Margala merupakan salah satu jenis permainan anak yang dilakukan oleh anak-anak etnis Batak di daerah Kawasan Danau Toba. Permainan ini dikategorikan juga sebagai salah satu jenis olah raga tradisonal. Permainan ini mengandalkan kerjasama tim, mengandalkan kecepatan kaki dan pikiran untuk mengatur strategi mengalahkan lawan. Ada sebagian daerah Toba provinsi Sumatera Utara menamakannya Marcabor. Mirip dengan permainan galasin, atau disebut juga galah asin atau gobak sodor di beberapa daerah lain. Permainan margala menuntut kegesitan setiap para pemainnya. Pasalnya permainan ini apabila tersentuh oleh lawan main maka ia langsung kalah. Selain itu dituntut pula kekompakan antara pemainnya karena saat permainan dilangsungkan biasanya tidak terjadinya komunikasi. Permainan ini terdiri dari dua kelompok, setiap kelompok yang menjaga ibarat membaca arah gerak par a lawannya, layaknya orang menghitung strategi dan peluang yang ingin diciptakan, maka seperti itulah hakikat permainan...
Tradisi Kenduri Laut adalah salah satu tradisi tahunan yang sering dilakukan masyarakat pesisir di Pulau Sumatera, salah satunya di daerah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil laut yang mereka dapatkan. Selain sabagai upacara adat, Tradisi Kenduri Laut ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan yang datang kesana. Karena selain dilakukan acara ritual yang bersifat sakral, tradisi ini kemudian juga dimeriahkan dengan berbagai acara seperti perlombaan, pertunjukan dan acara hiburan lainnya. Asal Usul Tradisi Kenduri Laut Tradisi Kenduri Laut ini merupakan salah satu tradisi warisan budaya masyarakat pesisir di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Tradisi sejenis juga banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai sumatera lainnya, namun masyarakat Tapanuli Tengah memiliki caranya sendiri untuk melaksanakan kenduri laut ini. Dilihat dari letak geografisnya, Tapanuli Tengah sendiri...
Di Tapanuli Utara ada menu ikan mentah yang sudah jadi tradisi puluhan tahun. Naniura berasal dari bahasa Batak yang artinya ikan tidak dimasak. Naniura tidak dimasak menggunakan panas api melainkan matang dengan bumbu. Asam jungga yang digunakan mampu mematangkan daging ikan, bersifat antimikroba serta menjadi sumber prebiotik bagi saluran pencernaan. Ikan yang digunakan untuk membuat naniura harus berjenis ikan air tawar. Itu berkaitan dengan Danau Toba yang airnya merupakan air tawar. Kendati disajikan mentah, menu bernama Naniura ini tidak memiliki aroma amis khas ikan. Bahkan sensasinya mirip salad ikan yang segar. Naniura disajikan dengan cara disiram bumbu halus berwarna kuning. Daging ikan dimatangkan dengan merendamnya dalam cairan asam jungga dari perasan jeruk limau. Menu ini adalah salah satu makanan khas Tapanuli Utara yang dapat ditemui di Danau Toba, Medan, dan Pematang Siantar. Dulunya, naniura hanya disajikan pada raja-raja Batak, sekara...
Natinombur terbuat dari ikan bakar yang disajikan dengan kuah kental penuh bumbu. Kata dasar natinombur adalah tombur, arti harafiah tombur adalah basah atau berair. Bentuk kata kerja dari tombur adalah manombur yang artinya membasahi atau mengairi. Kata ini bisa digunakan untuk banyak konteks termasuk konteks makanan. Oleh karena itu, manombur dalam konteks kuliner sesungguhnya lebih tepat diartikan menguahi (memberi kuah atau membuat makanan berkuah). Natinombur secara harafiah berarti makanan yang dibasahi atau dikuahi. Namun banyak juga yang menyebut natinombur adalah ikan bakar yang disajikan dengan sambal atau ikan panggang yang dilumuri sambal. Pedasnya cabai rawit dan getirnya andaliman terasa dari natinombur ini. Konon, natinombur adalah makanan para nelayan di Danau Toba yang pergi ke danau. Dari rumah, bumbu-bumbu telah disiapkan, ketika istirahat di tepi pantai si nelayan tinggal membakar ikan lalu menyiramkan bumbu itu ke dalam ikan atau sebaliknya dengan mema...
Awalnya, dengke mas na niura adalah makanan yang hanya disajikan khusus untuk para raja, namun sekarang karena rasanya yang sangat lezat, maka seluruh masyarakat Batak ingin pula menyantapnya. Sesuai dengan namanya, na niura yang berarti mentah atau tidak dimasak (bahasa Batak). Namun, isian dari air jeruk nipis dan garam yang dimasukkan dalam ikan mas dan juga digunakan untuk merendam inilah yang secara otomatis mampu mengubah ikan yang tadinya amis menjadi tidak terasa amis. Setelah itu, rasa unik dari berbagai bumbu yang dilumurkan juga membuat sajian ini begitu dicari, khususnya masyarakat Batak. Dengke ikan mas na niura, jika diperhatikan sekilas akan mirip dengan santapan khas Jepang yaitu sushi, bedanya dengke mas na niura ini disajikan dengan berbagai macam bumbu lengkap khas Batak. Resep dengke mas na niura sangat terkenal dan kini dapat juga dirasakan tidak hanya masyarakat Batak, namun juga seluruh wilayah Indonesia. Bagi kamu yang baru mengenal atau tahu tentang masa...
Sigale-gale adalah boneka kayu yang dibuat untuk membahagiakan Raja Rahat, raja dari salah satu kerajaan di Pulau Samosir. Sigale-gale berawal dari Alkisah, Raja Rahat memiliki putra tunggal bernama Raja Manggale. Sayangnya, sang putra kesayangan gugur di medan perang dan jasadnya tidak ditemukan. Kesedihan karena kehilangan sang putra membuat Raja Rahat sakit. Guna membahagiakan kembali rajanya, para tetua di kerajaan tersebut membuat sebuah patung yang mirip dengan Manggale. Agar patung tersebut ‘hidup’, para tetua itu memanggil roh Manggale yang membuat patung bisa bergerak. Berkat patung tersebut, Raja Rahat pulih dari sakitnya. Sejak saat itu, masyarakat Batak menyebut patung tersebut sebagai Sigale-gale, yang diambil dari nama Manggale. Pertunjukkan Sigale-gale tentu tidak menggunakan roh seperti dimasa lalu. Boneka yang digunakan dalam pertunjukkan, digerakkan menggunakan sistem penggerak mekanis, sehingga boneka bisa menari lincah. T...
Ni'owuru adalah daging babi yang diawetkan dengan menggunakan garam. Daging dioleskan atau ditaburkan dengan garam sebanyak-banyaknya. Semakin banyak garam maka semakin awet pula. Daging tetap awet dan tidak perlu ditaruh dalam kulkas. Cukup ditaruh dalam tempat tertutup seperti dalam baskom atau plastik. Daging ini bisa bertahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun bila tempat penyimpanannya bagus. Soal rasa, pasti bisa ditebak, asin sekali, tapi rasanya tetap rasa daging khas asinnya. Cara pengawetan seperti ini sudah turun temurun di nias sejak dari nenek moyang, karena dulu belum ada freezer atau kulkas sehingga inilah cara orang nias mengawetkan daging. Sebenarnya bukan hanya daging babi saja, bisa juga daging lain seperti daging ayam, ikan, dsb. Tetapi yg sudah menjadi kebiasaan adalah mengawetkan daging babi dengan garam, itulah yang dinamakan ni'owuru, daging babi yang diawetkan dengan garam. Nias adalah...
Bagi penggemar kopi, nama Kopi Lintong tidak asing lagi. Kopi yang berasal dari Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) ini memang sangat popular karena aroma dan rasanya yang khas. Tak heran jika kopi ini sudah ditemukan di banyak coffee shop yang menjamur beberapa tahun belakangan ini di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Kopi ini pun ada di daftar menu sejumlah kedai kopi dengan berbagai konsep di Jakarta. Selain diminati pasar lokal dan nasional, kopi yang merupakan varietas Sigahar Utang, Jember, dan Onan Ganjang ini pun digemari penikmat kopi di berbagai belahan dunia. Selain Asia, Kopi Lintong pun sudah menembus pasar Eropa, dan menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan asli Indonesia. Tidak begitu banyak yang mengetahui sejak kapan kopi jenis Arabika ini dibudidayakan di kawasan Bukit Barisan di Lintong Ni Huta Humbahas. Namun, berdasarkan keterangan sejumlah pengelola kopi, jenis tanaman kebun ini sudah dikembangkan sejak Humbahas masih berada di bawah p...
Manuk sira pege - terjemahan langsungnya adalah ayam garam jahe - adalah sajian tradisional Tapanuli (khususnya dari puak Simalungun) yang semakin langka. Sudah sangat jarang sajian ini muncul - baik sebagai sajian sehari-hari, maupun sebagai sajian khusus pada saat upacara adat. Konon, di masa lalu, ada tradisi bahwa para laki-laki dewasa sebelum berangkat perang harus melakukan upacara makan daging dengan irisan jahe untuk membuat badan lebih hangat dan jiwa pun lebih semangat. Tradisi ini mirip mizu-sake di Jepang - yaitu minum air putih dalam cawan sake - bagi para penerbang kamikaze sebelum melakukan tugas terakhirnya. Dalam salah satu literatur budaya Tapanuli, ditemukan informasi bahwa manuk sira pege adalah sajian hajatan yang dilakukan ketika para pemuda selesai belajar mandihar (semacam silat adat). Pada upacara " graduation ", di atas selembar tikar baru, diletakkan selembar daun pisang dan seekor ayam panggang. Ayamnya harus ayam merah, dikuku...