A. RITUAL “KULO NUWUN” DI MAKAM BATHORO KATONG
Sejarahnya, Bathoro katong merupakan putra Majapahit dari Raja Brawijaya ke V, dan Putri Begelen, merupakan pendiri Kabupaten Ponorogo pada tahun 1496 (dalam hitungan Masehi), dan tahun 19408 (dalam hitungan Saka). Dahulu Raden katong ini merupakan murid dari sunan Kalijaga, adik dari Raden Patah dimana dulu daerah Kabupaten Ponorogo dibawah kekuasaan Majapahit dengan nama wilayah Wengker masih memeluk agama Hindu-Budha. Oleh karena itu Raden Katong yang mudanya bernama Lembu Kenongo diberikan tugas untuk dakwah Islam di daerah Wengker (yang sekarang menjadi Kabupaten Ponorogo). Sehingga Bathoro Katong lah yang menjadi Bupati pertama Kabupaten Ponorogo.
Makam bathoro Katong ini berada ditengah-tengah pemukiman penduduk dan memiliki 7 (tujuh) gapura pintu masuk yang melambangkan lapisan langit sebagaimana yang dipaparkan dalam Isra’ Mi’raj. Di depan Gapura pertama yang berdaun pintu atau Gapura ke-5, disebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang. Pada batu tersebut terlukis Candra Sengkala, memet dari belakang ke depan berupa : manusia (angka 1), pohon (angka 4), burung (angka 1) dan gajah (angka 8). Sehingga disimpulkan Candra Sengkala memet pada batu gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.
Di makam Bathoro Katong inilah dilakukan suatu ritual “Kulo Nuwun”. Ada 2 peristiwa dimana ritual ini dilakukan yakni:
1. Pada tahun Masehi (± Bulan Agustus) yang bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo, sebelum Festival Reyog Mini (FRM) digelar.
2. Ketika menjelang Muharram (Grebeg Suro) dimana sebelum Festival Reyog Nasional (FRN) digelar.
Tradisi “Kulo Nuwun” ini sebagai ungkapan permohonan ijin kepada Bathoro Katong sebagai Bupati pertama yang mendirikan Ponorogo yang akan mengadakan acar-acar besar seperti Hari Jadi Ponorogo, FRM, Kirab Budaya, maupun FRN.. Bentuk ritual ini adalah berupa ziarah makam yang bukan hanya makam Bathoro Katong saja, tetapi juga ziarah makam para leluhur Kabupaten Ponorogo. yang diikuti oleh seluruh aparat pemerintah Kabupaten Ponorogo dan seluruh masyarakat Ponorogo yang ingin mengikuti. Ritual ini biasanya dilakukan pada pagi hari, dilakukan dengan penyambutan rombongan Bupati, lalu dibuka oleh Pembawa Acara, menaburkan bunga, kemudian dilanjutkan oleh tahlil dan berdo’a yang beberapa tahun terakhir ini dipimpin oleh Bapak Muhatim Hasan. Dan ritual ini sudah berjalan sejak lama sebelum ponorogo melakukan hajatan besar.
Narasumber: 1. Bupati kabupaten Ponorogo (Bapak H. Amin)
2. Pemimpin Ritual Makam Bathoro Katong “Bapak Muhatim Hasan”
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...