kawasan Tuban pada zaman Mojopahit dahulu terjadilah perebutan kekuasan, terjadi perselisihan dahsyat antara Kebo Anabrang dan Lembu Suro untuk memimpin Kadipaten Tuban. Perselisihan yang sudah sampai pada pertarungan fisik atau adu kesaktian berjalan berpindah-pindah tempat, namun yang paling seru terjadi di sekitaran Desa Beron Kecamatan Rengel. Di tengah perselisihan tersebut munculah Adipati Ronggolawe selanjutnya berselisih dengan Kebo Anabrang, sehingga perselisihan hebat terjadi antara Kebo Anabrang dan Adipati Ronggolawe. Seperti yang dipercaya masyarakat Adipati Ronggolawe identik dengan kendaraan tunggangannya berupa kuda yang diberi nama Gagak Rimang.
Pertarungan adu kesaktian tersebut terjadi berlangsung berhari-hari, sehingga pada suatu saat kuda tunggangan Adipati Ronggolawe tumbang terbunuh di kawasan Desa Trutup, yang sekarang bernama Talunrejo. Petilasan kuburan jaran (kuda) tersebut terdapat persis di tepi jalan Tuban – Bojonegoro Km 20 dan 5m dari garis tepi jalan Propinsi. Kondisinya sangat memprihatinkan, tepat berada di bawah rumpun pohon bambu dibatasi oleh batangan kayu yang sudah dimakan rayap dikerubungi semak perdu. Di sisi lain tempat petilasan itu sangat dekat dengan kegiatan usaha pembakaran gamping sehingga nampak debu putih menempel menutupinya.

Menurut Pak Abdul (80 th) warga sekitar yang kebetulan memecah batu-batuan untuk bahan bangunan di dekat tempat petilasan kuburan kuda, “Saya masih sering melihat tempat ini diziarahi orang dan biasanya dilakukan pada malam hari.“ Dari tempat tersebut juga memang banyak ditemukan bekas sesaji antara lain, dupa, ceceran bunga dan botol-botol minyak. “Katanya para peziarah, di sini mempunyai yoni (kekuatan ghaib) yang sangat besar, juga banyak misteri benda-benda pusaka yang tidak tampak. “Pengunjung tempat tersebut kebanyakan dari luar daerah, ada yang dari dalam Kabupaten Tuban maupun luar Kabupaten seperti Bojonegoro, Lamongan dan sekitarnya.

Sumber: https://www.kaskus.co.id/thread/5747c0fd32e2e695758b4569/gagak-rimang-kuda-ronggolawe/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Naskah Nusantara • Sunda Kuno Kidung Lakbok Kisah Kerajaan Banjarpatroman, Ramalan Abadi, dan Kelahiran Wayang Kila Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring.   📜 Sejarah dan asal-usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menja...

avatar
Gulamerah
Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

📜 KIDUNG LAKBOK & WAYANG KILA Kidung Lakbok Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. Sejarah dan Asal-Usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menjadi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai Rawa Lakbok hingga saat ini. Rama...

avatar
Gulamerah
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
#cara membatalkan pinjaman (artha niaga)
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Langkah Awal Hubungi Costumer Service Melalui WhatsApp Di Nomor📲(0813•3056•2323) Atau (0821•1212•730). Siapkan Ktp, Jelaskan Alasan Pembatalan Pinjaman Lalu Ikuti Instruksi Yg Diberikan Oleh Costumer Service Untuk Proses Pembatalan Pinjaman.

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu