Tradisi Klotekan ini berasal dari Tanah Jawa dan Bali yang dilakukan dengan memukul lesung, kentongan dan/atau batang pohon kelapa pada saat gerhana bulan atau Matahari. Tradisi ini sudah mulai luntur, namun masih dilakukan di Gunungkidul, Jogjakarta. Seperti yang dituturkan oleh sesepuh dari Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Mbah Jo, "Masyarakat disini percaya tentang fenomena gerhana matahari dan bulan ialah adanya raksasa yang memakan matahari,". "Kami mempersiapkan teropong dan kentongan untuk melestarikan tradisi dari nenek moyang ini. Tradisi ini dapat dimaknai dari sisi budaya, bahwa nenek moyang memiliki budaya yang kaya. Salah satunya tradisi kentongan ini," ujar Mbah Jo.
Diceritakan bahwa pada zaman dahulu terdapat sesosok raksasa atau masyarakat Jawa biasa menyebutnya dengan sebutan 'Buto' yang bernama Kala Rahu. Kala Rahu merupakan anak dari Dewi Sinhika dan Maharsi Kasyapa. Rahu dengan Bathara Wisnu adalah satu ayah beda ibu sehingga keduanya masih memiliki hubungan darah. Dari hasil pernikahannya dengan Maharsi Kasyapa, Dewi Sinhika memiliki 4 orang putra yakni Sucandra, Candrahantri, Candrapramardana dan yang terakhir adalah Rahu.
Rahu sangat benci sekali dengan Bathara Surya(Dewa Matahari) dan Bathara Soma(Dewa Bulan). Saking bencinya tak jarang Matahari dan Bulan sering dimakan Rahu yang telah abadi dengan bentuk berupa kepala raksasa. Kebencian Rahu terhadap kedua dewa tersebut berawal dari pengaduan keduanya kepada dewa wisnu yang menyebabkan leher rahu terpotong dan abadi dengan hanya memiliki kepala saja tanpa badan maupun kaki tangan.
Disebutkan pada suatu hari berkumpulah para dewa untuk meminum air keabadian yang bernama “Tirta Amreta.” Melihat hal itu Rahu yang memiliki wujud raksasa menjelma menjadi dewa agar dapat meminum “Tirta Amreta” dengan harapan kekal abadi seperti yang di alami oleh para dewa. Setelah Rahu berganti wujud menjadi dewa dengan percaya diri si raksasa besar ini ikut berkumpul bersama para dewa. Seluruh dewa saat itu tidak menyadari bahwa sesungguhnya Rahu adalah raksasa bukan dewa. Rahu berhasil menipu seluruh dewa dan dapat meminum “Tirta Amreta.”
Baru seteguk Tirta Amreta yang diminumnya, dua dewa yakni dewa Matahari dan dewa Bulan kemudian menyadari bahwa Rahu sejatinya bukanlah dewa melainkan raksasa. Mengetahui hal tersebut keduanya memberitahu dewa Wisnu bahwa Rahu adalah raksasa. Dengan gerak secepat kilat, dewa Wisnu mengeluarkan senjata cakra dan melemparkannya ke arah leher Rahu hingga cakra tersebut memotong habis leher Rahu. Kini tubuhnya terbelah menjadi dua bagian yaitu kepala dan badan. Hal tersebut dilakukan oleh dewa Wisnu agar Tirta Amreta tidak masuk kedalam tubuh rahu yang tergolong Asura atau kalangan bukan dewa melainkan raksasa. Namun apa yang dilakukan oleh dewa Wisnu ternyata sudah terlambat. Tirta Amreta ternyata telah diminum dan telah sampai di tenggorokan Rahu. Kepala Rahu yang telah tersentuh Tirta Amreta tetap abadi dan mengembara ke angkasa sedang badannya mati dan jatuh ke Bumi hingga suaranya bagaikan gunung yang longsor.
Kebencian Rahu terhadap dewa Matahari dan Bulan muncul setelah kepalanya terpenggal akibat pengaduan kedua dewa tersebut. Rahu yang hanya berwujud kepala raksasa tanpa tubuh dapat terbang ke angkasa dan akan selalu mengejar-ngejar Bulan dan Matahari. Jika Matahari dan Bulan tertangkap maka tak segan-segan Rahu akan langsung memakannya dan hal inilah yang menyebabkan adanya gerhana.
Menurut cerita rakyat yang telah turun temurun (Gugon tuhon), Saat leher Rahu di tebas oleh dewa Wisnu tubuh Rahu jatuh ke tanah dan berubah menjadi lesung. Sejak saat itu orang-orang pada zaman dahulu meyakini bahwa dengan memukul lesung berkali-kali sama halnya seperti memukul-mukul tubuh atau perut Rahu. Karena perutnya dipukuli, kepala Rahu yang sedang memakan Bulan atau Matahari mendadak menjadi pusing mabuk kepayang dan masyarakat berharap agar sesegera mungkin Rahu memuntahkan kembali Bulan atau Matahari yang baru dimakannya sehingga Bulan atau Matahari bersinar kembali seperti sedia kala.
Selain menggunakan lesung masyarakat Jawa juga menggunakan kentongan dan memukul batang pohon kelapa untuk menciptakan bunyi bunyian. Ketika gerhana telah usai masyarakatpun berhenti memukul lesung dan kentongan sebagai tanda bahwa Rahu/batara kala telah memuntahkan Bulan maupun Matahari. Selain nama “Rahu”, masyarakat jawa juga sering menyebut raksasa ini sebagai Bathara Kala namun bukan Bathara Kala putra bungsu dari Sanghyang Manikmaya.
Sebagai bangsa Indonesia khususnya yang berasal dari Jawa dan Bali, sudah seharusnya kita melestarikan tradisi yang sudah mulai pudar ini. Pelestarian budaya ini perlu dilakukan supaya anak cucu kita nantinya dapat menikmati warisan budaya nenek moyang ini.
#OSKM2018
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...
Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...