Indonesia merupakan negara agraris, yang mayoritas penduduknya seorang petani. Tiap daerah di Indonesia memiliki tradisi tersendiri dalam bertani, baik saat akan mulai menanam ataupun saat panen tiba. Masyarakat secara rutin melaksanakan tradisi tersebut agar mendapatkan restu dari pencipta dan leluhur saat menanam padi dan juga sebagai tanda ucap rasa syukur karena telah diberikan hasil panen yang berlimpah. Jika di tataran Pasundan, tradisi saat puncak panen disebut Seren Taun. Secara etimologi, Seren Taun berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda, yaitu "Seren" yang berarti seserahan atau menyerahkan dan "Taun" yang berarti tahun. Seren Taun adalah sebuah tradisi puncak panen yang dilaksanakan oleh masyarakat pendukungnya yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur pada pencipta dan leluhur karena telah diberikan keberkahan dan keberlimpahan hasil panen selama satu tahun lamanya. Tradisi ini dapat dilihat di beberapa desa di tataran tanah Pasundan, diantaranya Desa Cigugu...
PENEMUAN Pada tahun 1863 di Hindia belanda, sebuah batu besar dengan ukiran aksara purba dilaporkan ditemukan di dekat Tjampea (Ciampea), tak jauh dari Buitenzorg (kini Bogor). Batu berukir itu ditemukan di Kampung Muara, di aliran sungai Ciaruteun, salah satu anak sungai cisadane Segera pada tahun yang sama, Prasasti Ciaruteun dilaporkan oleh pemimpin Bataaviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang Museum Nasional) di Batavia. Akibat banjir besar pada tahun 1893 batu prasasti ini terhanyutkan beberapa meter ke hilir dan bagian batu yang bertulisan menjadi terbalik posisinya ke bawah. Kemudian pada tahun 1903 prasasti ini dipindahkan ke tempat semula. Pada tahun 1981 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengangkat dan memindahkan prasasti batu ini agar tidak terulang terseret banjir bandang. Selain itu prasasti ini kini dilindungi bangunan pendopo, untuk melindungi prasasti ini dari cura...
Kakawihan berasal dari kata kawih yang artinya lagu. Untuk kakawihan sendiri memiliki arti yang lebih luas dari kata kawih. Kakawihan memiliki arti yaitu lagu-lagu yang biasa digunakan dalam permainan anak-anak di daerah Sunda. Selain itu, kakawihan juga biasa dianggap sebagai puisi rakyat(sajak rakyat) oleh masyarakat di daerah Sunda. Kakawihan sendiri dibagi dalam tiga kategori yaitu sajak untuk mengasuh anak-anak, sajak untuk mengiri permainan, dan sajak untuk menentukan seseorang menjadi "apa" atau biasa disebut sebagai sajak tuduhan. Sesuai dengan judulnya, dalam tulisan ini akan lebih menjelaskan mengenai salah satu kakawihan yang berjudul "Tat Tit Tut". Tat Tit Tut adalah salah kategori kakawihan yang dipergunakan untuk menentukan siapa diantara sekelompok anak-anak yang telah mengeluarkan kentut yang bau tanpa suara. "Tat Tit Tut, daun sampeu Saha nu hitut eta nu ngambeu Dibawa ka saung butut Ari balik pak burusut" Lirik ini dinyanyikan oleh seorang anak sam...
Selain budaya Betawi, kebudayaan Bekasi juga mendapat pengaruh dari kultur Sunda. Pengaruh kebudayaan yang identik dengan Propinsi Jawa barat tersebut dapat terlihat dalam salah satu kesenian tradisionalnya yang disebut Calung Dalengket. Calung Dalengket pertama kali berkembang di Kecamatan Lemah Abang. Saat ini nama Lemah Abang memang sudah tidak terdaftar dalam peta administratif Kabupaten Bekasi. Kecamatan tersebut telah mengalami diubah namanya menjadi Cikarang Timur. Mulanya kesenian Calung Dalengket merupakan permainan anak-anak gembala. Mereka biasa memainkannya usai musim di sawah atau ladang. Saat ini, kesenian tersebut juga dimainkan oleh orang tua dan warga lain dari berbagai kalangan usia. Calung Dalengket merupakan kesenian yang dimainkan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri atas 9 orang. Setiap anggota memainkan alat musik yang berbeda. Satu orang bertugas sebagai juru suling toleat. Demikian halnya dengan saron, kedemung, nenge, serta rebab yang juga dimainkan...
Klenteng Hok Lay Kiong adalah klenteng tertua di Bekasi yang terletak di Jl. Kenari, Margahayu. Tidak ada yang tahu kapan pastinya klenteng ini dibangun, namun diperkirakan klenteng ini sudah ada sejak 300-400 tahun yang lalu. Tidak berbeda dengan klenteng yang lainnya, warna merah masih menjadi warna dominan dibangunan dan ornamen klenteng ini. Meskipun klenteng ini telah beberapa kali di renovasi, ornamen klenteng seperti pintu, patung dewa, altar dan tiang penyanggahnya masih asli. Klenteng Hok Lay Kiong memiliki luas 650 meter persegi, selain sebagai tampat sembahyang umat Kong Hu Cu, Budha dan Taoisme, klenteng ini juga menjadi salah satu tempat wisata favorit di Bekasi. Jika ingin menikmati suasana yang berbeda, cobalah datang di saat perayaan imlek. Saat imlek anda bisa melihat prosesi penyucian patung dewa dan karnaval barongsai, ada juga ritual tabur sial dengan melakukan pelarungan kertas berisi harapan ke sungai Bekasi dan pelepasan kura-kura. Tujuan dari pada berbenah d...
Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Keraton Kasepuhan menggelar tradisi dugdag. Tradisi ini bukan hanya biasa dilaksanakan akhir Syaban saja, tetapi akan terus berlangsung tiap hari sepanjang bulan Ramadhan hingga memasuki bulan Syawal nanti. Dugdag adalah menabuh beduk bertalu-talu menjelang petang. Disaksikan warga sekitar di area Langgar Agung Keraton Kasepuhan Cirebon. Setelah salat asar, Sultan Keraton Kasepuhan Cirebon PRA Arief Natadiningrat memulai tradisi dugdag. Dugdag ditabuh merupakan tanda-tanda sudah masuk bulan suci Ramadan. Di tengah berkembangnya alat komunikasi, beduk masih menjadi salah satu alat tradisional yang bermanfaat untuk warga sekitar. Tradisi dugdag sendiri mempunyai arti berbeda dari memukul bedug biasa. Bunyinya yang bertalu-talu dan dimainkan lebih lama dari memukul bedug biasa dengan waktu hingga mencapai 1 sampai 3 jam. Tradisi ini sering dipakai para wali untuk menandakan waktu masuk shalat, begitupun dugdag ini dilaksana...
Sebuah cerita yang tak banyak orang mengetahui tentang 7 sumur keramat yang alkisah, seorang Auliya atau wali Allah asal Cirebon Mbah Raden Ujud Beji bersemadi meminta kepada yang Kuasa untuk dikeluarkan air dari tanah, untuk mengairi sawah-sawah. Alhasil keluarlah air dari sumber-sumber air tersebut yang terletak di, 1. Sumur ke 1 di Jalan Kopo Beji, Depok 2. Sumur ke 2 di belakang Masjid Hidayatullah RT 5 RW 1 Beji, Depok 3. Sumur ke 3 di Jalan Pulo Jaya 4. Sumur ke 4 di sebelah TPU Keramat Beji 5,6,7 di dalam kompleks Masjid Nurussalam Sumber https://m.detik.com/news/berita/d-3399179/asal-usul-nama-beji-dan-kisah-7-sumur-keramat-di-depok
Oom Swastiastu Namo Buddhaya Hai Warga Negara Indonesia, pecinta budaya. Kembali lagi bersama saya Erica yang akan menyalurkan ilmu kepada kawan semua nih, dan yang pastinya jangan cepat bosan yah. Oke langsung saja, kawan-kawan pernah main ke wilayah Jawa Barat atau memang tempat tinggalnya di Jawa Barat? kalo memang tinggal dan pernah main, kalian udah pernah lihat belum upacara yang dilakukan masyarakat setempat. Upacara tidak hanya di sekolah saja ya, hari senin disuruh berdiri kalau terlambat tidak boleh masuk. Ya, itu aku pernah mengalaminya kawan, jangan ditiru ya. Upacara yang dilakukan masyarakat setempat biasanya disebut dengan ritual yang dipimpin oleh kepala suku. Upacara Adat istiadat muncul dan tumbuh yang asalnya diwariskan leluhurnya (nenek moyang) pada masyarakat Sunda yang masih dilestarikan dan menjadi pedoman bagi kehidupan sosial masyarakatnya. Dalam adat istiadat Sunda, berbagai macam upacara adat yang bersifat ritual dan spiritual dan men...
Prasasti Huludayeuh Secara administrasi Situs Huludayeuh berada di Kampung Huludayeuh, Desa Bobos, Kecamatan Sumber, dengan ketinggian ± 73 m dari permuakaan air laut. Sungai yang mengalir di daerah ini adalah Sungai Cimanggung.Wilayah ini merupakan daerah pegunungan, sedang sekitar prasasti berupa pesawahan rakyat yang subur dan produktif, dengan menggunakan sistem sengked (bertingkat). Situs Huludayeuh berada ± 15 km sebelah baratdaya dari Kota Cirebon atau ± 7 km sebelah utara dari Situs Kawali, Kabupaten Ciamis. Untuk mencapai lokasi situs dari kedua daerah tersebut (Cirebon dan Kawali) dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat hingga Desa Bobos. Selanjutnya menelusuri jalan setapak berupa pematang sawah sejauh ± 150 meter. Kemunculan situs ini berawal laporan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon yang tertuang dalam Surat Nomor 1516/...