Diceritakan Kunti adalah istri pertama Raja Pandu dari kerajaan Kuru. Walaupun Raja Pandu tidak bisa memiliki anak karena dikutuk, dengan memohon kepada dewa, Kunti dapat melahirkan tiga anak dari suaminya tersehut. Mereka adalah Yudistira, Bima, dan Arjuna. Bersama dengan Nakula dan Sadewa, mereka dikenal dengan sebutan Pandawa Lima. Namun, sebelum menikah dengan Raja Pandu, Kunti sebenarnya telah melahirkan seorang anak ketika ia masih seorang gadis. Anak tersebut lahir dari dewa matahari, Surya, yang datang karena dipanggil oleh Kunti. Anak itu adalah Karna. Karena malu, Kunti menghanyutkan Karna di sungai Aswa, dan kemudian dipungut oleh Adirata, seorang kusir di Hastinapura, kediaman Raja Pandu. Oleh Adirata, Karna dinamakan Basusena dan kemudian dijuluki Radheya (Anak Radha) oleh masyarakat di Hastinapura. Disebabkan Karna hanyalah anak seorang kusir, ia tidak dapat mengikuti pendidikan yang sama dengan para Pandawa, walaupun keterampilannya setingkat dengan Arjun...
Dieng Culture Festival adalah suatu ritual tahuhan yang diselenggarakan di Dieng, Banjarnegara. Dieng Culture Festival (DCF) yang terakahir diselenggarakan pada tanggal 3-5 Agustus 2018, DCF ini merupakan DCF yang ke -9. Acara ini dihadiri oleh bupati dan wakil bupati Banjarnegara yaitu bapak Budhi Sarwono dan Syamsudin. Acara DCF ini biasanya diselelenggarakan pada saat musim kemarau dengan alasan agar para wisatawan/pengunjung dapat merasakan dinginya suhu udara di Dieng serta bisa merasakan kenyamanan suasananya. Acara DCF juga diikuti oleh bapak Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah. Hal ini diikuti dengan antusias pengunjung yang jumlahnya melebihi jumlah peserta pada tahun sebelumnya. Sabtu, 4 Juli 2018 Kakang Mbekayu Duta Wisata Banjarnegara berkesempatan ambil bagian dalam Kirab Budaya anak rambut gembel yang dimulai dari rumah pemangku adat Dieng yaitu Mbah Sumanto, hingga ke lapangan Pandawa, kompleks Candi Arjuna lokasi panggung Dieng Culture Festival 2018. Dihari ke...
Kesenian Manongan merupakan salah satu kesenian berasal dari Kabupaten Purbalingga tepatnya di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang yang mungkin belum banyak diketahui bahkan di daerah Purbalingga itu sendiri. Menurut catatan yang ada kesenian Manongan ada sejak tahun 1945. Namun dipercayai jauh sebelum itu kesenian Manongan sudah ada dan dibawa oleh orang yang menyebarkan agama Islam karena kesenian ini berisi perpaduan Islam dengan Hindu. Kesenian Manongan adalah kesenian yang menggambarkan kepercayaan. Menceritakan tentang kehidupan seseorang dari rahim hingga matinya. Kesenian ini termasuk juga ke dalam kesenian yang dianggap sakral. Pelaksanaanya hanya di hari-hari tertentu seperti bulan suro dan waktu pelaksanaannya dari pukul 21.00-04.00. Pada puncak acara kesenian ini, akan terdapat seseorang yang Mendem (Kerasukan) roh dari leluhur. Terdapat mitos bahwa kesenian Manongan ini menceritakan tentang seorang putri yang ditinggal suaminya berperang. Putri itu selalu murung karena ti...
Namanya unik, Dawet Jembut, demikian biasa orang-orang menyebut.Dawet asli dari Purworejo, Jawa Tengah ini sudah melegenda dan rasanya yang luar biasa segar pun sudah kondang seantero Jawa. Bahkan, kalangan artis pun banyak yang suka lho. Adalah Mbah Dangsri yang pertama kali membuka warung dawet hitam ini di timur Jembatan Butuh, Kecamatan Butuh, Purworejo sekitar tahun 1960-an. Sebab berjualan di dekat Jembatan Butuh inilah kemudian sebutan kondang Dawet Jembut bermula. Kata Jembut adalah singkatan dari Jembatan Butuh. Dawet hitam ini racikannya cukup sederhana, dan masih dikerjakan secara manual. Proses pembuatan dawet atau cendol hitam khas Purworejo ini diolah dengan tangan dan tidak menggunakan bahan pewarna buatan. Uniknya, penyajian dawet ireng ini menggunakan perasan santan dari parutan kelapa langsung yang dapat dilihat oleh pembeli. Jumlah cendol ireng (hitam) juga jauh lebih banyak dibanding kuahnya (santan dan air gula aren), kemudian di...
