Lokasi : Kabupaten Wonogiri, terutama daerah Kecamatan Sidoharjo, Jatisrono (Wonogiri timur dan selatan)
Deskripsi: Ritual Dhanyangan adalah suatu kegiatan yg dilakukan oleh masyarakat sebagai respons terhadap lingkungan hidup mereka. Tentu saja hal ini berkaitan erat dengan latar belakang budaya, kepercayaan dan nalar tradisional yg telah diturunkan oleh leluhur mereka. Daerah kabupaten wonogiri, terutama bagian selatan dan timur merupakan daerah karst (kapur), dengan tebal tanah subur yg hanya sekitar 10-70 cm. Akibatnya secara umum tidak banyak sumber air yg dapat ditemui. Untungnya ada beberapa spesies pohon tertentu yg bisa hidup dengan baik di daerah ini seperti beringin, jati, kluwih, cendana dll. Pd beberapa spesies mampu berakar sangat baik, menembus lapisan kapur dan mampu menahan kelembaban tanah sedemikian rupa sehingga bisa memunculkan mata air. Oleh masyarakat sekitar dipercaya fenomena ini sebagai fenomena spiritual. Pohon yg mampu memunculkan mata air dianggap ada semacam roh/spirit/lelembut yg menghuni. Apalagi bila ada beberapa fenomena yg biasanya tak terjelaskan oleh nalar umum, yg terjadi berkaitan dengan pohon tsb. Oleh masyarakat pohon ini disebut pohon yg mempunyai Dhanyang, atau dihuni oleh suatu entitas spiritual.
Ritual dhanyangan dilakukan ketika masyarakat menemukan ada suatu pohon yg di sekitarnya muncul mata air. Setelah diputuskan oleh musyawarah yg melibatkan pemuka masyarakat, akan ditentukan hari pelaksanaan ritual. Pada hari yg ditentukan, masyarakat datang ke lokasi pohon. Membawa sesaji seperti tumpeng (nasi yg disusun seperti gunung, berikut lauk pauknya), ingkung (ayam yg dimasak utuh) dll. Setelah masyarakat berkumpul, dilakukan doa bersama yg intinya meminta kesejahteraan utk masyarakat, khususnya agar mata air yg muncul dapat mencukupi kebutuhan masyarakat. Setelah itu lokasi disekitar pohon dan mata air diberi pagar. Pemagaran ini bisa bersifat sementara maupun permanen. Kegiatan diakhiri dengan makan bersama.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara