Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Pewayangan Jawa Tengah Jawa Tengah
Kisah Adipati Karna

Diceritakan Kunti adalah istri pertama Raja Pandu dari kerajaan Kuru. Walaupun Raja Pandu tidak bisa memiliki anak karena dikutuk, dengan memohon kepada dewa, Kunti dapat melahirkan tiga anak dari suaminya tersehut. Mereka adalah Yudistira, Bima, dan Arjuna. Bersama dengan Nakula dan Sadewa, mereka dikenal dengan sebutan Pandawa Lima.

Namun, sebelum menikah dengan Raja Pandu, Kunti sebenarnya telah melahirkan seorang anak ketika ia masih seorang gadis. Anak tersebut lahir dari dewa matahari, Surya, yang datang karena dipanggil oleh Kunti. Anak itu adalah Karna. Karena malu, Kunti menghanyutkan Karna di sungai Aswa, dan kemudian dipungut oleh Adirata, seorang kusir di Hastinapura, kediaman Raja Pandu. Oleh Adirata, Karna dinamakan Basusena dan kemudian dijuluki Radheya (Anak Radha) oleh masyarakat di Hastinapura.

Disebabkan Karna hanyalah anak seorang kusir, ia tidak dapat mengikuti pendidikan yang sama dengan para Pandawa, walaupun keterampilannya setingkat dengan Arjuna. Akhirnya, ia mencari guru sendiri dengan mengatakan bahwa ia berasal dari golongan Brahmana. Namun gurunya mengetahui ia adalah golongan Ksatria, gurunya menyumpahi agar Karna melupakan semua ilmu yang dipelajarinya saat ia melawan musuhnya yang terkuat, dan kemudian menolak untuk mengajari Karna. Dalam perjalanan pulang, Karna menabrak mati seekor sapi milik seorang Brahmana, yang kemudian menyumpahi agar kereta Karna terjebak lumpur saat ia melawan musuhnya yang terkuat.

Ketika para Pandawa menyelesaikan pendidikan mereka, Karna menantang Arjuna, yang merupakan murid terbaik, untuk menunjukkan kesaktiannya, namun ditolak oleh guru Arjuna dengan alasan bahwa Karna tidak segolongan dengan Arjuna. Dretarastra, raja dari Hastinapura dan pengganti raja Pandu, kemudian mengangkat Karna menjadi raja bawahan di daerah Angga atas permintaan Duryodana, anak sulungnya. Kunti yang hadir dalam penobatan tersebut langsung mengenali anak sulungnya saat melihat baju zirah yang ia kenakan.

Karna adalah seorang dermawan yang telah bersumpah bahwa siapa pun yang meminta kepadanya, ia akan mengabulkan. Ketika dewa Indra menyamar dan meminta sedekah berupa baju zirahnya, tanpa ragu ia melepaskan satu persatu baju zirah tersebut dan memberikannya pada Indra. Indra kemudian menganugerahkan pusaka baru yaitu Konta, namun pusaka tersebut hanya dapat dipakai sekali.

Ketika terjadi perang antara Kurawa dan Pandawa, para Pandawa mengirimkan Kresna sebagai seorang duta untuk berbicara pada Karna, memberitahu Karna bahwa ia sebenarnya adalah anak sulung Kunti, dan mengajaknya untuk bergabung dengan Pandawa. Yudistira bahkan berjanji akan merelakan takhtanya untuk Karna jika ia setuju. Karna menolak, ia tidak bisa mengkhianati Duryodana, sahabatnya yang merupakan seorang Kurawa. Kunti kemudian datang untuk membujuknya, dan sekali lagi Karna menolak karena kecewa pada ibu yang malu sampai membuangnya ke sungai, sehingga ia harus bertempur melawan adik-adiknya sendiri. Bagi Karna, saudaranya tetaplah Duryodana dan para Kurawa, dan ibunya tetaplah Radha. Namun ia berjanji untuk tidak membunuh satupun Pandawa, kecuali Arjuna.

Setelah mengalahkan (namun tidak membunuh) Yudistira, Bima, dan Nakula dan Sadewa, ia sampai pada Arjuna. Pada pertempuran tersebut, kereta Karna terperosok dan terjebak di dalam lumpur terkena panah Pasupati. Karna kemudian mengerahkan kesaktiannya, yang sebenarnya dapat mengimbangi Pasupati, namun ia mendadak lupa akan semua ilmu yang telah ia pelajari. Ia pun tidak dapat memakai Konta karena telah dipakai untuk membunuh Gatot Kaca. Akhirnya ia memutuskan untuk menahan pertempuran sementara ia turun dan mendorong keretanya supaya dapat berjalan dengan baik, dan Kresna yang melihatnya sebagai kesempatan kemudian membujuk Arjuna untuk segera menyerang dengan mengingatkan bahwa Karna juga berlaku curang ketika mengeroyok Abimanyu hingga tewas. Arjuna yang tadinya ragu akhirnya melepaskan panahnya dan membunuh Karna seketika.

#OSKMITB2018

Sumber: ibu saya + wikipedia.com

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu