HARI PAHLAWAN
244 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Sejarah Gunung Purba Nglanggeran
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Daerah Istimewa Yogyakarta

Pada ratusan tahun yang lalu, konon terdapat sebuah desa yang hampir seluruh penduduknya adalah seorang petani. Mereka seringkali mengadakan pertunjukan seni sebagai penawar lelah setelah seharian bekerja di ladang. Pada suatu hari, mereka mengundang seorang dalang terkenal pada masa itu sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen besar yang baru saja diperoleh warga desa. Semua warga desa bergotong royong untuk menyiapkan pertunjukan wayang kulit yang sangat mereka nanti-nantikan itu. Akan tetapi, ada salah satu warga desa yang dengan sengaja memainkan salah satu wayang kulit si dalang. Saking senangnya, ia melakukan tindakan ceroboh hingga merusak wayang kulit tersebut. Mengetahui wayang kulitnya telah dirusak, dalang tersebut murka dan mengutuk seluruh warga desa menjadi wayang kulit lalu dibuang ke Bukit Nglanggeran. Nglanggeran sendiri berasal dari kata nglanggar atau melanggar. Penamaan tersebut dikait-kaitkan dengan kisah-kisah mistis dan kisah kemurkaan seorang dalang...

avatar
OSKM_16918052_[Siti] Farahdina
Gambar Entri
Tradisi Apeman
Ritual Ritual
Daerah Istimewa Yogyakarta

    Tradisi Apeman Tradisi Apeman ini adalah gabungan dari unsur keagamaan dan adat kesenian budaya orang jawa. Acara ini diadakan setiap menjelang datangnya bulan suci ramadhan, tradisi ini memiliki makna sebagai permohonan ampun kepada Tuhan Yang Maha ESA, saling meminta maaf lahir batin antar umat muslim sebelum datangnya bulan suci ramadhan, sebagai   bentuk dari rasa syukur atas rizki bagi  umat muslim di yogyakarta dan unrtuk mendoakan para leluhur terdahulu. Pertama-tama tradisi ini dilakukan untuk ruwatan yaitu mendoakan para   tokoh-tokoh agama islam   terdahulu, seperti para kiyai-kiyai besar, para leluhur desa, dengan mengadakan   pengajian bersama, lalu masyarakat membersihkan makam para kiyai   dan anak cucu keturunannya  serta para leluhur desa dengan   pandu oleh juru kunci makam tersebut untuk   memperingati hari meninggalnya. Setelah membersihkan makam, dilanjutkan denga...

avatar
OSKM18_16818107_kimberlita qatrunnada
Gambar Entri
Manis dan Gurih yang Menggetarkan Lidah
Makanan Minuman Makanan Minuman
Daerah Istimewa Yogyakarta

Kota Jogjakarta, disebut juga kota pelajar, kota seni dan budaya, kota keraton, dan banyak sebutan lainnya. Tapi ada satu sebutan yang sangat menarik perhatian. Kota gudeg? Apakah makanan tersebut sungguh mendarah daging di Kota Yogyakarta sehingga membuat Kota Yogyakarta disebut demikian? Jawabannya adalah ya! Di tempat kelahirannya, makanan yang sangat khas ini merajalela di seluruh penjuru Jogjakarta. Di pinggir jalan, restoran tenda, sampai ke restoran yang bernama pasti ada makanan yang satu ini di Jogja. Tapi sebenarnya apa sih gudeg itu? Gudeg adalah makanan khas Jogja yang terbuat dari buah nangka yang direbus dalam santan dan gula kelapa selama beberapa jam. Hasilnya adalah nangka yang berwarna coklat kemerahan dengan rasa manis bercampur gurih yang sangat cocok dengan lidah masyarakat Jawa pada umumnya. Tentu saja gudeg tidak dimakan begitu saja. Gudeg seringkali disajikan dengan nasi putih, opor ayam, telur rebus, dan rebusan kulit sapi segar dan diberi sambal yang be...

