Kwan Sing Bio di Jalan RE Martadinata, Kabupaten Tuban, mulai bersolek. Klenteng tertua ini siap menyambut datangnya tahun baru Imlek 2566. Bangunan berlantai empat yang ada di bagian belakang merupakan bangunan terbesar yang ada di klenteng ini, dari lantai atas kita dapat melihat sebagian besar area klenteng.
Selain dapat melihat keindahan dan kemegahan klenteng, kita juga dapat melihat laut lepas yang ada di sebelah utara. Kelenteng Kwan Sing Bio menganut ajaran Tri Dharma yaitu Budha, Tao dan Konghucu dengan pemujaan pada dewa utamanya yaitu Dewa Kwan Kong. Selaras dengan arti nama Kwan Sing Bio yang berarti kelenteng untuk memuja dan menghormati Dewa Kwan Kong.
Kelenteng Kwan Sing Bio ini adalah satu-satunya kelenteng di Indonesia yang menghadap ke laut. Jika di kelenteng-kelenteng lain yang menjadi simbol di pintu masuknya adalah naga, maka simbol di pintu masuk Kelenteng Kwan Sing Bio ini tidak menggunakan simbol naga.
Di bagian atas gerbang itu terdapat hiasan seekor kepiting yang berukuran cukup besar. dengan bentuknya yang khas, akan menyambut pengunjung sebelum mereka memasuki kelenteng. Di bagian atas gerbang. Hiasan kepiting ini menjadi Simbol pintu masuk Kelenteng seolah-olah menjadi ikon Kelenteng Kwan Sing Bio.
Ada banyak kisah klasik dari negeri Tiongkok. Salah satunya adalah Legenda Delapan Dewa (Pat Sian). Kisah ini ditampilkan dalam banyak versi mulai dari film, buku cerita, komik, game, teater dan sebagainya. Selain itu ada juga yang menampilkan kisah legendaris itu dalam bentuk relief seperti yang ada di Kelenteng Kwan Sing Bio di Kota Tuban, Jawa Timur.
Dalam bahasa Mandarin disebut Ba Xian berasal dari mitologi Taoisme dan termasuk dewa dewi terkenal dalam kisah klasik Tionghoa. Mereka adalah simbol keberuntungan bagi masyarakat Tionghoa. Masing-masing dewa mewakili 8 kondisi kehidupan.
Legenda Delapan Dewa adalah salah satu tema favorit dari seniman-seniman Tiongkok dan kebanyakan menjadi objek yang digambarkan dalam keramik dan porselen. Mereka juga banyak muncul dalam literatur Tiongkok.
Ke delapan dewa tersebut adalah: Zhong Li Quan, Li Tie Guai, Lü Dong Bin, Zhang Guo Lao, He Xian Gu, Lan Cai He,Han Xiang Zi, Cao Guo Jiu
Dewa Zhong Li Quan Pemimpin 8 DewaDewa tertua kedua dalam Legenda Delapan Dewa , selain itu Zhong Li Quan juga pemimpin mereka.Ia memiliki kipas dari daun palem yang dapat membangkitkan orang mati.
Dewa ini memiliki nama famili yang unik dan sangat jarang yaitu Zhong Li. Saat ia lahir, suatu cahaya yang sangat menyilaukan menerangi kamarnya. Sejak itu, ia tidak berhenti menangis sampai tujuh hari setelah kelahirannya.
Diceritakan Zhong Li Quan bertemu dengan seorang pendeta Tao di hutan yang setelah diminta, memeberikan resep untuk menjadi dewa. Tidak lama setelah meninggalkannya, Zhong Li Quan hendak melihat gubuk pendeta itu untuk terakhir kalinya dan terkejut saat mendapati gubuk tersebut telah lenyap.
Li Tie Guai Dewa Tongkat BesiLi Tie Guai berarti “Li si Tongkat Besi” merupakan salah satu anggota Legenda Delapan Dewa . Li Tie Guai disimbolkan dengan botol labu dan tongkat besi.
