Kisah tentang Ki Ageng Selo merupakan kisah yang cukup melegenda di kalangan masyarakat jawa tengah. Ki Ageng Selo atau Syekh Abdurrahman diyakini merupakan keturunan langsung dari raja terakhir dari kerjaan Mataram yaitu Raja Brawijaya v dan memiki nama asli yaitu Bogus Sogom. Dikalangan masyarakat jawa tengah dikisahkan bahwasanya Ki Ageng Selo pernah menangkap petir ketika beliau sedang mencangkul di sawah. Dikisahkan suatu hari langit terlihat mendung dan banyak halilintar menyambar. semua warga yang sedang mencangkul di sawah langsung lari menyelamatkan diri, tetapi Ki Ageng Selo tetap mencangkul di sawah tanpa memedulikan halilintar yang menyambar silih berganti. Tiba-tiba petir muncul dari langit dan langsung menyambar Ki Agen Selo, namun hebatnya Ki ageng selo mampu menangkap petir tersebut, dan dikisahkan bahwasannya petir tersebut berubah wujud menjadi seorang kakek tua. Setelah menangkapnya ki ageng selo memerintahkan petir agar tidak mengganggu penduduk sekitar sini...
Adat Malua orang Batak. Malua merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk memperingati menjadi dewasanya seorang anak. Pada awalnya, malua dilakukan kepada anak pertama laki-laki setiap keluarga Batak yang sudah dianggap dewasa. Namun, dengan berkembangnya zaman dan adanya penyebaran Agama Kristen ke orang-orang Batak oleh Dr. I. L. Nommensen, ritual malua dilakukan kepada seorang anak yang telah menjalani proses katekisasi dan naik SIDI pada Agama Kristen. Prosesi Malua pada zaman sekarang cukup sederhana, tetapi sedikit merepotkan unruk dilakukan. Pertama, keluarga (dengan nama keluarga/boru yang sama) dipanggil ke rumah ayah yang akan dimalua, juga disertai seorang pendeta. Pendeta akan pertama mendoakan sang anak agar dapat benar-benar menjadi seseorang yang dewasa secara mental. Setelah itu, kedua orang tua menyuapi san anak dengan makanan adat seperti babi panggang atau ikan mas. Momen itu menggambarkan orang tua yang akan selalu ada di samping sang anak walau telah b...
Manimburi merupakan kata dalam bahasa batak yang jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dapat berarti menyemburkan. Ya, sesuai dengan namanya, Cara yang digunakan dalam pengobatan ini adalah menyemburkan ramuan tradisional di beberapa bagian tubuh. Metode pengobatan ini sangat dipercaya masyarakat untuk mengobati demam tinggi, penyakit yang menyebabkan pembengkakan di salah satu bagian tubuh, dan kepada orang- orang yang mengalami kerasukan roh jahat. Ramuan yang akan disemburkan harus diolah (dikunyah) di dalam mulut seseorang yang sanggup melakukan metode pengobatan ini. Bahan-bahan yang harus diolah tersebut terdiri dari daun sirih, lada hitam, kemiri, bawang batak, dan kencur, semua bahan ini harus dikunyah secara bersamaan. Selain dipercaya untuk menyembuhan penyakit dan mengusir roh jahat, pengobatan ini juga dapat dilakukan kepada anak-anak yang baru lahir karena dianggap ampuh menghangatkan badan anak-anak tersebut. Wilayah tubuh yang dianggap sebagai pusat penyembu...
Tradisi menanam atau mengubur ari-ari adalah tradisi mengubur ari-ari bayi yang baru lahir. Tradisi ari-ari kental di lakukan oleh masyarakat jawa. Ada makna simbolik menanam ari-ari. selama dalam rahim ari-ari berfungsi untuk mengirim gizi, menyalurkan karbondioksida dan sisa pembuangan serta pertahanan diri dari infeksi dan mengeluarkan hormon penunjang kelangsungan hidup. Demikian pentingnya peranan ari-ari, hingga ia di perlakukan dengan layak sekalipun tugasnya telah selesai. Ketika bayi lahir, ari-ari yang dipotong tetap dirawat dan dikubur dengan baik. Perlakuan yang baik ini agar ari-ari atau plasenta tidak dimakan binatang atau membusuk di tempat sampah. Menanam ari-ari juga dikenal dengan sebutan upacara mendhem ari-ari. Ari-ari ditempatkan di dalam kendhil dan diberi daun talas. Alas daun talas mempunyai simpol agar sang anak kelak tumbuh tidak hanya memikirkan hal duniawi saja. Tradisi mendhem ari-ari bi...
" Mengenang Ujung K yang Tak Dipandang " Suku Polahi merupakan salah satu suku di Indonesia yang berada tepat di ujung utara Pulau Sulawesi tepatnya di pedalaman hutan Pegunungan Boliyuhoto, Gorontalo. Suku atau kelompok ini merupakan kelompok mayoritas di Gorontalo dan Gorontalo utara. Suku Polahi memiliki budaya yang sangat beragam, dapat dilihat dari segi pakaian, adat istiadat dan bahkan tradisi, kebiasaan serta aturan perkawinan di dalam Suku Polahi berbeda dengan perkawinan yang pada umumnya. Perkawinan Suku Polahi yang menerapkan perkawinan sedarah atau incest menjadi perbincangan para ahli budaya. Pola pernikahan yang seperti itu memberikan kebebasan kepada setiap anggota keluarga untuk menikah dengan sesama anggota keluarga dan atau masih memiliki hubungan darah. Pada mulanya adanya Suku Polahi ataupun mengenai tradisi perkawinan sedarah tersebut diawali pada abad ke-19, masih pada masa penjajahan kolonial Belanda. Saat itu, diberlakukannya pemungutan pajak paksa yan...
" Mengenang Ujung K yang Tak Dipandang " Suku Polahi merupakan salah satu suku di Indonesia yang berada tepat di ujung utara Pulau Sulawesi tepatnya di pedalaman hutan Pegunungan Boliyuhoto, Gorontalo. Suku atau kelompok ini merupakan kelompok mayoritas di Gorontalo dan Gorontalo utara. Suku Polahi memiliki budaya yang sangat beragam, dapat dilihat dari segi pakaian, adat istiadat dan bahkan tradisi, kebiasaan serta aturan perkawinan di dalam Suku Polahi berbeda dengan perkawinan yang pada umumnya. Perkawinan Suku Polahi yang menerapkan perkawinan sedarah atau incest menjadi perbincangan para ahli budaya. Pola pernikahan yang seperti itu memberikan kebebasan kepada setiap anggota keluarga untuk menikah dengan sesama anggota keluarga dan atau masih memiliki hubungan darah. Pada mulanya adanya Suku Polahi ataupun mengenai tradisi perkawinan sedarah tersebut diawali pada abad ke-19, masih pada masa penjajahan kolonial Belanda. Saat itu, diberlakukannya pemungutan pajak paksa yan...
Permainan ini memiliki kemiripan dalam permainan merboni-boni sapu tangan, hanya saja apabila merboni-noni sapu tangan menjatuhkan sapu tangan secara diam-diam, permainan ini berusaha untuk mengejar si pelempar sapu tangan, dan permainan ini diiringi dengan lagu "Saputangan" karya Indi,Mikha, dan Nicky. SAPUTANGAN Sapu tangan , sapu tangan Terbuat dari kain Bagusnya bukan main Siapa yang belum punya Harus mengajar saya Permainan ini biasa dimainkan oleh anak-anak, dan biasanya terdiri dari 20 anak atau lebih ( seperti ukuran 1 kelas ) yang masing masing duduk melingkar. Cara Bermain : Pemilik saputangan ( yang dipilih secara random atau acak dalam awal permainan ) berlari memutari lingkaran, sementara pada saat yang bersamaan, semua orang menyanyikan lagu "Saputangan". Bila lagu yang dinyanyikan sudah habis ( mencapai kata saya ) pemilik sapu tangan harus melempar sapu tangan tersebut ke orang yang berada paling de...
Pada suatu hari di pulau Batam, terdapat sebuah desa yang didiami oleh seorang gadis yatim piatu bernama Mah Bongsu. Ia menjadi pembantu rumah tangga dari seorang majikan yang bernama Mak Piah. Mak Piah mempunyai seorang putri bernama Siti Mayang. Pada suatu hari, Mah Bongsu pergi mencuci pakaian majikannya di sungai. “Ular…!” teriak Mah Bongsu ketakutan ketika melihat seekor ular besar mendekat. Ternyata ular tersebut tidaklah berbahaya, ia berenang ke sana ke mari sambil menunjukkan luka di punggungnya. Mah Bongsu memberanikan diri mengambil ular yang kesakitan itu dan membawanya pulang ke rumah. Mah Bongsu merawat ular tersebut hingga sembuh. Tubuh ular tersebut menjadi sehat dan bertambah besar. Kulit luarnya mengelupas sedikit demi sedikit. Mah Bongsu memunguti kulit ular yang terkelupas itu, kemudian dibakarnya. Ajaib… setiap kali Mah Bongsu membakar kulit ular tersebut, timbul asap yang sangat besar. Jika asap tersebut mengarah ke&nb...
Pada saat ini, Cibulan telah menjadi objek wisata yang cukup terkenal dikalangan masyarakat khususnya masyarakat Jawa Barat. Cibulan merupakan sebuah objek wisata berupa tempat pemandian umum, namun yang menariknya adalah kita tidak hanya sekedar berenang biasa seperti pada kolam renang umumnya. Disini kita akan berenang dengan dikelilingi oleh ikan-ikan. Ya, ikan hidup bukan patung ataupun sekedar ornamen berbentuk ikan. Uniknya lagi ikan tersebut bukanlah ikan yang biasa kita konsumsi seperti ikan nila, ikan bandeng, ataupun ikan gurame. Namun ia adalah ikan dewa. Ya, masyarakat biasanya menyebutnya ikan dewa atau dalam Bahasa Sunda disebut kancra bodas. Hmm, mengapa disebut ikan dewa ya? Ternyata konon katanya ikan dewa tersebut merupakan ikan yang dikeramatkan oleh masyarakat Desa Manis Kidul karena ikan-ikan tersebut dulunya merupakan para prajurit pembangkang yang dikutuk oleh Prabu Siliwangi loh. Rumornya lagi jumlah ikan-ikan disana tidak pernah bertambah maupun be...