Sungkeman, salah satu ritual yang berasal dari Jawa guna menunjukkan rasa hormat pada orang tua. Ritual ini dilakukan dengan cara berlutut di depan orang tua sembari meminta maaf diikuti dengan orang tua yang memberikan nasihat penting kepada anaknya. Sungkeman biasa dilakukan oleh pasangan yang sedang melaksanakan pernikahan dan orang-orang yang sedang merayakan hari raya idul fitri. Pada saat ini, tradisi sungkeman yang dilakukan pada hari raya idul fitri sudah jarang dilakukan, tetapi hal tersebut tidak mempengaruhi beberapa keluarga di Jawa tengah, mengingat sungkeman adalah bagian dari acara pernikahan mereka. #OSKMITB2018
5 Makanan yang Patut Dicoba Ketika di Solo Oleh Nisrina Mozza Khairunnisa Ariseno Kota Solo akhir-akhir ini makin sering kencang terdengar di telinga masyarakat Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata yang sangat populer. Dengan slogan “The Spirit of Java”, Solo berhasil memikat banyak pelancong untuk datang berkunjung, tidak hanya dengan segudang budaya Jawa yang menarik hati para wisatawan, namun juga berbagai jenis makanan yang tidak dapat kalian temui di daerah lain. Sebagai orang Solo, hal favorit yang sudah menjadi sebuah kewajiban ketika berkunjung ke kota itu adalah untuk berkeliling ke destinasi-destinasi kuliner yang tidak boleh dilewatkan. Berikut adalah 10 makanan ikonik kota Solo yang harus kalian cicipi! Nasi liwet Jika ditanya tentang kota Solo, pasti hal pertama yang muncul di benak kita adalah nasi liwet. Makanan yang satu ini sudah menjadi symbol kota Solo karena keunikan dan tentunya kelezatannya....
Upacara Padha Weton adalah upacara yang dilakukan ketika hari kelahiran dan pasaran dari bayi yang lahir tersebut sama dengan hari kelahiran dan pasaran orang tuanya, bisa Bapak atau Ibu. Sebagai contoh si bayi lahir di hari Kamis dengan pasaran Legi, begitu pula dengan bapaknya. Upacara ini berasal dari Pulau Jawa, terutama daerah Jawa Tengah dan disebut demikian karena padha berarti ‘sama’ dalam Bahasa Jawa sedangkan weton ialah kombinasi dari hari dan pasaran Jawa ( Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing .) Akan tetapi, upacara ini kini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Menurut kepercayaan orang Jawa apabila terjadi padha weton, hal ini akan membawa nasib buruk karena diyakini bayi tersebut bila sudah tumbuh dewasa akan menjadi orang yang kasar, galak, dan durhaka kepada orang tuanya. Upacara ini dilaksanakan ketika si anak masih bayi dan diawali dengan melakukan Upacara Mbucal Bayi (membuang bayi) kemudian dil...
Ratusan warga Kampung Bustaman, Kota Semarang mempunyai tradisi unik untuk menyambut datangnya Bulan Ramadan. Acara dimulai dari siang hari, dimana semua warga menyiapkan air berwarna-warni yang dibungkus dalam plastik. Air tersebut diambil dari sebuah sumur yang berdekatan dengan Mushala Al Barokah. Menjelang sore hari, semua warga Kampung Bustaman berkumpul di halaman Musholah Al Barokah untuk pembacaan doa. Prosesi doa ini dipimpin oleh sesepuh kampung dan dilanjutkan dengan tradisi perang air. Acara tersebut langsung menghebohkan kampung dengan suara tertawa dan teriakan banyak orang. Uniknya lagi, tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh para remaja, tetapi juga orang tua. Seorang tokoh masyarakat setempat, Hari Bustaman mengatakan, Gebyuran Bustaman bertujuan untuk membersihkan warganya dari segala kotoran menjelang bulan Puasa. Hari berujar, bila tradisi unik tersebut sudah diadakan oleh warga sejak puluhan tahun silam. Pria berkulit legam itu mengungkapkan,...
Acara 1 Suro ini diadakan di seluruh wilayah Jawa setiap tanggal 1 Suro yang juga bertepatan dengan tanggal 1 Muharram. Tanggal 1 Suro ini juga adalah hari pertama dalam kalender Jawa. Salah satu tempat diadakannya acara ini adalah di keraton Surakarta pada malam hari. Dalam acara ini, ada kirab kerbau bule (albino), kirab kereta pusaka keraton, kirab keris, dan senjata pusakak keraton. Kerbau yamg dilibatkan adalah kerbau bule, keturunan Kiai Slamet. Dalam buku babad Solo karya Raden Mas (RM) Said. Leluhur kerbau bule adalah hewan kesayangan Sultan Pakubuwono II. Dalam acara ini, kotoran kerbau menjadi rebutan petani untuk sawahnya. Petani yakin, bisa membuat sawahnya subur, jika dipupuk kotoran kerbau yang dikirab (diarak).