Sebentuk asap keluar dari ujung botolnya, melambangkan hun atau jiwanya, yang tidak berbentuk, atau berbentuk miniatur dirinya.
Walaupun dikenal pemarah, Li sangat murah hati terhadap kaum miskin, orang sakit dan mereka yang membutuhkan pertolongan. Ia menolong mereka dengan botol cupu labu yang selalu dibawanya.
Pada malam hari, Dewa Tongkat Besi merubah ukuran tubuhnya sekecil mungkin agar bisa tidur di dalam botol labunya.
Lü Dong Bin, Dewa Penolong dan Pembasmi Roh-Roh Jahat.Dewa ini sering dipanggil dengan sebutan Shun-yang. Shun-yang adalah salah satu dari Legenda Delapan Dewa.
Di tangan kanannya sering membawa kebutan suci pendeta Tao. Simbol Lu Dongbin adalah pedang Pembunuh Roh Jahat dan dengan gerakan terbang yang cepat.
Konon diceritakan bahwa saat Lü Dong Bin lahir, tercium harum seisi rumah, juga alunan musik merdu dari langit dan lintas sinar putih yang masuk ke dalam ruangan melalui tirai kamar pada saat ibu-nya tengah melalui masa persalinan.
Sebelum mempelajari Tao, Zhong li Quan menguji Lu Dong bin dengan berbagai ujian berat, ia berhasil melewati semuanya. Lu Dong bin dapat dikatakan sebagai salah satu Dewa yang paling populer dari Legenda Delapan Dewa . Ia dianggap sebagai penolong orang miskin dan pembasmi roh-roh jahat.
Zhang Guo Lao, Penunggang Keledai Ajaib,Dewa yang di juluki “si tua Zhang Guo” adalah salah satu dari Legenda Delapan Dewa , Ia senang membuat minuman dari tanaman dan tumbuhan obat.
Anggota Delapan Dewasenang minuman buatannya yang dipercaya mengandung obat penyembuh.
Selain penjelmaan dari kelelawar putih, ia menunggangi keledai ajaib. Keledai ini di yakini dapat berjalan ribuan mil per hari secara terbalik (menghadap ke belakang). Keledai dewa ini dapat dilipat seperti kertas dan disimpan di dalam sakunya. Untuk mengembalikannya, cukup diperciki air segenggam penuh.
Biasanya ia membawa bulu burung phoenix atau buah tho (buah panjang umur). Simbol dari Zhang Guo Lao adalah tambur ikan, sebuah instrumen yang mampu menghasilkan suara bising. Salah satu yang paling eksentrik dari Delapan Dewa, ada jurus kungfu yang dibuat untuk menghormatinya, seperti tendangan saat salto ke belakang, dan kayang hingga bahu menyentuh tanah.
He Xian Gu Dewi KeberuntuunganDi kenal sebagai “Dewi He“, He Xian Gu merupakan salah satu anggota wanita dari Legenda Delapan Dewa . berasal dari keluarga kaya dan dermawan di daaerah Zengcheng, Guangdong.

sejak lahir memiliki enam rambut panjang di kepalanya. Saat ia berumur 14 tahun, sebentuk roh muncul di hadapan He Xian Gu yang menyuruhnya untuk menggerus batu mika menjadi bubuk dan meminum larutannya.
Larutan tersebut akan menguapkan partikel-partikel tubuhnya dan menjadikannya abadi. Dewi He mengikuti perintah tersebut dan memperoleh hidup abadi. Tak lama kemudian He Xian Gu mampu terbang dari satu gunung ke gunung lainnya, memetik bunga dan buah-buahan untuk ibunya. Lama kelamaan ia sudah tidak perlu makan lagi.
Suatu saat Ratu Wu memanggilnya tetapi di perjalanan ia menghilang dan berubah menjadi dewi pada masa Qing Long. menurut legenda Suatu hari pada periode Long Jing (sekitar 707 CE), He Xian gu terbang ke langit
 di siang hari, dan menjadi Dewa Tao.
