Acara Lamaran Pernikahan tentunya selalu disertai dengan prosesi "seserahan" dimana pihak calon mempelai pria memberikan barang-barang berupa: alat ibadah, kosmetik, perhiasan, tas atau sekedar buah-buahan kepada pihak calon mempelai wanita. Prosesi ini merupakan simbol bahwa calon mempelai pria sudah mampu menafkahi calon mempelai wanita. Kegiatan ini sudah menjadi ciri khas dari acara lamaran pernikahan di seluruh Indonesia. Begitu pula di Kampung Muara. Selain "seserahan", ada prosesi lain yang harus dilakukan saat lamaran yaitu "bawaan". Tidak jauh berbeda dengan "seserahan", "bawaan" dilakukan dengan memberikan barang-barang dari pihak calon mempelai pria kepada pihak calon mempelai wanita. Yang membedakan kedua kegiatan tersebut adalah jenis barang yang diberikan. Pada prosesi "bawaan", calon mempelai wanita boleh meminta perabotan rumah tangga seperti lemari, kasur, dll. dari pihak calon mempelai pria sesuai kemampuan mereka untuk menunjang kehidupan kedua calon mempelai...
Sudah pernahkah Anda berkunjung ke Kota Jogjakarta? Ada banyak tempat wisata di Kota Pelajar ini. Salah satunya yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Di area Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat suatu area yang luas dan dikenal sebagai alun-alun. Terdapat dua alun-alun yaitu Alun-Alun Lor (Utara) dan Alun-Alun Selatan (Kidul). Pernahkah Anda melihat adanya Pohon Beringin kembar di area Alun-Alun Kidul? Biasanya wisatawan atau pelancong dari luar kota maupun dalam kota mencoba untuk berjalan melintasi kedua Pohon Beringin kembar tersebut dengan mata tertutup kain hitam. Apabila berhasil diyakini bahwa semua permintaan kita akan terkabulkan dan kita dijauhkan dari mara-bahaya. Hal yang mudah? Tentulah tidak. Hanya sedikit orang yang bisa berjalan melintasi kedua Pohon Beringin kembar tersebut. Biasanya orang-orang akan berjalan miring menjauhi lintasan yang seharusnya dilewati. Orang yang berhasil melewati Pohon Beringin kembar tersebut diyakini memiliki hati yang bersih...
Selepas bulan ramadhan yang suci dan penuh berkah,dimana kebanyakan dari masyarakat Muslim melakukan kegiatan keibadahan lebih banyak dibandingkan bulan lainya,Hampir seluruh masyarakat Muslim indonesia menyempurnakanya dengan saling meminta maaf kepada sesama agar kita kembali ke jalan yang benar dan tidak ada lagi dosa yang tertinggal di hati setelah saling berinteraksi selama setahun.Momentum maaf-maafan setelah bulan ramadhan ini biasa disebut Halal Bi Halal. Halal Bi Halal sendiri ternyata merupakan tradisi khas indonesia,bukan merupakan serapan dari Arab maupun belahan dunia manapun.Walau menggunakan bahasa arab,ternyata Halal Bi Halal juga merupakan istilah yang diciptakan oleh Masyarakat indonesia sendiri.Karena secara bahasa,halal bi halal berarti sama sama halal.Memang cukup aneh bila diartikan,namun melalui berbagai pendekatan teori,halal bi halal juga bisa berarti "mendapatkan yang halal dengan halal",atau bisa juga berarti "Halal dibalas dengan halal". Sejarahny...
Dalam kebudayaan Baduy terdapat sistem perkawinan yang cukup aneh, yaitu perkawinan sedarah. Perkawinan harus dilakukan antar sepupu. Pasangan saling dijodohkan oleh kepala suku dan mereka tidak bisa menolak. Usia perkawinan di Baduy biasanya sekitar 15-17 tahun, dan kebanyakan dari pasutri mempunyai anak di umur 20 tahun. Ini merupakan ritual perkawinan Baduy sejak dulu. Seseorang tidak akan kawin apabila ia tidak memiliki sepupu. #OSKMITB2018
Suku Jambak merupakan salah satu dari ratusan suku Minangkabau. Tidak banyak perbedaan antara suku ini dengan suku-suku lainnya. Suku Jambak memukim di daerah magek,Kabupaten Agam dekat dengan bukit tinggi. Suku magek diketuai oleh beberapa orang pemimpin dengan gelar Datuk. Terdapat 15 gelar datuk, yaitu : 1. Datuk Nan Baruso 2. Datuk Rajo Bandaro 3. Datuk Rajo Basa 4. Datuk Panduko 5. Datuk Panduko Tuan 6. Datuk Tumenggung 7. Datuk Rangkayo Basa atau Datuk Rangkayo Nan Basa 8. Datuk Nagari Labiah 9. Datuk Pangulu Basa 10. Datuk Tan Ameh 11. Datuk Rajo Perak 12. Datuk Rajo Mantari 13. Datuk Marajo 14...
