Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Bangunan Bersejarah Daerah Istimewa Yogyakarta Sleman Yogyakarta
Candi Ijo - Sejarah singkat
- 2 Mei 2024

Candi ijo terletak di kecamatan Prambanan Sleman DIY , kita harus melewati perbukitan Boko yang berbatu cadas,

Candi Ijo merupakan situs sejarah peninggalan budaya Hindu

Dinamakan candi Ijo karena berada di punggungan bukit gumuk ijo

Ada sebab mengapa namanya disebut Candi Ijo, karena candi ini berada di perbukitan yang subur dan panorama indah hijaunya bentangan alam maka disebut "Gumuk Ijo". Nama ini telah disebut dalam Prasasti Poh berangka tahun 906 Masehi berbahasa Jawa Kuno dalam penggalan "... anak wanua i wuang hijo ..." yang artinya anak desa, orang Ijo.

Candi ijo dibangun kira kira bersamaan dengan Khan omurtag dari Bulgaria menandatangani perjanjian damai 30 tahun dengan kekaisaran Bizantium

Candi ijo terkenal dengan pemandangan sunset yang indah, dan area candi nya juga sangat luas total ada 11 teras dan 17 gugusan candi, terdiri dari 1 candi induk yang menghadap barat dan 3 candi pewara atau candi pengiring

Di dalam candi utama memiliki ruangan yang paling besar diantara candi yang lain. Tepat ditengah ruangan terdapat lingga dan yoni yang disangga oleh figur ular sendok, Mahkluk mitologi ini melambangkan penyangga bumi. Sementara, penyatuan lingga dan yoni melambangkan penyatuan suci Dewa Siwa dan permaisurinya Dewi Parwati shaktinya.

Kompleks candi utama berada di teras tertinggi. Tepat diseberang candi utama berjajar tiga candi yang lebih kecil ukurannya disebut candi perwara. Analisa ahli sejarah menduga tiga candi perwara dibangun untuk menghormati Brahma, Wisnu dan Siwa, yang dianggap sebagai dewa tingkat tertinggi menurut agama Hindu.

Setelah sembilan abad terkubur, pada tahun 1886 candi Ijo pertama kali ditemukan oleh H.E. Dorrepaal seorang berkebangsaan Belanda. Penemuan terjadi secara tak sengaja ketika itu Dorrepaal hendak mencari lahan untuk perkebunan Tebu dan menemukan gundukan batu.Ahli sejarah mengungkap, diperkirakan Candi Ijo dibangun sekitar tahun 850 - 900 Masehi. Pada saat itu berkuasa raja dari Kerajaan Mataram Kuno yaitu Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Egrang: Warisan, Keseimbangan, dan Semangat Anak Indonesia
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Jawa Barat

Egrang: Warisan, Keseimbangan, dan Semangat Anak Indonesia Identitas dan Asal-Usul Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang menggunakan dua bilah bambu sebagai alat pijakan untuk berjalan di atasnya. Permainan ini masih dikenal sebagai warisan budaya di berbagai daerah, sekaligus menguji keseimbangan, ketangkasan, dan konsentrasi pemainnya [S1][S3]. Di Jawa Barat, egrang secara spesifik diidentifikasi sebagai permainan anak-anak dengan sepasang bambu sebagai pijakan [S2]. Asal-usul egrang dihubungkan dengan masa kolonial berdasarkan catatan yang menyebut permainan ini tercatat dalam buku Javanese Kinder Spellen pada zaman Belanda [S1]. Namun, sumber tersebut tidak menguraikan kronologi sebelum masa kolonial atau memberikan informasi tentang prosesi ritual awalnya, sehingga narasi asal-muasal pra-kemerdekaan masih bersifat umum. Sentra aktivitas egrang terekam dengan jelas di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di ruang publik Jalan Jendral Sudirman, Kelurahan Nagrika...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Gudeg Yogya: Warisan Keraton, Cita Rasa Abadi
Makanan Minuman Makanan Minuman
Daerah Istimewa Yogyakarta

Gudeg Yogya: Warisan Keraton, Cita Rasa Abadi Identitas Kuliner Gudeg diidentifikasi sebagai hidangan khas Yogyakarta yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan rempah-rempah [S1]. Hidangan ini berfungsi sebagai simbol warisan budaya yang dilestarikan dari generasi ke generasi, sekaligus menegaskan posisinya sebagai identitas kuliner daerah yang menjadi daya tarik budaya [S1][S5]. Keberadaannya merepresentasikan kekayaan kuliner regional yang memiliki jejak sejarah panjang dalam tradisi masyarakat Yogyakarta [S1]. Data sejarah menunjukkan bahwa gudeg pertama kali muncul pada abad ke-15 pada masa Kerajaan Mataram Islam [S2]. Sejalan dengan itu, tercatat bahwa sejarah kuliner ini berawal dari era Mataram Islam di Alas Mentaok [S3]. Pada masa awal kemunculannya, gudeg dikonsumsi oleh para prajurit dan rakyat biasa, yang mengindikasikan bahwa hidangan ini telah menjadi bagian dari pola konsumsi lintas kelas sosial sejak masa pembentukannya [S2]. Sayangnya, belum...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kerokan: Sekadar Mitos Masuk Angin atau Lebih dari Itu?
Pengobatan dan Kesehatan Pengobatan dan Kesehatan
DKI Jakarta

Kerokan: Sekadar Mitos Masuk Angin atau Lebih dari Itu? Identitas dan Asal-Usul Kerokan adalah praktik pengobatan tradisional dalam kategori pengobatan dan kesehatan yang dilakukan dengan menggosokkan benda tumpul—umumnya koin atau sendok—pada permukaan kulit yang telah diolesi minyak atau balsam [S1][S5]. Medium yang digunakan mencakup minyak kayu putih atau balsem, sementara indikasi utama praktik ini adalah keluhan masuk angin, pegal-pegal, dan rasa tidak enak badan [S1][S5]. Terdapat kesamaan kuat antarsumber dalam mendeskripsikan alat serta prosedur, meskipun [S1] lebih spesifik menyebut minyak kayu putih, sementara [S5] menggunakan istilah lebih umum berupa minyak atau balsam. Di Indonesia, kerokan menempati posisi sebagai metode pengobatan populer yang kerap dipertanyakan keamanan dan manfaat medisnya [S2][S3]. Sumber [S2] mencatat bahwa praktik ini menjadi subjek pertanyaan publik mengenai risiko dan efektivitasnya, meskipun tetap dipilih masyarakat untuk mengatasi keluh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Saman: Lebih dari Sekadar Gerakan, Filosofi Gayo Abad ke-13
Tarian Tarian
Aceh

Saman: Lebih dari Sekadar Gerakan, Filosofi Gayo Abad ke-13 Identitas dan Asal-Usul Tari Saman merupakan warisan budaya tak benda dari Suku Gayo, Aceh, yang telah diakui oleh UNESCO dan secara spesifik dibawakan oleh laki-laki muda sebagai bagian dari permainan tradisi [S1]. Berdasarkan estimasi sejarah, seni pertunjukan ini diperkirakan sudah eksis sejak abad ke-13, meskipun catatan rinci mengenai tokoh pendiri atau peristiwa pembentukannya tidak diungkapkan dalam sumber yang tersedia [S2]. Identitas ini menempatkan Tari Saman sebagai produk kultural dengan akar etnis yang jelas, namun dengan penanggalan awal yang masih bersifat perkiraan. Secara fungsional, tarian ini pada mulanya dilakukan untuk mengisi waktu luang, sebagaimana dikutip dari laman Kemdikbud dalam referensi yang merangkum aspek historisnya [S1]. Berbeda dengan anggapan bahwa popularitasnya instan, sumber lain menegaskan bahwa Tari Saman memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya mendunia dan dipentaskan dalam ac...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Egrang: Lebih dari Sekadar Mainan, Warisan Budaya yang Terlupakan?
Permainan Tradisional Permainan Tradisional
Jawa Tengah

Egrang: Lebih dari Sekadar Mainan, Warisan Budaya yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Egrang merupakan permainan tradisional yang menuntut keseimbangan tubuh dengan menggunakan sepasang tongkat panjang yang dilengkapi pijakan kaki [S3]. Di berbagai daerah, permainan ini dikenal dengan nama berbeda, seperti engrang , tengkak , atau jangkungan [S5]. Secara umum, egrang dikategorikan sebagai permainan ketangkasan anak-anak, meskipun orang dewasa pun kerap memainkannya dalam konteks perayaan tertentu [S1]. Identitasnya melekat sebagai sarana hiburan sekaligus bagian dari sejarah kreativitas masyarakat Nusantara [S1][S5]. Upaya melacak daerah asal egrang secara pasti menghadapi tantangan karena permainan serupa tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia. Sumber-sumber tidak menunjuk pada satu titik asal yang eksklusif, melainkan menggambarkannya sebagai fenomena budaya yang tumbuh di banyak komunitas agraris [S1][S5]. Salah satu pusat kehidupan egrang yang masih tercatat ak...

avatar
Kianasarayu