Jipeng (Kesenian Rakyat Betawi) Yang Terancam Punah Kata "Jipeng" merupakan akronim dari kata "Tanji" dan kata "Topeng".Dengan kata lain, Jipeng adalah Topeng dengan iringan orkes Tanjidor.Dengan demikian tata cara pergelarannya pun tidak banyak berbeda dengan tata cara pagelaran Topeng. Seni Jipeng merupakan salah satu kesenian teater yang dimainkan oleh masyarakat Betawi tempo dulu. Dalam pertunjukannya, Jipeng menampilkan permainan masik, tari-tarian dan aksi teater treatrikal atau perpaduan gerak dan teater. Kesenian Jipeng ini, mirip dengan seni drama yang memiliki alur cerita lakon dan babak. Pada umumnya kesenian ini mengambil tema cerita tentang keagamaan atau petuah. Jipeng terbentuk dari dua perpaduan kesenian dua bangsa, yakni lenong Betawi dan Tanjidor yang merupakan kesenian asli Timur Tengah. Kesenian Jipeng sempat mengalami jaman kejayaan dan keemasan di era 70-an hingga 80-an. Kesenian tersebut tumbuh pesat di Betawi pusat, seperti daerah Tanahabang dan Kampung Arab. K...
Upacara Besale (penyembuhan) merupakan ritual masyarakat Anak Dalam yang bertujuan untuk menyembuhkan seseorang yang sakit akibat roh-roh jahat. Dalam adat istiadat masyarakat Suku Anak Dalam atau Anak Rimba terdapat banyak kegiatan upacara/ritual yang memiliki tujuan untuk menghormati arwah nenek moyang, mengharapkan keberkahan dan untuk menjauhkan malapetaka. Salah satu upacara adat masyarakat Anak Dalam adalah upacara Besale. Arti Besale bagi masyarakat Anak Dalam adalah membersihkan jiwa seseorang yang sedang sakit akibat roh-roh jahat yang bersemayam dalam diri seseorang tersebut. Menurut hasil penelitian Pusat Penelitian Sejarah Dan Budaya Departemen Pendidikan Kebudayaan Indonesia (1977.127), masyarakat Anak Dalam menganggap jika ada anggota keluarga atau kerabat yang sakit maka itu merupakan pertanda bahwa dewa telah menurunkan malapetaka. Agar dewa menjauhkan malapetaka tersebut, masyarakat Anak Dalam melakukan upacara Besale sebagai wujud memohon ampun. Hal la...
Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang kaya budaya, termasuk dalam menyambut datangnya hari kemenangan Umat Islam pada 1 Syawal. Salah satu tradisi yang masih berlangsung dalam penyambutan Idul Fitri tersebut adalah Grebeg Syawal di Daerah Istimewa Yogyakarta. Grebeg Syawal merupakan salah satu dari tiga Grebeg yang dilaksanakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dalam satu tahun. Grebeg pertama adalah Grebeg Mulud yang dilaksanakan pada Maulid Nabi. Grebeg Kedua adalah Grebeg Syawal. Sedangkan grebeg ketiga adalah Grebeg Besar pada Hari Raya Idul Adha. Dimana berdasarkan catatan sejarah, Upacara Grebeg ini pertama kali diperkenalkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I saat keluar istana membagikan gunungan kepada rakyatnya. Kemudian upacara tersebut dilangsungkan turun temurun sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah SWT dan Hajad Dalam atau sedekah serta kedermawanan Sultan kepada rakyatnya. Grebeg Syawal dilaksanakan setelah Shalat ‘Ied di sekitar Alun...
Rencong adalah senjata tajam belati Dari Indonesia tradisional Aceh. Bentuknya menyerupai huruf ' L' , rencong termasuk dalam kategori belati yang berbeda dengan pisau atau pedang. Rencong memiliki kemiripan rupa dengan keris. Panjang mata pisau rencong dapat bervariasi dari 10 cm sampai 50 cm. Matau pisau tersebut dapat berlengkung seperti keris, namun dalam banyak rencong, dapat juga lurus seperti pedang. Rencong dimasukkan ke dalam sarung belati yang terbuat dari kayu, gading, tanduk, atau kadang-kadang logam perak atau emas. Dalam pembawaan, rencong diselipkan di antara sabuk di depan perut pemakai. Menurut catatan sejarah rencong mulai dipakai pada masa Sultan Ali Mugayatsyah memerintah Kerajaan Aceh pada tahun 1514-1528. Pada waktu itu masih berorientasi pada kepercayaan Islam yang sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial budaya masyarakat di daerah aceh. Sehingga kedudukan rencong adalah sebagai berikut : gagangnya yang...
