Budaya Indonesia
213 entri ditemukan

Entri per provinsi
Entri per provinsi

Entri Terkait

Gambar Entri
Perpetu
Ritual Ritual
Nusa Tenggara Timur

Bagi umat Katolik di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, perayaan Paskah bukan hanya peringatan Hari Kebangkitan Isa Al Masih bagi umat Kristen. Namun juga merupakan ritual agama yang memadukan ritual ibadah dan adat, sebuah perayaan budaya. Bukan hanya jemaat dari desa-desa di Larantuka yang menikmati perayaan itu. Peziarah dari penjuru nusantara yang lain dan turis mancanegara pun datang untuk menyaksikan kemeriahan ritual Paskah di Larantuka. Menjelang acara puncak Semana Santa pada Jumat (14/4), umat di Kapela Tuhan Meninu, Kelurahan Sarotari, menggelar ritual Perpetu. Ritual ini memiliki arti, petugas Mardomu pada tahun sebelumnya yang tetap melayani Tuhan dengan membakar lilin di dalam gereja. "Semua ibu-ibu tidur di kapela/gereja sampai jam 03.00 WIB subuh. Nanti dilanjutkan dengan upacara Trewa dengan membunyikan lonceng dan disambut oleh warga dengan segala macam bunyian sebagai lambang mulai berkabung," ujar Sekretaris panitia Semana Santa, Mikael Mige Sakera ke...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Ritual Cium Tuan
Ritual Ritual
Nusa Tenggara Timur

Ribuan peziarah dari seluruh Indonesia, umat Katolik di Kabupaten Flores Timur, bahkan mana negara, sejak Kamis Putih (13/4/2017), mendatangi Kapela Tuan Ma, Tuan Ana dan Tuan Meninu di Kota Larantuka, serta Kapela Tuan Berdiri di Wure pulau Adonara. Sesaat setelah keturunan Raja Larantuka bersama Uskup Larantuka membuka Kapela Tuan Ma dan melakukan ritual Cium Tuan, peziarah dan umat yang antri dipersilahkan melaksanakan ritual tersebut. Saat ditemui Cendana News di Kapela Tuan Ma, Kamis (13/4/2017), Veronika Susanti, seorang peziarah asal Jakarta mengatakan, ia bersama rombongan tiba di Larantuka sejak Selasa (11/4/2017)  sore dan mulai mengikuti ritual Trewa di hari Rabu serta ikut dalam ritual Cium Tuan. “Saya mengetahui Semana Santa di Kota Larantuka dari teman-teman di Gereja Katedral, Jakarta, yang sebelumnya sudah pernah ziarah ke sini, sehingga kami tertarik dan datang dengan rombongan,” ujarnya. Veronika mengaku sangat tertarik dengan ritual sela...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Desa Adat Gurusina
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Kampung Gurusina berada di Desa Watumanu, Kecamatan Jerebu, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tepatnya di lereng Gunung Inerie.   "Desa ini berada di kaki gunung Inerie yang sangat indah. Alam pegunungan ini sangat memukau," papar Marius Ardu Jelamu, Kepala Dinas Pariwisata NTT, saat dihubungi kumparanTRAVEL , Selasa (14/8). Sedikit menengok kebelakang, dahulu tahun 1934 desa megalitikum ini berada di puncak sebuah gunung. Kala itu, kampung ini ditemukan oleh seorang misionari Belanda.   "Baru tahun 1942 pindah ke tempatnya yang sekarang," jelasnya.   Kampung ini dihuni oleh tiga marga yang berbeda, yaitu Ago ka'e, Ago gasi, dan Kabi. Semuanya masih berhubungan darah dan keluarga.   Yang jadi daya tarik dari kampung ini karena rumah adatnya yang unik. 33 rumah adat itu semuanya terbuat dari bambu dan beratap alang-alang....

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Desa Tololela
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Waktu yang tepat untuk ke Desa Tololela adalah ketika sore hari. Pemandangannya akan semakin indah, kamu bisa melihat langit yang memerah dan pepohonan memesona. Jangan khawatir kemalaman, karena di sini ada fasilitas tempat menginap dan makanan. Kamu bisa berkenalan dengan warga setempat dan ikut memasak bersama mereka. Setelah itu makan bersama dan menikmati cita rasa khas Flores yang mantap di lidah. Objek wisata budaya ini bisa ditempuh dengan trekking selama 1 jam dari Desa Bena. sumber: https://travelingyuk.com/desa-adat-flores/94386/ #SBJ

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Gunung Inerie
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Nusa Tenggara Timur

Pastilah semua belum mengenal gunung Inerie yang satu ini namun bagi masyarakat Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur pastilah sudah mengenal gunung yang tingginya 2.200 m ini. Ketika melihat gunung ini di tepi jalan menuju wisata adat Bena akan timbul suasana yang amat berbeda di mana akan dibawa ke masa lampau dengan adat dan budaya yang masih kental yang bayak ditemui situs pra sejarah seperti megalitikum batu-batu besar yang menjadi tempat persembahan untuk acara upacara adat. Kembali lagi dengan gunung Inerie yang menjadi ikon kota Ngada ini sungguh menakjubkan dengan mengandung banyak sejarah terkandung di dalamya. Bahkan terkadang di zaman modern seperti saat ini banyak para kaum muda sama sekali tak mengerti akan sejarahnya dari gunung Inerie memang para tetua adat pastinya mengerti tetapi bagi kalangan muda jika tak memahami sama halnya tak mencintai tanahnya sendiri apalagi nenek moyangnya sendiri. Bahkan sebagai pelancong terkadang hanya suka melihat keindahan alamnya da...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Desa Tenda
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Desa Tenda merupakan salah satu desa di Kabupaten Ende, Yang masih bertahan hingga sekarang ini. Desa ini terletak 50 km dari kota Ende yaitu di kecamatan wolojita, desa ini memiliki banyak keunikan serta nuansa budayanya masih sangat tradisional dan terdapat beberapa peninggalan sejarah seperti  Kuburan Kuno,megalik, Rumah adat tradisional, Gading Gajah dan lain sebagainya. Pada umumnya Masyarakat desa ini berprofesi sebagai petani karena Desa ini terletak di bawah kaki gunung Kelibara yang membuat daerah ini sangat subur. Desa Tenda terletak di kaki gunung Kelimutu di ketinggian 500 – 1500 mdpl bagian barat dari pusat kecamatan Wolojita, dengan kondisi alam yang terdiri dari perbukitan dan lembah dengan curah hujan tinggi 4 – 5 bulan dan suhu sekita 25 – 30 derajat celcius. Secara geografis wilayah Desa Tenda berbatasan langsung dengan dengan Gunung Kelibara (Taman Nasional Gunung Kelimutu). Jumlah Penduduk Desa Tenda adalah 814 jiwa (laki-laki 375, pere...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Kampung Adat Ruteng Pu'u
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Nusa Tenggara Timur

Kampung tradisional Ruteng Pu’u terletak di Kelurahan Golo Dukal, merupakan desa tua dengan halaman bundar yang dikelilingi batu tersusun rapi dan di tengah kampung terdapat Compang (mezbah/altar) sebagai tempat peletakan persembahan saat upacara adat. Mbaru gendang, rumah tempat tinggal setiap klen dan tempat menyimpan gong dan gendang terletak ditengah kampung. Dikelilingi pepohonan rindang (haju Ruteng) sehingga nenek moyang menamainya Beo Ruteng Pu’u. Tiga sumber air mengapitnya yakni, Wae Lideng, Wae Moro, dan Wae Namut. Dulu nenek moyang orang Manggarai tinggal di dalam gua dan di bawah pohon-pohon besar. Setelah membuat rumah, mereka menamainya “Mbau ru (rumah sendiri) yang artinya rumah karya sendiri. Konon, Selama berlangsungnya pekerjaan menyusun batu mengelilingi halaman atau compang, diharapkan agar tidak boleh bersuara. Apabila tengah berlangsung pekerjaan, tiba-tiba ada suara manusia / bunyi-bunyian lain, maka pekerjaan itu tidak dapat dil...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Tari antama
Alat Musik Alat Musik
Nusa Tenggara Timur

Tarian antama merupakan tradisi turun-temurun yang sudah dilakukan masyarakat di daerah itu. Tarian ini mengisahkan tentang perburuan hewan yang sudah jadi budaya masyarakat Rai Belu. Tarian Antama (berburu) yang dibawakan 1.500 penari memukau para wisatawan dan tamu yang hadir dalam Festival Fulan Fehan. Tarian berdurasi satu jam tersebut mempertontonkan salah satu kekhasan masyarakat tradisional Belu berburu di hutan. Kebiasaan itu membudaya hingga diabadikan dalam tarian Antama. Ragam tarian menggambarkan orang berburu mulai dari bergegas menuju hutan hingga menikmati hasil buruan. Drama tarian Antama cukup memukau, sehingga menarik dan menyedot perhatian hadirin Festival Fulan Fehan. “Ini acara yang sangat menakjubkan. Betapa tidak, di batas negara ternyata ada tarian yang sangat menarik seperti ini. Ini sebuah pertunjukkan tarian kolosal yang secara nasional maupun internasional bisa ditampilkan,” kata Dubes RI untuk Timor Leste, Sahat Sitorus di Ful...

avatar
Deni Andrian
Gambar Entri
Badu
Ritual Ritual
Nusa Tenggara Timur

HARI, Rabu, 6 Januari 2016, tepat pukul 07.30 Wita, hand phone digenggamanku berdering. Ketika saya buka, ada satu pesan watshap yang masuk melalui grup MAMPU-Migrant CARE yang dikirim Wahyu Susilo, kolega yang saat ini bekerja sebagai analis kebijakan di Migrant CARE Jakarta. Pada pesan watshap itu, Wahyu menginformasikan soal lomba penulisan pariwisata yang dihelat Kementrian Pariwisata (Kemnpar). Meski tidak ditujukan khusus kepada saya, namun ketika membaca pesan itu, saya tertarik untuk melihatnya lebih jauh di alamat situs www.beritamonoter.com yang dikirimnya. Naluri jurnalistikku mulai bangkit. Ku telusuri informasi melalui situs web yang ada. Kubaca satu demi satu berita tentang lomba penulisan pariwisata . Usai membaca, saya kemudian memutuskan untuk ikut terlibat dalam lomba ini. Setidaknya ada dua alasan memutuskan mengikuti lomba. Pertama, saya memiliki bakat menulis dan pernah bekerja di beberapa media penerbitan sebelum akhirnya memutuskan untuk banting setir dan...

avatar
Deni Andrian