avatar
OSKM_16018049_Jason Herdy
Gambar Entri
Budaya Berbahasa Pasemon dalam Sehari-hari
Ritual Ritual
Daerah Istimewa Yogyakarta

Hidup tanpa ada yang menasehati dijamin akan terasa kurang akan sesuatu, hidup ini tidaklah selalu berada diatas, tidak selalu benar dan tanpa kesalahan atau kekurangan yang harus diperbaiki. Untuk memperbaiki hal tersebut orang terdekat dari kita biasa menasehati kita agar kesalahan tersebut tidak diulangi kedepannya dan dapat merubah kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  Menurut pengalaman pribadi, orang yang biasa menasehati kita ialah sang ibu. Ibu bagaikan seorang guru yang dapat menasehati kita dengan cara-cara yang tak menyakiti hati namun tetap dapat tercapai tujuannya. Ibu penulis merupakan seorang wanita yang tumbuh besar di keluarga dengan adat jawa yang kental akan budaya menasehati dengan sindiran halus yang dinamai oleh pasemon.  Pasemon merupakan istilah yang digunakan dalam masyarakat jawa untuk menasehati ataupun menyindir seseorang untuk mengingatkannya jika ia dirasa sudah bertindak diluar etika. Bahasa pasemon biasa digunakan sejak jaman d...

avatar
OSKM18_ 16618390_Rifqi Asyraf Wardono
Gambar Entri
Keindahan Hutan Pinus Mangunan
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Yogyakarta, kota indah nan damai yang memiliki banyak tempat wisata didalamnya. Salah satu tempat tujuan wisata yang dapat memanjakan mata adalah Hutan Pinus Mangunan. Tempat ini berada di Desa Mangunan Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul, 24 km dari pusat kota Yogyakarta, dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Pada mulanya hutan pinus ini hanyalah wilayah hutan yang dikelola oleh Perhutani, RPH Mangunan. Namun keberadaannya mulai dikenal sejak bermunculan foto-foto keindahan hutan pinus tersebut. Deretan pohon pinus yang tumbuh dengan rapi membuat pengunjung tertarik untuk mengunjunginya dan perlahan-lahan dibuka menjadi kawasan wisata oleh masyarakat sekitar. Di Hutan Pinus Mangunan, terdapat jalan setapak yang akan digunakan pengunjung untuk menyusuri keindahan hutan ini. Tak hanya menyajikan cantiknya deretan pohon pinus, pengelola juga menyediakan beberapa fasilitas yang dapat digunakan oleh pengunjung, antara lain: 1.     Tempat Outbond...

avatar
OSKM18_19718092_Rani Candra
Gambar Entri
Bale Sigala-gala
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Daerah Istimewa Yogyakarta

Raden Pinten dan Raden Tangsen adalah ksatria kembar. Kembar rupa, suara, maupun pakaian. Itulah sebabnya mereka sering dipanggil dengan sebutan “Kembar”. Keduanya putra Prabu Pandudewanata (Raja Hastina) dengan Dewi Madrim, putri dari Negeri Mandaraka (adik Raden Narasoma/Prabu Salya). Raden Pinten dan Raden Tangsen merupakan bagian dari Pandawa, menempati urutan keempat dan kelima. Urutan selengkapnya sebagai berikut Raden Dwijakangka, Raden Bratasena, Raden Premadi, Raden Pinten, Raden Tangsen. Pandawa dari akar kata Pandu + Hawa, artinya Putra Pandu. Dalam lakon Bale Sigala-gala, usia Pinten dan Tangsen masih kanak-kanak. Mereka telah ditinggal wafat ayah dan ibunya. Selanjutnya mereka dalam asuhan Dewi Kuntitalibrata. Meskipun bukan anak kandungnya, namun Dewi Kunti sangat menyayangi mereka seperti menyayangi anak sendiri. Sepeninggal Prabu Pandu, negara Hastina diperintah oleh Prabu Destarata. Prabu Destarata ini berputra seratus orang yang disebut Kurawa....