Telingaan Aruu adalah tradisi memanjangkan telinga oleh Suku Dayak . Tradisi memanjangkan telinga di kalangan Suku Dayak ini telah lama dilakukan turun temurun. Pemanjangan daun telinga ini biasanya menggunakan pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang dari tembaga yang bahasa kenyah di sebut "Belaong" . Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter. #OSKMITB2018
Suku Minangkabau sebagai suku yang berasal dari Sumatera Barat merupakan suku yang kaya akan adat istiadat dan budaya luhur, tak jarang banyak wisatawan dan orang luar minangkabau yang sengaja datang ke minangkabau hanya untuk menyaksikan upacara adat minangkabau, salah satunya adalah upacara turun mandi. upacara turun mandi merupakan upacara sebagai bentuk rasa syukur kepada tuhan yang maha esa terhadap kelahiran seorang bayi. Hingga saat ini upacara turun mandi masih dipertahankan dan dilestarikan oleh para masyarakat minangkabau. tujuan dari upacara turun mandi adalah untuk memperkenalkan bayi yang baru lahir sebagai keturunan minangkabau kepada masyarakat dan juga sebagai ajang sang ibu untuk keluar pertama kali dari rumah pasca pemulihan setelah melahirkan. dalam prosesinya, sebelum menyelenggarakan upacara turun mandi banyak hal yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan, salah satunya mengenai hari yang tepat dalam penyelenggaraan, jika bayi laki-laki, maka pen...
Tradisi ini merupakan rangkaian upacara pemakaman "Rambu Solo". Tau-Tau dijalankan dengan melakukan prosesi pembuatan patung kayu yang dipahat. Patung tersebut merupakan perwujudan orang yang telah meninggal. Jadi tidak heran bila patungnya pun berbentuk seperti orang yang baru saja meninggal dan akan dimakamkan dengan upcara "Rambu Solo". Pembuatan patung membutuhkan waktu cukup lama karena harus melalui beberapa ritual sebelum akhirnya diletakkan di makam orang yang meninggal. Namun, pembuatan Tau-Tau tidak bisa dilakukan oleh banyak masyarakat Toraja pada ritual pemakaman Rambu Solo. Dana yang begitu besar perlu dikeluarkan karena membutuhkan tenaga yang banyak dan proses panjang. Dahulu hanya kaum bangsawan yang bisa menjalani tradisi Tau-Tau ini. Saat ini proses pembuatan Tau-Tau sudah semakin mudah.Dahulu alat membuat Tau-Tau ialah alat pahat yang berasal dari tanduk kerbau. Namun, sekarang pembuatan tau-tau menggunakan alat pahat dari besi. Jika dulu raut muka hanya...
Kota Kotamobagu merupakan salah satu kota di Provinsi Sulawesi Utara. Kota ini sendiri memiliki beberapa kebudayaan yang sangat unik, tetapi jarang orang ketahui tentang keberadaannya. Salah satu kebudayaan Kota Kotamobagu adalah ritual yang bernama Ritual Monuntul. Ritual Monuntul merupakan ritua yang dilaksakan oleh warga setempat setiap tahun dengan cara memasang lampu sesuai dengan jumlah jiwa penghuni rumah di Kotamobagu. Ritual Monuntul ini dilakukan oleh warga setempat karena mereka percaya bahwa cahay merupakan sumber kehidupan, dalam arti memasang lampu sama dengan memberikan cahaya penerangan dalam kehidupan. Pada zaman sebelumnya, orang percaya bahwa terkadang pada malam hari saat cahaya bulan sudah menghilang, mereka memasang lampu untuk penerangan jalan. Seiring berkembangnya zaman, lampu yang digunakan untuk melakukan tradisi Monuntul ini mengalami perubahan. Dahulu, warga Kota Kotamobagu membuat lampu dari berbagai jenis bambu kecil, obor, atau damar dengan...