Watu Tulis yang terletak di Desa Dermawuharjo, Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sebenarnya sebuah menhir. Dinamakan Watu Tulis karena terdapat guratan-guratan berpola pada batunya, yang dalam anggapan masyarakat mirip dengan tulisan Jawa, sekalipun pada kenyatannya tidak. Bahannya sendiri terbuat dari batu kapur-padas, atau biasa disebut batuan lokal daerah Tuban.
Lokasi Watu Tulis boleh dibilang terpencil sehingga sulit dicari. Apalagi tidak ada penunjuk arah. Sebelum mencapai batu ini, pengunjung akan mendaki semacam bukit kecil tepat di belakang sendang. Batu ini tidak terletak di puncak bukit, melainkan tepat di bawah sumber mata air utama sendang tersebut.
Tepat di bawah lokasi Watu Tulis terdapat sendang yang berair dingin dan juga sumber mata air panas yang mengandung belerang. Menyeberangi jalan, terdapat tumpukan batu yang mengeluarkan gas belerang. Tumpukan batu ini sangat disakralkan oleh masyarakat karena dianggap tempat Mpu Supo dalam membuat keris. Cerita rakyat yang beredar mengatakan Mpu Supo membuat keris sekaligus mewarangi kerisnya di lokasi tersebut. Banyak orang percaya bahwa tempat tersebut memiliki tuah yang bisa mendatangkan kejayaan.
Menhir
Menhir adalah salah satu peninggalan kebudayaan megalitikum. Menurut R. Soekmono kebudayaan megalitikum menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Pada masa itu manusia telah menggunakan batu-batu besar untuk membangun berbagai jenis kebudayaan (Soekmono,1973: 72).
Dalam A History of Western Art dijelaskan, menhir adalah batu tunggal, biasanya berukuran besar, yang ditatah seperlunya sehingga berbentuk tugu dan biasanya diletakkan berdiri tegak di atas tanah. R.P. Soejono, dkk (1990) dalam buku Jaman Prasejarah Di Indonesia menyebutkan, menhir adalah sebuah batu tegak dikerjakan atau tidak untuk memperingati orang yang sudah meninggal dunia.
Dalam Sejarah Nasional Indonesia I, menhir didefinisikan sebagai batu tegak atau batu panjang yang didirikan tegak; berfungsi sebagai peringatan dalam hubungannya dengan pemujaan leluhur (Soejono, 1984: 321). Menurut Ayu Kusumawati dan Haris Sukendar dalam bukunya Megalitik Bumi Pasemah, Peranan dan Fungsinya (2000), menhir mempunyai bermacam-macam bentuk, polos dan dipahatkan berbagai hiasan. Dalam perkembangannya, menhir mempunyai fungsi dan peranan yang beragam sebagai tanda kubur dan tonggak untuk penyembelihan binatang korban dalam suatu upacara.
Kondisi Watu Tulis ini sedikit pecah di sisi kiri bagian atas. Orientasinya menunjuk ke arah utara-timur laut. Hal yang sangat umum ditemui dalam budaya megalitik jika suatu benda atau bangunan menghadap ke arah puncak gunung atau tempat tinggi lainnya ataupun laut. Masyarakat pada waktu tersebut beranggapan jika tempat-tempat tersebut adalah tempat bersemayamnya roh nenek moyang. Mereka pun percaya jika seseorang meninggal dunia, maka ia pergi bersama arwah nenek moyangnya. Lengkungan pada batu dianggap sebagai arah penunjuk jalan untuk mencapai tempat tujuan yang dimaksud, yaitu puncak yang tinggi ataupun lautan. Demikian Soejono dan Yondri dalam tulisannya.
Demikian pula dengan Watu Tulis ini. Orientasinya yang menghadap arah utara-timur laut, kemungkinan menghadap arah puncak bukit tertinggi atau laut utara. Kedua tempat ini terletak di arah yang ditunjuk oleh sudut kemiringan menhir tersebut. Namun menurut pendapat penulis, karena puncak bukit tertinggi terletak di Bukit Ngandong yang berlokasi di arah barat daya dari menhir ini, maka menhir ini berorientasi ke laut utara. Hal ini berhubungan dengan kondisi masyarakat Jawa sebagaimana yang dijelaskan oleh Geertz dalam The Religion of Java.
Menurut Geertz, konsep agama dalam masyarakat Jawa merupakan sistem simbol yang bertindak untuk memantapkan perasaan-perasaan dan motivasi secara kuat, menyeluruh, dan bertahan lama pada diri manusia. Itu dilakukan dengan cara memformulasikan konsepsi-konsepsi suatu hukum yang berlaku umum berkenaan dengan eksistensi manusia dan menyelimuti konsepsi-konsepsi ini dengan suatu aura tertentu yang mencerminkan kenyataan. Dengan demikian perasaan-perasaan dan motivasi-motivasi tersebut nampaknya secara tersendiri adalah nyata.