A. RITUAL “KULO NUWUN” DI MAKAM BATHORO KATONG Sejarahnya, Bathoro katong merupakan putra Majapahit dari Raja Brawijaya ke V, dan Putri Begelen, merupakan pendiri Kabupaten Ponorogo pada tahun 1496 (dalam hitungan Masehi), dan tahun 19408 (dalam hitungan Saka). Dahulu Raden katong ini merupakan murid dari sunan Kalijaga, adik dari Raden Patah dimana dulu daerah Kabupaten Ponorogo dibawah kekuasaan Majapahit dengan nama wilayah Wengker masih memeluk agama Hindu-Budha. Oleh karena itu Raden Katong yang mudanya bernama Lembu Kenongo diberikan tugas untuk dakwah Islam di daerah Wengker (yang sekarang menjadi Kabupaten Ponorogo). Sehingga Bathoro Katong lah yang menjadi Bupati pertama Kabupaten Ponorogo. Makam bathoro Katong ini berada ditengah-tengah pemukiman penduduk dan memiliki 7 (tujuh) gapura pintu masuk yang melambangkan lapisan langit sebagaimana yang dipaparkan dalam Isra’ Mi’raj. Di depan Gapu...
Minggu, 28 September 2014, Sobat Budaya menyelenggarakan pelatihan untuk Sobat Budaya Jakarta,Sobat Budaya Bandung, Sobat Budaya Subang, dan Sobat Budaya Bogor. Bertempat di Gedung JNE,Tomang, Jakarta Barat, selain materi pelatihan yang akan diberikan untuk bekal ekspedisi danpendataan, acara ini juga bertujuan untuk perkenalan dan menjalin silahturami antar Sobat Budayaregional. Pada acara pelatihan ini, Ketua Yayasan Sobat Budaya, Erlan Rinaldi, memberikan materi mengenaisejarah Sobat Budaya, acara-acara yang telah diselenggarakan oleh Sobat Budaya, serta ekspedisi-ekspedisi yang telah dilakukan oleh Sobat Budaya, diantaranya ekspedisi Topeng Cirebon, Batik Tasik,Perak Celuk Bali, dan arsitektur Ciptagelar. Selanjutnya, masing-masing Sobat Budaya regional berbagimengenai program kerja dan kegiatan-kegiatan yang t...
Kabupaten Pekalongan yang terletak di pesisir pantai utara Jawa Tengah, yang terkenal dengan batiknya memiliki cerita rakyat yaitu Sintren. Pertunjukkan Sintren ini sering ditampilkan di daerah lain seperti di Kendal, Batang, Pemalang, Tegal sampai Cirebon. Namun dari mana asal mula sintren belum pernah dikupas/diceritakan. Dilihat dari tembang / lagunya, kesenian Sintren bermula dari cerita Sulasih dan Sulandana, yang hidup di daerah Pekalongan. Bahurekso pembesar kerajaan Mataram putra Ki Ageng Cempaluk (tokoh spiritual/kyai) yang berasal dari Kesesi Pekalongan. Bahurekso memiliki putra bernama Sulandana. Pada saat berburu Sulandana bertemu dengan Sulasih, yang akhirnya mereka saling jatuh cinta, tetapi tidak direstui oleh Ki Sentanu ayah dari Sulasih. Ki sentanu dapat merestui cinta mereka namun dengan syarat Sulandana dapat menemukan selendang Talijiwa yang berada di hutan Suralaya. Setelah berhasil menemukan, Sulandana bersama eyangnya (Ki Ageng Cempaluk) meminang S...
Di sebuah desa kecil di Kabupaten Pekalongan, hidup sebuah keluarga seniman bernama “Ki Sentanu” yang memiliki seorang anak gadis cantik bernama “Sulasih”. Ki Sentanu berharap Sulasih mau menjadi penari dalam kelompok seninya karena paras cantik Sulasih sangat mendukung untuk seorang bintang pementasan. Namun, keinginan Ki Sentanu selalu ditolak oleh Sulasih, hal tersebut membuat Ki Sentanu kecewa. Dibalik penolakan tersebut ternyata Sulasih secara diam-diam telah menjalin hubungan dengan seorang pemuda tampan bernama “Sulandono”, hubungan tersebut tanpa sepengetahuan Ki Sentanu. Sehingga pertemuan mereka berdua dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Pada suatu saat hubungan keduanya dipergoki oleh Ki Sentanu yang membuat kemarahan Ki Sentanu pecah, Sulandono dihajarnya hingga babak belur. Sulasih memohon ayahnya untuk tidak menghajar Sulandono karena Sulasih sudah terlanjur sangat mencintai Sulandono. Apabila ayahnya masih terus m...
Guritan Besemah adalah salah satu jenis sastra daerah masyarakat Besemah yang eksistensinya ditampilkan dalam bentuk “teater tutur”. Artinya, ia dituturkan secara monolog oleh seorang tukang cerita dalam bahasa Besemah dengan lagu tertentu dan memakai alat (bantu) yang disebut sambang yang dililit dengan kain (digetang) dan ditopangkan di bawah dagu, dan kadang-kadang pada kening penutur. Pada masa lalu guritan dituturkan pada malam hari di rumah warga dusun yang ditimpa musibah kematian, sejak hari pertama setelah jenazah dikebumikan sampai 3 malam berturut-turut. Penuturnya selalu laki-laki, biasanya berumur 50-an tahun ke atas. Tangan kanan penutur memegang pertengahan sambang atau agak ke bawah dan tangan kiri diletakkan di atas sambang, kemudian keningnya ditempelkan di atas tangan kiri itu. Penutur guritan tidak memandang penonton (audience) ketika sedang menuturkan cerita, ia memejamkan mata sebagai bentuk ekspresinya yang dalam. Lakon-lakon (judul) guri...