Jawa merupakan salah satu suku yang memiliki kalendernya sendiri, yang sampai sekarang masih cukup banyak yang menggunakannya sebagai penanggalan sehari-hari dalam kebudayaan Jawa. Kalender Jawa mengandung keistimewaan karena merupakan akulturasi dari sistem penanggalan Islam, Hindu, dan Julian. Kalender ini pertama kali digunakan di Kerajaan Mataram Islam. Ketika itu, dekrit dari Sultan Agung Hanyokrokusumo (Raja Mataram Islam) penanggalan Jawa menjadi kelanjutan dari penanggalan Saka yang sebelumnya digunakan. Penanggalan Jawa menggunakan sistem seperti penanggalan Hijriah, dimana perhitungannya dengan mengamati perputaran bulan/lunar. Tujuan Sultan Agung sendiri dalam mengubah penanggalan ini karena dia ingin menyebarkan agama Islam kepada rakyatnya. Sistem ini berlaku di seluruh daerah Jawa dan Madura yang merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Mataram. Penggunaan kalender Saka yang awalnya berdasarkan perputaran matahari digantikan dengan kalender Jawa yan...
SEJARAH PEMERINTAH KOTA SEMARANG Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah. Kota Semarang terhitung sebagai kota besar dengan jumlah penduduk hampir mencapai 1,6 juta jiwa dengan luas wilayah 373,67 km 2 terbagi menjadi 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Dari masa ke masa berbagai fasilitas sarana dan prasarana dibangun terus menerus. Kota ini memiliki pelabuhan besar yang telah dibangun oleh kolonial Belanda sejak tahun 1900 yaitu Pelabuhan Tanjung Mas, terminal udara yang megah Bandara Ahmad Yani, dan beberapa terminal angkutan darat di wilayah Mangkang, Genuk, dan Banyumanik. Untuk memudahkan penjelasan sejarah tentang berdirinya Kota Semarang, kita dapat bagi sejarah ini menjadi tiga bagian berdasar pada pola kepemerintahan, yaitu: kepemerintahan kerajaan, kepemerintahan asing (era kolonial), dan kepemerintahan Indonesia. Kepemerintahan Kerajaan Pada abad ke 6 Masehi, Semarang merupakan daerah milik kerajaan Mataram Kuno. Di masa ini, per...
Dahulu kala dalam lingkungan bertetangga budaya ruwahan dengan membagikan makanan berlangsung rutin di lingkungan keluarga orangtua saya terutama di rumah Eyang kakung dan putri.Kegiatan ini menyuguhkan masakan khusus tertentu seperti ibu saya membantu eyang saya menyiapkan menu : Nasi ketan putih, Kolak pisang, dan Apem.Yang nantinya akan dibagikan kepada tetangga-tetangga.Adapun makna membagikan makanan ini adalah sebagai pengingat bagi anak dan cucu terhadap para sesepuh yang sudah berpulang.Hal ini bisa dicerminkan dari makanan yang dibuat yaitu : -Pisang : Digambarkan sebagai tongkat bahwa orangtua selalu berjuang untuk anak-anak nya hingga fisik nya tua tertopang oleh tongkat untuk berjalan.Hal ini juga menggambarkan sifat rela berkorban yang diperlihatkan orangtua kepada anak-anaknya selain itu perjuangan berat maupun segala rintangan mau ditempuh oleh orangtua kita dalam mendidik kita selama ini. -Ketan : Bahwa ingatan kita tidak boleh lupa terhadap jasa-jasa orangtu...
Gecok adalah masakan sejenis gulai santan bisa dengan daging ayam, daging sapi, daging kambing, kikil, jeroan, dan lain-lain. Diolah dengan bumbu rempah-rempah yang memiliki citarasa sangat kuat dan memiliki khasiat juga manfaat untuk memulihkan stamina. Masakan gecok ini mempunyai citarasa manis, gurih, dan pedas yang tentunya sangat menggugah selera makan. Gecok memiliki arti ‘ditumbuk-tumbuk’ , yaitu ditumbuk dagingnya sehingga menjadi empuk dan tidak alot. Masakan ini sangat cocok dihidangkan pada hari raya Idul Adha. Masakan gecok yang menjadi khas Kota Salatiga adalah Gecok Kambing. Agar dapat mencicipi masakan gecok kambing yang bercitarasa sangat tinggi ini di rumah, berikut akan diberikan langkah-langkah yang sederhana dan praktis dalam memasak gecok kambing. Bahan : Daging kambing muda ½ kg jeroan 1 gelas santan kental dari ½ buah kelapa ½ gelas wijen 6 siung bawang merah 3 buah cabe merah be...