Musik kenthongan di Banyumas telah lahir dan berkembang menjadi musik yang begitu atraktif dan bergairah. Setiap grup dapat menampilkan kreativitasnya masing-masing secara bebas, tanpa aturan-aturan baku yang mengekang kreativitas. Kebebasan kreativitas inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari musik ini. Setiap grup bisa menyederhanakan atau merumitkan teknik permainan musik sesuai dengan kemampuan dan keinginan mereka. Musik kenthongan di Banyumas sebenarnya sudah dapat dijumpai pada awal dekade tahun 1970-an. Di wilayah Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas (kurang lebih 10 km di sebelah barat Kota Purwokerto) dijumpai ada sekelompok masyarakat yang mengembangkan kenthongan menjadi semacam perangkat musik. Caranya adalah membuat alat kenthongan dalam jumlah banyak kemudian ditabuh bersama-sama. Pada waktu itu ada yang mencoba memasukkan alat musik mirip dengan angklung yang cara membunyikannya adalah dengan memukul bilah-bilah nada di dalamnya. Selanjutnya jadilah ara...
Kegiatan tahlilan setelah seorang anggota keluarga meninggal dunia bukanlah kegiatan yang asing di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Banyak keluarga Islam yang merupakan keturunan Jawa melakukan prosesi tersebut. Namun ternyata hal ini tidak sepenuhnya merupakan ajaran Islam. Banyak ulama-ulama yang menentang digelarnya prosesi ini dan menganggap acara ini bi’dah atau sesat. Sebuah pertanyaan muncul, mengapa orang-orang Islam Jawa mewarisi adat ini? Akarnya ternyata ada di ratusan tahun yang lampau, ketika Indonesia masih terdiri dari kerajaan-kerajaan dan masyarakat yang memeluk Islam mungkin masih bisa dihitung jari. Salah satu Wali Sanga, Sunan Kalijaga, yang berniat untuk mengislamkan Jawa—yang pada saat itu hampir seluruh penduduknya masih memeluk agama Hindu, Buddha, atau bahkan animisme dan dinamisme—menggagas prosesi berikut demi diterimanya agama Islam dengan besar hati oleh penduduk. Sunan Kalijaga memikirkan sebuah cara agar Islam bis...
Berasal dari kata dasar wedang yang dalam bahasa jawa artinya air minum, "Wedangan" adalah sebuah aktifitas berjualan pada malam hari pada suatu tempat atau lokasi. Biasanya makanan yang dijual adalah makanan sederhana seperti wedang jahe, teh, ronde, serta makanan-makanan ringan. Yang umum ditemui di tempat-tempat wedangan adalah nasi kucing yang merupakan semacam nasi bungkus yang disediakan dalam porsi kecil. Wedangan adalah sebuah ikon khas di Solo. Wedangan juga merupakan sebuah suasana baru bagi mereka yang ingin sekedar berkumpul santai bersama teman-teman atau keluarga sambil menikmati suasana malam hari. #OSKM18 Referensi : https://tentangsolo.wordpress.com/kuliner/wedangan/
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), wayang adalah boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu, dsb. yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional. [1] Wayang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dan sebagainya). Pertunjukan Wayang biasanya dimainkan oleh seseorang yang disebut dalang dengan diiringi oleh berbagai alat musik daerah. UNESCO, lembaga yang membawahi kebudayaan dari PBB, pada 7 November 2003 menetapkan wayang sebagai pertunjukkan bayangan boneka tersohor dari Indonesia, sebuah warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Namun ternyata, wayang tidak hanya dimiliki oleh bangsa Indonesia saja. Potehi berasal dari kata pou å¸ (kain), te è¢ (kantong) dan hi æ¯ (wayang). Wayang Potehi adalah waya...
Indonesia memang satu. Namun bukan berarti hanya ada satu budaya. Unik dan menarik mendedinisikan budaya di Indonesia. Ritual syukuran penyambutan manusia baru atau kelahiran di Indonesia memang banyak cara. Orang-orang di Jawa menyebutnya dengan "bancaan weton" yang telah ada sejak zaman nenek moyang kita. Syukuran ini dinamakan Bubur Merah Putih. Dalam ritual ini disisipkan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan meminta keselamatan dan keberkahan untuk sang bayi. Setelah didoakan, bubur merah putih dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Tak lupa disisipkan juga nama sang bayi. Bubur merah putih memeliki 2 arti yang berhubungan. Bubur merah melambangkan "bibur merah" sang ibu dan bubur putih melambnagkan "darah putih" atau sperma ayah. Keduanya disatukan dalam wadah dalam terciptanya manusia baru. Cara membuatnya tidaknya sulit. Bahan-bahan yang digunakan juga sederhana, meliputi beras merah, beras putih, santan, gula merah, garam, pandan, dan air. Dimasak sampai menjad...