Konsep kehidupan dan kematian
Masyarakat Jawa dalam menilai suatu simbol, bukan hanya sebagai suatu benda. Melainkan sebagai suatu yang hidup yang memiliki arti, fungsi, dan peranan yang juga diartikan sebagai sebuah perlambang yang diberikan oleh Sang Hyang Ingkang Murbeng Dumedi sebagai pengingat dalam hidup. Laut dalam beberapa kebudayaan memiliki arti penting utamanya terhadap konsep kehidupan dan kematian. Dalam agama Hindu, pelarungan abu jenazah ke laut lepas dianggap dapat membebaskan dari lingkaran Dharma-Karma sehingga memungkinkan untuk mencapai kesempurnaan yang mengangkatnya menuju nirwana. Laut dipandang sebagai asal muasal sekaligus akhir dari sebuah kehidupan. Orientasi watu tulis apabila benar-benar menghadap ke laut utara, dapat juga dihubungkan dengan pentingnya laut utara sebagai sumber mata pencaharian masyarakat pesisir pantai Utara Jawa.
Berdasarkan penelitian terhadap masa prasejarah di Indonesia khususnya dalam tradisi budaya megalitik, banyak ditemukan menhir-menhir yang mengalami perubahan fungsi. Salah satunya adalah perubahan fungsi menhir menjadi tempat pengikatan kurban (kerbau) yang akan disembelih pada saat upacara pemakaman (Harun Kadir, “Aspek Megalitik di Toraja, Sulawesi Selatan”, dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi I, Cibulan, 1977). Selain itu, ada juga di beberapa daerah menhir difungsikan sebagai tempat untuk memutuskan hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan hukuman atau lambang dari kepala suku atau kepala adat, sebagai tanda yang berkaitan dengan kegiatan penguburan. Menhir yang berfungsi sebagai tanda penguburan antara lain dapat ditemukan di Ngada, Flores. Di situs tersebut, menhir dijadikan tanda penguburan yang bersifat plural. Setiap menhir yang didirikan, menurut Haris Sukendar, sangat berkaitan erat dengan jumlah orang yang dikuburkan.
Watu Tulis, dalam perkembangannya masih digunakan sebagai sarana untuk berdoa oleh masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan masih terdapatnya sisa-sisa bunga, dupa, dan juga seikat padi. Masyarakat Desa Dermawuharjo percaya, agar panen yang mereka dapat bisa melimpah, maka “sowan” atau berkunjung dengan memberikan sesaji di Watu Tulis sangat diperlukan. Jumlah menhir yang hanya satu, menunjukkan indikasi bahwa dulunya watu tulis ini juga digunakan sebagai sarana peribadatan, pemujaan, atau lainnya yang berhubungan dengan aspek religi dan spiritualitas. Masyarakat menganggap, melalui Watu Tulis ini hajat atau keinginan yang mereka ucapkan dapat terlaksana. Artinya, Watu Tulis bukan hanya menjadi sebuah tonggak batu tegak yang didirikan sebagai alat pemujaan terhadap roh leluhur pada zaman sebelumnya, tetapi telah memasuki ranah spiritualitas manusia dengan menumbuhkan keyakinan dan semangat terhadap kehidupan.
Sumber: https://hurahura.wordpress.com/2017/01/16/watu-tulis-peninggalan-kebudayaan-megalitikum-di-tuban/
Langkah Awal Hubungi Costumer Service Melalui WhatsApp Di Nomor📲(0813•3056•2323) Atau (0821•1212•730). Siapkan Ktp, Jelaskan Alasan Pembatalan Pinjaman Lalu Ikuti Instruksi Yg Diberikan Oleh Costumer Service Untuk Proses Pembatalan Pinjaman.
📜 KIDUNG LAKBOK & WAYANG KILA Kidung Lakbok Kidung Lakbok adalah sebuah karya sastra lama berbentuk prosa naratif atau puisi naratif dalam bahasa Sunda yang menceritakan tentang sejarah dan legenda Kerajaan Banjarpatroman. Kerajaan tersebut dipercaya pernah berdiri di wilayah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Naskah ini sempat nyaris hilang, kemudian ditulis ulang dan dilestarikan kembali pada tahun 2013 melalui publikasi daring. Sejarah dan Asal-Usul Menurut naskah Kidung Lakbok, Kerajaan Banjarpatroman mengalami masa kejayaan sebelum akhirnya runtuh akibat perang saudara atau perebutan kekuasaan. Peristiwa tersebut dianggap sebagai dosa besar yang menimbulkan kutukan. Akibat perbuatan tersebut, turunlah azab berupa bencana alam besar, seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir bandang. Kerajaan yang dahsyat itu akhirnya tenggelam dan berubah menjadi rawa-rawa luas yang dikenal sebagai Rawa Lakbok hingga saat ini. Rama...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Langkah Awal Hubungi Costumer Service Melalui WhatsApp Di Nomor📲(0813•3056•2323) Atau (0821•1212•730). Siapkan Ktp, Jelaskan Alasan Pembatalan Pinjaman Lalu Ikuti Instruksi Yg Diberikan Oleh Costumer Service Untuk Proses Pembatalan Pinjaman.
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...