Simbol dari He Xian Gu adalah bunga teratai yang dipercaya dapat mengembalikan kesehatan fisik dan mental seseorang. Ia digambarkan membawa bunga teratai dan sheng(instrumen musik). Acapkali ia juga ditemani seekor burung fenghuang dan membawa serta irus bambu atau tongkat sabutan.
Lan Cai He Dewa Bergaun Biru Lusuh, Pelindung Para PujanggaDewa Bergaun Biru Lusuh adalah salah satu dari Legenda Delapan Dewa Asal-usul Lan Cai He seringkali digambarkan sebagai seorang anak laki-laki namun dalam beberapa naskah maupun cerita, ia juga sering digambarkan sebagai seorang anak perempuan. Satu hal yang menjadi ciri khas-nya tersendiri adalah keranjang bambu penuh dengan bunga.
Dewa yang suka menggunakan gaun biru lusuh ini sering aneh dan eksentrik, dikenal sebagai dewa pelindung para pujangga, memiliki lirik lagu yang dapat memprediksi kejadian masa depan secara akurat. Dia terbang meninggalkan dunia dengan angsa langit atau burung bangau pergi ke langit.
Menurut legenda pernah suatu hari ketika berada di sebuah kedai, ia diduga bangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum berangkat pergi dia melepaskan pakaiannya dan terbang dengan burung bangau atau angsa pergi ke langit.
Han Xiang Zi Dewa Seruling Kehidupan Pencinta KesunyianDewa ini seorang filsuf, Han Xiang Zi merupakan salah satu anggota dari Legenda Delapan Dewa . Han Xiang Zi sepupu dari Han Wên Kung..
Han Xiang belajar Taoisme di Pengadilan Tang di bawah bimbingan Lu Dongbin.
Pada suatu perjamuan dengan Han Yu, Han Xiang membujuk Han Yuuntuk melepaskan kehidupan birokrasi dan ikut memperdalam ajaran Tao. Tapi Han Yu tetap pada pendiriannya dan sebaliknya mengatakan bahwa Han Xiang harus memberikan hidupnya untuk Taoisme, bukan Konghucu, jadi Han Xiang menunjukkan kemampuan Tao yang dia pelajari.
Dewa Pencinta Kesunyain ini menuangkan anggur kedalam cangkir demi cangkir dari labu miliknya tanpa berhenti. Karena serulingnya dapat memberikan kehidupan, maka Han Xiang juga disebut pemain seruling pemberi perlindungan. Han Xiang Seorang pecinta kesunyian, mewakili orang ideal yang senang tinggal di tempat alamiah.
Han Xiang zi sering menyusuri desa sambil meniup seruling dengan merdu sehingga menarik perhatian burung-burung dan binatang lainnya. Han Xiang zi tidak mengenal nilai uang dan bila diberi uang akan dia sebarkan di tanah.
Cao Guo Jiu Dewa Batu GiokDewa terakhir dari Delapan Dewa, Cao Guo Jiu adalah adik laki-laki dari ibu salah seorang raja Dinasti Sung. Dia ditampilkan dengan pakaian pejabat resmi dan butiran batu giok.
Kadang-kadang ia terlihat memegang alat musik. keajaiban butiran batu gioknya adalah dapat memurnikan lingkungan.
Cao Guojiu adalah paman dari seorang Kaisar pada zaman Dinasti Song, yaitu adik terkecil dari janda Ibu Suri Cao. Adik Cao Guojiu, Cao Jingzhi adalah pengganggu, tapi tak ada yang berani menuntut dia karena koneksi yang kuat, bahkan setelah dia membunuh seseorang.
Cao Guojiu begitu kewalahan oleh kelakuan adiknya, merasa sedih dan malu. Akhirnya ia mengundurkan diri dari kantornya dan kembali pulang. Suatu hari Zhongli Quan dan Lu Dongbin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao. “Apakah itu dan dimanakah itu?”, mereka balik bertanya. “Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian ke hatinya”.
Daftar Pustaka
Sumber: https://athisa88.wordpress.com/2015/02/20/legenda-delapan-dewa-klenteng-kwan-sing-bio/
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...