avatar
OSKM18_16418025_Fredericus
Gambar Entri
Padang Bulan
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Daerah Istimewa Yogyakarta

"Yo, poro konco dolanan ning jobo Padang mbulan, padange koyo rino Rembulane sing ngawe-awe Ngelingake ojo podo turu sore"   Puluhan tahun yang lalu, kata-kata diatas selalu dinyanyikan anak-anak kecil di daerah Jogja setiap bulan purnama. Arti dari lirik lagu tersebut secara harfiah adalah hal-hal yang ingin disampaikan oleh anak-anak tersebut. Anak-anak itu mengajak teman-temannya untuk bermain pada malam purnama (padang bulan) karena malam terasa sangat terang seperti ada matahari. Mereka girang karena akhirnya malam pun tak terlalu gelap, tak lagi gelap karena belum adanya listrik yang mengalir di kampung mereka sehingga bisa bermain berlarian di lapangan luas bersama teman-teman pada malam hari. Mereka berkata pada teman-teman mereka, 'Bulannya manggil tuh, jadi jangan pada tidur sore!' agar teman-teman mereka bisa bermain pada malam itu.   Sumber: Wawancara kepada Safuroh, ibu 51 tahun yang sempat merasakan permaina...

avatar
Sekaradinia
Gambar Entri
Rebo Pungkasan
Ritual Ritual
Daerah Istimewa Yogyakarta

          Rebo Pungkasan adalah tradisi masyarakat desa Wonokromo yang diselenggarakan pada hari rabu terahir bulan sapar (Nama bulan kedua dalam kalender jawa) dengan simbol utama Lemper ( Makanan tradisional ) raksasa dengan panjang 2,5 meter dan diameter 90 cm yang diarak setelah pembacaan doa oleh bupati Bantul menuju Balai Desa Wonokromo yang jaraknya kurang lebih 1 kilometer.Lemper raksasa tersebut diangkat oleh 4 orang menggunakan tandu dan diiringi oleh prajurit Bregade Lombok Abang ( prajurit kraton yogyakarta, namun dalam perayaan ini hanya masyarakat yang menyerupai bregade lombok abang ), kemudian dibelakangnya disusul oleh pasukan oncor ( orang yang membawa obor tradisional ), lalu dibelakangnya ada gunungan yang berisi hasil bumi masyarakat, dan paling belakang ada iring-iringan kesenian tradisional dari masyarakat seperti drum band prajurit kraton, drum band masyarakat, hadroh, dan lain-lain.Setelah Lemper Raksasa sampai di Balai Desa Wonokrom...

avatar
OSKM_1661818267_fatikhul ikhsan
Gambar Entri
Asal Mula Tradisi Klothekan
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Daerah Istimewa Yogyakarta

Tradisi Klotekan ini berasal dari Tanah Jawa dan Bali yang dilakukan dengan memukul lesung, kentongan dan/atau batang pohon kelapa pada saat gerhana bulan atau Matahari. Tradisi ini sudah mulai luntur, namun masih dilakukan di Gunungkidul, Jogjakarta. Seperti yang dituturkan oleh sesepuh dari Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Mbah Jo, "Masyarakat disini percaya tentang fenomena gerhana matahari dan bulan ialah adanya raksasa yang memakan matahari,". "Kami mempersiapkan teropong dan kentongan untuk melestarikan tradisi dari nenek moyang ini. Tradisi ini dapat dimaknai dari sisi budaya, bahwa nenek moyang memiliki budaya yang kaya. Salah satunya tradisi kentongan ini," ujar Mbah Jo. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu terdapat sesosok raksasa atau masyarakat Jawa biasa menyebutnya dengan sebutan 'Buto' yang bernama Kala Rahu. Kala Rahu merupakan anak dari Dewi Sinhika dan Maharsi Kasyapa. Rahu dengan Bathara Wisnu adalah satu ayah beda ibu sehing...

avatar
OSKM18_16418158_VIGO DENIS RADESTIAN