Makanan Minuman
Makanan Minuman
Tradisi Makan Bali Karangasem
Megibung
- 8 April 2015

Bali punya tradisi makan yang unik. Megibung merupakan tradisi turun-temurun yang berlangsung sejak abad 17. Dalam tradisi Megibung, satu paket makanan dimakan bersama-sama oleh beberapa orang. 

Megibung berasal dari kata gibung yang mendapat awalan me- (melakukan suatu kegiatan). Gibung berarti kegiatan dilakukan banyak orang, dimana saling berbagi satu dengan lainnya. Saat berlangsung megibung, orang-orang akan duduk makan bersama sambil bertukar pikiran, berbagi cerita hingga bersenda gurau.

Tradisi ini dilakukan masyarakat Karangasem yang terletak di ujung timur Bali. Megibung sudah menjadi tradisi masyarakat Karangasem dalam melakukan upacara keagamaan, adat ataupun kegiatan sehari-hari. Baik masyarakat beragama Hindu maupun Islam, ikut menjalankannya. Misalnya saat pernikahan, perayaan pura, acara tiga bulanan, ngaben hingga Maulid Nabi. Perbedaan terletak pada bahan untuk lauk pauknya. 

Megibung awalnya diperkenalkan Raja Karangasem, I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem, sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Saat itu ia melakukan perjalanan untuk menaklukan raja-raja di Lombok. Ketika sedang beristirahat dari peperangan, raja menganjurkan prajurit makan bersama dalam posisi melingkar. Ini untuk meningkatkan motivasi prajurit agar tetap berjuang dan pantang menyerah. Konon raja pun ikut serta makan bersama prajurit saat Megibung. 

Ada beragam hidangan yang disebut Gibungan tersaji untuk Megibung. Salah satunya babi yang diolah menjadi sate, lawar, komoh, gegubah, pepesan dan lannya. Selain babi, daging ayam, kambing atau sapi juga bisa dipakai sebagai sajian.

Biasanya megibung mulai berlangsung sebelum tamu undangan pulang. Mereka diajak makan sebagai tanda terima kasih atas kedatangan dan bantuan dalam keberlangsungan suatu acara. Selain itu, bertujuan juga untuk menjalin keakraban dan kekeluargaan. 

Dalam melaksakan Megibung ada aturan umum yang berlaku. Sebelum makan, tamu membentuk sela atau kelompok dari lima sampai delapan orang. Mereka duduk bersila dalam lingkaran. Tiap kelompok dipimpin seorang pepara yang bertugas menuang nasi dan lauk dalam wadah.

Nasi disajikan dalam satu wadah (nare besar). Pelengkap lauknya berupa sate lilit, sate kablet, pepes, uraban, lawar, komoh, gegubah dan lainnya yang ditempatkan pada satu wadah lainnya (nare kecil). 


Aturannya, lawar dan uraban disantap paling awal. Sedangkan lauk spesial seperti sate dan gegubah dimakan paling akhir. Ini agar bisa menghemat daging namun tetap memberi rasa kenyang dan kenikmatan menyantapnya. 

Proses makan dilakukan secara bersamaan dan menggunakan tangan. Etika lainnya yang perlu diperhatikan adalah mencuci tangan sebelum makan, tidak menjatuhkan sisa makanan dari mulut ke atas nampan, tidak bersin, tidak kentut dan tidak mengambil makanan disebelahnya. 

Setelah menyelesaikan makan, tamu akan meninggalkan tempat makan secara bersama-sama sebagai lambang kebersamaan. Jika dalam acara magibung ada 6 kelompok, maka kelompok yang sudah selesai harus menunggu kelompok lainnya. Setelah semua kelompok selesai makan, mereka bisa meninggalkan tempat makan dan mencuci tangan.

Pada tahun 2006, pemerintah Karangasem pernah mengadakan acara Megibung massal untuk memecahkan rekor MURI. Megibung yang diadakan di Taman Sukasada Ujung Karangasem dihadiri lebih dari 20.000 ribu orang.

---

Megibung adalah tradisi turun-temurun yang dilakukan oleh warga kampung Islam Kepaon, Bali. Tradisi makan bersama ini sudah dilakukan sejak masa kerajaan tepatnya pada masa kekuasaan Raja Karangasem. Megibung berasal dari kata gibung yang artunya kegiatan yang dilakukan bersama-sama dengan saling berbagi satu sama lain. Megibung sendiri acap kali dilakukan orang sambil berdiskusi dan berbagi pendapat. Menu makanan yang disajikan cukup beragam dan kebanyakan menu khas Bali yang halal.
 
Pada makan bersama Megibung ini dihidangkan gundukan nasi berserta lauk pauknya di atas nampan. Lauk yang biasa disajikan pada Megibung ini diantaranya adalah pepesan, daging, urutan, sate kablet, sate pusut, sate nyuh, sate asem, lawar merah dan putih, sayur daun belimbing, pademara dan sayur urap. Nasi ini dikelilingi oleh 4-7 orang.
 
Saat makan megibung ini ada aturan yang tidak tertulis dan wajib dipatuhi seperti makanan yang dibuang dari mulut tidak boleh berceceran di atas nampan. Makanan sisa ini harus dibuang di atas daun pisang yang telah disediakan. Air putih tersedia dalam kendi dan diminum dengan cara meneguknya langsung tanpa harus menuangkan terlebih dahulu ke dalam gelas. Saat makan juga dilarang berbicara apalagi tertawa keras, berteriak ataupun bersendawa.
 

Sumber: http://food.detik.com/read/2015/03/19/154914/2863788/297/1/megibung-tradisi-makan-bersama-khas-karangasem-yang-berlangsung-sejak-abad-17

http://ayukkitangopi.blogspot.co.id/2017/05/tradisi-makan-bersama-yang-ada-di_25.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu