Diceritakan, jaman dahulu, seorang pemuda Jering pergi memancing ke sebuah tematang di kampungnya. Sampai di tematang , pemuda Jering itu mendengar alunan musik yang belum pernah ia dengar. Ia pun mencari orang yang memainkan musik merdu tersebut. Susah payah ia mencari, namun tidak seorangpun ditemui. Ketika berada dibawah pohon, ia mendengar suara musik berasal dari atasnya, ketika ia memanjat pohon terdengar suara musik itu berasal dari bawahnya. Lama kemudian ia tersadar bahwa musik yang ia dengar tersebut dimainkan oleh Putih Anak. Singkat cerita, pemuda Jering itu pun pulang ke rumahnya. Berhari-hari ia memainkan alat-alat musik dirumahnya dan berusaha untuk menemukan nada yang sama dengan musik yang dimainkan oleh Putih Anak di tematang . Semenjak itu lahirlah Belatik, musik yang menjadi penghibur masyarakat Jering. Belatik merupakan kesenian tradisional milik masyarakat Jering yang hadir dari aktifitas berladang. Pemain Belatik pada umu...
Pakaian Adat Bangka Belitung – Kepulauan Bangka Belitung merupakan sebuah provinsi yang terletak di Selat Malaka. Provinsi Bangka Belitung telah disahkan pada 9 Februari 2001 dan terdiri dari 470 pulau-pulau dengan 2 pulau besar yang terkenal dengan nama Pulau Bangka dan Belitung. Dahulu kala, Bangka Belitung masuk ke dalam provinsi Sumatera Selatan dan memutuskan untuk memisahkan diri sampai menjadi sebvuah provinsi tersendiri saat ini. Letaknya yang strategis dan berada dalam jalur perdagangan laut membuat kebudayaan di kawasan Bangka Belitung sangatlah unik dan beragam. Adanya banyak akulturasi dari budaya Tiongkok, Melayu, hingga Arab membuat provinsi ini memiliki corak yang khas dan unik. Termasuk juga menyangkut pada tarian, musik, rumah dan terutama pakaian adat Bangka Belitung. Baju Adat Bangka Belitung: Sejarah Pakaian Adat Bangka Belitung Pakaian adat Bangka Belitung adalah jenis pakaian adat khas daerah Bangka Belitung yang memiliki perpad...
Salah satu kopi yang menjadi kopi paling nikmat yang pernah ada adalah kopi manggar. Kopi yang satu ini memang sangat khas dan sangat terkenal bagi sebagian orang di daerah Manggar. Kopi manggar termasuk dalam jenis Robusta ini memiliki citarasa yang tidak jauh berbeda dengan kopi robusta lainnya. Rasa asam yang disajikan oleh kopi ini menambah kenikmatan tersendiri yang membuat para pecinta kopi semakin menikmati kopi khas Belitung. Cara membuat kopi manggar Kopi robusta manggar ini dibuat secara khusus oleh warga kota Manggar. Pembuatan ini terbilang unik dan mungkin sebagian orang berpikiran bahwa cara pembuatannya tidak higienis yaitu dengan cara menyaring kopi dengan kaus kaki. Kaus kaki ini digunakan sebagai saringan seperti cara pembuatan kopi di Hainam, Tiongkok. Kaus kaki sebagai saringan ini ada di dalam ceret ini kemudian dituangkanlah air panas kedalamnya. Setelah itu saringan kopi akan diaduk. Kemudian air kopi didalam ceret selanjutnya dipindahkan ke ceret lainnya...
Tarian Gi Ke Aik menceritakan tentang aktivitas masyarakat Bangka Belitung pada pagi hari khususnya para wanita yang dimana setiap pagi hari mereka beramai-ramai ke kulong atau sugna kucil untuk mencuci, mandi dan kembali membawa air dari kali dengan menggunakan guci.
Betiong sendiri berasal dari kata ketiong yang menggambarkan seni burung beo. Jadi dulu ketika gendang dimainkan para pemain betiong, burung beo tersebut mengucapkan kata “tiong-tiong”. Nah dari sinilah kemudian muncul nama Betiong untuk kesenian berbalas pantun tersebut. Pantun dalam seni Betiong ini menggunakan bahasa Belantu yang merupakan bahasa tertua yang ada di Belitung dengan unsur logat melayu. Kesenian Betiong pada zaman dulu merupakan salah satu pertunjukan yang paling populer di tanah Belitung. Saat itu Betiong dulu seringkali ditampilkan pada upacara-upacara adat setempat, termasuk dan khususnya upacara atau tradisi Maras Taun. Maras Taun sendiri adalah upacara selamatan kampong sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah yang ada dalam wujud panen padi yang melimpah. Upacara yang dilakukan satu tahun sekali disetiap kampung di Belitung ini pun semakin marak karena dipertunjukkan seni Betiong. Namun dalam perkembangannya sekarang, Betiong tidak han...
Nirok nanggok adalah kegiatan menangkap ikan di sungai atau danau kecil secara bersama-sama saat musim kemarau. Alat yang digunakan untuk menangkap ikan ini adalah alat-alat tradisional, yaitu tirok berupa tombak kayu bermata besi runcing dan tanggok berupa keranjang rotan berbingkai kayu. Pada zaman dulu, tradisi ini sering diadakan di desa-desa bagian daratan Belitung. Musim kemarau panjang menjadi alasan kegiatan ini bisa dilaksanakan atau tidak. Saat kemarau, debit air sungai akan menyusut dan sebagian membentuk kubangan yang dalam bahasa Belitung disebut “lembong”. Ikan-ikan yang berada di lembong berhasil ditangkap dalam jumlah yang banyak. Meskipun terkesan hanya kegiatan mencari ikan, tapi sebelum nirok nanggok dimulai, ada rangkaian panjang yang harus dilalui. Bahkan, dalam beberapa rangkaian tradisi ini, ada tahap yang bersifat sakral dan berisi peraturan ketat yang tidak boleh dilanggar. Prosesi tradisi ini akan dipimpin oleh dukun kampung dan dihadiri oleh para pemuka ka...
Muang Jong adalah upacara tradisi buang sial dari suku Ameng Sewang atau disebut juga Orang Sawang yang berarti orang laut disebut juga dengan Orang “Sekak”. Sebutan “Sekak” muncul terutama pada masa penjajahan Belanda. Sekak artinya kelompok orang yang sulit berinteraksi dengan kelompok suku bangsa lain. Sebutan itu, sayangnya merugikan bagi orang Sawang sendiri pada masa itu karena dianggap sebagai orang yang kolot, tidak mau bergaul, menyendiri, bahkan dianggap primitive. Apalagi hal itu didukung dengan adat budaya masyarakat setempat yang masih menjalankan tradisi animisme dinamismenya. Pelaksanaan Muang Jong Muang Jong sendiri disebut sebagai upacara buang jung oleh orang Sawang. Upacara ini diadakan setiap tahun sebagai upaya rasa syukur masyarakat Sawang terhadap berkah dari Tuhan yang diberikanNya lewat laut. Buang Jung atau juga disebut dengan “buang patong” ini merupakan tradisi masyarakat Sawang yang sangat sakral sama dengan tradisi larung laut di Yogyakarta. Tradisi M...
Ribuan tahun yang lalu Pulau Bangka begitu indah dan memesona. Tanahnya subur. Berbagai jenis pohon tumbuh menghijau sejauh mata memandang. Pantainya berpasir putih dan sangat bersih. Air lautnya berwarna biru, jernih, tenang, dan menyejukkan mata. Suara ombaknya terdengar merdu memecah kesunyian alam. Keindahannnya sungguh menggugah jiwa dan seakan-akan mengundang kita agar selalu memandang dan menikmatinya. Pada waktu itu hanya ada beberapa kampung di pulau itu. Penduduknya pun tidak banyak. Mereka hidup dengan damai dan sejahtera. Tidak pernah terjadi permusuhan antara kampung yang satu dengan kampung yang lain. Semua kebutuhan mereka dipenuhi oleh alam sekitarnya. Ada padi, jagung, ubi, sayur-sayuran, dan buah-buahan yang tumbuh dengan subur. Apa yang mereka tanam selalu tumbuh dengan baik walau tanpa pupuk. Sungainya jernih sehingga terlihat banyak ikan bergerombol kian kemari. Penduduk dapat menangkapnya dengan memancing atau dengan memakai lukah (alat tangkap khusus yang terb...
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, mengajak masyarakat melestarikan keragaman warisan kultur yang ada di desa masing. Hal hal yang demikian dijalankan untuk menghidupkan kembali jati diri warga setempat. "Warisan kultur di Bangka Barat ini betul-betul banyak dan pelbagai, salah satunya kebiasaan sunatan massal yang ada di Desa Ranggiasam, Kecamatan Jebus," individualized structure Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ali, di Mentok, Pekan, 20 November 2022. Ia membeberkan kebiasaan sunatan massal yang berlangsung di desa hal yang demikian betul-betul menarik dan mengundang banyak pengunjung dari dalam dan luar tempat datang ke lokasi itu. Perayaan sunatan massal dengan goodbye sistem sunat tradisional di Desa Ranggiasam yakni perayaan kebiasaan adat istiadat kultur Islam yang rutin dikerjakan, khitan massal ini dicontoh si kecil yang telah akil balik. Rangkaian acara khitanan massal diawali siang hari dengan...